26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 11, 2026

Latest Posts

Menyatukan Hilal, Menyatukan Umat : Rukyat dan Hisab Dalam Cahaya Tauhid Menuju Satu Ramadan dan Idul Fitri

Oleh:  Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

Wartain.com || Di setiap pergantian Ramadhan dan Idul Fitri, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada satu realitas yang berulang: perbedaan awal puasa dan hari raya. Sebagian memulai lebih dahulu, sebagian menyusul. Sebagian berlebaran hari ini, sebagian esok. Fenomena ini telah berlangsung lama, seakan menjadi “tradisi yang dimaklumi”. Namun pertanyaannya: apakah ini keniscayaan, atau justru tanda bahwa ada sesuatu yang belum selesai dalam cara kita memahami agama?

Ru’yat dan hisab sejatinya bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Ru’yat adalah jalan penyaksian, sedangkan hisab adalah jalan pengetahuan. Keduanya lahir dari satu sumber yang sama: sunnatullah yang mengatur peredaran langit dan waktu. Ketika hilal muncul, ia tidak memilih untuk terlihat oleh satu kelompok dan tersembunyi dari kelompok lain. Hilal itu satu. Yang berbeda adalah cara manusia membaca dan menetapkan.

Di sinilah letak persoalan mendasar. Perbedaan bukan terjadi karena kebenaran itu ganda, melainkan karena metodologi dan otoritas yang belum sepenuhnya dipertemukan. Ru’yat sering dipahami sebagai satu-satunya jalan sah karena mengikuti praktik di masa Nabi Muhammad, sementara hisab dipandang sebagai produk modern yang belum tentu sejalan dengan tradisi. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, hisab adalah bentuk pengembangan dari perintah Al-Qur’an untuk berpikir, menghitung, dan membaca tanda-tanda langit.

Dalam perspektif tauhid, tidak mungkin ada dua kebenaran yang saling bertentangan. Jika hisab menyatakan hilal sudah ada, sementara ru’yat tidak melihatnya, maka yang perlu diperiksa bukan kebenarannya, tetapi keterbatasan metode dan kondisi. Bisa jadi hilal memang terlalu tipis untuk terlihat, atau kondisi atmosfer tidak memungkinkan. Artinya, hisab memberikan kepastian keberadaan, sementara ru’yat memberikan pengalaman penyaksian. Keduanya saling melengkapi, bukan menegasikan.

Para pemangku kepentingan—ulama, pemerintah, organisasi keagamaan, dan ilmuwan—memiliki tanggung jawab besar untuk keluar dari dikotomi ini. Sudah saatnya Indonesia membangun sintesis yang utuh: menjadikan hisab sebagai fondasi ilmiah yang pasti, dan ru’yat sebagai konfirmasi empirik yang memperkuat. Dengan kriteria yang disepakati bersama, perbedaan tidak perlu lagi menjadi konsumsi publik setiap tahun.
Lebih dari sekadar persoalan teknis, ini adalah persoalan kesadaran.

Selama ego kelembagaan dan fanatisme metode masih mendominasi, maka persatuan akan sulit tercapai. Padahal, Ramadhan adalah madrasah penyatuan jiwa, dan Idul Fitri adalah momentum kembali ke fitrah—bukan hanya secara individu, tetapi juga secara kolektif sebagai umat.

Dalam perspektif ma’rifatullah, hilal bukan sekadar objek langit, tetapi tanda pergerakan Ilahi dalam waktu. Ia mengajak manusia untuk selaras, bukan terpecah. Maka sangat ironis jika tanda persatuan justru menjadi sebab perbedaan. Di sinilah diperlukan keberanian spiritual dan intelektual: untuk meletakkan kebenaran di atas kepentingan, dan tauhid di atas ego kelompok.

Indonesia memiliki semua prasyarat untuk bersatu: ilmu yang maju, teknologi yang memadai, dan tradisi keagamaan yang kaya. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk duduk bersama, menyepakati standar, dan membangun kepercayaan. Persatuan tidak lahir dari pemaksaan, tetapi dari kesadaran bersama bahwa umat ini satu.

Akhirnya, kita harus kembali pada esensi. Apakah kita ingin mempertahankan perbedaan sebagai identitas, atau menyatukan langkah sebagai kekuatan? Hilal tidak pernah terbelah. Langit tidak pernah memisahkan umat. Maka janganlah manusia yang membuat batas itu.

Jika ru’yat dan hisab dipertemukan dalam cahaya tauhid, maka bukan hanya tanggal yang akan bersatu, tetapi juga hati umat. Dan ketika itu terjadi, Ramadhan tidak lagi sekadar ibadah individu, melainkan gerakan kolektif menuju Allah. Idul Fitri pun bukan hanya hari kemenangan pribadi, tetapi kemenangan persatuan umat Islam Indonesia.

“Satu hilal cukup untuk satu umat,
jika hati telah kembali kepada Yang Satu.”(***)

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.