Wartain.com || Arus balik wisatawan serta pemudik dari Kabupaten/Kota Sukabumi dan sekitarnya, menyebabkan kepadatan lalu lintas di sejumlah titik, terutama di Simpang Ratu dan Pasar Cibadak hingga jalur arteri Parungkuda, Selasa 24/03/2026 siang.
Penumpukan kendaraan terpantau terjadi dari berbagai arah, baik dari Palabuhanratu, Kota Sukabumi, simpang Cikidang maupun jalur alternatif Nagrak yang mengarah ke Cibadak.
Antrean kendaraan bahkan dilaporkan mencapai lebih dari 3-4 kilometer, menuju Gerbang Tol Parungkuda.
Kasat Lantas Polres Sukabumi, Abdurrohman Hidayat, mengatakan pihaknya memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa one way secara situasional untuk mengurai kepadatan arus balik wisata.
“Kita melihat situasi lapangan. Apabila padat, kita bisa lakukan berkali-kali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila tidak terjadi perubahan, nanti pada pukul 13.00 WIB petugas akan menerapkan one way sepenggal dari Simpang Tiga Cibadak menuju Gerbang Tol Bocimi hingga arteri Sukabumi–Bogor.
Selain itu, pihaknya juga merencanakan kembali penerapan one way pada sore hari menyesuaikan peningkatan volume kendaraan.
“Sore nanti rencananya kita akan lakukan lagi,” tambahnya.
Rekayasa lalu lintas tersebut dilakukan secara bertahap dan terintegrasi, seiring penerapan one way dari arah Palabuhanratu menuju Cibadak, atau dari berbagai simpang yang ada (simpang Cikidang dan Nagrak-red), guna memperlancar arus kendaraan di jalur utama Sukabumi–Bogor, terutama yang akan menuju GT Parungkuda.
Sebelumnya, diberitakan sebanyak 25.600 kendaraan tercatat masuk ke wilayah Kabupaten Sukabumi pada Minggu (22/3/2026).
Lonjakan arus ini didominasi wisatawan yang menuju kawasan destinasi wisata yang ada di Kabupaten/Kota Sukabumi, khususnya yang menuju pantai selatan, Pelabuhanratu dan sekitarnya, juga destinasi wisata lainnya.***
Wartain.com || Kemacetan total terjadi di kawasan wisata arung jeram Citarik, tepatnya di Jalan Buniwangi, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa (24/3/2026). Arus kendaraan dari kedua arah terpantau tidak bergerak, menyebabkan antrean panjang yang mengular di sepanjang ruas jalan tersebut.
Diketahui, kemacetan juga pada Senin malam (23/4/2026) menimpa jalur tersebut. Kemacetan ini terjadi di jalur yang dikenal memiliki medan cukup ekstrim, terutama di titik-titik tanjakan. Banyak kendaraan roda empat dilaporkan tidak kuat menanjak akibat padatnya arus lalu lintas, sehingga memperparah kondisi kemacetan di lokasi.
Terpantau, sejumlah warga setempat terlihat turun untuk membantu para pengendara yang kesulitan. Mereka bahu-membahu mendorong kendaraan yang tidak mampu melewati tanjakan, terutama di titik-titik rawan yang mengalami kepadatan paling parah.
Salah satu pengunjung asal Bogor, Epul (31), mengaku terjebak kemacetan saat hendak pulang setelah berlibur di kawasan Pantai Citepus, Palabuhanratu. “Saya dari Citepus mau pulang, tapi disini sudah macet total. Di tanjakan mobil juga banyak yang nggak kuat, jadi makin lama antreannya,” ujarnya.
Kepadatan lalu lintas diduga dipicu oleh tingginya volume kendaraan pada momen libur Lebaran. Mayoritas pengendara merupakan wisatawan yang hendak kembali ke daerah asal, serta sebagian lainnya masih menuju kawasan wisata Palabuhanratu.
