26.7 C
Jakarta
Kamis, Mei 7, 2026
Beranda blog Halaman 15

Yasin Berbakti: Siswa Keperawatan SMKIT Yasin Gelar Cek Kesehatan Gratis Door-to-Door

0

Wartain.com – Puluhan siswa jurusan keperawatan dari SMK Islam Terpadu (SMKIT) Yasin melaksanakan aksi kemanusiaan melalui program bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga di Kampung Bojong Kopo, Desa Loji, Kecamatan Simpenan. Kegiatan yang mengusung tema “Yasin Berbakti” ini menjadi wadah bagi para siswa untuk mengimplementasikan ilmu medis yang mereka pelajari di bangku sekolah langsung kepada masyarakat. Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan ini melibatkan seluruh jenjang pendidikan di jurusan keperawatan, mulai dari kelas 10 hingga kelas 12. Kehadiran para calon tenaga medis ini disambut antusias oleh warga setempat yang ingin memeriksakan kondisi fisik mereka tanpa harus menempuh jarak jauh ke pusat layanan kesehatan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah membagi para siswa ke dalam beberapa kelompok kecil. Kelompok-kelompok ini kemudian disebar ke berbagai titik Rukun Tetangga (RT) di wilayah Kampung Bojong Kopo untuk memastikan jangkauan pemeriksaan yang lebih merata dan menghindari kerumunan di satu lokasi.

Layanan kesehatan yang diberikan meliputi pemeriksaan dasar, seperti pengecekan tekanan darah, pemantauan gula darah, hingga konsultasi kesehatan ringan. Selain memberikan tindakan medis dasar, para siswa juga aktif memberikan edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada warga yang mereka kunjungi.

Aksi yang berpusat di sekitar Jalan Bojong Kopo ini direncanakan tidak hanya berhenti di satu titik saja. Program “Yasin Berbakti” diproyeksikan menjadi agenda berkelanjutan yang akan menyasar kampung-kampung lain yang berada di sekitar lingkungan SMKIT Yasin secara bertahap.

Melalui kegiatan bakti sosial ini, SMKIT Yasin berharap dapat melatih mental serta kepedulian sosial para siswa jurusan keperawatan sebelum mereka terjun sepenuhnya ke dunia kerja. Selain itu, inisiatif ini diharapkan mampu memberikan dampak positif nyata dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat di wilayah Simpenan dan sekitarnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Satbrimob Polda Jabar Matangkan Pengamanan May Day Lewat Apel Kesiapan

0

Wartain.com || Menjelang Hari Buruh Internasional (May Day) pada besok Jum’at (1/4/2026), yang juga ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia.

Dalam upaya menjamin kesiapan pengamanan peringatan Hari Buruh, Satuan Brimob Polda Jawa Barat menggelar Apel Pemeriksaan Kesiapan Personel dan Peralatan Triwulan II Tahun 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh para pejabat utama, unsur staf, personel Detasemen Gegana, serta jajaran Batalyon “A” Pelopor.

Pada apel tersebut dipimpin oleh Danyon A Pelopor Kompol Fajar Cahyono sebagai perwakilan Dansat Brimob Polda Jawa Barat, Brigjen Pol Donyar Kusumadji. Kegiatan itu berlangsung di lapangan Mako Brimob Polda Jabar yang berlokasi di kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Pelaksanaan apel ini dimaksudkan untuk melakukan pengecekan sekaligus memastikan secara langsung kesiapan personel beserta sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam pengamanan peringatan May Day pada Jumat (1/5/2026).

Setelah pelaksanaan apel, kegiatan berlanjut dengan rapat yang digelar secara Zoom Meeting bersama jajaran Satbrimob Polda Jawa Barat. Dalam pertemuan tersebut, dibahas secara rinci berbagai strategi serta langkah-langkah antisipatif guna menghadapi potensi dinamika yang mungkin terjadi di lapangan saat peringatan May Day berlangsung.

Sementara itu, Dansat Brimob Polda Jabar, Brigjen Pol Donyar Kusumadji, menyampaikan bahwa pengamanan peringatan Hari Buruh Internasional dilakukan secara profesional dan humanis, dengan tetap mengedepankan prosedur yang berlaku.

“kami ingin memastikan agar seluruh personel dan perlengkapan dalam kondisi siap,” kata Kusumadji.

