26.7 C
Jakarta
Rabu, Juli 8, 2026
Beranda blog Halaman 206

Ketua DPRD Sukabumi Ajak Masyarakat Syukuri Ramadan dan Tingkatkan Ibadah di Hari Terakhir

0

Wartain.com || Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada umat Muslim untuk menjalani bulan suci Ramadan yang penuh ampunan dan keberkahan.

Dalam pesannya, Budi Azhar mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana introspeksi diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Ia berharap seluruh umat Muslim dapat keluar dari bulan suci ini dengan pribadi yang lebih baik.

“Ya Allah, terima kasih atas kesempatan menjalani bulan penuh ampunan. Jadikan kami hamba yang lebih baik setelah ini,” ungkapnya dalam pernyataan yang disampaikan menjelang akhir Ramadan, Jumat (20/03/2026).

Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga semangat dalam menjalankan ibadah puasa hingga hari terakhir. Menurutnya, konsistensi dalam beribadah menjadi kunci untuk meraih keberkahan yang maksimal di bulan Ramadan.

Budi Azhar pun berharap seluruh umat Muslim diberikan kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ramadan di tahun mendatang dalam keadaan sehat dan penuh keimanan.

“Semoga kita semua tetap istiqamah, semangat menjalankan ibadah puasa hingga akhir, dan dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan yang akan datang,” tambahnya.

Ia juga mengajak masyarakat Sukabumi untuk terus menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadan, seperti kepedulian sosial, kebersamaan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Kebangkitan Guru-Guru Mursyid Ma‘rifatullah: Seruan Para Mursyid dan Murid Tarekat untuk Membangun Dunia Ketuhanan dan Kemanusiaan

0
Oplus_131072

Oleh: Kang Dzikri. Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Pendahuluan

Wartain.com || Dunia manusia sedang memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan. Kekuasaan politik, ekonomi, dan militer global semakin terkonsentrasi pada segelintir elite yang mengendalikan arah peradaban dunia. Konflik geopolitik, eksploitasi ekonomi, serta manipulasi informasi menjadikan manusia semakin jauh dari nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Dalam sejarah Islam, ketika kekuatan dunia menjadi zalim, selalu muncul para arif dan guru ma‘rifatullah yang menghidupkan kembali kesadaran tauhid dalam diri manusia.

Karena itu, saat ini muncul pertanyaan besar: Di mana peran para guru mursyid tarekat dan para muridnya dalam menghadapi krisis kemanusiaan global?.

Warisan Ruhani Para Mursyid

Sejak masa awal Islam, jalan tasawuf dan irfan melahirkan para guru ruhani yang membimbing manusia menuju ma‘rifatullah.

Beberapa tokoh besar yang menjadi inspirasi spiritual dunia Islam antara lain:
Abdul Qadir al-Jilani
Ahmad al-Rifa’i
Jalaluddin Rumi
Ibn Arabi.

Mereka mengajarkan bahwa tujuan spiritual bukan sekadar pengalaman batin, tetapi juga membangun manusia yang adil, beradab, dan membawa rahmat bagi dunia.

Akar Ruhani yang Sama

Baik tasawuf Sunni maupun irfan Syiah, sebenarnya memiliki sumber ruhani yang sama, yaitu:
-Nabi Muhammad
-Ali ibn Abi Talib
-Ahlulbait Nabi,

Dari jalur inilah lahir dua tradisi besar:
Tasawuf tarekat yang menyebar luas di dunia Sunni.
Irfan Ahlulbait yang berkembang kuat dalam tradisi Syiah.

Keduanya memiliki tujuan yang sama:
membangun manusia yang sadar akan kehadiran Allah dalam dirinya dan dalam kehidupan dunia.

Krisis Kepemimpinan Ruhani

Namun pada zaman modern, banyak tarekat berjalan sendiri-sendiri tanpa visi peradaban yang jelas.

Sebagian hanya fokus pada:
ritual dzikir,
kegiatan internal kelompok
penghormatan kepada guru.
Padahal dalam sejarah, para wali dan mursyid selalu memainkan peran besar dalam membela keadilan dan melindungi umat.