Selain warga, petugas dari P2BK yang melintas di lokasi juga turut membantu mengurai kemacetan. Petugas tersebut awalnya hendak menuju pos di kawasan Leter S, namun memilih membantu pengendara yang mengalami kesulitan di tanjakan. “Ini saya tadinya mau ke pos Leter S, tapi disini tanjakan Arung Jeram macet dan banyak kendaraan yang tidak kuat nanjak, saya turut bantu mendorong agar lalu lintas bisa sedikit lancar,” ungkap salah satu petugas P2BK Cikidang.
Kemacetan dilaporkan terjadi cukup panjang, mulai dari pertigaan Buniwangi hingga kawasan Leter S Cikidang. Kondisi ini membuat waktu tempuh kendaraan menjadi jauh lebih lama dari biasanya.
Para pengendara diimbau untuk tetap berhati-hati, menjaga kondisi kendaraan, serta mengikuti arahan petugas di lapangan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.***
Wartain.com || Di setiap pergantian Ramadhan dan Idul Fitri, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada satu realitas yang berulang: perbedaan awal puasa dan hari raya. Sebagian memulai lebih dahulu, sebagian menyusul. Sebagian berlebaran hari ini, sebagian esok. Fenomena ini telah berlangsung lama, seakan menjadi “tradisi yang dimaklumi”. Namun pertanyaannya: apakah ini keniscayaan, atau justru tanda bahwa ada sesuatu yang belum selesai dalam cara kita memahami agama?
Ru’yat dan hisab sejatinya bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Ru’yat adalah jalan penyaksian, sedangkan hisab adalah jalan pengetahuan. Keduanya lahir dari satu sumber yang sama: sunnatullah yang mengatur peredaran langit dan waktu. Ketika hilal muncul, ia tidak memilih untuk terlihat oleh satu kelompok dan tersembunyi dari kelompok lain. Hilal itu satu. Yang berbeda adalah cara manusia membaca dan menetapkan.
Di sinilah letak persoalan mendasar. Perbedaan bukan terjadi karena kebenaran itu ganda, melainkan karena metodologi dan otoritas yang belum sepenuhnya dipertemukan. Ru’yat sering dipahami sebagai satu-satunya jalan sah karena mengikuti praktik di masa Nabi Muhammad, sementara hisab dipandang sebagai produk modern yang belum tentu sejalan dengan tradisi. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, hisab adalah bentuk pengembangan dari perintah Al-Qur’an untuk berpikir, menghitung, dan membaca tanda-tanda langit.
Dalam perspektif tauhid, tidak mungkin ada dua kebenaran yang saling bertentangan. Jika hisab menyatakan hilal sudah ada, sementara ru’yat tidak melihatnya, maka yang perlu diperiksa bukan kebenarannya, tetapi keterbatasan metode dan kondisi. Bisa jadi hilal memang terlalu tipis untuk terlihat, atau kondisi atmosfer tidak memungkinkan. Artinya, hisab memberikan kepastian keberadaan, sementara ru’yat memberikan pengalaman penyaksian. Keduanya saling melengkapi, bukan menegasikan.
Para pemangku kepentingan—ulama, pemerintah, organisasi keagamaan, dan ilmuwan—memiliki tanggung jawab besar untuk keluar dari dikotomi ini. Sudah saatnya Indonesia membangun sintesis yang utuh: menjadikan hisab sebagai fondasi ilmiah yang pasti, dan ru’yat sebagai konfirmasi empirik yang memperkuat. Dengan kriteria yang disepakati bersama, perbedaan tidak perlu lagi menjadi konsumsi publik setiap tahun.
Lebih dari sekadar persoalan teknis, ini adalah persoalan kesadaran.
Selama ego kelembagaan dan fanatisme metode masih mendominasi, maka persatuan akan sulit tercapai. Padahal, Ramadhan adalah madrasah penyatuan jiwa, dan Idul Fitri adalah momentum kembali ke fitrah—bukan hanya secara individu, tetapi juga secara kolektif sebagai umat.
Dalam perspektif ma’rifatullah, hilal bukan sekadar objek langit, tetapi tanda pergerakan Ilahi dalam waktu. Ia mengajak manusia untuk selaras, bukan terpecah. Maka sangat ironis jika tanda persatuan justru menjadi sebab perbedaan. Di sinilah diperlukan keberanian spiritual dan intelektual: untuk meletakkan kebenaran di atas kepentingan, dan tauhid di atas ego kelompok.