Ia juga menambahkan. “Kami juga menekankan bahwa penting sinergitas antar satuan. Kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi kerawanan di lapangan, sehingga situasi Kamtibmas di Jabar tetap aman, dan kondusif,” tambahnya.

Dengan dilaksanakannya kegiatan apel ini, Satbrimob Polda Jabar menunjukkan komitmennya dalam menjaga keamanan serta memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya pada momentum May Day 2026.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Wartawan Senior Sukabumi Edhi Safe’i Tutup Usia di Umur 90 Tahun

0
Oplus_131072

Wartain.com – Kabar duka datang dari insan pers Sukabumi. Wartawan senior anggota PWI Kabupaten Sukabumi, Edhi Safe’i, berpulang ke rahmatullah dalam usia 90 tahun.

Almarhum mengembuskan napas terakhir di kediamannya, Jl. Pemuda Tipar, Kota Sukabumi, Kamis (30/4/2026) pukul 01.00 WIB. Kepergian sosok yang akrab disapa Abah Edhi itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan insan pers.

Edhi Safe’i dikenal sebagai salah satu wartawan senior di Sukabumi. Dedikasinya di dunia jurnalistik membentang puluhan tahun, menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah perkembangan pers di wilayah Sukabumi Raya.

Semasa hidup, almarhum aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi. Ia dikenal sebagai figur yang bersahaja, rendah hati, dan tak segan berbagi ilmu kepada wartawan muda.

Bagi kalangan jurnalis Sukabumi, Abah Edhi adalah teladan. Konsistensinya memegang teguh kode etik jurnalistik dan semangatnya menulis hingga usia senja menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Kabar wafatnya almarhum cepat menyebar di grup-grup wartawan. Ucapan belasungkawa dan doa mengalir dari rekan sejawat, pejabat daerah, hingga tokoh masyarakat yang pernah berinteraksi dengannya.

“Innalillahi Wainnailaihi Roji’un. Kami keluarga besar PWI Kabupaten Sukabumi turut berduka cita sedalam-dalamnya,” tulis Bah Anom Plt Ketua PWI Kabupaten Sukabumi dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.

PWI Kabupaten Sukabumi mendoakan agar almarhum diampuni segala khilaf, diterima iman Islamnya, wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan mendapat ridho Allah SWT.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, Jl. Pemuda Tipar, Kota Sukabumi. Almarhum dimakamkan di TPU Rohmat, Jalan Otista Kota Sukabumi.

Selamat jalan Abah Edhi. Karya dan keteladananmu akan selalu hidup di lembar-lembar sejarah pers Sukabumi. Al-fatihah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Rumah Semi Permanen di Pabuaran Rusak Diterjang Angin Kencang, Ibu dan Dua Anak Mengungsi

0
Oplus_131072

Wartain.com – Sebuah rumah semi permanen di Kampung Cibeber 2, Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, rusak parah akibat hujan disertai angin kencang, Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.

Rumah berukuran 5 x 7 meter berdinding bilik itu milik Okah (35). Atap bagian belakang nyaris ludes, genteng berjatuhan. Bagian depan juga tak luput, beberapa baris genteng pecah diterjang angin.

Akibat kerusakan itu, rumah sementara tidak bisa ditempati. Okah bersama dua anaknya, perempuan 9 tahun dan laki-laki 2,5 tahun, terpaksa mengungsi ke rumah orang tuanya yang lokasinya tak jauh dari tempat kejadian.

Okah mengaku tidak berada di rumah saat kejadian. Ia baru tahu rumahnya rusak setelah diberi kabar tetangga. “Waktu itu hujan turun disertai angin kencang. Saya sedang di rumah orang tua, lalu dapat informasi genteng rumah berjatuhan,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Begitu dicek, kondisi rumah memang memprihatinkan. “Atap belakang hampir semua jatuh, bagian depan juga ada beberapa baris yang pecah. Kalau hujan dipastikan bocor,” kata Okah.

Situasi makin berat karena suami Okah sedang merantau bekerja ke luar daerah. Ia harus menangani rumah rusak sendirian sambil menjaga dua anaknya yang masih kecil.

Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Pabuaran, Yogi Regina, mengatakan laporan baru diterima Selasa malam. Asesmen baru bisa dilakukan keesokan harinya.

“Kami baru menerima informasi malam ini. Paling besok bersama pemerintah desa dan pemerintah kecamatan Pabuaran akan melakukan asesmen ke lokasi,” kata Yogi singkat.