Ketika dimensi sosial tauhid hilang, tasawuf bisa berubah menjadi spiritualitas yang pasif.

Contoh Integrasi “Spiritualitas dan Perlawanan

Dalam sejarah modern, ada contoh bagaimana spiritualitas dan kesadaran politik bertemu.

Salah satu tokoh yang sering dibahas adalah: Ruhollah Khomeini

Ia berasal dari tradisi irfan dan filsafat Islam, tetapi juga memimpin perubahan politik besar yang melahirkan negara modern yang berusaha berdiri mandiri di tengah tekanan global.

Contoh ini menunjukkan bahwa kesadaran ruhani dapat melahirkan keberanian kolektif dalam menghadapi ketidakadilan global.

Tugas Baru Para Mursyid dan Murid Tarekat

Jika para guru dan murid tarekat di seluruh dunia bersatu dalam kesadaran tauhid, mereka sebenarnya memiliki potensi besar untuk membangun peradaban baru.

Tugas mereka bukan sekadar membimbing dzikir, tetapi juga:
-Menghidupkan kembali kesadaran ma‘rifatullah.
-Membela keadilan dan kemanusiaan.
-Menjadi kekuatan moral bagi masyarakat.
-Membangun persatuan umat manusia.

Dengan demikian, tasawuf tidak hanya menjadi jalan spiritual pribadi, tetapi juga jalan transformasi sosial.

Menuju Dunia Ketuhanan dan Kemanusiaan

Dunia yang dibangun atas dasar ma‘rifatullah adalah dunia yang:
-menghormati martabat manusia,
menolak penindasan
menjaga keseimbangan alam,
menghidupkan keadilan
Inilah makna manusia sebagai hamba dan khalifah di bumi.

Penutup

Kebangkitan spiritual umat manusia tidak akan datang dari kekuatan senjata atau kekuasaan semata, tetapi dari kesadaran tauhid yang hidup dalam hati manusia.
Jika para mursyid dan murid tarekat di seluruh dunia mampu bersatu dalam visi ini, maka mereka dapat menjadi kekuatan moral yang membangun dunia ketuhanan dan kemanusiaan.***

Editor : Aab Abdul Malik

Pahala Puasa Ramadan Bagi Orang yang Melaksanakannya Pada Hari ke-30

0

Wartain.com || Simak inilah informasi mengenai keutamaan puasa Ramadhan hari ketiga puluh yang sungguh-sungguh luar biasa.

Di dalam keutamaan puasa Ramadhan hari ke-30 ini Allah SWT menjanjikan pahala yang luar biasa bagi hamba-hamba-Nya yang telah menunaikan puasa dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan.

Maka dari itu, redaksi kali ini akan mengulas keutamaan puasa Ramadhan hari ketiga puluh yang dikutip redaksi dari kitab Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah oleh Syeikh Muhammad bin Ali bin Husein bin Musa bin Babawayh Al-Qumi.

Penasaran bagaimana keutamaannya? untuk itu simak inilah keutamaan puasa Ramadhan hari ketiga puluh, sebagai berikut ini:

Keutamaan Puasa Ramadhan Hari Ke 30

“Allah SWT akan mencatat bagi kalian setiap hari sebelumnya pahala seribu syuhada’ dan seribu orang yang benar”

“Allah mencatat bagi kalian seperti beribadah lima puluh tahun; Allah mencatat bagi kalian untuk setiap hari seperti puasa dua ribu hari, dan mengangkat derajat kalian.”

Dalam keterangan di atas makna yang terkandung dari keutamaan puasa hari ke-30 yang pertama, Allah SWT akan menjanjikan pahala seperti seribu syuhada dan orang yang benar.

Selain itu, Allah juga akan melipatgandakan pahala ibadah bagi orang yang berpuasa dengan ikhlas.

Ibadah selama satu hari terakhir Ramadhan dicatat seperti telah beribadah selama lima puluh tahun.