Indonesia memiliki semua prasyarat untuk bersatu: ilmu yang maju, teknologi yang memadai, dan tradisi keagamaan yang kaya. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk duduk bersama, menyepakati standar, dan membangun kepercayaan. Persatuan tidak lahir dari pemaksaan, tetapi dari kesadaran bersama bahwa umat ini satu.
Akhirnya, kita harus kembali pada esensi. Apakah kita ingin mempertahankan perbedaan sebagai identitas, atau menyatukan langkah sebagai kekuatan? Hilal tidak pernah terbelah. Langit tidak pernah memisahkan umat. Maka janganlah manusia yang membuat batas itu.
Jika ru’yat dan hisab dipertemukan dalam cahaya tauhid, maka bukan hanya tanggal yang akan bersatu, tetapi juga hati umat. Dan ketika itu terjadi, Ramadhan tidak lagi sekadar ibadah individu, melainkan gerakan kolektif menuju Allah. Idul Fitri pun bukan hanya hari kemenangan pribadi, tetapi kemenangan persatuan umat Islam Indonesia.
“Satu hilal cukup untuk satu umat,
jika hati telah kembali kepada Yang Satu.”(***)
Wartain.com || Memasuki H+3 arus libur Lebaran, jalur wisata sekaligus jalur alternatif Cikidang–Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi mengalami kemacetan parah yang melumpuhkan pergerakan kendaraan. Antrean panjang dilaporkan terjadi sejak Senin malam (23/3/2026) hingga Selasa pagi (24/3/2026), membuat ribuan wisatawan tertahan berjam-jam tanpa kepastian.
Kondisi di lapangan menunjukkan kepadatan luar biasa. Deretan kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi seluruh badan jalan, bahkan nyaris tidak menyisakan ruang gerak. Dalam situasi tersebut, sepeda motor terlihat berusaha mencari celah, sementara kendaraan roda empat dan truk hanya bisa diam di tempat dalam waktu lama.
Laporan dari petugas P2BK Cikidang menyebutkan titik kemacetan terparah terjadi di kawasan pertigaan Buniwangi, tepatnya di sekitar minimarket. Situasi di tengah antrean pun disebut cukup memprihatinkan, terutama bagi penumpang yang telah lama berada di dalam kendaraan.
“Arus lalu lintas benar-benar tidak bergerak. Banyak penumpang, terutama anak-anak, mulai kelelahan, bahkan ada yang menangis karena terlalu lama terjebak,” ungkapnya.
Selain kepadatan volume kendaraan, kendala teknis juga memperparah situasi. Di sejumlah tanjakan curam seperti kawasan Pasir Bilik, tercium bau kampas kopling terbakar dari kendaraan yang tertahan. Pengemudi terpaksa terus menahan kendaraan di posisi menanjak dalam waktu lama, sehingga meningkatkan risiko kerusakan.
Salah seorang wisatawan asal Bogor, Ahmad, mengaku sudah berangkat sejak malam hari, namun hingga pagi masih belum berhasil keluar dari antrean panjang. Ia bahkan sempat mengalami kondisi di mana kendaraannya tidak bergerak sama sekali dalam waktu cukup lama.
“Sudah dari malam terjebak macet. Sampai pagi ini belum juga lancar. Bahkan sempat hampir dua jam mobil tidak bergerak,” ujarnya.
Belum adanya keterangan resmi dari pihak terkait membuat penyebab pasti kemacetan masih dalam penelusuran. Namun, kondisi ini diduga dipicu oleh tingginya volume kendaraan wisatawan, karakter jalan yang sempit dan berliku, serta adanya kendaraan yang mengalami gangguan di jalur menanjak.
Pengguna jalan diimbau untuk lebih waspada dan memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum melintasi jalur tersebut, mengingat medan yang cukup ekstrem dengan dominasi tanjakan dan turunan tajam.***
Wartain.com || Bakso adalah makanan yang hampir disukai setiap orang. Tidak heran kalau di setiap wilayah banyak berdiri kedai-kedai bakso yang tentunya masing-masing memiliki ciri khas.
