26.7 C
Jakarta
Rabu, Juli 8, 2026
Beranda blog Halaman 204

Ketua DPRD Sukabumi Hadiri Lomba Pukul Bedug Tingkat Kabupaten di Alun-alun Palabuhanratu

0

Wartain.com || Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, menghadiri kegiatan Lomba Pukul Bedug tingkat kabupaten yang digelar di Alun-alun Palabuhanratu. Acara tersebut berlangsung meriah dengan diikuti oleh berbagai perwakilan dari kecamatan se-Kabupaten Sukabumi.

Kehadiran Budi Azhar dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Islam yang telah mengakar di tengah masyarakat, khususnya dalam menyemarakkan bulan suci Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri.

Dalam kesempatan itu, Budi Azhar menyampaikan apresiasinya kepada panitia dan seluruh peserta lomba yang telah berpartisipasi dengan penuh semangat. Menurutnya, lomba pukul bedug bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sarana mempererat tali silaturahmi serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan di masyarakat.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal yang bernuansa religius,” ujarnya, Sabtu (21/03/2026).

Suasana di Alun-alun Palabuhanratu tampak semarak dengan dentuman bedug yang berpadu dengan kreativitas peserta dalam menampilkan variasi irama. Masyarakat yang hadir pun antusias menyaksikan jalannya perlombaan hingga selesai.

Pemerintah daerah berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal sekaligus menjadi daya tarik budaya di Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Shalat Idulfitri 1447 H, Bupati Asjap: Momen Spiritual dan Perkuat Komitmen Membangun Daerah  

0

Wartain.com || Suasana khidmat menyelimuti Alun-alun Palabuhanratu, saat ribuan masyarakat menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026). Momentum hari kemenangan itu turut dihadiri Bupati Sukabumi H Asep Japar bersama Wakil Bupati H Andreas, unsur Forkopimda.

Hadir pula Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Demokrat, Iman Adi Nugraha dan Ketua MUI Provinsi Jawa Barat, Aang Abdullah Zein.

Dalam sambutannya, Bupati H Asep Japar menegaskan bahwa Idulfitri bukan hanya momen spiritual, tetapi juga menjadi titik awal memperkuat komitmen membangun daerah.

Ia menyebut geliat pembangunan dan pelayanan publik di Kabupaten Sukabumi terus menunjukkan tren positif, meski masih menyisakan sejumlah PR.

“Pembangunan dan pelayanan publik terus membaik, namun masih banyak PR yang harus kita selesaikan bersama. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung program pemerintah demi terwujudnya Kabupaten Sukabumi yang mubarakah,” ujarnya.

H Asep menegaskan komitmennya bersama jajaran pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, pemerataan pendidikan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

“Kami optimistis, dengan kolaborasi semua pihak, cita-cita menjadikan Sukabumi yang maju dan berkah dapat tercapai,” ucapnya.

Tak hanya itu, Bupati juga memberikan pesan khusus kepada masyarakat yang tengah melakukan perjalanan mudik agar selalu mengutamakan keselamatan. Beliau juga meminta aparat di lapangan memastikan pelayanan di titik wisata dan jalur mudik berjalan optimal dan tertib.

“Mari kita jadikan Kabupaten Sukabumi sebagai daerah yang aman, nyaman, dan ramah bagi siapa pun,” ajaknya.

Dalam nuansa penuh kehangatan Idulfitri, H Asep turut mengajak masyarakat untuk menanggalkan sifat negatif dan memperkuat nilai-nilai persaudaraan.

“Hilangkan rasa benci, iri, dengki, dan sombong. Mari kita ganti dengan kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan. Dengan hati yang terbuka, mari kita saling memaafkan,” ucapnya.