Tidak hanya itu, Allah memberikan keutamaan luar biasa bagi hamba-Nya yang menjalankan puasa Ramadhan hingga hari terakhir. Setiap harinya, pahala yang diberikan setara dengan puasa selama dua ribu hari.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Ribuan Warga Muhammadiyah Sukabumi Salat Id di Kampus UMMI, Suasana Khidmat dan Tertib

0

Wartain.com || Ribuan warga Muhammadiyah di Sukabumi memadati kawasan Kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Jumat (20/3/2026) pagi, untuk melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah.

Pelaksanaan ibadah berlangsung khidmat dengan diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Selain memenuhi area masjid kampus, jamaah juga meluber hingga ke ruas Jalan R Syamsudin SH, tepat di depan Kampus UMMI.

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Iu Rusliana, menjelaskan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri hari ini merupakan bagian dari keyakinan yang didasarkan pada perhitungan ilmiah yang menjadi pedoman Muhammadiyah.

“Hari ini Muhammadiyah, termasuk umat Islam di sejumlah negara, telah melaksanakan Idulfitri. Ketika sudah diyakini waktunya, maka kita diwajibkan berbuka dan tidak diperkenankan lagi berpuasa,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap menghormati keputusan pemerintah yang menetapkan Idulfitri pada hari berikutnya. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang lumrah dan perlu disikapi dengan sikap saling menghargai.

“Kita tetap menghormati saudara-saudara kita yang masih menjalankan ibadah puasa. Perbedaan ini harus menjadi ruang untuk saling memahami, karena masing-masing memiliki dasar keilmuan dan pertimbangan keagamaan,” katanya.

Iu juga menyinggung upaya Muhammadiyah dalam mendorong penggunaan kalender hijriah global tunggal sebagai solusi jangka panjang untuk menyatukan penentuan waktu ibadah umat Islam. Namun, ia mengakui bahwa hal tersebut masih membutuhkan proses yang tidak singkat.

Dalam momentum Idulfitri, ia turut mengingatkan pentingnya kembali kepada fitrah serta meningkatkan ketakwaan. Sikap saling memaafkan dan mampu menahan amarah menjadi bagian dari nilai yang harus diwujudkan setelah menjalani ibadah Ramadan.

Ia menambahkan, Muhammadiyah sebagai organisasi yang berdiri sejak 1912 telah memiliki peran panjang dalam dakwah, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan.

Oleh karena itu, ia berharap praktik keagamaan yang dijalankan Muhammadiyah dapat dipahami sebagai bagian dari ekspresi beragama yang sah.

“Kami berharap semua pihak dapat saling menghormati. Dinamika yang terjadi seharusnya disikapi dengan dialog, bukan diperbesar,” tandasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Penolakan Salat Id Muhammadiyah di Lapang Merdeka Tuai Kritik, Dinilai Cederai Citra Kota Toleransi

0

Wartain.com || Penolakan Pemerintah Kota Sukabumi terhadap penggunaan Lapang Merdeka untuk pelaksanaan salat Idul Fitri oleh Muhammadiyah menuai sorotan dan kritik dari berbagai pihak. Kebijakan tersebut dinilai bertolak belakang dengan citra Sukabumi yang selama ini kerap digaungkan sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi.

Ketua PC IMM Sukabumi Raya, Diki Agustina, menilai keputusan tersebut mencerminkan lemahnya pengelolaan keberagaman oleh pemerintah daerah. Ia menyebut, penolakan itu menjadi indikator bahwa komitmen terhadap toleransi belum benar-benar diwujudkan dalam kebijakan konkret.

“Penolakan ini menjadi ironi. Di satu sisi pemerintah membangun narasi sebagai kota toleransi, namun di sisi lain justru membatasi pelaksanaan ibadah kelompok tertentu. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara wacana dan praktik di lapangan,” ujarnya, Kamis (20/3/2026).

Diki menegaskan, perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya dapat dikelola secara bijak tanpa harus berujung pada pembatasan ruang ibadah.