Salahsatu kedai bakso yang banyak di buru pecinta kuliner, terutama wilayah Sukabumi adalah kedai Bakso 88 Sinagar.
Kedai Bakso 88 Sinagar tersebut, Beralamat di Jalan Raya Munjul, Kampung Sinagar, Desa Nagrak Utara, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.
Belum genap satu tahun berdiri, tepatnya mulai beroperasi sejak tanggal 22 Juli 2025, kedai Bakso 88 Sinagar tidak pernah sepi dari pengunjung.
Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, orangtua bahkan para pejabat juga sering datang ke kedai tersebut. Pelanggan yang datang juga bukan hanya dari wilayah Nagrak saja, tapi dari beberapa wilayah lain juga sering banyak yang datang. Seperti dari Parungkuda, Ciambar, Cikidang, Cibadak dan daerah lain di Wilayah Sukabumi.
Ditemui wartain.com, Owner Kedai Bakso 88 Sinagar, Kiman Mahendra (56) & Widy (48) mengungkapkan, perjalanan panjang membangun usahanya cukup penuh lika likunya.
Fenomena Bakso 88 Sinagar: Dari Nol ke Puncak dalam Hitungan Bulan (foto : Aab)
“Di awal berdiri kita harus mencari pelanggan terlebih dahulu karena orang banyak belum mengenal produk kami. Setelah sekian lama Alhamdulillah pelanggan kami banyak sekarang,” ungkap pasangan suami istri ini, Selasa 24/03/2026.
Mereka berdua menuturkan, omset perhari yang di dapatkan antara Rp3-4 juta. Bahkan kalau lagi weekend bisa mencapai Rp5 juta rupiah.
“Ya, bersyukur kalau omset setiap hari tidak kurang dari Rp3 juta. Bahkan, waktu pertama buka saja, kita dapat Rp2 juta. Apalagi kalau weekend, Jumat, Sabtu dan Minggu atau hari libur bisa mencapai 5 juta. Bahkan pernah pada momen hari besar nasional yaitu 17 Agustus kemarin, omsetnya mencapai Rp17 jutaan,” tutur Widy yang diamini suaminya.
Pada moment lebaran seperti sekarang, omsetnya berubah tajam, bahkan bisa mencapai 4-5 kali lipat. Perhari tidak kurang dari Rp10-13 juta.
“Pada waktu lebaran malah pendapatan kami berubah tajam. Di hari pertama lebaran Rp13 juta, hari kedua Rp 12 juta dan hari ketiga mencapai Rp10 juta. Mungkin karena banyak yang mudik, jadi banyak yang datang kesini,” tambah keduanya sumringah.
Dibantu oleh 5 orang karyawan dalam menjalankan usahanya, Kedai Bakso 88 Sinagar terus berbenah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan kepada costumer, agar pelanggannya merasa nyaman dan selalu ingin datang ke kedainya.
Varian makanan dan minuman di Kedai Bakso 88 Sinagar (foto : Aab)
“Hal yang paling dekat dilakukan oleh kami adalah, pertama memperluas area dan tempat usaha. Kami akan buat ornamen dengan pola semi cafe. Kemudian yang keduanya adalah kami sedang memproses legalitas usaha, NIB, PIRT, BPOM, Izin Halal dan HAKI. Untuk HAKI kami sudah proses dan ajukan,” jelas Widy.
Widy menuturkan, keunggulan dari Kedai Bakso 88 Sinagar adalah karena di kedai tersebut banyak sekali varian makanan dan minuman yang ditawarkan, tentunya dengan harga yang sangat bersahabat.