Lebih lanjut Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan warga yang tengah tertimpa musibah agar diberikan kekuatan dan kesabaran, seraya berharap Kabupaten Sukabumi senantiasa dalam lindungan Allah SWT.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Refleksi Kemenangan Idul Fitri: Kembali ke Fitrah yang Hakiki

0
Oplus_131072

Oleh : Dadang Sahroni/Presidium MD KAHMI Sukabumi

Wartain.com || Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Perayaan ini bukan hanya sekadar akhir dari kewajiban menahan lapar dan dahaga, melainkan simbol kembalinya manusia ke fitrah yang suci dan murni. Dalam konteks spiritual, Idul Fitri adalah momentum refleksi atas perjuangan melawan hawa nafsu, di mana umat Muslim merayakan keberhasilan dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hari ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah tentang kekuasaan duniawi, tetapi tentang pengendalian diri dan pembersihan jiwa dari segala dosa. Melalui takbir yang bergema, umat Islam diingatkan untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan pasca-Ramadhan dengan semangat baru. Esensi dari perayaan ini terletak pada transformasi diri yang telah dicapai, sehingga Idul Fitri menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah.

Makna Kemenangan Idul Fitri

Kemenangan dalam Idul Fitri memiliki dimensi yang mendalam, baik secara spiritual maupun sosial. Secara spiritual, hari raya ini melambangkan keberhasilan umat Islam dalam mengalahkan godaan nafsu selama Ramadhan. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian emosi. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi simbol kemenangan atas hawa nafsu, di mana jiwa manusia kembali ke keadaan fitrah yang bersih dari noda dosa. Ini adalah pencapaian hakiki yang tidak bisa diukur dengan materi, melainkan dengan kedekatan kepada Sang Pencipta. Dalam perspektif sejarah, Idul Fitri telah dirayakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk syukur atas penyempurnaan ibadah puasa yang menjadi salah satu rukun Islam.

Di sisi sosial, Idul Fitri memperkuat ikatan persaudaraan antar sesama. Tradisi saling memaafkan, yang dikenal sebagai halal bihalal, menjadi bagian integral dari perayaan ini. Momentum ini mempererat tali silaturahmi, menghapus dendam, dan membangun harmoni dalam masyarakat. Selain itu, zakat fitrah yang dibayarkan sebelum shalat Id menjadi wujud kepedulian sosial, di mana yang mampu berbagi dengan yang kurang beruntung agar semua bisa merasakan kebahagiaan. Makna ini mengingatkan bahwa kemenangan bukan milik individu semata, tetapi juga kolektif, di mana umat Islam saling mendukung dalam kebaikan. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah pengingat untuk terus menjaga nilai-nilai Ramadhan, seperti kedermawanan dan empati, agar tidak hilang begitu saja setelah bulan suci berakhir.

Secara filosofis, kemenangan Idul Fitri

mencerminkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan. Ramadhan adalah sekolah kehidupan yang mendidik umat untuk menjadi lebih baik. Ketika Idul Fitri tiba, umat merayakan lulusnya dari ujian tersebut dengan penuh sukacita. Namun, sukacita ini harus disertai dengan kesadaran bahwa perjuangan belum berakhir. Idul Fitri bukan akhir, melainkan awal dari penerapan nilai-nilai suci dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah hari di mana umat Islam merenungkan pencapaian spiritual mereka, sekaligus berkomitmen untuk mempertahankan semangat tersebut. Tanpa pemahaman mendalam ini, perayaan Idul Fitri bisa saja menjadi rutinitas kosong tanpa makna yang sejati.

Pentingnya Menjaga Semangat Setelah Ramadhan

Setelah Ramadhan berlalu, banyak umat Islam yang mengalami penurunan semangat ibadah. Hal ini wajar karena rutinitas harian kembali normal, tanpa kewajiban puasa yang ketat. Namun, justru di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. Menjaga kemenangan Idul Fitri berarti mempertahankan nilai-nilai Ramadhan sepanjang tahun, agar transformasi spiritual tidak sia-sia. Jika semangat ini hilang, maka puasa Ramadhan hanya menjadi ritual tahunan tanpa dampak jangka panjang pada karakter seseorang.

Pentingnya hal ini terletak pada tujuan utama Ramadhan, yaitu mencapai ketakwaan. Al-Quran menyebutkan bahwa puasa ditetapkan agar umat menjadi orang-orang yang bertakwa. Oleh sebab itu, Idul Fitri harus menjadi momentum pembaruan spiritual, di mana umat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas ibadah. Tanpa upaya menjaga, kemenangan itu bisa lenyap ditelan oleh kesibukan duniawi. Semangat Ramadhan harus menjadi gaya hidup, bukan sekadar musiman, agar umat Islam bisa hidup dalam keberkahan terus-menerus.

