26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 1, 2026

Latest Posts

Rencana Pembangunan Perumahan di Kota Sukabumi Tuai Polemik, Warga Soroti Dampak Lingkungan dan Situs Gua Purba

Wartain.com || Rencana pembangunan kawasan perumahan di wilayah Gunung Karang, Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, tengah menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan di media sosial.

Sejumlah warga dikabarkan menyatakan keberatan terhadap proyek tersebut. Penolakan muncul tidak hanya karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, tetapi juga karena di sekitar lokasi terdapat gua yang menyimpan bebatuan karang purba yang diperkirakan berusia jutaan tahun.

Lurah Limusnunggal, Dedi Supriadi, menjelaskan aktivitas pengolahan lahan berupa cut and fill di kawasan tersebut sudah berlangsung sejak akhir 2025.
Menurutnya, kegiatan tersebut dilakukan oleh pihak pengembang sebagai langkah awal membuka kawasan agar menarik minat investor.

“Kalau tidak salah kegiatan cut and fill dimulai sekitar akhir 2025. Saat itu pihak pengusaha membuka lahan, kemungkinan sebagai tahap awal untuk memancing investor datang sebelum pembangunan dimulai,” kata Dedi, Senin (16/3/2026).

Ia menyebutkan luas lahan yang telah mengalami cut and fill mencapai sekitar 17 hektare. Berdasarkan site plan yang pernah diperlihatkan pihak pengembang, kawasan tersebut direncanakan menjadi kompleks perumahan elit.

“Dari denah yang sempat ditunjukkan kepada kami, rencananya memang akan dibangun perumahan elit dengan luas area sekitar 17 hektare,” ujarnya.

Meski aktivitas pengolahan lahan sudah dilakukan, Dedi mengatakan hingga saat ini perizinan proyek tersebut belum sepenuhnya terbit, termasuk dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Untuk perizinannya sendiri setahu kami belum ada. Terakhir saya konfirmasi pada Januari lalu, dokumen perizinan termasuk AMDAL masih belum keluar,” jelasnya.

Penolakan dari warga, lanjut Dedi, dipicu karena proses sosialisasi yang dinilai tidak melibatkan masyarakat secara terbuka. Pihak pengembang sebelumnya disebut melakukan pendekatan langsung ke rumah warga tanpa musyawarah bersama.

“Waktu itu mereka datang ke rumah warga secara door to door. Karena tidak ada forum musyawarah, akhirnya warga menyampaikan keberatan. Kami kemudian memfasilitasi mediasi yang sudah dilakukan dua kali antara warga dan pihak pengembang,” katanya.

Selain soal proses komunikasi, warga juga mengkhawatirkan dampak lingkungan jika kawasan resapan air berubah fungsi menjadi perumahan.

“Kekhawatiran warga salah satunya potensi banjir karena berkurangnya daerah resapan air,” ungkap Dedi.

Warga juga mengajukan permintaan agar sebagian lahan dialokasikan sebagai fasilitas umum, khususnya untuk area pemakaman.

“Permintaan warga yang paling disampaikan adalah penyediaan fasilitas umum berupa lahan pemakaman,” ujarnya.

Dedi menambahkan, dampak lingkungan dari aktivitas cut and fill mulai dirasakan warga. Salah satunya aliran air yang menuju area persawahan sempat terganggu karena saluran irigasi tertutup tanah hasil pengerukan.

“Saluran air di pinggir lokasi sempat tertutup tanah kerukan sehingga aliran air ke sawah warga tidak lancar,” jelasnya.

Gua dengan Bebatuan Purba

Di sisi lain, kawasan Gunung Karang juga menjadi perhatian kalangan peneliti. Pada Mei 2025, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengirimkan tim arkeolog untuk meneliti gua yang berada di kawasan tersebut.

Penelitian itu dilakukan setelah ditemukan sejumlah bebatuan unik dari Gunung Karang yang kini tersimpan di Museum Prabu Siliwangi.

Ahli Prasejarah Masa Paleolitik dari BRIN, Jatmiko, menjelaskan bahwa batuan tersebut merupakan formasi alam yang terbentuk secara alami, bukan hasil buatan manusia.

“Batuan di sana merupakan batu alam. Ada kepercayaan masyarakat yang menganggap bentuknya menyerupai wajah manusia atau hewan seperti ikan dan anjing laut,” kata Jatmiko saat penelitian, Sabtu (31/5/2025).

Ia menambahkan, batuan karang di kawasan tersebut diperkirakan sangat tua karena terbentuk melalui proses geologi yang panjang.

“Karang tersebut terbentuk dari proses pengangkatan geologi dari laut. Itu sebabnya ditemukan jejak kerang di batuan. Usianya bisa mencapai jutaan tahun,” jelasnya.

Sementara itu, Ahli Prasejarah Lingkungan BRIN, Zubair Mas’ud, menyarankan agar kawasan Gunung Karang dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis eco-museum yang terintegrasi dengan koleksi di Museum Prabu Siliwangi.

“Jika pengunjung museum penasaran dengan asal-usul batuan dari Gunung Karang, mereka bisa langsung melihat lingkungan aslinya di lokasi. Itu bisa menjadi daya tarik wisata edukatif,” ujar Zubair.

Menurutnya, kawasan tersebut juga memiliki potensi wisata alam lainnya, seperti sungai kecil yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan rekreasi.

Terkait kemungkinan pembangunan perumahan berdampak pada gua tersebut, Dedi Supriadi mengaku belum dapat memastikan apakah lokasi situs berada di dalam area proyek.

“Dari sketsa yang pernah kami lihat, belum terlihat secara jelas apakah posisi situs itu masuk ke dalam kawasan yang akan dibangun,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan kondisi gua hingga saat ini masih aman dan belum tersentuh aktivitas pembangunan.
“Sejauh ini masih aman, belum ada aktivitas yang menyentuh lokasi gua tersebut,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.