Asesmen diperlukan untuk memastikan tingkat kerusakan dan menentukan bantuan yang dibutuhkan. Data tersebut jadi dasar penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah.

Hingga Rabu (29/4/2026), Okah dan dua anaknya masih menumpang di rumah orang tuanya. Ia berharap ada bantuan perbaikan agar rumahnya bisa segera ditempati lagi sebelum musim hujan makin intens.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Khilafah, Demokrasi, dan Klaim Kebenaran: Sebuah Tinjauan Tauhid dalam Perspektif Ma’rifatullah

0
Oplus_131072

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

Wartain.com || Gagasan bahwa khilafah merupakan esensi persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan tunggal, sekaligus sarana penerapan syariat secara menyeluruh, adalah pandangan yang memiliki akar dalam sejarah pemikiran politik Islam. Di sisi lain, penolakan terhadap demokrasi sebagai sistem buatan manusia yang dianggap menyingkirkan hukum Allah juga merupakan posisi yang sering muncul dalam diskursus kontemporer. Namun, ketika kedua gagasan ini diposisikan secara hitam-putih—khilafah sebagai satu-satunya kebenaran dan demokrasi sebagai kekufuran mutlak—maka diperlukan pembacaan yang lebih jernih, terutama dalam cahaya tauhid Ma’rifatullah.

Pertama, perlu dibedakan antara ideal normatif dan realitas historis. Secara normatif, persatuan umat adalah nilai yang ditekankan dalam Islam. Namun dalam realitas sejarah, persatuan politik di bawah satu kepemimpinan global hampir tidak pernah berlangsung secara utuh dan stabil dalam jangka panjang. Bahkan dalam periode yang sering disebut sebagai masa khilafah, terjadi fragmentasi kekuasaan, konflik internal, dan perbedaan otoritas. Hal ini menunjukkan bahwa menjadikan satu bentuk sistem politik sebagai representasi mutlak dari kehendak ilahi memerlukan kehati-hatian, karena sejarah manusia selalu bersinggungan dengan keterbatasan dan kepentingan.

Kedua, pernyataan bahwa demokrasi sepenuhnya merupakan sistem yang “mencampakkan hukum Allah” perlu ditinjau secara lebih proporsional. Demokrasi sebagai konsep dasar adalah mekanisme pengambilan keputusan kolektif yang berkembang dalam konteks sejarah tertentu. Dalam praktiknya, demokrasi dapat diisi oleh berbagai nilai, termasuk nilai-nilai religius. Persoalan utama bukan semata pada bentuk sistemnya, tetapi pada bagaimana nilai kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab ditegakkan di dalamnya.

Menyederhanakan demokrasi sebagai kufur secara mutlak berisiko mengabaikan kompleksitas realitas sosial dan politik yang dihadapi umat manusia saat ini.

Dalam perspektif tauhid Ma’rifatullah, titik tolak utama bukanlah sistem, melainkan kesadaran akan kehadiran Allah. Tauhid yang hidup tidak berhenti pada klaim ideologis, tetapi terwujud dalam akhlak, keadilan, dan integritas. Sistem apa pun—baik yang mengatasnamakan khilafah maupun demokrasi—tidak akan melahirkan keadilan jika manusia yang menjalankannya tidak memiliki kesadaran tauhid yang mendalam. Sebaliknya, nilai-nilai ilahiah dapat hadir dalam berbagai bentuk kehidupan ketika manusia benar-benar tersambung kepada Tuhan.

Ketiga, klaim bahwa suatu sistem tertentu secara otomatis mendapatkan murka atau ridha Allah adalah wilayah yang sangat sensitif. Dalam tradisi keilmuan Islam, penilaian semacam ini tidak dilakukan secara gegabah, karena menyangkut perkara yang melampaui pengetahuan manusia. Mengaitkan kondisi “carut-marut” suatu negara semata-mata dengan sistem politiknya juga merupakan penyederhanaan, karena faktor-faktor seperti kualitas kepemimpinan, budaya masyarakat, keadilan ekonomi, dan integritas moral memiliki peran yang sangat signifikan.

