26.7 C
Jakarta
Kamis, Mei 7, 2026

Latest Posts

Tauhid Membumi : Jejak Syekh Syarif Hidayatullah

Seri 2 – Tauhid sebagai Fondasi Dakwah

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Pembuka

Wartain.com || Setelah kita menapaki jejak awal kedatangan Syekh Syarif Hidayatullah ke tanah Cirebon, kini saatnya menyelami inti dakwahnya: tauhid. Bagi sang wali, tauhid bukan sekadar dogma untuk dihafal, melainkan pusat denyut kehidupan yang harus menggerakkan seluruh sendi masyarakat. Dari pelabuhan Cirebon hingga ladang pertanian, beliau menanamkan kesadaran bahwa hanya Allah satu-satunya yang patut disembah dan diandalkan.

Makna Tauhid: Lebih dari Sekadar Kalimat

Syekh Syarif Hidayatullah memandang kalimat lā ilāha illallāh sebagai pintu besar menuju kebebasan sejati. Tauhid menegaskan bahwa tiada tuhan selain Allah, berarti pula tiada kekuatan, tiada ketakutan, dan tiada pengharapan selain kepada-Nya.

Dimensi Kebebasan: Membebaskan manusia dari penghambaan kepada raja, harta, maupun takhayul.

Dimensi Tanggung Jawab: Menuntut setiap orang memaknai hidup sebagai amanah, bukan sekadar mengejar kepentingan dunia.

Beliau menegaskan bahwa tauhid yang hidup harus memadukan iman, amal, dan akhlak. Iman tanpa amal hanyalah ucapan; amal tanpa iman hanyalah gerak tanpa jiwa.

Metode Dakwah: Lembut tapi Teguh

Cirebon abad ke-15 masih kental dengan tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan animistik. Syekh Syarif tidak memulai dengan konfrontasi, melainkan pendekatan kultural:

Bahasa Rakyat: Beliau menyampaikan ajaran tauhid dalam bahasa Jawa-Sunda, bukan bahasa Arab semata, agar pesan masuk ke hati.

Seni dan Simbol: Pertunjukan wayang dan gamelan diberi pesan moral tauhid—bahwa segala kekuatan selain Allah fana.

Teladan Hidup: Sifat rendah hati, keadilan, dan kepedulian sosial menjadi dakwah yang lebih fasih daripada kata-kata.

Pendekatan ini membuat masyarakat merasakan tauhid sebagai rahmat, bukan ancaman.

Tauhid dan Pembaruan Sosial

Tauhid bagi beliau adalah kekuatan pembaruan:

Ekonomi: Mengajarkan kejujuran dalam perdagangan pelabuhan Cirebon, menolak praktik riba dan penipuan.

Keadilan Politik: Mengingatkan para pemimpin bahwa kekuasaan hanyalah titipan Allah, sehingga kebijakan harus melindungi kaum lemah.

Kesetaraan Sosial: Menekankan persaudaraan lintas suku dan status, karena semua manusia hamba Allah yang sama di hadapan-Nya.

Dengan cara ini, tauhid tidak berhenti di mihrab, tetapi mengalir ke pasar, sawah, dan balai pemerintahan.

Relevansi untuk Kita

Di era modern, manusia kerap terjerat “tuhan-tuhan” baru: uang, jabatan, popularitas. Kajian tauhid Syekh Syarif Hidayatullah mengingatkan kita bahwa keesaan Allah adalah penawar segala perbudakan batin. Mengakui Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung berarti menata ulang prioritas hidup—menjadi pribadi merdeka, adil, dan penuh kasih.

Penutup Renungan

Seri kedua ini menegaskan: tauhid adalah fondasi dakwah yang menyalakan pembaruan sosial dan batin. Dari Cirebon berabad-abad silam, pesan itu terus menggema: bebaskan dirimu dari segala berhala dunia, agar hati hanya tertambat pada Yang Maha Esa.

Di seri berikutnya, kita akan menelusuri bagaimana beliau mengenalkan Rubūbiyyah—kesadaran Allah sebagai Pemelihara Alam—sebagai langkah lanjutan dalam meneguhkan iman masyarakat Nusantara.***

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.