Selain itu, menjaga semangat ini juga berdampak pada aspek sosial. Ketika nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan kedermawanan dipertahankan, masyarakat akan menjadi lebih harmonis. Idul Fitri mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah ketika umat bisa menerapkan pelajaran Ramadhan dalam interaksi sehari-hari, seperti menjaga lisan dari kata-kata buruk atau membantu sesama tanpa pamrih. Ini adalah bentuk ketakwaan yang berkelanjutan, yang membuat hidup lebih bermakna.

Cara Menjaga Kemenangan Idul Fitri

Untuk menjaga kemenangan Idul Fitri setelah Ramadhan, diperlukan langkah-langkah konkret yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, tetapkan rutinitas ibadah harian yang konsisten. Misalnya, lanjutkan membaca Al-Quran secara rutin, meskipun tidak sebanyak selama Ramadhan. Ini membantu menjaga kedekatan dengan Allah dan memperkuat iman.

Kedua, pertahankan puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Arafah. Puasa sunnah ini menjadi pengingat akan disiplin Ramadhan, sehingga semangat pengendalian diri tetap terjaga. Selain itu, tingkatkan shalat sunnah, seperti tahajud, untuk memperdalam spiritualitas.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

TPU Kalideres Ramai, Momen Ziarah Bawa Berkah bagi Pedagang

0

Wartain.com || Ratusan warga memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kalideres, Citarik, Palabuhanratu, untuk melakukan ziarah menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Aktivitas ziarah ini dilakukan sebagai tradisi tahunan masyarakat untuk mendoakan keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia. Sabtu 21 Maret 2026.

Sejak pagi hari, kawasan TPU Kalideres terlihat ramai oleh peziarah yang datang silih berganti. Mereka membawa bunga, air, serta perlengkapan lainnya untuk membersihkan dan menabur bunga di makam. Kepadatan pengunjung meningkat signifikan terutama menjelang siang hari.

Selain dipenuhi peziarah, area sekitar pemakaman juga diramaikan oleh para pedagang musiman. Berbagai jenis dagangan seperti bunga tabur, air mineral, hingga makanan ringan dijajakan untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung yang datang berziarah.

Salah satu pedagang, Ridwan, mengaku mendapatkan peningkatan pendapatan dari momen ziarah ini. “Alhamdulillah, setiap menjelang Lebaran seperti sekarang, pembeli ramai. Banyak yang beli bunga dan air untuk ziarah,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Kehadiran warga yang memadati TPU Kalideres ini menjadi gambaran kuatnya tradisi ziarah di tengah masyarakat, khususnya menjelang hari besar keagamaan, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi para pedagang di sekitar area pemakaman.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Sholat Idul Fitri 1447 H di Masjid Jami Assiroj Jadi Momentum Kembali ke Fitrah

0

Wartain.com || Umat Muslim di Kampung Ciawun, Palabuhanratu, melaksanakan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Jami Assiroj pada Sabtu, 21 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk kembali ke fitrah setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Sejak pagi hari, ratusan jamaah mulai berdatangan ke Masjid Jami Assiroj untuk mengikuti pelaksanaan sholat Idul Fitri. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, yang tampak antusias menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.

Pelaksanaan sholat Idul Fitri berlangsung khidmat, dipimpin oleh imam setempat, dengan rangkaian takbir, tahmid, dan khutbah yang menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai ketakwaan. Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momen introspeksi diri serta mempererat tali silaturahmi antar sesama.

Selain sebagai bentuk ibadah, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat kebersamaan warga Kampung Ciawun. Usai sholat, para jamaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan, mencerminkan semangat persaudaraan yang erat di tengah masyarakat.

Dengan terselenggaranya Sholat Idul Fitri 1447 H di Masjid Jami Assiroj, masyarakat berharap nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadan dapat terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari, sebagai wujud kembali ke fitrah yang sesungguhnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Masjid Dahilusaadah Kampung Cikawung Dipadati Jamaah Shalat Idulfitri 1447 H, Khatib Pesan Jaga Persatuan dan Kesatuan 

0
Oplus_131072

Wartain.com || Ratusan jamaah memadati Masjid Dahilussaadah Kp. Cikawung RW 03, Desa Babakan Panjang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Sabtu 21/03/2026. Mereka berdatangan untuk melaksanakan shalat Idulfitri berjamaah sekaligus mendengarkan khutbah yang diaampaikan.

