Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Bapak Presiden Prabowo anda pernah berkata: Aku hanya ingin mengabdi pada rakyat dan negeri ini di sisa hidupku. Bahwa jabatan bukan ambisi, tapi panggilan. Kini bapak telah di ambang tahta tertinggi, dan badai mulai mengetuk pintu.
Di jalanan, suara rakyat mulai retak. Mereka turun bukan karena benci, tapi karena takut. Mereka tidak ingin negeri ini menjadi milik sekelompok nama, dikelilingi kroni dan dinasti. Mereka merindukan pemimpin yang memeluk, bukan yang mencengkeram.
Pak Presiden kami tercinta, kami tahu siapa engkau. Engkau tumbuh dari derap sepatu laskar. Hidupmu adalah strategi, siasat, dan medan perang. Tapi bukan untuk melawan rakyatmu. Ini saatnya engkau menunjukkan: seorang kesatria tak hanya tahu cara menaklukkan, tapi juga cara merangkul.
Banyak mata memandangmu sekarang. Ada yang menunggu engkau berubah jadi tiran, dan ada yang berharap engkau tetap menjadi prajurit yang setia kepada rakyat. Jangan biarkan mereka yang culas, yang pandai bermain mata dengan agen asing, yang memanipulasi konstitusi demi syahwat kekuasaan, mencuri nama baikmu.
Engkau bisa menegakkan keadilan tanpa amarah. Engkau bisa menertibkan barisan tanpa kekerasan. Tapi yang paling penting, engkau bisa mencabut akar pengkhianatan itu—jika engkau berani menatap wajah mereka yang menyamarkan kerakusannya dalam baju sahabat.
Pak Presiden Prabowo,
engkau belum terlambat. Peluklah rakyatmu yang marah. Datangi mereka, dengarkan, bukan dengan mikrofon, tapi dengan hati. Turunkan wajah wajah yg culas, yang rakus, angkat wajah-wajah yang jujur. Tegakkan republik ini dengan satu tangan di dada dan satu tangan di bahu rakyat.
Jika engkau lakukan itu, sejarah akan mencatat: Prabowo bukan hanya menang pemilu, tapi menang atas godaan kekuasaan. Dan itu, adalah kemenangan yang jauh lebih baik. Salam cinta dari ari kyai kyai dan rakyat kampung di lembah sunyi cahaya.***
Foto : Ilustrasi/Pngtree
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