“Perbedaan ini sudah lama terjadi dan seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi keberagaman. Namun yang terjadi justru sebaliknya, perbedaan tidak difasilitasi, melainkan dibatasi,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kebijakan tersebut dengan komitmen yang sebelumnya disampaikan oleh Wali Kota Sukabumi. Diki menilai, hal itu mencerminkan inkonsistensi dalam kepemimpinan.

“Sebelumnya ada janji untuk memfasilitasi perbedaan. Tetapi ketika dihadapkan pada situasi nyata, justru muncul penolakan tanpa penjelasan yang transparan dan tanpa solusi alternatif yang setara. Ini tentu menimbulkan pertanyaan publik,” ucapnya.

Lebih lanjut, IMM menilai kebijakan tersebut berpotensi mencederai prinsip keadilan dan kebebasan beragama. Diki menekankan bahwa alasan administratif tidak seharusnya dijadikan dasar untuk membatasi hak kelompok tertentu dalam menjalankan ibadah.

“Jika pemerintah tidak mampu berdiri independen dan justru tunduk pada tekanan sosial, maka yang terjadi adalah legitimasi terhadap praktik diskriminatif. Ini berbahaya bagi kehidupan sosial yang majemuk,” tegasnya.

Menurutnya, fasilitas publik seperti Lapang Merdeka seharusnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat tanpa diskriminasi. Pembatasan akses, lanjut dia, berpotensi merusak rasa keadilan sekaligus menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

“Ketika ruang publik tidak bisa diakses secara setara untuk kegiatan keagamaan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan, tetapi juga kredibilitas pemerintah sebagai pelayan semua golongan,” katanya.

Diki menambahkan, predikat kota toleransi semestinya tidak berhenti pada slogan, melainkan harus tercermin dalam kebijakan nyata yang inklusif.

“Toleransi itu diuji ketika ada perbedaan, bukan saat semua seragam. Jika ingin tetap disebut kota toleransi, maka pemerintah harus berani mengambil langkah adil bagi semua pihak,” ujarnya.

IMM pun mendesak Wali Kota Sukabumi untuk segera memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat serta mengevaluasi kebijakan yang dinilai diskriminatif tersebut.

“Pemerintah harus mengembalikan perannya sebagai penjamin hak seluruh warga. Tanpa itu, klaim kota toleransi hanya akan menjadi slogan tanpa makna,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Sukabumi tidak mengizinkan penggunaan Lapang Merdeka untuk pelaksanaan salat Idul Fitri Muhammadiyah 1447 Hijriah, meskipun permohonan telah diajukan. Sebagai alternatif, pelaksanaan salat Id kemudian dialihkan ke lingkungan Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) serta SD Aisyiyah Cipoho.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Dominasi Chou Tien Chen Paksa Ginting Angkat Koper Lebih Awal dari Prancis

0

Wartain.com || Langkah tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, terpaksa terhenti di babak 16 besar turnamen Orléans Masters Badminton 2026. Dalam pertandingan yang berlangsung pada Kamis waktu setempat, Ginting harus mengakui ketangguhan unggulan pertama asal Chinese Taipei, Chou Tien Chen, melalui permainan dua gim langsung. Jum’at 20 Maret 2026.

Pertandingan yang digelar di Palais des Sports, Orléans, Prancis, ini berakhir dengan skor 14-21 dan 10-21 untuk kemenangan Chou Tien Chen. Hasil ini memastikan Indonesia kehilangan satu wakilnya di sektor tunggal putra pada turnamen level BWF World Tour Super 300 tersebut.

Kekalahan ini menjadi catatan evaluasi penting bagi Ginting, mengingat Chou Tien Chen tampil sangat dominan sejak awal gim pertama. Tekanan konsisten yang diberikan oleh wakil Chinese Taipei tersebut membuat Ginting sulit mengembangkan pola permainan terbaiknya dan sering melakukan kesalahan sendiri di poin-poin krusial.

Secara teknis, Ginting sempat mencoba mengejar ketertinggalan di awal gim kedua, namun pertahanan rapat Chou Tien Chen sulit ditembus. Melalui penempatan bola yang akurat dan smes keras yang terukur, Chou berhasil mendikte jalannya laga hingga menutup gim kedua dengan selisih poin yang cukup jauh, yakni 11 angka.