Pelaksanaan Shalat Id dipimpin oleh Imam sekaligus khotib  Masjid Dahilussaadah Ustadz M. Rohman. Nampak para jamaah khusyu’ mengikuti shalat berjamaah dan khotbah yang disampaikan dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami.

Dalam khotbah yang disampaikan Ustadz M. Rohman mengatakan, momen Idul Fitri tidak sekedar sebagai perayaan tetapi merupakan wujud keberhasilan mendekatkan diri kepada Allah Subhanallahu Wata’ala melalui ibadah puasa Ramadhan. Sebab dengan puasa yang dilaksanakan atas dasar iman dan Ikhlas, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

“Mudah-mudahan kita yang hadir di Masjid ini, termasuk hamba-hambah Allah yang mendapatkan keistimewaan sebagai orang yang suci dari segala dosa seperti ketika kita dilahirkan dari ibu. Karena itu di hari yang mulia kita dianjurkan untuk memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid atas segala ni.mat yang Allah berikan kepada kita yang diawali dengan menunaikan zakat fitrah,” katanya.

Ditegaskan, Idul Fitri merupakan salah satu kesempatan untuk mempererat silaturrahim, persatuan dan kesatuan. Hal ini terlihat ketika hari raya Idul Fitri adalah, budaya mudik lebaran selalu terjadi setiap tahunnya dari anak rantau yang tujuannya untuk menjalin silaturrahim dengan keluarga di kampung halaman.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahimnya. Sehingga sesibuk apapun kita, tidak ada alasan untuk tidak menyambung silaturrahim terutama sekali keluarga dekat seperti orang tua dan saudara-saudara kita,” jelasnya.

“Selain itu, sebagai umat beragama dan bangsa yang besar, kita harus selalu menjaga persatuan, kesatuan serta keutuhan umat, untuk menghindari perpecahan diantara anak bangsa,” tegasnya.

Diakhir khotbahnya, Ustadz M. Rohman juga menyoroti pentingnya pembinaan generasi muda sebagai asset bangsa dan agama. Setidaknya ada 3 hal yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda, yaitu pembinaan keimanan, peningkatan Ilmu pengetahuan dan penanaman akhlaq yang mulia.

Peran orang tua dan kalangan pendidik tegas Ustadz Munzir, memiliki tanggung jawab yang besar dalam menciptakan generasi musda islam yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia. Karena itu melalui momentum Puasa Ramadhan yang telah dilaksanakan, diharapkan semakin mempertebal keimanan dan ketaqwaan umat khususnya generasi muda yang diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehar-hari.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Gema Takbir dan Makna Yang Kian Memudar

0
Oplus_131072

Oleh: U. Supyandi (Bendahara Umum Lingkar Mahasiswa Sukabumi)

Wartain.com || Malam takbiran selalu menjadi penanda berakhirnya bulan suci Ramadhan. Gema takbir yang berkumandang dari masjid, musala, hingga sudut-sudut jalan menghadirkan suasana haru sekaligus sukacita. Umat Muslim merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Namun, di tengah semarak tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah gema takbir yang kita kumandangkan masih sepenuhnya sarat makna, atau perlahan mulai kehilangan ruhnya? Tradisi takbiran yang dahulu identik dengan kekhusyukan kini kerap bergeser menjadi euforia semata.

Fenomena pawai kendaraan, iring-iringan konvoi, hingga dentuman petasan menjadi pemandangan yang lazim di berbagai daerah. Tak jarang, aktivitas tersebut justru menimbulkan kemacetan, kebisingan, bahkan potensi gangguan keamanan. Dalam situasi seperti ini, takbir seolah hanya menjadi latar suara dari hiruk-pikuk perayaan.

Padahal, esensi takbir adalah pengagungan kepada Allah SWT. Kalimat “Allahu Akbar” bukan sekadar seruan, melainkan pengingat bahwa segala kebesaran hanya milik-Nya. Malam takbiran sejatinya yg menjadi momentum refleksi diri, apakah Ramadhan yang telah dilalui benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan kita.