Dalam telisik inteligensia, penting untuk memahami bahwa baik konsep khilafah maupun demokrasi adalah produk interaksi antara nilai, sejarah, dan pemikiran manusia. Keduanya tidak berdiri di ruang hampa. Karena itu, pendekatan yang lebih konstruktif bukanlah saling menegasikan secara mutlak, tetapi mengkaji bagaimana prinsip-prinsip tauhid—keadilan, amanah, musyawarah, dan tanggung jawab—dapat diwujudkan dalam konteks kehidupan nyata.

Pada akhirnya, dalam cahaya Ma’rifatullah, pertanyaan mendasar bukanlah sistem mana yang paling benar secara klaim, tetapi sejauh mana manusia mampu menghadirkan nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan. Persatuan umat tidak hanya dibangun oleh struktur politik, tetapi oleh kesadaran tauhid yang melampaui sekat-sekat identitas. Demikian pula, keadilan tidak lahir semata dari aturan tertulis, tetapi dari hati yang hidup dalam pengawasan Allah.

Dengan demikian, khilafah sebagai ideal persatuan dan penerapan syariat dapat dipahami sebagai aspirasi normatif, sementara demokrasi sebagai sistem kontemporer dapat dilihat sebagai ruang yang masih terbuka untuk diisi nilai-nilai kebaikan. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan secara simplistik, tetapi ditimbang secara kritis dalam kerangka tauhid yang hidup—tauhid yang tidak berhenti pada klaim, tetapi hadir dalam realitas.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Kebakaran Green House Dinas Pertanian di Cisolok, Kerugian Capai Rp450 Juta

0

Wartain.com || Sebuah insiden kebakaran terjadi di fasilitas green house milik Dinas Pertanian yang berlokasi di Jalan Raya Cisolok No.10, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Rabu (29/4/2026).

Berdasarkan laporan resmi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sukabumi, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.44 WIB.

Api diduga berasal dari percikan saat proses pembakaran sarang tawon di sekitar lokasi, yang kemudian merambat dan membakar bangunan green house beserta sejumlah peralatan pertanian di dalamnya.

Petugas pemadam kebakaran menerima laporan pada pukul 15.44 WIB dan langsung bergerak ke lokasi. Satu unit mobil pemadam dikerahkan dan tiba di tempat kejadian sekitar pukul 16.00 WIB. Proses pemadaman berlangsung selama kurang lebih 25 menit hingga api berhasil dikendalikan pada pukul 16.25 WIB.

Dalam kejadian ini, luas bangunan yang terbakar mencapai sekitar 25 meter persegi dari total area 75 meter persegi. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran tersebut menyebabkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp450 juta.

Sebanyak 9 unit mesin dilaporkan hangus terbakar, sementara 11 unit mesin lainnya berhasil diselamatkan. Kondisi petugas, penghuni, serta kendaraan pemadam dilaporkan dalam keadaan aman dan baik selama proses penanganan berlangsung.

Tidak terdapat hambatan berarti dalam proses pemadaman. Persentase area yang terdampak kebakaran tercatat sekitar 25 persen, sementara 75 persen lainnya berhasil diamankan.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di area yang mudah terbakar.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Warudoyong Jadi Percontohan, Pemkot Sukabumi Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah dari Warga

0

Wartain.com || Kelurahan Warudoyong, Kota Sukabumi, mulai diproyeksikan sebagai wilayah percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Hal ini terlihat saat Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Rabu (29/4/2026).

Kunjungan tersebut turut dihadiri Plt Dinas Lingkungan Hidup, lurah setempat, unsur Babinsa, pengurus RW, pengelola bank sampah, serta kader PKK yang selama ini menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.

Dalam peninjauan itu, Bobby menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sampah. Ia menilai, pendekatan dari tingkat rumah tangga menjadi kunci utama dalam mengurangi beban sampah kota.

“Penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari hulu, yakni melalui pemilahan sampah organik dan non-organik sejak dari rumah tangga hingga tingkat RW dan kelurahan,” ujarnya.

Menurutnya, jika pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, Pemkot Sukabumi juga tengah menyiapkan langkah lanjutan melalui pengolahan sampah modern berbasis TPS3R.

“Sampah non-organik nantinya akan diolah menjadi bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan oleh industri seperti pabrik semen maupun PLTU,” lanjutnya.

Warudoyong sendiri dinilai memiliki keunggulan dalam pengelolaan sampah organik. Inovasi budidaya maggot yang dikembangkan warga mampu mengolah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Keberhasilan tersebut bahkan mengantarkan Kelurahan Warudoyong meraih juara pertama dalam pengelolaan sampah tingkat kota. Capaian ini pun mendapat apresiasi langsung dari Wakil Wali Kota.

