26.7 C
Jakarta
Kamis, Mei 7, 2026
Beranda blog Halaman 16

Korsleting Listrik di GOR Dojo Setukpa, Kegiatan Porismas 2026 Sempat Terganggu

0

Wartain.com || Insiden korsleting listrik terjadi di GOR Dojo Setukpa Lemdiklat Polri, Kota Sukabumi, Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Peristiwa tersebut terjadi saat berlangsungnya kegiatan Porismas (Pekan Olahraga Integrasi Siswa dan Masyarakat) 2026.

Akibat kejadian itu, suasana di dalam gedung olahraga sempat gelap total. Sejumlah atlet dan peserta yang berada di lokasi memilih membubarkan diri, sementara petugas melakukan penanganan untuk memastikan kondisi aman.

Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Damkar Kota Sukabumi, Dadi Kusmawandi, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan dari pengelola GOR dan pihak Setukpa terkait adanya percikan api yang diduga berasal dari korsleting listrik.

“Laporan dari pihak Secapa (Setukpa) juga dari pengelola GOR Dojo-nya. Kebetulan saya kenal dan dia nelepon ke saya, Japri. Bahwa di GOR Dojo terjadi ada percikan api yang disebabkan oleh korsleting listrik,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, petugas mendapati api sudah lebih dulu berhasil dipadamkan oleh pihak internal Setukpa menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

“Iya ke lokasi dan dipadaminnya pake APAR,” katanya.

Meski api telah padam, Damkar tetap melakukan pengecekan lanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya percikan api susulan.

“Antisipasi dikarenakan takut nyala lagi, makanya menerjunkan Damkar sama anggota ke sana. Takutnya misalkan nyala lagi, tapi alhamdulillah udah aman sih,” paparnya.

Dari hasil pemeriksaan di lapangan, diketahui sumber masalah berasal dari kerusakan pada Miniature Circuit Breaker (MCB) yang memicu arus pendek.

“Cuman korsleting dari MCB atau bensernya aja,” sebutnya.

Dadi juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi korsleting listrik, terutama akibat penggunaan daya yang berlebihan. Ia mengimbau masyarakat untuk memastikan kondisi instalasi listrik tetap aman dan mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan.

“Masyarakat harus hati-hati apabila misalkan menggunakan listrik terlalu berlebihan bebannya karena akan bisa menyebabkan terjadinya panas sehingga akan terjadi korsleting listrik. Jadi misalkan kalau masyarakat umum misalkan keluar rumah, dicek dulu peralatan-peralatan elektroniknya,” jelasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Ayah Kandung Korban Ikut Ditahan, Kasus Kematian Bocah di Surade Kian Kompleks

0

Wartain.com || Perkembangan terbaru muncul dalam kasus kematian tragis NS (12), bocah asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Setelah sebelumnya ibu tiri korban ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan, kini ayah kandungnya, Anwar Satibi, turut ditahan di Mapolres Sukabumi, Rabu (29/4/2026).

Penahanan dilakukan usai penyidik Satreskrim Polres Sukabumi mengantongi sejumlah bukti yang mengarah pada dugaan pembiaran dan penelantaran anak. Dugaan tersebut dinilai berkaitan langsung dengan kondisi korban hingga akhirnya meninggal dunia.

Langkah hukum ini merupakan tindak lanjut dari laporan ibu kandung korban, Lisnawati. Dalam laporannya, Anwar disebut tidak menjalankan peran perlindungan secara optimal saat korban berada dalam pengasuhannya, sehingga diduga terjadi penelantaran.

Kuasa hukum Anwar, Farhat Abbas, membenarkan bahwa kliennya kini menjalani masa penahanan selama 20 hari ke depan. Namun, ia menilai keputusan tersebut tidak mempertimbangkan kondisi psikologis kliennya yang tengah berduka.

“Ini satu tekanan. Kapolres seolah pakai kacamata kuda, tidak melihat bahwa orang ini sebenarnya juga baru kehilangan anak kandungnya,” ujar Farhat di Mapolres Sukabumi.

Perdebatan Hukum Mengemuka
Kasus ini memunculkan perbedaan pandangan antara penyidik dan pihak pembela. Kepolisian menjerat Anwar dengan Pasal 76 dan 77B Undang-Undang Perlindungan Anak yang menitikberatkan pada unsur pembiaran.

Penyidik menduga terdapat kelalaian serius, terutama saat korban membutuhkan penanganan medis sebelum akhirnya meninggal dunia.

Sementara itu, pihak kuasa hukum memiliki pandangan berbeda. Farhat menyebut korban selama ini mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan dikenal sebagai santri penghafal Al-Qur’an di pesantren. Ia juga membantah tudingan bahwa kliennya sengaja tidak memberikan pengobatan.

“Bukan dibiarkan tidak berobat. Ada informasi saat itu disarankan besok saja ke rumah sakit, jadi bukan kesengajaan membiarkan anak dalam bahaya,” tuturnya.

Kasus ini semakin rumit karena melibatkan kedua orang tua dalam pusaran hukum. Sebelumnya, ibu tiri korban berinisial TR telah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan setelah gugatan praperadilannya ditolak.

Kini, Anwar harus menjalani proses hukum atas dugaan penelantaran, menambah kompleksitas perkara yang tengah bergulir.

Pihak kuasa hukum pun menyatakan akan menempuh langkah hukum lanjutan dengan mengajukan praperadilan atas penahanan tersebut. Mereka juga meminta agar ibu kandung korban turut diperiksa untuk memastikan keadilan berjalan seimbang.

“Tanggung jawab pengasuhan itu melekat pada kedua orang tua. Kami menuntut keadilan yang setara dalam proses ini,” tegasnya.

Saat ini, Anwar Satibi masih berada di ruang tahanan Polres Sukabumi guna kepentingan penyidikan lebih lanjut terkait perannya dalam kasus kematian NS.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Sinergi Percepat Pengentasan Kemiskinan, Program 12 PAS Kembali Menyasar Warga Kota Sukabumi

0

Wartaincom || Pemerintah Kota Sukabumi kembali menggulirkan program unggulan Ayeuna Waktuna Berbagi Berkah (12 PAS) sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan kemiskinan ekstrem. Program periode kedua episode kelima ini dilaksanakan di Kelurahan Gunungparang dan Tipar, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, didampingi Wakil Wali Kota, Bobby Maulana. Kehadiran keduanya memastikan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran.

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menegaskan bahwa program 12 PAS menjadi instrumen penting dalam mendistribusikan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Melalui program ini, pemerintah memberikan bantuan berupa dana tunai, paket sembako, serta dukungan peralatan usaha bagi pelaku usaha kecil seperti kompor gas dan peralatan memasak, guna mendorong aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan komitmen pemerintah dalam menekan angka kemiskinan melalui program berkelanjutan.

“Kami berharap program ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, sehingga penanganan kemiskinan dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan,” lanjutnya.

Bantuan yang disalurkan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, di antaranya Bank BJB, BRI, BAZNAS, Pegadaian, dan BSI bersama Pemerintah Kota Sukabumi. Sinergi lintas sektor ini dinilai menjadi kekuatan utama dalam mempercepat pengentasan kemiskinan di daerah.

Di Kelurahan Tipar, bantuan diberikan kepada Sahlir, Rodiah, Kurniati, Nenda Jipeng, dan Euis Tina. Sementara di Kelurahan Gunungparang, penerima manfaat antara lain Inah Karlina, Ety Haryati, Nenen Suraenda, Cecep Suparlan, dan Lilis Suryani.

Selain penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi antara pemerintah dan masyarakat. Wali kota dan wakil wali kota turut berdialog langsung untuk menyerap aspirasi serta mengetahui kondisi riil warga di lapangan.

Ayep Zaki menambahkan, pendekatan kolaboratif dalam program ini menunjukkan bahwa penanggulangan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.

“Pendekatan kolaboratif yang diusung dalam program 12 PAS menunjukkan bahwa penanggulangan kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Melalui integrasi antara bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, Pemerintah Kota Sukabumi berharap program ini tidak hanya meringankan beban masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi serta memutus rantai kemiskinan secara berkelanjutan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Bupati Sukabumi Hadiri RUPS Bank BJB, Tekankan Peran Strategis untuk Pembangunan Daerah 

0

Wartain.com || Bupati Sukabumi Asep Japar menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB) Tahun Buku 2025 yang digelar di Bale Pakuan, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh para kepala daerah se-Jawa Barat dan Banten, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dalam forum itu, Bank BJB menetapkan pembagian dividen sebesar Rp900 miliar kepada para pemegang saham. Dari jumlah tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi memperoleh bagian sekitar Rp3,510 miliar.

Selain penetapan dividen, RUPS juga membahas sejumlah agenda penting lainnya, mulai dari penunjukan akuntan publik, rencana pemulihan kinerja, hingga penetapan susunan direksi dan pengurus baru.

Bupati Sukabumi Asep Japar menilai keberadaan Bank BJB memiliki posisi yang sangat penting dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya dalam memperkuat sektor ekonomi.

“Bank BJB bukan hanya lembaga keuangan, tetapi juga mitra strategis pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi ini harus terus diperkuat,” ujarnya.

Ia berharap hasil keputusan dalam RUPS tersebut mampu mendorong peningkatan kinerja Bank BJB agar semakin optimal dan memberikan dampak positif bagi pembangunan di daerah, termasuk Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

PLN UP3 Sukabumi Kampanyekan Budaya K3, Ajak Warga Waspada Bahaya Listrik

0

Wartain.com || PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sukabumi gencar mengedukasi masyarakat soal keselamatan ketenagalistrikan lewat kampanye budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Senin (28/4/2026).

Langkah ini jadi komitmen PLN menghadirkan layanan listrik yang tidak hanya andal, tapi juga aman bagi pelanggan. Sosialisasi digelar langsung ke lingkungan masyarakat dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Lewat kampanye tersebut, PLN UP3 Sukabumi mengajak warga lebih peduli potensi bahaya listrik. Fokusnya pada instalasi tidak standar, pelanggaran jarak aman jaringan, dan aktivitas berisiko di sekitar tiang maupun kabel listrik.

Manager PLN UP3 Sukabumi, Eka Rahma Daniati, menegaskan keselamatan adalah tanggung jawab bersama PLN dan masyarakat. PLN tak hanya menyalurkan listrik, tapi juga memastikan pemanfaatannya aman.

“PLN tidak hanya fokus pada penyediaan listrik yang andal, tetapi juga memastikan bahwa pemanfaatannya dilakukan dengan aman. Kami mengajak masyarakat lebih peduli aspek keselamatan, mulai dari instalasi sesuai standar hingga menjaga jarak aman dari jaringan,” ujarnya.

Eka menambahkan, edukasi K3 akan dilakukan berkelanjutan. PLN memakai dua jalur: pendekatan langsung ke warga dan pemanfaatan media digital agar pesan keselamatan menjangkau lebih luas.

Dari tingkat UID, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Barat, Sugeng Widodo, menyebut budaya K3 sebagai fondasi utama operasional PLN. Bukan hanya kewajiban internal, tapi harus jadi kesadaran kolektif.

“Budaya K3 bukan hanya menjadi kewajiban internal, tetapi juga harus menjadi kesadaran bersama. Kami berharap masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga keselamatan, sehingga potensi risiko kecelakaan akibat listrik dapat diminimalisir,” kata Sugeng.

PLN mengimbau warga pakai instalasi listrik bersertifikat dan ber-SLO. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas berisiko dekat jaringan, seperti main layangan, pasang antena, atau bangun bangunan terlalu dekat tiang listrik.

Jika menemukan potensi gangguan atau bahaya, warga diminta segera lapor via aplikasi PLN Mobile. Sinergi PLN dan masyarakat diyakini mampu menciptakan lingkungan aman, nyaman, dan bebas risiko listrik demi aktivitas yang lebih produktif.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Borneo FC Permalukan Persik Kediri di Brawijaya, Pesut Etam Puncaki Klasemen

0

Wartain.com || Borneo FC Samarinda sukses merebut posisi puncak klasemen sementara Liga 1 2025/2026 setelah menumbangkan tuan rumah Persik Kediri dengan skor tipis 1-0. Pertandingan pekan ke-30 tersebut berlangsung sengit di Stadion Brawijaya, Kediri, pada Rabu (29/4/2026) sore WIB.

Kemenangan krusial tim berjuluk “Pesut Etam” ini ditentukan oleh gol semata wayang yang dicetak oleh penyerang asing mereka, Koldo Obieta. Pemain asal Spanyol tersebut berhasil menggetarkan jala gawang Persik pada menit ke-55 setelah memanfaatkan umpan matang dari Mariano Peralta, yang sekaligus membungkam ribuan suporter tuan rumah.

Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi di mana kedua tim saling jual beli serangan. Persik Kediri yang bertindak sebagai tuan rumah sebenarnya memiliki beberapa peluang emas melalui skema serangan balik, namun disiplinnya barisan pertahanan Borneo FC yang digalang Christophe Nduwarugira membuat skor kacamata bertahan hingga turun minum.