Perubahan pola perayaan ini juga tidak lepas dari pengaruh zaman dan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda. Di satu sisi, tradisi takbiran tetap hidup dan menjadi bagian dari budaya. Namun di sisi lain, tanpa pemahaman yang mendalam, makna spiritualnya berpotensi terkikis oleh sekadar euforia.

Bukan berarti tradisi harus dihilangkan. Takbiran keliling, misalnya, dapat tetap menjadi sarana syiar dan kebersamaan jika dilakukan dengan tertib dan tetap menjunjung nilai-nilai keagamaan. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara ekspresi kegembiraan dan kesadaran spiritual.

Bukan berarti tradisi harus dihilangkan. Takbiran keliling, misalnya, dapat tetap menjadi sarana syiar dan kebersamaan jika dilakukan dengan tertib dan tetap menjunjung nilai-nilai keagamaan. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara ekspresi kegembiraan dan kesadaran spiritual.

Malam takbiran seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar perayaan. Ia adalah waktu untuk mensyukuri kemenangan, sekaligus mengevaluasi diri. Apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah, atau hanya sekadar melewati Ramadhan sebagai rutinitas tahunan.

Pada akhirnya, gema takbir akan selalu terdengar setiap tahunnya. Namun maknanya akan bergantung pada bagaimana kita memaknainya. Jika tidak dijaga, bukan tidak mungkin gema itu hanya akan menjadi suara yang menggema di udara, tanpa benar-benar menyentuh hati.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Lautan Massa Padati Sagaranten, Arak-arakan Malam Takbiran Jadi Magnet Warga Lintas Kecamatan

0

Wartain.com || Pusat Kecamatan Sagaranten terpantau ramai dan dipadati lautan massa pada Jumat malam (20/3/2026). Ribuan warga tumpah ruah ke jalanan untuk melangsungkan arak-arakan dalam rangka merayakan malam takbiran menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 H. Kemeriahan tahunan ini tidak hanya diikuti oleh warga lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi warga dari berbagai wilayah tetangga.

Kondisi keramaian di sepanjang jalur protokol Sagaranten mulai terlihat sejak selepas waktu Isya. Berbagai rombongan masyarakat dengan atribut perayaan tampak antusias melakukan pawai kendaraan maupun jalan kaki. Fenomena ini telah menjadi tradisi turun-temurun yang selalu dinantikan setiap malam menjelang lebaran.

Pahri (27), salah seorang warga yang ikut larut dalam keramaian tersebut, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat pada tahun ini sangat tinggi. Menurutnya, Sagaranten kini telah bertransformasi menjadi pusat perayaan malam kemenangan bagi warga Sukabumi Selatan.

“Di Sagaranten ini sudah menjadi tradisi karena setiap tahun masyarakat Sagaranten selalu aktif meramaikan acara malam Idulfitri. Dan bukan dari Sagaranten saja, ada yang dari Curugkembar, Cidadap, dan masih banyak lagi,” ujar Pahri saat ditemui di lokasi, Jumat malam.

Selain arak-arakan di jalan utama, kemeriahan juga terpantau di titik-titiik seperti di Desa Mekarsari, curugluhur sampai ke desa pasangrahan. Di lokasi tersebut, para pemuda setempat menghidupkan tradisi meriam karbit yang telah dipersiapkan secara gotong royong sebagai simbol sukacita.

Meski volume kendaraan dan massa meningkat drastis, suasana di Kecamatan Sagaranten secara umum tetap terpantau kondusif. Warga berharap kekompakan dan kemeriahan ini dapat terus terjaga sebagai identitas budaya lokal yang mempererat silaturahmi antarwilayah. Hingga berita ini diturunkan, arus arak-arakan masih berlangsung dengan pengawasan dari tokoh masyarakat dan aparat setempat guna memastikan ketertiban umum.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sule)

Gagal ke Semifinal, Raymond/Nikolaus Ditumbangkan Duo Kjær di Perancis

0

Wartain.com || Pasangan ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, harus mengubur impian mereka untuk melangkah lebih jauh di ajang Orléans Masters Badminton 2026. Dalam laga babak perempat final (QF) yang berlangsung di Prancis pada Jumat (20/3/2026), unggulan kedua asal Indonesia ini dipaksa menyerah oleh pasangan Denmark, Christian Faust Kjær/Rasmus Kjær, melalui pertarungan sengit tiga gim.

