Oleh: Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || “Man ‘arafa nafsahū faqad ‘arafa Rabbahū – Siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Di tengah dunia yang hiruk pikuk oleh pembangunan, data, dan kompetisi, ada satu kehilangan yang tak bisa ditebus oleh kemajuan: kehilangan Tuhan dalam kesadaran manusia. Kita membangun menara langit, namun tak tahu ke mana jiwa hendak menuju. Kita bicara tentang agama, tapi lupa menghayati kehadiran Tuhan dalam sunyi diri sendiri.
Tulisan ini adalah sebuah gerakan jiwa untuk menyentuh kembali makna paling awal dari keberadaan: bahwa manusia diciptakan bukan untuk menaklukkan dunia, tapi untuk mengenal Tuhan. Dan sejarah agama, sebagaimana disorot oleh Karen Armstrong dan Samuel Huntington, bukan sekadar catatan konflik atau evolusi ide, melainkan jejak pencarian makna dalam kabut zaman.
Armstrong menunjukkan betapa konsep Tuhan telah bergeser dari sesuatu yang menggetarkan hati menjadi ide metafisik yang jauh. Huntington melihat benturan antar peradaban sebagai akibat dari perbedaan identitas keagamaan. Tapi kita sadar: krisis yang paling dalam bukan hanya konflik luar, melainkan hilangnya kesadaran ruhani di dalam.
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk.”
(Hadis Qudsi)
“Carilah Tuhanmu bukan di langit atau di bumi, tapi di hatimu sendiri.”
(Ibnu ‘Arabī)
Kini saatnya kita membalik arah. Agama bukan medan perebutan, tapi medan penyucian diri. Tuhban bukan simbol perdebatan, tapi lautan kasih yang menanti kita kembali. Dan manusia, bila ia kembali ke dalam dirinya yang hakiki, akan menemukan bahwa segala pencariannya selama ini tak pernah jauh dari satu titik: Tuhan yang bersemayam dalam sunyi hati.
Doa Penutup: Dalam Adi Sadar Tuhan
Ya Tuhan…
Yang Maha Dekat,
Yang tak jauh dari bisikan jiwa,
Yang diam-diam mengetuk di balik segala sunyi…
Bimbing kami kembali kepada-Mu,
melewati lorong-lorong sejarah,
melewati debu peradaban,
dan sampai pada keheningan di mana hanya Kau dan aku yang tahu.
Bukakanlah mata batin kami,
agar kami tak hanya melihat dunia,
tapi juga memandang wajah-Mu di balik setiap detak nafas.
Lembutkanlah hati kami,
agar setiap ilmu menjadi cahaya,
setiap agama menjadi jalan pulang,
dan setiap insan menjadi cermin dari cinta-Mu.
Jadikan hidup ini bukan sekadar lintasan,
tapi perjalanan pulang yang penuh makna.
Karena Engkaulah awal dan akhir, dan kami adalah hanya pecinta yang ingin kembali padaMu.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