“Keberhasilan pengelolaan sampah di Kelurahan Warudoyong menjadi contoh nyata inovasi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang patut ditiru oleh wilayah lain di Kota Sukabumi,” cetusnya.

Dengan berbagai inovasi yang telah berjalan, Pemerintah Kota Sukabumi berharap Warudoyong dapat menjadi role model bagi kelurahan lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Korsleting Listrik di GOR Dojo Setukpa, Kegiatan Porismas 2026 Sempat Terganggu

0

Wartain.com || Insiden korsleting listrik terjadi di GOR Dojo Setukpa Lemdiklat Polri, Kota Sukabumi, Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Peristiwa tersebut terjadi saat berlangsungnya kegiatan Porismas (Pekan Olahraga Integrasi Siswa dan Masyarakat) 2026.

Akibat kejadian itu, suasana di dalam gedung olahraga sempat gelap total. Sejumlah atlet dan peserta yang berada di lokasi memilih membubarkan diri, sementara petugas melakukan penanganan untuk memastikan kondisi aman.

Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Damkar Kota Sukabumi, Dadi Kusmawandi, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan dari pengelola GOR dan pihak Setukpa terkait adanya percikan api yang diduga berasal dari korsleting listrik.

“Laporan dari pihak Secapa (Setukpa) juga dari pengelola GOR Dojo-nya. Kebetulan saya kenal dan dia nelepon ke saya, Japri. Bahwa di GOR Dojo terjadi ada percikan api yang disebabkan oleh korsleting listrik,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, petugas mendapati api sudah lebih dulu berhasil dipadamkan oleh pihak internal Setukpa menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

“Iya ke lokasi dan dipadaminnya pake APAR,” katanya.

Meski api telah padam, Damkar tetap melakukan pengecekan lanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya percikan api susulan.

“Antisipasi dikarenakan takut nyala lagi, makanya menerjunkan Damkar sama anggota ke sana. Takutnya misalkan nyala lagi, tapi alhamdulillah udah aman sih,” paparnya.

Dari hasil pemeriksaan di lapangan, diketahui sumber masalah berasal dari kerusakan pada Miniature Circuit Breaker (MCB) yang memicu arus pendek.

“Cuman korsleting dari MCB atau bensernya aja,” sebutnya.

Dadi juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi korsleting listrik, terutama akibat penggunaan daya yang berlebihan. Ia mengimbau masyarakat untuk memastikan kondisi instalasi listrik tetap aman dan mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan.

“Masyarakat harus hati-hati apabila misalkan menggunakan listrik terlalu berlebihan bebannya karena akan bisa menyebabkan terjadinya panas sehingga akan terjadi korsleting listrik. Jadi misalkan kalau masyarakat umum misalkan keluar rumah, dicek dulu peralatan-peralatan elektroniknya,” jelasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Ayah Kandung Korban Ikut Ditahan, Kasus Kematian Bocah di Surade Kian Kompleks

0

Wartain.com || Perkembangan terbaru muncul dalam kasus kematian tragis NS (12), bocah asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Setelah sebelumnya ibu tiri korban ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan, kini ayah kandungnya, Anwar Satibi, turut ditahan di Mapolres Sukabumi, Rabu (29/4/2026).

Penahanan dilakukan usai penyidik Satreskrim Polres Sukabumi mengantongi sejumlah bukti yang mengarah pada dugaan pembiaran dan penelantaran anak. Dugaan tersebut dinilai berkaitan langsung dengan kondisi korban hingga akhirnya meninggal dunia.

Langkah hukum ini merupakan tindak lanjut dari laporan ibu kandung korban, Lisnawati. Dalam laporannya, Anwar disebut tidak menjalankan peran perlindungan secara optimal saat korban berada dalam pengasuhannya, sehingga diduga terjadi penelantaran.

Kuasa hukum Anwar, Farhat Abbas, membenarkan bahwa kliennya kini menjalani masa penahanan selama 20 hari ke depan. Namun, ia menilai keputusan tersebut tidak mempertimbangkan kondisi psikologis kliennya yang tengah berduka.

