26.7 C
Jakarta
Kamis, Juli 23, 2026

Latest Posts

Kekeringan Melanda Sukabumi, Petani Cikembar Terpaksa Aliri Sawah dengan Air Diduga Limbah Batu Hijau

Wartain.com – Sejumlah petak sawah di Kampung Sedamukti, Desa Bojongraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, tampak berbeda dari lahan pertanian pada umumnya.

Jika biasanya sawah dialiri air jernih dengan tanah berwarna kecokelatan, air yang menggenangi sebagian sawah di wilayah tersebut justru terlihat berwarna putih.

Kondisi ini terjadi di tengah kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Cikembar. Para petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengairi lahan pertanian.

Keterbatasan sumber air membuat sebagian petani terpaksa memanfaatkan aliran sungai yang diduga terindikasi limbah aktivitas pemotongan batu hijau untuk mempertahankan tanaman padi mereka.

Salah seorang petani asal Kampung Sedamukti, Desa Bojongraharja, Danu, mengatakan air yang digunakan untuk mengairi sawah berasal dari aliran Sungai Cibojong. Air tersebut kemudian mengalir melalui kawasan pemotongan batu sebelum dipompa menuju lahan pertanian.

Menurut Danu, penggunaan air tersebut menjadi pilihan terakhir karena sumber air untuk irigasi sulit diperoleh selama musim kemarau.

“Susah pengairan sawah. Pengairan sawahnya nggak ada sumbernya,” ujar Danu, Kamis (23/7/2026).

Ia mengatakan, petani harus mengandalkan mesin pompa agar air dapat dialirkan ke area persawahan. Tanpa pasokan air dan bantuan mesin tersebut, tanaman padi berisiko mengalami kekeringan hingga gagal panen.

“Gagal panen kalau nggak punya mesin sedotan. Di sana juga sudah kekeringan,” katanya.

Danu menjelaskan, sejumlah mesin pompa celup digunakan untuk mengalirkan air ke sawah. Di salah satu titik terdapat dua mesin pompa, sedangkan di lokasi lain jumlahnya mencapai sekitar lima unit.

Kekeringan Melanda Sukabumi, Petani Cikembar Terpaksa Aliri Sawah dengan Air Diduga Limbah Batu Hijau (Foto : Azi)

Meski menggunakan air yang mengalir dari kawasan pemotongan batu, Danu mengaku sejauh ini belum melihat dampak langsung terhadap tanaman padi yang dikelolanya.

“Sejauh ini tidak ada. Air bekas pemotongan juga cukup dingin, tidak terlalu panas,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Cikembar, Lenni Nurliah, membenarkan adanya masyarakat yang memanfaatkan air sungai yang diduga terindikasi limbah industri pemotongan batu hijau.

Menurut Lenni, kondisi tersebut terjadi karena warga mengalami keterbatasan pasokan air. Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan solusi terlebih dahulu sebelum mengimbau masyarakat menghentikan penggunaan sumber air tersebut.

“Kalau kami mengimbau, harus ada solusi. Kalau penggunaan air itu tidak berdampak terhadap kesuburan tanah maupun hasil panen, mungkin masih bisa dilakukan,” kata Lenni.

Pihak kecamatan, lanjut Lenni, akan berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Pertanian, untuk mencari solusi atas persoalan kekeringan yang dialami para petani.

Sebab, sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Cikembar telah mengalami gagal panen. Salah satunya berada di kawasan irigasi Cibodas, Desa Parakanlima.

“Sudah ada yang gagal panen di beberapa titik, salah satunya di daerah irigasi Cibodas, Desa Parakanlima. Tanaman padi yang seharusnya mulai menguning dan berbunga sudah tidak bisa diselamatkan karena kekeringan. Tanahnya juga sudah pecah,” jelasnya.

Lenni berharap penanganan segera dilakukan agar kekeringan tidak semakin meluas dan jumlah lahan pertanian yang mengalami gagal panen tidak bertambah.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.