Wartain.com || Sejumlah sopir bus menjalani tes urine di Terminal Tipe A Kota Sukabumi para Rabu 3/4/2024. Hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan selama mudik lebaran.
Tak hanya sopir bus, kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Narkotika Nasinal Kabupaten/Kota (BNNK) Sukabumi tersebut juga menyasar ke kernet dan petugas yang melayani mudik.
Pemeriksaan ini diawali dengan pengisian daftar hadir, tes kesehatan berat badan, tekanan darah, tes gula, tes penyakit menular TBC dan diakhiri dengan tes urine.
Dikutip dari DetikJabar, Kamis 4/4/2024, Kepala BNNK Sukabumi Sudirman mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk menjamin keselamatan penumpang saat mudik.
“Ini bentuk sinergi arahan dari pusat di BNN jelang mudik Lebaran ini untuk melakukan antisipasi terjadi kecelakaan akibat penyalahgunaan narkoba. Kami di sini dari BNN tentu arahnya yaitu melaksanakan deteksi dini melalui tes urine kepada sopir dan kondektur,” kata Sudirman di Terminal Kota Sukabumi, Rabu 3/4/2024.
Dia mengatakan pemeriksaan tes urine ini dilakukan di tiga wilayah yaitu di Cibadak, Pelabuhanratu dan Kota Sukabumi. Pihaknya menggunakan alat khusus yang dapat mendeteksi tujuh indikator mulai dari kokain, sabu, opium hingga obat-obatan keras.
“Hari ini mereka dites, besok sudah sampai di terminal mana sudah ada tim BNN yang melakukan tes lagi. Kita melihat dulu berapa sopir dan bus yang masuk hari ini. Seberapa banyak yang masuk, itu kita tes,” ujarnya.
Sudirman menjelaskan penyalahgunaan narkoba dapat mengubah persepsi (mispersepsi) disorientasi ruang dan waktu. Sopir yang kecanduan narkotika tidak akan dapat membedakan siang dan malam, dekat dan jauh.
“Ini berbahaya, umumnya ditemukan jenis obat daftar G tapi yang kita khawatirkan sabu, karena sabu ini sifatnya stimulan. Bisa membuat daya tahan dia melebihi kondisi umum, bisa nggak makan, nggak minum, nggak tidur 1-2 hari bahkan lebih,” kata dia.
“Obat keras atau daftar G ini kan sebetulnya obat yang digunakan untuk kesehatan seperti orang sakit jiwa, obat penenang, tapi kalau dia dikonsumsi melebihi daripada yang seharusnya, sekali minum 3-5 atau lebih ini berbahaya. Bisa tambah down, lemah atau fresh tapi kan freshnya ini berakibat kecanduan,” sambungnya.
Jam kerja yang tinggi tidak dapat menjadi alasan bagi sopir untuk mengonsumsi narkotika. Oleh sebab itu, sopir harus beristirahat setelah 5-6 jam perjalanan.
“Kalau dia tidak melakukan itu (istirahat 1-2 jam) dan memakai dopping atau yang berbahaya, ini yang tidak kita inginkan. Tidak ada alasan pakai dopping, bagaimana buat dirinya sehat, karena penyalahgunaan tadi itu bisa mengubah disorientasi ruang dan waktu,” sambungnya.
Pihaknya mengimbau baik sopir pribadi maupun sopir yang melayani mudik agar menjauhi narkotika. Jangan beranggapan narkotika bisa membuat kuat dan daya tahan lebih.
“Dampaknya sudah cukup banyak, mau dia pilot, masinis dan sebagainya, narkoba itu sudah ada yang disalahgunakan oleh ‘mereka’ tapi dampaknya kita lihat kecelakaan. Berapa banyak yang mengendarai kecelakaan akibat narkoba, oleh karenanya saya minta oleh semua pengemudi jauhi narkoba,” katanya.***
Foto: Istimewa
Editor: Raka A. Firmansyah
(Red)