“Ini satu tekanan. Kapolres seolah pakai kacamata kuda, tidak melihat bahwa orang ini sebenarnya juga baru kehilangan anak kandungnya,” ujar Farhat di Mapolres Sukabumi.

Perdebatan Hukum Mengemuka
Kasus ini memunculkan perbedaan pandangan antara penyidik dan pihak pembela. Kepolisian menjerat Anwar dengan Pasal 76 dan 77B Undang-Undang Perlindungan Anak yang menitikberatkan pada unsur pembiaran.

Penyidik menduga terdapat kelalaian serius, terutama saat korban membutuhkan penanganan medis sebelum akhirnya meninggal dunia.

Sementara itu, pihak kuasa hukum memiliki pandangan berbeda. Farhat menyebut korban selama ini mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan dikenal sebagai santri penghafal Al-Qur’an di pesantren. Ia juga membantah tudingan bahwa kliennya sengaja tidak memberikan pengobatan.

“Bukan dibiarkan tidak berobat. Ada informasi saat itu disarankan besok saja ke rumah sakit, jadi bukan kesengajaan membiarkan anak dalam bahaya,” tuturnya.

Kasus ini semakin rumit karena melibatkan kedua orang tua dalam pusaran hukum. Sebelumnya, ibu tiri korban berinisial TR telah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan setelah gugatan praperadilannya ditolak.

Kini, Anwar harus menjalani proses hukum atas dugaan penelantaran, menambah kompleksitas perkara yang tengah bergulir.

Pihak kuasa hukum pun menyatakan akan menempuh langkah hukum lanjutan dengan mengajukan praperadilan atas penahanan tersebut. Mereka juga meminta agar ibu kandung korban turut diperiksa untuk memastikan keadilan berjalan seimbang.

“Tanggung jawab pengasuhan itu melekat pada kedua orang tua. Kami menuntut keadilan yang setara dalam proses ini,” tegasnya.

Saat ini, Anwar Satibi masih berada di ruang tahanan Polres Sukabumi guna kepentingan penyidikan lebih lanjut terkait perannya dalam kasus kematian NS.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Sinergi Percepat Pengentasan Kemiskinan, Program 12 PAS Kembali Menyasar Warga Kota Sukabumi

0

Wartaincom || Pemerintah Kota Sukabumi kembali menggulirkan program unggulan Ayeuna Waktuna Berbagi Berkah (12 PAS) sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan kemiskinan ekstrem. Program periode kedua episode kelima ini dilaksanakan di Kelurahan Gunungparang dan Tipar, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, didampingi Wakil Wali Kota, Bobby Maulana. Kehadiran keduanya memastikan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran.

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menegaskan bahwa program 12 PAS menjadi instrumen penting dalam mendistribusikan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Melalui program ini, pemerintah memberikan bantuan berupa dana tunai, paket sembako, serta dukungan peralatan usaha bagi pelaku usaha kecil seperti kompor gas dan peralatan memasak, guna mendorong aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan komitmen pemerintah dalam menekan angka kemiskinan melalui program berkelanjutan.

“Kami berharap program ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, sehingga penanganan kemiskinan dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan,” lanjutnya.

Bantuan yang disalurkan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, di antaranya Bank BJB, BRI, BAZNAS, Pegadaian, dan BSI bersama Pemerintah Kota Sukabumi. Sinergi lintas sektor ini dinilai menjadi kekuatan utama dalam mempercepat pengentasan kemiskinan di daerah.

Di Kelurahan Tipar, bantuan diberikan kepada Sahlir, Rodiah, Kurniati, Nenda Jipeng, dan Euis Tina. Sementara di Kelurahan Gunungparang, penerima manfaat antara lain Inah Karlina, Ety Haryati, Nenen Suraenda, Cecep Suparlan, dan Lilis Suryani.

Selain penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi antara pemerintah dan masyarakat. Wali kota dan wakil wali kota turut berdialog langsung untuk menyerap aspirasi serta mengetahui kondisi riil warga di lapangan.

Ayep Zaki menambahkan, pendekatan kolaboratif dalam program ini menunjukkan bahwa penanggulangan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.

“Pendekatan kolaboratif yang diusung dalam program 12 PAS menunjukkan bahwa penanggulangan kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Melalui integrasi antara bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, Pemerintah Kota Sukabumi berharap program ini tidak hanya meringankan beban masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi serta memutus rantai kemiskinan secara berkelanjutan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik