26.7 C
Jakarta
Senin, April 27, 2026

Latest Posts

Perjumpaan dengan Tuhan: Menemukan Jejak Tauhid dan Makrifat dalam Psikologi William James

Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || “Satu-satunya hal penting tentang agama adalah pengalaman pribadi yang dirasakan secara langsung oleh si pemilik pengalaman.”

—William James, The Varieties of Religious Experience

William James bukan seorang nabi. Ia tak menulis kitab suci. Tapi lewat buku The Varieties of Religious Experience, yang dalam terjemahan Indonesianya berjudul Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, kita seolah diajak menyelam ke dalam lanskap terdalam jiwa manusia: tempat di mana rasa sakit, kesadaran, dan Tuhan bertemu.

Buku ini adalah jendela langka ke dalam batin manusia yang mencari Tuhan melalui jalan kesadaran, bukan dogma. Dalam tradisi Islam, inilah jalan makrifat—yakni jalan mengenal Tuhan melalui pengalaman ruhani yang mendalam, bukan sekadar pengetahuan rasional. Maka meskipun James datang dari ranah filsafat dan psikologi Barat, getar-getar yang ia tangkap dalam pengalaman religius sangat sejiwa dengan prinsip tauhid yang hidup dalam dunia tasawuf.

Pengalaman Religius sebagai Jalan Menuju Tauhid

William James menegaskan bahwa pengalaman religius adalah kenyataan psikologis yang tak bisa diabaikan. Ia tidak terlalu peduli pada agama formal, tetapi lebih tertarik pada “buah spiritual” dari pengalaman tersebut.

Dalam pandangan tauhid, ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw.: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.”

Pengalaman religius, kata James, terjadi ketika seseorang mengalami transendensi: kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, yang mengatur dan melingkupi hidupnya. Inilah momen ruhani ketika “aku” runtuh, dan Dia mulai tampak. Dalam bahasa tauhid: inilah peristiwa fanāʾ—lenyapnya ego demi kesadaran akan Allah semata.

Jiwa Sakit dan Regenerasi Ruhani

James membagi pengalaman religius menjadi dua tipe utama:

The Healthy-Minded (jiwa yang sehat): yang cenderung optimis, penuh harapan, dan menemukan Tuhan dalam keindahan dunia.

The Sick Soul (jiwa yang sakit): yang melalui penderitaan, kegelisahan, dan krisis eksistensial sebelum akhirnya bertemu Tuhan.

Bagi para pencari makrifat, tipe kedua ini sangat penting. Sebab jalan kesucian seringkali tidak dibuka oleh kenyamanan, tetapi oleh keterpurukan. Sebagaimana kisah Nabi Yunus yang baru berjumpa dengan hakikat ketuhanan di kegelapan perut ikan, atau Nabi Musa yang mendengar suara Tuhan dari semak yang terbakar di tengah ketakutan.

Dalam buku ini, James mencatat berbagai pengalaman “kelahiran kembali” (spiritual regeneration). Seseorang bisa saja terpuruk dalam dosa dan depresi, lalu mengalami transformasi batin yang mendalam dan berubah total. Ini bukan sekadar perubahan moral, tapi perubahan hakikat kesadaran. Ia menjadi makhluk baru yang hidup dalam kepasrahan kepada Yang Ilahi.

Mistikisme: Inti dari Pengalaman Tauhid

Di bagian puncak bukunya, James membahas mistisisme—pengalaman religius yang paling dalam dan tak terungkapkan. Ia mencatat ciri-cirinya:

Inefabilitas (tak terlukiskan)

Kualitas noetik (mengandung pengetahuan batin)

Singkat namun berkesan kuat

Pasif, datang dari luar diri

Ini sangat dekat dengan pengalaman kasyf (terbukanya tabir) dalam tradisi sufi. Para arif mengenal momen-momen ini sebagai “fana” dan “baqa” bersama Tuhan. Dalam makrifat, inilah titik ketika seorang hamba tidak lagi mengenal dirinya, kecuali dalam cahaya Allah:
“Maka tatkala Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya dan kakinya…” (Hadis Qudsi)

Dari Pragmatisme ke Tauhid

William James menilai pengalaman religius dari buahnya: apakah ia menghasilkan kehidupan yang lebih tenang, lebih baik, dan penuh cinta? Ia menyebut ini “kebenaran pragmatis.” Namun bagi seorang salik, ini tak lain adalah prinsip tauhid af’āl—bahwa segala kebaikan hakikatnya bersumber dari Allah.
James tidak memakai istilah ini.

Tapi semangatnya mengarah ke sana: pengalaman keagamaan sejati adalah yang menyatukan manusia dengan Sumber Kehidupan, yang melepaskan manusia dari ego, dan menanamkan cinta serta ketundukan.

Penutup

Buku Perjumpaan dengan Tuhan adalah risalah batin tersamar. Ia berbicara dengan bahasa psikologi, tetapi menyingkap realitas ruhani. Dalam pengalaman religius yang dikumpulkan James, kita melihat jejak-jejak tauhid: pengakuan akan Allah yang tunggal, yang menggetarkan batin manusia dari dalam.

Makrifat bukanlah monopoli agama tertentu. Ia adalah sapaan Ilahi yang melintasi batas, menghampiri hati yang hancur dan jiwa yang gelisah. Dan William James, tanpa menyebut nama Tuhan seperti kita menyebutnya, telah mendengarkan dan mencatat gema-Nya dalam tangis, hening, dan kesadaran terdalam manusia.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.