Kebuntuan baru terpecah di babak kedua saat transisi cepat Borneo FC gagal diantisipasi oleh lini belakang “Macan Putih”. Gol Obieta menjadi pembeda dalam laga ini, meskipun di sisa waktu pertandingan Persik terus menekan habis-habisan untuk menyamakan kedudukan, termasuk peluang dari Ernesto Gomez yang membentur mistar gawang.

Tambahan tiga poin dari Kediri ini secara otomatis membawa Borneo FC menyalip Persib Bandung di klasemen sementara. Skuad asuhan Pieter Huistra kini mengoleksi 69 poin dari 30 laga, unggul tiga angka atas Persib Bandung yang baru akan melakoni pertandingan pekan ini pada hari Kamis besok melawan Bhayangkara FC.

Bagi Persik Kediri, hasil minor di kandang sendiri ini membuat posisi mereka tertahan di peringkat ke-12 dengan raihan 33 poin. Kekalahan ini menjadi catatan penting bagi tim pelatih untuk segera berbenah di sisa musim guna menjauh dari ancaman zona degradasi yang hanya terpaut beberapa angka di bawah mereka.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Keselamatan Bukan Soal Gender, Tapi Soal Keadilan Kebijakan

0

Oleh: Anisa Aulia, Guru Honorer/Pegiat Literasi

Wartain.com || Dalam setiap situasi darurat, satu prinsip seharusnya tidak pernah goyah: semua nyawa memiliki nilai yang setara. Karena itu, pendekatan keselamatan yang masih dibingkai dalam perspektif gender—laki-laki sebagai pihak yang “siap menanggung risiko” dan perempuan sebagai pihak yang “harus dilindungi”—perlu dikaji ulang secara serius.

Pandangan semacam ini mungkin berangkat dari niat baik, tetapi dalam praktiknya justru melanggengkan ketidakadilan. Ketika laki-laki secara implisit ditempatkan di posisi paling berisiko, sementara perempuan diasumsikan lebih aman, kebijakan tersebut tidak lagi berbasis pada prinsip keselamatan universal, melainkan pada stereotip lama yang tidak relevan dengan kebutuhan keselamatan modern.

Masalah utamanya bukan sekadar soal teknis—misalnya penempatan gerbong atau posisi evakuasi—melainkan cara pandang yang mendasarinya. Keselamatan publik tidak boleh disusun berdasarkan asumsi siapa yang “lebih kuat” atau “lebih pantas berkorban”. Sebab, dalam kondisi darurat, risiko tidak memilih jenis kelamin. Api, kecelakaan, atau bencana tidak pernah membedakan laki-laki dan perempuan.

Pendekatan berbasis gender dalam konteks ini berpotensi menimbulkan dua masalah sekaligus. Pertama, membebani laki-laki dengan ekspektasi sosial sebagai “tameng”, yang pada akhirnya mengabaikan hak mereka atas perlindungan yang setara. Kedua, mereduksi perempuan sebagai pihak yang selalu harus diselamatkan, tanpa mempertimbangkan kapasitas dan kemandirian individu.

Padahal, jika tujuan utama kebijakan adalah melindungi semua orang, maka pendekatannya harus berbasis pada standar keselamatan yang objektif dan terukur. Fokus seharusnya diarahkan pada desain sistem evakuasi yang efisien, manajemen risiko yang matang, serta perlindungan bagi kelompok rentan yang memang secara faktual membutuhkan prioritas—seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.

Inilah titik pentingnya: kerentanan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kondisi. Dengan menempatkan kerentanan sebagai dasar kebijakan, bukan identitas, kita bergerak menuju sistem keselamatan yang lebih adil dan rasional.

Lebih jauh lagi, kebijakan yang adil juga harus menghindari dikotomi “siapa diselamatkan lebih dulu” versus “siapa yang harus siap berkorban”. Narasi semacam itu tidak hanya problematis secara etis, tetapi juga berisiko melemahkan kepercayaan publik terhadap sistem keselamatan itu sendiri.

Kita membutuhkan paradigma baru—bahwa keselamatan adalah hak kolektif, bukan distribusi peran berbasis stereotip. Negara, penyelenggara transportasi, dan pemangku kebijakan harus memastikan bahwa setiap prosedur darurat dirancang untuk meminimalkan korban secara menyeluruh, bukan mengatur siapa yang lebih layak menjadi korban.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan keselamatan bukanlah siapa yang paling siap menghadapi risiko, melainkan seberapa kecil kemungkinan risiko itu merenggut nyawa siapa pun.

