Oleh : Yosep Maulana/Ketua Forum Mahasiswa Palabuhanratu
Wartain.com || Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah fondasi peradaban. Di tengah arus informasi yang begitu deras, literasi menjadi kompas yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam banjir data, opini, dan disinformasi.
Seperti yang sering digaungkan, MEMBACA membuat kita mengenal dunia, dan MENULIS membuat dunia mengenal kita. Dua hal ini bukan hanya aktivitas akademik, melainkan kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia.
Membaca: Jendela Dunia
Membaca adalah pintu masuk menuju pengetahuan. Dengan membaca, kita menembus batas ruang dan waktu. Kita bisa memahami sejarah tanpa harus hidup di masa lampau, mengenal budaya tanpa harus bepergian jauh, serta mempelajari gagasan para tokoh besar tanpa harus bertatap muka langsung.
Seperti kutipan dari Armin Martajasa.
“Jika kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia, menulislah.”
Membaca memiliki peran fundamental dalam pengembangan kognitif. Ia melatih daya pikir kritis, memperkaya kosakata, memperluas sudut pandang, serta membentuk karakter dan mental yang kuat. Seseorang yang gemar membaca cenderung lebih terbuka, bijak dalam mengambil keputusan, dan tidak mudah terprovokasi.
Di era digital seperti sekarang, literasi menjadi tameng agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam hoaks dan informasi yang menyesatkan. Membaca bukan hanya tentang teks, tetapi tentang memahami, menganalisis, dan menyaring informasi secara cerdas.
Menulis: Ruang Ekspresi dan Laboratorium Gagasan
Jika membaca adalah menyerap, maka menulis adalah menyalurkan. Menulis adalah ruang ekspresi dan laboratorium gagasan. Dari hasil bacaan, lahirlah pemikiran. Dari pemikiran, tercipta karya.
Menulis melatih kita untuk berpikir runtut, sistematis, dan bertanggung jawab terhadap ide yang kita sampaikan. Di dalam proses menulis, seseorang belajar merumuskan gagasan, menyusun argumen, serta menghadirkan solusi.
Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Ia memiliki kekuatan. Seperti yang pernah ditulis oleh Sapardi Djoko Damono,
“Menulislah, karena kata-kata bisa menjadi rumah bagi siapapun yang tersesat.”
Kutipan tersebut mengandung makna mendalam. Tulisan bisa menjadi penguat bagi yang rapuh, pencerah bagi yang gelap, dan penggerak bagi yang diam. Banyak perubahan besar di dunia ini lahir dari tulisan dari buku, artikel, manifesto, hingga catatan kecil yang menggugah kesadaran.
Literasi sebagai Gerakan
Sebagai Ketua Forum Mahasiswa Palabuhanratu, saya meyakini bahwa literasi harus menjadi gerakan bersama. Kampus, sekolah, komunitas, hingga organisasi kepemudaan perlu menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban.
Budaya literasi akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Generasi yang mampu berpikir kritis, berempati, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena sejatinya, peradaban dibangun oleh mereka yang membaca dan menulis. Membaca membuka cakrawala, menulis meninggalkan jejak sejarah.
Maka, mari kita hidupkan kembali semangat literasi.
MEMBACA untuk mengenal dunia.
MENULIS untuk dikenal dunia.
Sebab dari dua hal sederhana inilah, masa depan yang besar bisa lahir.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Yosep)