“Di kedai kami ada banyak varian makanan dan minuman. Bakso urat dan daging Rp12 ribu, bakso jumbo Rp25 ribu, Mie ayam dengan banyak varian mulai dari harga Rp12-18 ribu, serta aneka minuman mulai dari es campur dan soft drink lainnya dengan harga Rp3-10 ribu saja,” tutur Widy
Pemilik Kedai Bakso 88 Sinagar berharap, kedepan usahanya bisa lebih maju lagi, bisa merekrut banyak karyawan dan membuka cabang di wilayah lain. Sehingga akan meningkatkan taraf perekonomian serta menambah penghasilan masyarakat sekitar.
“Kami harap usaha yang sedang dijalankan ini bisa terus maju, makin banyak pelanggan dan orang tidak bosan untuk berkunjung. Kami juga berencana membuka cabang baru, bisa menyerap tenaga kerja, sehingga kedepan dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar,” pungkas keduanya.
Berdasarkan pantauan, konsumen Kedai Bakso 88 Sinagar selalu ingin datang adalah karena ciri khas dari produknya, disesuaikan dengan selera dan kantong costumer. Dimana, semua produknya tersebut enak untuk dinikmati.***
Wartain.com || Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Sukabumi mengingatkan para wisatawan yang berkunjung ke Pantai Karanghawu agar senantiasa mengikuti arahan petugas yang mana menjaga keselamatan selama beraktivitas di kawasan pantai, Selasa (24/3/2026).
Imbauan tersebut disampaikan secara langsung oleh Kepala Satpolairud Polres Sukabumi, AKP Dadi, saat melaksanakan pengamanan di kawasan wisata pada momen libur Lebaran.
“Mengimbau para pengunjung agar mematuhi arahan petugas, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” ucap AKP dadi di Pantai Karanghawu. Pada, Senin (23/3/2026).
Ia menambahkan bahwa imbauan tersebut disampaikan sebagai upaya antisipasi agar kejadian yang tidak terduga tidak terjadi.
“Hal ini kami sampaikan agar kejadian yang memang di luar prediksi tidak terjadi,” imbuhnya.
Selain itu juga, petugas Satpolairud tidak henti memberikan edukasi kepada pengunjung dan terus mengingatkan beberapa titik rawan yang tidak diperkenankan untuk mandi.
Dengan demikian, diharapkan para pengunjung yang menikmati liburan di Pantai Karanghawu dapat berhati-hati dan jaga keselamatan. Sehingga momen liburan terasa nyaman dan berkesan.***
Oleh : Aam Abdul Salam, Penasehat PWI Kab.Sukabumi/SMSI Sukabumi Raya, Presidium Korp Alumni HMI/KAHMI Sukabumi, Sekjen PPJNA 98
Wartain.com || Lonjakan 25.600 kendaraan yang memadati Sukabumi pada H+2 Idul Fitri bukan sekadar fenomena kemacetan tahunan. Secara esensial, ini adalah manifestasi dari keberhasilan Sukabumi bertransformasi menjadi kiblat baru pariwisata. Pencapaian ini adalah buah dari filosofi gotong royong yang kuat antara pemerintah, aparat, pers, dan masyarakat.
Dimensi Filosofis dan Spiritual Ekonomi
Dalam kacamata spiritual, ribuan para wisatawan yang datang ke Sukabumi adalah bentuk silaturahmi akbar yang membawa berkah rezeki. Ada hukum alam yang bekerja: di mana ada kegembiraan dan kenyamanan, di situ ekonomi akan mekar. Kunjungan masif ini menggerakkan sendi-sendi UMKM, menghidupkan lapak para pedagang kecil, dan memperkuat sektor dunia usaha pariwisata. Ekonomi yang berputar pasca-Lebaran ini adalah wujud nyata dari ekonomi kerakyatan yang berbasis pada nilai kemanusiaan dan pelayanan.
Seni Mengelola Keamanan dan Kenyamanan
Menjaga kondusivitas di tengah ribuan kepala adalah sebuah kerja seni kepemimpinan. Keberhasilan ini tidak lepas dari tangan dingin Pemkab Sukabumi di bawah kepemimpinan Bupati Asep Japar dan Pemkot Sukabumi dibawah kepemimpinan Ayep Zaki, yang berkolaborasi harmonis dengan jajaran Polres Kota Sukabumi dan Polres Suiabumi serta instansi terkait. Mereka berhasil membangun ekosistem yang aman, sehingga wisatawan merasa tenang menikmati pesona alam Sukabumi. Keamanan adalah “roh” dari pariwisata; tanpa rasa aman, keindahan alam kehilangan maknanya.