Dengan hasil ini, Chou Tien Chen resmi melaju ke babak perempat final, sementara perjuangan tim bulu tangkis Indonesia di Orléans Masters 2026 kini bertumpu pada wakil di sektor lain yang masih bertahan. Ginting diharapkan dapat segera pulih secara mental dan fisik untuk menghadapi turnamen berikutnya dalam kalender BWF tahun ini.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Buktikan Kelas Unggulan Ketujuh, Amri/Nita Tanpa Hambatan di Babak 16 Besar

0

Wartain.com || Ganda campuran Indonesia, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, sukses mengamankan tempat di babak perempat final turnamen Orleans Masters Badminton 2026. Kepastian ini didapat setelah mereka menumbangkan wakil Belanda, Brian Wassink/Debora Jille, dalam laga babak 16 besar yang berlangsung pada Kamis malam waktu setempat atau Jumat (20/3/2026) waktu Indonesia.

Tampil sebagai unggulan ketujuh, Amri/Nita menunjukkan kelasnya dengan memenangkan pertandingan lewat permainan dua gim langsung (straight game). Bertempat di Palais des Sports, Orleans, Prancis, pasangan Merah Putih ini hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyudahi perlawanan Wassink/Jille dengan skor meyakinkan, 21-13 dan 21-12.

Sejak awal gim pertama, Amri/Nita langsung mengambil inisiatif serangan dan tidak membiarkan lawan mengembangkan pola permainan. Kombinasi smes keras Amri dan penempatan bola net yang akurat dari Nita membuat pasangan Belanda tersebut terus tertekan. Keunggulan poin yang jauh di pertengahan gim pertama menjadi kunci kepercayaan diri pasangan Indonesia untuk menutup set pembuka dengan selisih delapan angka.

Memasuki gim kedua, dominasi Amri/Nita semakin tidak terbendung. Meskipun Wassink/Jille sempat mencoba mengubah strategi, pertahanan solid yang diperagakan wakil Indonesia membuat setiap serangan lawan berhasil dipatahkan. Alhasil, gim kedua ditutup dengan skor lebih telak 21-12, yang sekaligus mengakhiri perjuangan wakil Belanda di turnamen level BWF World Tour Super 300 ini.

Dengan hasil positif ini, Amri/Nita menjadi salah satu tumpuan harapan Indonesia untuk membawa pulang gelar juara dari Prancis. Kemenangan ini juga memperpanjang tren positif mereka di awal tahun 2026. Selanjutnya, mereka akan bersiap menghadapi babak delapan besar guna memperebutkan tiket ke semifinal yang dijadwalkan berlangsung pada esok hari.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Iris Dena dan Negara Besar yang Kehilangan Malu

0

Oleh: Radhar Tribaskoro

Wartain.com || Sebuah kapal tenggelam. Namanya IRIS Dena. Bersama tenggelamnya kapal itu, nyawa 80 pelautnya pun lenyap.

Ia tidak karam karena badai, tidak pula karena kesalahan navigasi. Ia tenggelam oleh keputusan—oleh kehendak yang dilepaskan dari jauh, tanpa tatap muka, tanpa jeda, tanpa keraguan. Sebuah torpedo meluncur di kedalaman laut, dan dalam hitungan detik, sebuah kapal berubah menjadi ingatan.

Ia tenggelam bukan di teluk sempit yang diperebutkan, bukan pula di selat yang sejak lama menjadi garis patahan geopolitik. Ia tenggelam di laut lepas—di ruang yang selama ini kita bayangkan sebagai wilayah netral, sebagai sisa dari dunia yang belum sepenuhnya dipolitisasi.
Tapi barangkali kita terlalu lama hidup dalam ilusi.

*****

Kita pernah percaya bahwa dunia, setelah dua perang besar yang mengoyak abad ke-20, akhirnya belajar sesuatu. Bahwa kekuatan perlu dibatasi. Bahwa bahkan dalam perang, ada aturan. Bahwa manusia, betapapun brutalnya, akan berusaha menahan diri—atau setidaknya berpura-pura menahan diri.