Sebab, tak ada satu pun manusia yang diciptakan untuk menjadi tameng bagi yang lain.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Vendor Jelaskan Kendala Teknis Pembangunan Jembatan Tegaldatar, Target Material Tiba Akhir Mei 

0

Wartain.com || Pihak pelaksana pembangunan Jembatan Tegaldatar dari PT Dua Tunggal Teknik memberikan penjelasan terkait keterlambatan proyek yang sempat menjadi perhatian masyarakat.

Hal tersebut disampaikan setelah pertemuan bersama pihak kecamatan dan stakeholder untuk meluruskan informasi yang berkembang di lapangan, di Aula Kecamatan Lengkong, Rabu (29/04/2026).

Musjianto Vendor PT Duta Tunggal Theknik menyebut keterlambatan pekerjaan lebih disebabkan oleh miskomunikasi serta kendala teknis yang muncul selama proses pembangunan berlangsung.

“Untuk tanggapan hasil pertemuan hari ini bahwa sebenarnya adalah miskomunikasi dengan sistem yang ada. Warga taunya ini seperti proyek pemerintah takutnya mandek, padahal ini dibangun oleh perusahaan swasta yang punya sistem sendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak awal proyek ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan. Namun dalam pelaksanaannya, proyek menghadapi hambatan akibat kondisi cuaca ekstrem serta ditemukannya kerusakan pada komponen utama jembatan.

“Ternyata setelah berjalan dan diganggu oleh cuaca yang ekstrem, ada dua komponen besar yang rusak, komponen utama, maka harus diganti baru,” jelasnya.

Menurutnya, sebelum diputuskan penggantian, komponen jembatan terlebih dahulu melalui proses inspeksi oleh konsultan guna menentukan bagian yang masih layak digunakan dan yang harus diganti.

“Dari situ setelah diinspeksi, diinformasikan ke pihak owner, lalu mulai proses produksi komponen pengganti,” tambahnya.

Saat ini, komponen utama berupa girder tengah dalam tahap produksi dan diperkirakan akan dikirim pada akhir Mei 2026.

Setelah material tiba di lokasi, pekerjaan akan dilanjutkan ke tahap pemasangan. “Estimasi kemungkinan besar paling maksimal di akhir Mei sudah dikirim. Setelah itu kita lanjut ke pemasangan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa progres pekerjaan di lapangan saat ini telah mencapai tahap fondasi, dengan sisa pekerjaan sekitar 30 persen. “Pekerjaan sudah sampai fondasi dudukan, tinggal kurang lebih 30 persen lagi,” katanya.

Terkait material lama dari jembatan sebelumnya, ia memastikan bahwa hanya komponen yang masih layak yang akan digunakan kembali.

Sementara material yang sudah tidak layak, tidak akan dipakai dalam konstruksi. “Yang masih layak hasil inspeksi itu masih bisa dipakai, yang tidak layak sudah tidak terpakai,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa keputusan terkait pemanfaatan material bekas sepenuhnya berada di tangan pihak owner, dan dalam pertemuan telah disepakati bahwa sebagian material akan diserahkan untuk dimanfaatkan oleh warga.

Selain itu, pihak vendor tetap berkomitmen memberdayakan masyarakat setempat dalam proses pembangunan. “Untuk pekerja, sesuai komitmen kita memberdayakan masyarakat, sampai saat ini masih dibantu oleh warga,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya berharap pembangunan dapat berjalan lancar tanpa hambatan berarti, serta jembatan yang dibangun dapat dimanfaatkan dan dijaga bersama oleh masyarakat.

“Harapannya ketika jembatan ini sudah selesai bisa dipergunakan, dijaga, dan selalu komunikasi apabila ada kerusakan,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Progres Jembatan Tegaldatar Terkendala Material, Camat Lengkong Pastikan Pekerjaan Segera Dilanjutkan

0

Wartain.com || Pembangunan Jembatan Tegaldatar di wilayah Kecamatan Lengkong akhirnya menemui titik terang setelah dilakukan pertemuan antara pihak kecamatan, pelaksana, dan stakeholder terkait.

