26.7 C
Jakarta
Minggu, Agustus 2, 2026

Latest Posts

Mengapa Kita Kehilangan Tuhan? Sebuah Renungan dari Dalam Dunia yang Terbakar

Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan

Pengantar

Wartain.com || Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang terus melaju, manusia merasa semakin canggih, namun justru semakin kosong. Ada paradoks yang menyesakkan: kemajuan teknologi meroket, tetapi hati manusia kian kerontang.

Dunia semakin terang oleh cahaya buatan, tetapi jiwa-jiwa kita justru tenggelam dalam kegelapan batin. Lalu, ke manakah perginya Tuhan dalam hidup kita? Artikel ini tidak sekadar analisis, tapi juga suara batin yang ingin menyentuh jantung kesadaran kita yang tertidur. Dan akhirnya, sebuah surat terbuka, dari sunyi untuk mereka yang lupa arah hidup dalam keramaian dunia.

Mengapa Kita Kehilangan Tuhan?

Di zaman ini, Tuhan sering kali hanya menjadi simbol di balik dokumen negara, nama dalam ritual, atau senjata dalam perdebatan ideologis. Tapi dalam ruang batin, dalam percakapan sehari-hari, dalam keputusan ekonomi dan politik, nama-Nya nyaris tak bersuara.

Kita membangun kota-kota megah, tetapi merobohkan langit dari dada kita. Kita bicara tentang kemanusiaan, tetapi melupakan ruh yang menghidupkan manusia. Bahkan dalam agama, sering kali kita menemukan Tuhan yang diperdagangkan—dijadikan alat untuk mengikat, bukan untuk membebaskan.

Mengapa ini terjadi?

Karena manusia telah menggantikan pusat keberadaannya. Yang dahulu adalah Tuhan—sebagai sumber makna dan arah hidup—kini diganti oleh ego, uang, kekuasaan, dan algoritma. Kita tidak kehilangan Tuhan karena Dia pergi, tapi karena kita menyingkirkan-Nya secara halus, perlahan, dan sistematis.

Paradoks ini menyakitkan: kita membicarakan spiritualitas lebih banyak, namun berdoa lebih sedikit. Kita tahu banyak dalil, tapi tak mengenal detak hati saat mengucap nama-Nya. Kita membaca kitab suci, tapi tak lagi membaca diri sendiri. Dan pada titik inilah, dunia terbakar. Bukan oleh api, tapi oleh kehilangan makna.

Surat Terbuka: Untuk Engkau yang Sedang Mencari Jalan Pulang

Kepada engkau yang diam-diam menangis di tengah tawa orang-orang,
Kepada engkau yang merasa sunyi meski berada di tengah ribuan follower,
Kepada engkau yang diam-diam ingin berkata, “Aku lelah, tapi tak tahu pada siapa harus kembali…”
Aku menulis ini bukan sebagai orang suci. Aku pun sedang mencari. Tapi izinkan aku menyampaikan satu pesan dari dasar kesunyian: Tuhan belum pergi. Yang perlu kita lakukan hanya menunduk sedikit lebih dalam, bukan ke bumi, tapi ke dalam diri.
Engkau bisa kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan cinta. Tapi jangan kehilangan Tuhan. Karena saat segalanya runtuh, hanya Dia yang tak berubah. Saat semua pintu tertutup, hanya Dia yang bisa ditembus tanpa izin.
Kembalilah bukan karena takut neraka, tapi karena engkau rindu. Kembalilah bukan karena ingin hadiah, tapi karena engkau ingin dikenali, dipeluk, dan dicintai oleh Yang Menciptakanmu.
Biarlah dunia tetap gaduh, tetapi jadikan jiwamu taman sunyi tempat Tuhan bersemayam.
Jika engkau lelah, diamlah sejenak. Dan bisikkan,
“Ya Allah, aku ingin kembali…”
Tak perlu syarat. Tak perlu dalil. Hanya kejujuran. Dan itulah jalan pulang.
Dzikri Nursyuhada
Dari Sunyi, untuk yang sunyi.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.