Dari puing-puing itu lahirlah sesuatu yang kita sebut hukum internasional.

Ia bukan sekadar kumpulan pasal. Ia adalah kesepakatan moral yang rapuh: bahwa dunia tidak boleh kembali menjadi rimba. Bahwa kekuatan harus diberi pagar, bahwa negara, betapapun besar, tidak boleh bertindak sewenang-wenang tanpa legitimasi.

Hukum itu lahir dari rasa malu. Malu karena Auschwitz. Malu karena Hiroshima. Malu karena manusia pernah begitu mudah menghapus manusia lain.

Tapi hari ini, rasa malu itu tampaknya mulai memudar—pelan, tapi pasti.

Serangan datang tanpa deklarasi. Tanpa forum. Tanpa upaya meyakinkan dunia bahwa tindakan itu perlu. Tidak ada perdebatan panjang di Dewan Keamanan. Tidak ada konsensus. Hanya keputusan—cepat, efisien, dan mematikan.

Langit Teheran disibak oleh ledakan. Dan jauh dari sana, di samudra yang luas, sebuah kapal menjadi sasaran.

Tidak ada duel. Tidak ada pertempuran terbuka. Hanya satu pihak yang melihat, dan satu pihak yang tidak sempat melihat.

Barangkali inilah bentuk baru dari keberanian: menyerang tanpa risiko, tanpa jarak emosional, tanpa kemungkinan balasan yang setara. Atau barangkali justru ini adalah bentuk paling halus dari kepengecutan: menghapus lawan tanpa pernah benar-benar menghadapinya. Seperti Django jago tembak yang menembus punggung koboi tanpa senjata.

*****

Dulu, perang masih memiliki bentuk. Ada garis depan, ada wilayah belakang, ada batas yang, meski sering dilanggar, tetap diakui. Dalam bayangan Carl von Clausewitz, perang adalah kelanjutan politik—sebuah tindakan yang tetap berada dalam orbit rasionalitas, dengan tujuan yang terukur.

Kini, orbit itu bergeser.

Perang tidak lagi membutuhkan deklarasi. Ia tidak lagi memerlukan justifikasi yang meyakinkan. Ia hanya membutuhkan kemampuan.

Dan kemampuan itu kini tidak terbatas pada medan tempur. Ia melintasi benua, menembus samudra, bergerak tanpa terlihat. Teknologi telah menghapus jarak, dan bersama itu, menghapus sebagian besar hambatan moral.

Yang tersisa adalah keputusan.

*****

Kita menyebut dunia ini “internasional”—sebuah ruang di mana negara-negara berinteraksi dalam kerangka aturan bersama. Tapi kata itu kini terasa semakin hampa. Hukum internasional masih ada, tentu. Ia masih ditulis, dirujuk, dikutip dalam pidato-pidato resmi. Tapi ia tidak lagi mengikat dengan cara yang sama.

Ia menjadi selektif. Ketat bagi yang lemah. Lentur bagi yang kuat.

Ia berubah dari norma menjadi instrumen—dipakai ketika berguna, ditinggalkan ketika menghambat. Dalam kondisi seperti itu, hukum tidak lagi menjadi batas, melainkan sekadar bahasa legitimasi.

Dan ketika bahasa itu kehilangan kejujuran, ia berubah menjadi kebisingan.

*****

Di tengah kebisingan itu, negara-negara menengah dan kecil berdiri dalam posisi yang semakin rapuh. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk memaksakan kehendak. Mereka juga tidak cukup lemah untuk mengabaikan dampak konflik global.

Mereka berada di antara—terlalu penting untuk diabaikan, terlalu lemah untuk menentukan. Bagi negara seperti Indonesia, posisi ini bukan sekadar posisi geografis, tetapi posisi struktural dalam sistem dunia.

