Wartain.com || Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah pesisir Pelabuhanratu terus menunjukkan eksistensinya melalui ragam kuliner yang menggugah selera. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Warung Nasi Teh Iis Tea yang berlokasi di Citepus, Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Berada tepat di depan markas Polres Sukabumi, warung ini telah menjadi titik kumpul favorit bagi warga lokal maupun pengendara yang melintas selama tujuh tahun terakhir. Selasa,
Warung ini menawarkan konsep pelayanan prasmanan, sebuah daya tarik yang memberikan keleluasaan bagi pengunjung untuk mengambil porsi dan jenis lauk sesuai selera mereka sendiri. Langkah ini terbukti efektif dalam membangun kedekatan dengan pelanggan, karena menghadirkan suasana makan yang santai layaknya di rumah sendiri. Konsistensi dalam rasa dan pelayanan membuat usaha milik Bu Iis ini mampu bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin kompetitif.
Menu yang disajikan merupakan representasi kekayaan dapur Sunda yang autentik. Pelanggan dapat memanjakan lidah dengan berbagai pilihan lauk seperti karedok yang segar, perkedel, ikan mas goreng, hingga tempe orek yang gurih. Tak hanya itu, sebagai wilayah yang dekat dengan pelabuhan, olahan ikan laut segar menjadi sajian wajib yang selalu tersedia di meja pajangan setiap harinya untuk memuaskan hasrat kuliner para pengunjung.
Dari sekian banyak menu yang tersedia, Sop Ikan Ekor Marlin muncul sebagai primadona atau menu andalan yang paling banyak dicari. Tekstur daging ikan marlin yang padat namun lembut, dipadukan dengan kuah sop yang bening dan kaya akan rempah, memberikan sensasi kesegaran yang unik. Untuk melengkapi pengalaman bersantap, segelas es jeruk segar seringkali menjadi pilihan pendamping utama guna menetralisir rasa setelah menikmati hidangan laut.
Daya tarik utama lainnya dari Warung Nasi Teh Iis Tea adalah harganya yang sangat merakyat dan terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Hanya dengan mengeluarkan uang mulai dari Rp10.000, pelanggan sudah bisa menikmati seporsi nasi lengkap dengan lauk telur. Strategi harga ini sengaja diterapkan oleh Bu Iis agar warungnya tetap bisa diakses oleh siapa saja, mulai dari pekerja harian hingga wisatawan, tanpa harus menguras kantong.
Jam operasional warung ini tergolong cukup panjang, yakni mulai pukul 06.00 WIB pagi saat jam sarapan hingga tutup pada pukul 21.00 atau 22.00 WIB malam. Meskipun memiliki mobilitas tinggi dalam melayani pelanggan setiap hari, Bu Iis memutuskan untuk meliburkan usahanya pada hari Minggu guna memberikan waktu istirahat bagi pengelola. Hal ini justru membuat pelanggan seringkali merindukan masakan Teh Iis dan kembali memenuhi warung saat hari Senin tiba.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Yosep)