Pertandingan yang berjalan dengan intensitas tinggi tersebut berakhir dengan skor 18-21, 21-12, dan 14-21 untuk kemenangan duet Denmark. Kekalahan ini menjadi hasil yang cukup mengecewakan bagi tim Merah Putih, mengingat Raymond/Nikolaus merupakan salah satu tumpuan harapan di sektor ganda putra (MD) pada turnamen BWF World Tour Super 300 ini.

Sejak gim pertama dimulai, kedua pasangan saling kejar-mengejar angka dengan tempo permainan yang cepat. Meskipun Raymond/Nikolaus sempat memberikan perlawanan ketat, Christian Faust Kjær/Rasmus Kjær berhasil mengamankan poin-poin kritis di akhir gim pertama dengan skor 21-18. Tekanan dari pasangan Denmark terlihat cukup menyulitkan pertahanan wakil Indonesia di awal laga.

Memasuki gim kedua, Raymond/Nikolaus mencoba mengubah pola permainan dan tampil lebih dominan. Strategi ini terbukti efektif setelah mereka berhasil unggul jauh dan merebut gim kedua dengan skor telak 21-12, memaksa pertandingan berlanjut ke babak penentuan. Momentum kemenangan di gim kedua sempat memberikan harapan besar bagi pendukung bulu tangkis Indonesia yang hadir di arena maupun melalui layar kaca.

Sayangnya, pada gim penentu, performa pasangan Denmark kembali memuncak sementara Raymond/Nikolaus justru sering melakukan kesalahan sendiri. Christian dan Rasmus Kjær sukses menutup gim ketiga dengan skor 21-14, sekaligus memastikan tiket ke babak semifinal. Dengan hasil ini, perjalanan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di Orléans Masters 2026 resmi terhenti di babak delapan besar.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Ganda Putri Indonesia Rachel/Febi Melaju Mulus ke Babak 4 Besar Orléans Masters

0

Wartain.com || Pasangan ganda putri Indonesia, Rachel Allessya Rose dan Febi Setianingrum, sukses mengamankan tiket ke babak semifinal turnamen Orléans Masters Badminton 2026. Kepastian ini didapat setelah mereka berhasil menumbangkan wakil unggulan ketiga asal Chinese Taipei, Hsu Ya Ching dan Sung Yu-Hsuan, pada babak perempat final (QF) yang berlangsung di Prancis, Jumat (20/3/2026).

Rachel dan Febi, yang datang sebagai unggulan kedelapan dalam turnamen kategori BWF World Tour Super 300 ini, tampil sangat solid sejak awal laga. Menghadapi lawan yang secara peringkat lebih diunggulkan tidak menyurutkan mental bertanding pasangan Merah Putih tersebut di hadapan publik Orléans.

Hasil akhir menunjukkan dominasi total pasangan Indonesia yang menyudahi perlawanan dalam dua gim langsung dengan skor 21-14 dan 21-15. Kemenangan ini tergolong impresif mengingat efektivitas serangan dan pertahanan yang rapat diperagakan oleh Rachel/Febi sepanjang pertandingan, sehingga lawan sulit untuk mengembangkan pola permainan mereka.

Pertandingan yang digelar dalam rangkaian turnamen yang berlangsung pada 17-22 Maret 2026 ini menjadi bukti progres positif ganda putri pelapis Indonesia di kancah internasional. Kemenangan atas unggulan ketiga tentu menjadi modal kepercayaan diri yang besar bagi Rachel/Febi untuk menatap babak selanjutnya demi memperebutkan gelar juara.

Dengan hasil ini, Rachel Allessya Rose dan Febi Setianingrum berhak melaju ke babak semifinal yang akan digelar esok hari. Mereka menjadi salah satu harapan besar Indonesia untuk membawa pulang trofi dari ajang yang disponsori oleh Victor dan didukung oleh PBSI ini.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)