Narasi Positif: Peran Pers sebagai Katalisator
Dukungan lapisan masyarakat, terutama kalangan pers seperti PWI dan SMSI, menjadi pilar penting dalam membangun citra daerah. Melalui narasi positif, pers telah menjadi “jembatan spiritual” yang menghubungkan keindahan potensi lokal dengan imajinasi publik. Informasi yang konstruktif dan promosi yang konsisten terbukti mampu mengubah persepsi, menjadikan Sukabumi destinasi utama yang dicari, bukan sekadar dilewati.
Komitmen Masa Depan
Pencapaian H+2 Lebaran ini adalah bukti autentik bahwa Sukabumi telah naik kelas. Dengan tetap memegang teguh kearifan lokal, menjaga situasi tetap kondusif, dan terus bersinergi, masa depan ekonomi Sukabumi akan terus tumbuh. Mari kita jaga momentum ini sebagai ibadah sosial untuk kesejahteraan bersama memajukan perekonomian Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi.***
Wartain.com || Arus lalu lintas di Jalan Babadan Taman Tenjoresmi atau biasa dikenal Taman Bunga Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mengalami kemacetan total pada momen libur Lebaran. Kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat mengular panjang tanpa pergerakan di sepanjang jalan tersebut. Selasa (24/3/2026).
Diketahui kemacetan terjadi akibat padatnya volume kendaraan yang melintas di jalur tersebut, pada saat itu diberlakukan sebagai satu arah.
Kondisi ini membuat laju kendaraan tersendat hingga akhirnya tidak dapat bergerak sama sekali.
Salah satu pengunjung asal Cicurug, Sukabumi, Roni (34), mengatakan, “Duh saya dari tadi terjebak macet hampir ada dua jam ini, tidak bergerak sama sekali. Saya tadi habis dari Pantai Citepus, mau pulang akhirnya terhambat disini. Lumayan capek juga ya, jadi terpaksa istirahat dulu sambil ngopi.” ujar Roni kepada Wartain saat diwawancarai.
Kepadatan kendaraan sendiri didominasi oleh para wisatawan yang hendak kembali dari sejumlah objek wisata di kawasan Palabuhanratu, seperti Pantai Citepus, Pantai Karanghawu, hingga Geyser Cisolok.
Demikian lonjakan arus balik wisatawan ini menyebabkan penumpukan kendaraan di jalur utama.
Kemacetan terpantau mulai terjadi sejak pukul 22.00 WIB. Hingga memasuki pukul 00.30 WIB dini hari, kondisi lalu lintas di lokasi tersebut masih terpantau padat merayap bahkan cenderung tidak bergerak.
Terlihat sejumlah pengendara memilih untuk berhenti sejenak di pinggir jalan untuk beristirahat. Yand dimana yakni memanfaatkan waktu dengan membeli minuman atau sekadar menikmati kopi di warung sekitar sambil menunggu arus kembali normal.
Situasi ini bukan kali pertama terjadi. Setiap musim libur Lebaran, kawasan Jalan Taman Bunga Palabuhanratu memang kerap menjadi titik kemacetan akibat tingginya mobilitas kendaraan, baik dari wisatawan maupun pemudik.***
Wartain.com || Arus lalu lintas di pertigaan Batu Sapi, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mengalami macet parah. Kepadatan kendaraan terjadi akibat banyaknya wisatawan yang pulang dari sejumlah objek wisata di kawasan Palabuhanratu setelah menghabiskan waktu liburan. Senin 23 Maret 2026.
Pantauan di lokasi sejak siang hingga sore hari, antrean kendaraan didominasi mobil pribadi dan sepeda motor yang datang dari arah kawasan wisata pantai menuju jalur utama Palabuhanratu–Cikembar. Kondisi tersebut membuat laju kendaraan harus berjalan perlahan bahkan beberapa kali berhenti.
