Wartain.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (14/9/2026). Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah sentimen pasar menyusul pergantian Menteri Keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berakhir di level Rp17.669 per dolar AS. Posisi tersebut turun 58 poin atau sekitar 0,33% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi bersamaan dengan kabar mengenai pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Purbaya dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru.
Pergantian tersebut berlangsung sekitar satu tahun setelah Purbaya dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025.
Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang utama Asia yang mayoritas berada di zona merah terhadap dolar AS.
Yen Jepang tercatat melemah 0,61%, baht Thailand turun 0,63%, dolar Singapura terkoreksi 0,32%, sedangkan peso Filipina turun 0,24%.
Mata uang Korea Selatan, won, juga turun 0,28%. Sementara rupee India melemah 0,12%, ringgit Malaysia turun 0,14%, dolar Hong Kong terkoreksi 0,02%, dan yuan China turun tipis 0,01%.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar masih akan mencermati arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya, termasuk perkembangan setelah pergantian Menteri Keuangan.
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih berpeluang bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (15/9/2026).
Menurut proyeksinya, rupiah berpotensi kembali mengalami tekanan dan bergerak dalam kisaran Rp17.660 hingga Rp17.710 per dolar AS.
Pergerakan tersebut akan menjadi perhatian pasar di tengah masa transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan setelah Suahasil Nazara resmi menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.***(RAF)
Editor: Aab Abdul Malik
