Oleh: Ferry Gustaman, S.H/ Mantan Ketua KPU Kabupaten Sukabumi/ Presidium MD KAHMI Sukabumi
Wartain.com – Panasnya suhu politik menjelang Musda Partai Golkar Kabupaten Sukabumi 2026 mulai terasa. Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dipenuhi postingan para kader yang mulai menunjukkan sikap dan dukungan. Bagi publik, ini menjadi tontonan menarik tentang bagaimana demokrasi internal partai berjalan.
Sebagai pengamat dari luar, saya melihat Partai Golkar masih menjadi salah satu “sisa demokrasi” di tubuh partai politik saat ini. Di tengah banyak partai yang proses pergantian kepemimpinannya bersifat top down. Golkar masih memberi ruang bagi dinamika dari bawah.
Kenyataannya, pola penunjukan Ketua DPD dari DPP sudah menjadi hal lumrah di banyak partai. Struktur pusat sangat dominan, bahkan Ketua di tingkat kabupaten/kota pun kerap ditentukan dan ditunjuk langsung. Hal ini membuat partai kehilangan rohnya sebagai sekolah demokrasi.
Karena itu, wacana Musda Golkar Kabupaten Sukabumi dengan skema calon tunggal adalah hal yang harus dikritisi. Jika itu terjadi, maka Golkar akan kehilangan identitasnya sebagai partai yang masih menjaga suara akar rumput.
Padahal, kekuatan Golkar justru ada pada banyaknya potensi kader. Di Kabupaten Sukabumi, ada banyak nama yang layak dan pantas bersaing secara sehat dalam kontestasi Musda. Kompetisi yang sehat akan melahirkan pemimpin yang kuat dan legitimasi yang kokoh.
Salah satu nama yang muncul adalah Ferry Supriyadi. Sebagai Ketua BPC HIPMI Kabupaten Sukabumi sekaligus Anggota DPRD, ia mewakili wajah muda Golkar. Kapasitasnya merangkul anak muda dan gaya komunikasi yang supel menjadi modal penting untuk menarik pemilih muda menjadi mesin pemenangan Golkar.
Nama kedua adalah Budi Azhar, yang saat ini menjabat Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi. Sebagai kader senior, pengalaman beliau selama beberapa periode di legislatif tidak perlu diragukan. Elektabilitasnya terbukti saat meraih suara terbanyak di dapilnya pada Pemilu 2024.
Nama ketiga adalah Nurman. Keunggulannya ada pada jejaring di tingkat DPP. Dengan posisinya sebagai pengurus DPP dan pengalaman di bidang pemenangan pemilu, ia memiliki akses informasi dan konsolidasi dari pusat ke daerah yang sangat strategis bagi Golkar Sukabumi.
Di luar ketiga nama tersebut, saya yakin masih banyak kader Golkar lain yang memiliki kapasitas. Inilah kelebihan Golkar. Partai ini tidak pernah kekurangan kader, yang dibutuhkan hanyalah ruang kompetisi yang adil.
Saya membayangkan Musda nanti berlangsung dengan dinamika konstruktif. Adu gagasan, adu program, dan adu kapasitas. Dari situ akan lahir pemimpin yang benar-benar siap membangun Golkar dan memberi kontribusi bagi kemajuan Kabupaten Sukabumi.
Sebaiknya Partai Golkar tidak memilih jalan pintas aklamasi. Biarkan mekanisme demokrasi berjalan. Karena sekali lagi, Golkar adalah salah satu partai yang masih menjaga kewarasan berdemokrasi di internal partai.
Akhir kata, selamat berdinamika kepada seluruh kader Golkar Kabupaten Sukabumi. Jadikan Musda ini sebagai ruang persemaian demokrasi, bukan sekadar formalitas. Masa depan Golkar dan Sukabumi ada di tangan keputusan hari ini.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