Kemacetan paling terasa di titik pertigaan Batu Sapi yang menjadi salah satu jalur pertemuan kendaraan dari arah pusat Kota Palabuhanratu, kawasan wisata, serta kendaraan yang hendak menuju jalur nasional menuju Sukabumi dan Bogor.
Sejumlah warga sekitar juga terlihat membantu mengatur arus kendaraan secara sukarela agar kemacetan tidak semakin parah. Meski tersendat, situasi lalu lintas masih dapat dikendalikan dan kendaraan tetap bergerak secara bergantian.
Salah seorang warga Batu Sapi, Andi (35), mengatakan kepadatan kendaraan seperti ini kerap terjadi saat akhir pekan maupun musim liburan ketika wisatawan pulang dari kawasan wisata Palabuhanratu.
“Kalau sudah musim liburan atau akhir pekan, di pertigaan Batu Sapi ini sering macet karena kendaraan dari arah pantai menumpuk. Biasanya paling ramai saat sore hari ketika wisatawan mulai pulang,” ujarnya singkat.***
Oleh : Aam Abdul Salam, Penasehat PWI Kab.Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya dan Presidium KAHMI Sukabumi
Wartain.com || Selamat datang, para tamu kehormatan, di tanah pusaka Sukabumi. Di ambang fajar Idul Fitri 1447H ini, Sukabumi membuka lengannya lebar-lebar untuk menyambut ribuan wisatawan yang datang membawa rindu akan kedamaian. Dari deburan magis Pantai Palabuhanratu hingga hamparan purba Geopark Ciletuh, kehadiran Anda bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan sebuah simfoni spiritual yang merayakan kemenangan fitrah manusia.
Seni dan Budaya Memuliakan Tamu
Dalam falsafah Sunda, “Someah hade ka semah” (ramah dan baik kepada tamu-red) adalah seni tertinggi dalam berinteraksi. Sukabumi menyuguhkan lebih dari sekadar pemandangan; ia menyuguhkan kehangatan budaya. Ribuan langkah yang memadati pesisir dan perbukitan adalah bentuk apresiasi terhadap estetika ciptaan Tuhan. Di sini, seni alam dan budaya lokal melebur, menciptakan ruang di mana setiap orang merasa diterima dan dihargai.
Filsafat Tadabur: Alam sebagai Cermin Diri
Secara filosofis, perjalanan Anda menuju Geopark Ciletuh atau Palabuhanratu pasca-Ramadhan adalah sebuah bentuk Tadabur Alam. Menatap tebing-tebing batu yang telah berusia jutaan tahun atau memandang luasnya samudra adalah cara manusia mengenal kekecilannya di hadapan Sang Khalik. Ini adalah momentum untuk merenung: bahwa setelah sebulan penuh menyucikan jiwa, kita kembali ke alam untuk menyatukan frekuensi batin dengan harmoni semesta.
Spiritualitas Kuliner dan Berkah Kebersamaan
Berkah Lebaran kian terasa dalam setiap sajian kuliner khas Sukabumi. Menikmati kehangatan Mochi atau hidangan laut di tepi pantai adalah ritual syukur yang mendalam. Makanan adalah bahasa universal cinta dan keberkahan. Di tengah situasi yang aman dan damai, setiap suapan kuliner yang dinikmati bersama keluarga menjadi doa yang nyata atas rezeki dan kedamaian yang melimpah di tanah ini.
Doa Keselamatan dan Kebahagiaan
Kami menyertai setiap tawa dan canda Anda dengan doa yang tulus. Semoga Sang Maha Penjaga memberikan perlindungan dan keselamatan dalam setiap perjalanan Anda, baik di tanjakan terjal Ciletuh maupun di bibir pantai Palabuhanratu. Semoga kebahagiaan yang Anda jemput di Sukabumi menjadi bekal spiritual yang kuat untuk menjalani hari-hari di masa depan.
Selamat merayakan libur hari raya. Nikmatilah keindahan alam kami, resapilah kedamaiannya, dan bawalah pulang berkah Idul Fitri yang tak terlupakan dari Sukabumi.***