Wartain.com – Tim SAR gabungan melakukan pencarian terhadap Ahmad Nadif Fadilah (21), pemuda asal Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang dilaporkan hilang setelah diduga terseret ombak di Pantai Karangnaya, Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Senin (17/8/2026).
Laporan kejadian diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta melalui Pos SAR Sukabumi dari keluarga korban, Ikbal, sekitar pukul 13.50 WIB. Peristiwa tersebut diduga terjadi sekitar pukul 07.00 WIB.
Sebelum kejadian, korban bersama tiga rekannya turun ke pantai sekitar pukul 05.30 WIB untuk berenang. Saat berada di kawasan pantai, Ahmad diduga terseret ombak besar ke arah tengah laut. Ketiga rekannya yang berada di tepi pantai disebut tidak menyadari kejadian tersebut.
Koordinator Pos SAR Sukabumi, Suryo Adianto, mengatakan tim langsung diberangkatkan setelah menerima laporan.
“Setelah menerima laporan, kami langsung mengerahkan Tim Rescue Pos SAR Sukabumi menuju lokasi untuk melakukan pencarian terhadap korban. Setibanya di lokasi, tim segera berkoordinasi dengan unsur SAR gabungan dan melakukan penyisiran di sekitar area korban diduga terseret arus,” ujar Suryo.
Suryo menyebut kondisi cuaca saat tim tiba di lokasi terpantau cerah. Meski demikian, karakteristik pantai dan kondisi gelombang menjadi perhatian dalam proses pencarian.
Dalam operasi tersebut, sejumlah unsur SAR gabungan turut terlibat, di antaranya Pos SAR Sukabumi, Polairud Polres Sukabumi, RAPI Lokal, dan Balawista.
Petugas juga mengerahkan sejumlah peralatan untuk mendukung pencarian, mulai dari Rescue Car, peralatan SAR air, perahu LCR, peralatan evakuasi, Aqua Eye hingga drone.
Penyisiran dilakukan di sekitar perairan dan lokasi yang diduga menjadi titik korban terseret arus. Hingga Senin sore, Ahmad Nadif Fadilah masih belum ditemukan dan operasi pencarian terus dilakukan sesuai kondisi di lapangan.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta mengimbau masyarakat dan wisatawan yang beraktivitas di kawasan pantai agar selalu memperhatikan kondisi gelombang serta mematuhi arahan petugas maupun pengelola wisata.
Keselamatan, kata mereka, harus menjadi prioritas sebelum melakukan aktivitas di laut.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