Pertemuan tersebut digelar untuk menjawab berbagai pertanyaan masyarakat mengenai keterlambatan proyek yang sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Dilaksanakan di Aula Kecamatan Lengkong, Rabu (29/04/2026).

Camat Lengkong, Ade Rikman, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut bukanlah audiensi, melainkan undangan dari pihak kecamatan guna meminta kejelasan progres pembangunan, mulai dari aspek perizinan hingga teknis pelaksanaan di lapangan.

“Sebenarnya sih bukan audiensi, karena kami yang mengundang mereka, biar ada kejelasan sampai sejauh mana progres pembangunan Jembatan Tegaldatar, dari perizinan sampai ke teknis pelaksanaan pembangunan,” ujarnya.

Menurut Ade, keterlambatan pekerjaan disebabkan oleh menunggu material utama berupa girder yang saat ini masih dalam proses fabrikasi di Jakarta. Ia berharap material tersebut dapat segera tersedia agar pekerjaan dapat kembali dilanjutkan.

“Memang menunggu bahan yaitu girder yang sedang fabrikasi di Jakarta, dan mudah-mudahan ini katanya sampai tanggal 25 Mei maksimal, tapi mudah-mudahan sesegera mungkin ada pengerjaan lagi,” katanya.

Selain itu, penghentian sementara pekerjaan juga dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu terakhir. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara semua pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat.

“Harapannya sih sesegera mungkin itu dilaksanakan dan jalin komunikasi, koordinasi dengan stakeholder yang di bawah sehingga tidak ada miskomunikasi,” tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas terkait material jembatan lama yang sempat jatuh ke sungai. Warga sebelumnya mempertanyakan apakah besi-besi tersebut akan dimanfaatkan kembali atau diserahkan kepada masyarakat.

Ade menyebutkan bahwa sebagian besar material lama tersebut dipastikan tidak akan digunakan kembali dan akan diserahkan kepada warga, yang nantinya akan diperkuat dengan surat resmi.

“Alhamdulillah barusan disampaikan bahwa besi tersebut tidak akan digunakan lagi. Sebagian besar bisa dimanfaatkan oleh warga Tegal Data dan nanti akan dikuatkan dengan surat resmi,” ungkapnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Persiapan ASEAN Championship 2026, John Herdman Panggil 23 Pemain untuk TC di Jakarta

0

Wartain.com || Pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, resmi memanggil 23 pemain untuk mengikuti pemusatan latihan (TC) di Jakarta sebagai persiapan menyongsong ajang ASEAN Championship 2026. Agenda yang dijadwalkan berlangsung pada 26 hingga 30 Mei 2026 ini menjadi langkah awal krusial bagi skuad Garuda. Selama lima hari, para pemain akan ditempa dengan sesi latihan intensif dan pertandingan internal yang berfungsi sebagai parameter evaluasi akhir bagi staf pelatih.

Keputusan pemanggilan nama-nama tersebut merupakan hasil dari pemantauan panjang yang dilakukan Herdman bersama tim teknis terhadap performa individu di kompetisi domestik sepanjang musim. Pelatih asal Inggris tersebut menegaskan bahwa TC ini adalah panggung pembuktian bagi para pemain untuk menunjukkan kualitas terbaik mereka.

“Ini adalah momen penting bagi para pemain untuk mengamankan tempat di skuad utama,” ujar Herdman. Selain memperebutkan posisi di ajang regional, mereka yang tampil menonjol juga diproyeksikan untuk memperkuat tim pada agenda FIFA Matchday bulan Juni mendatang.

Dalam daftar yang dirilis, komposisi skuad diisi oleh kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda, mulai dari trio kiper Nadeo Argawinata, Muhammad Riyandi, dan Cahya Supriadi, hingga barisan gelandang kreatif seperti Thom Haye dan Marselino Ferdinan. Nama-nama langganan seperti Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman juga tetap dipercaya untuk mempertajam lini serang bersama talenta naturalisasi Jens Raven. Kehadiran para pemain ini diharapkan mampu membentuk kedalaman tim yang solid sebelum terjun ke turnamen utama.

ASEAN Championship 2026 sendiri akan digelar mulai 24 Juli hingga 26 Agustus 2026, di mana Indonesia tergabung dalam Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang babak playoff. Turnamen ini tidak hanya menjadi ujian bagi perkembangan kompetitif tim di bawah asuhan John Herdman, tetapi juga menjadi ambisi besar Indonesia untuk menegaskan dominasinya sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola di level Asia Tenggara.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)