Dari Perspektif Historis, Filosofis, dan Kesadaran Tauhid
Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Kegamaan
Retaknya Sejarah, Terbelahnya Umat
Wartain.com || Ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan dengan jujur oleh umat Islam hari ini: di mana sebenarnya awal retaknya persatuan itu? Kita sering melihat kenyataan—umat terpecah, saling curiga, bahkan dalam beberapa kondisi saling menegasikan—namun jarang berani menelusuri akar terdalamnya. Sebagian memilih diam karena takut membuka luka lama. Sebagian lain berbicara, tapi dengan emosi dan keberpihakan yang sudah terkunci sejak awal. Akibatnya, sejarah tidak lagi menjadi cermin, melainkan berubah menjadi alat pembenaran.
Padahal, kalau kita mau jujur, umat ini tidak runtuh dalam satu malam. Ia retak perlahan, dimulai dari titik yang sangat dekat dengan masa paling mulia: masa setelah wafatnya Nabi Muhammad. Di titik inilah paradoks besar itu dimulai—bagaimana mungkin umat yang dibimbing langsung oleh seorang nabi, yang dibentuk dengan tauhid paling murni, justru kemudian mengalami konflik yang begitu dalam?
Pertanyaan ini tidak untuk menyalahkan generasi awal. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kejujuran intelektual untuk memahami bahwa bahkan generasi terbaik pun tetap manusia—yang hidup dalam realitas, tekanan, dan kompleksitas. Dari sinilah kita belajar satu hal penting: kesucian ajaran tidak selalu identik dengan kesempurnaan praktik manusia.
Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan setelah Nabi berlanjut kepada para sahabat utama—Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Uthman ibn Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Masa ini sering disebut sebagai periode ideal, dan memang dalam banyak aspek ia mendekati cita-cita kepemimpinan Islam. Namun di balik itu, benih-benih ketegangan mulai muncul—perlahan, halus, dan sering kali tersembunyi di balik niat yang sama: menjaga agama.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Apakah konflik itu lahir karena hilangnya iman? Ataukah justru karena perbedaan cara memahami dan menjalankan iman dalam situasi yang berubah? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana kita membaca seluruh sejarah setelahnya.
Ketika konflik mulai terbuka—terutama pada masa Ali bin Abi Thalib—umat dihadapkan pada realitas yang belum pernah terjadi sebelumnya: perbedaan di antara orang-orang terbaik. Peristiwa seperti Battle of Siffin bukan hanya perang biasa, tetapi simbol dari benturan antara keadilan, kekuasaan, dan persepsi manusia. Dari titik ini, sejarah tidak lagi berjalan lurus, melainkan mulai bercabang.
Kemudian datang satu peristiwa yang mengguncang nurani umat hingga hari ini: Battle of Karbala. Di sana, Husayn ibn Ali berdiri dengan jumlah yang sangat kecil menghadapi kekuasaan besar di bawah Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini sering dipersempit menjadi konflik politik atau dijadikan simbol keberpihakan mazhab. Padahal, lebih dari itu, Karbala adalah cermin yang memperlihatkan satu hal mendasar: bahwa dalam sejarah manusia, kebenaran tidak selalu bersama mayoritas, dan kekuasaan tidak selalu berjalan seiring dengan nilai.
Namun, di sinilah letak bahaya terbesar dalam membaca sejarah. Ketika satu kelompok menjadikan tokoh tertentu sebagai simbol kebenaran mutlak, sementara kelompok lain mengambil posisi sebaliknya, maka sejarah berubah menjadi arena pertarungan identitas. Dari sinilah kemudian lahir pembelahan yang kita kenal sebagai Sunni dan Syiah. Awalnya, ia berakar pada persoalan politik dan legitimasi kepemimpinan. Tetapi seiring waktu, ia berkembang menjadi perbedaan teologis yang semakin dalam.
Artikel ini tidak ditulis untuk memperkuat sekat itu. Justru sebaliknya, buku ini berusaha menelusuri akar konflik tersebut dengan pendekatan yang lebih jernih: historis, filosofis, dan spiritual. Historis—agar kita memahami apa yang benar-benar terjadi, bukan sekadar narasi yang diwariskan. Filosofis—agar kita mampu melihat pola, bukan hanya peristiwa. Dan spiritual—agar kita tidak kehilangan ruh tauhid dalam membaca semua ini.
Karena pada akhirnya, masalah umat bukan sekadar siapa yang benar di masa lalu, tetapi bagaimana kita memahami kebenaran itu hari ini. Jika sejarah hanya dijadikan alat untuk menyalahkan, maka ia akan terus melahirkan perpecahan. Tetapi jika ia dibaca sebagai pelajaran, maka ia bisa menjadi jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Kita juga harus berani melihat bahwa fragmentasi umat hari ini tidak hanya disebabkan oleh konflik masa lalu. Ia diperparah oleh realitas modern: kolonialisme, dominasi global, manipulasi informasi, dan elit-elit yang sering kali lebih dekat pada kepentingan kekuasaan daripada kepentingan umat. Luka lama bertemu tekanan baru, dan hasilnya adalah umat yang kehilangan arah.
Di titik ini, kita perlu kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah masalah utama umat adalah perbedaan mazhab, atau justru hilangnya kedalaman tauhid dalam diri? Apakah kita terpecah karena sejarah, atau karena kita tidak lagi memiliki kemampuan untuk membaca sejarah dengan jernih?
Artikel ini mengajak pembaca untuk keluar dari jebakan tersebut. Tidak untuk menjadi hakim atas masa lalu, tetapi untuk menjadi pembelajar yang jujur. Tidak untuk memilih satu kubu dan menolak yang lain, tetapi untuk memahami mengapa perbedaan itu terjadi, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya hari ini.
Karena jika tidak, kita akan terus mengulang pola yang sama: menghidupkan konflik lama dalam wajah baru, memperdebatkan tokoh masa lalu tanpa memperbaiki diri di masa kini, dan berharap perubahan besar tanpa membangun fondasi yang benar.
Sejarah telah berbicara. Pertanyaannya sekarang:
apakah kita mau mendengarnya dengan hati yang jernih,
atau tetap terjebak dalam gema suara kita sendiri?
Di sinilah perjalanan artikel ini dimulai.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