Indonesia selama ini menggantungkan sebagian stabilitasnya pada tiga asumsi. Pertama, hukum internasional akan memberikan perlindungan minimal. Kedua, laut lepas tetap menjadi ruang aman bagi perdagangan. Dan ketiga, konflik besar akan tetap terbatas secara geografis.

Namun asumsi-asumsi itu kini mulai retak.

Jika sebuah kapal dapat diserang ribuan kilometer dari zona konflik, maka tidak ada lagi jaminan bahwa jalur perdagangan aman. Jika hukum internasional dapat diabaikan oleh kekuatan besar tanpa konsekuensi nyata, maka tidak ada lagi jaminan bahwa norma akan melindungi yang lemah.
Di titik ini, negara-negara seperti Indonesia menghadapi pertanyaan yang tidak mudah: apakah masih cukup mengandalkan hukum? Atau mulai memikirkan ulang fondasi keamanan nasional?

*****

Selama beberapa dekade, Indonesia memilih jalur non-blok, diplomasi, dan keterlibatan dalam tatanan internasional berbasis aturan. Itu adalah pilihan rasional dalam dunia yang relatif stabil—dunia di mana kekuatan masih membutuhkan legitimasi. Tapi bagaimana jika legitimasi tidak lagi diperlukan? Bagaimana jika kekuatan dapat bertindak tanpa harus menjelaskan?

Dalam dunia seperti itu, diplomasi tidak hilang, tetapi kehilangan sebagian daya tawarnya. Ia tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Negara-negara menengah harus mulai berpikir dalam dua lapis sekaligus. Pertama, tetap menjaga komitmen pada hukum dan diplomasi, dan (kedua) sekaligus membangun kapasitas untuk bertahan dalam dunia yang semakin tidak teratur.

Ini bukan ajakan untuk militerisasi. Ini adalah pengakuan bahwa dunia sedang berubah.

*****

Ada satu implikasi lain yang lebih halus, tapi tidak kalah penting.

Ketika hukum internasional melemah, negara-negara akan mencari bentuk perlindungan lain. Salah satunya adalah melalui deterrence—kemampuan untuk membuat lawan berpikir dua kali sebelum menyerang.

Dalam sejarah, deterrence sering diasosiasikan dengan kekuatan militer, bahkan dengan senjata strategis seperti nuklir. Bagi banyak negara, ini adalah pilihan ekstrem. Namun dalam dunia di mana hukum tidak lagi cukup melindungi, pilihan ekstrem mulai terasa lebih rasional.

Ini adalah paradoks zaman kita: semakin hukum melemah, semakin kebutuhan akan kekuatan meningkat. Dan semakin kekuatan meningkat, semakin hukum menjadi tidak relevan.

*****

IRIS Dena telah tenggelam. Tapi yang tenggelam bersamanya bukan hanya sebuah kapal. Yang ikut tenggelam adalah satu lapisan kepercayaan: bahwa dunia ini, meski keras, masih memiliki aturan yang dihormati. Bahwa laut lepas masih menyisakan ruang netral. Bahwa kekuatan, pada akhirnya, masih mau berpura-pura tunduk pada norma.

Kini kita tahu, itu tidak selalu benar.

Dan ketika kesadaran itu menyebar, dunia tidak langsung menjadi kacau. Ia hanya menjadi lebih jujur—dan karena itu, lebih dingin. Bagi Indonesia, dan bagi banyak negara lain yang berada di antara, tantangannya bukan memilih antara hukum dan kekuatan.

Tantangannya adalah hidup dalam dunia di mana keduanya tidak lagi seimbang. Bagaimana tetap percaya pada hukum, tanpa menjadi naif. Bagaimana membangun kekuatan, tanpa kehilangan kompas moral.

Itu bukan persoalan strategi semata. Itu persoalan arah.

*****

Di tengah lanskap yang retak itu, muncul pula upaya untuk tetap bertahan di jalur norma—meski dunia seakan bergerak menjauhinya.

Gagasan Presiden Prabowo untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui Board of Peace (BoP) dapat dibaca bukan sekadar sebagai langkah diplomatik, melainkan sebagai usaha menghidupkan kembali makna hukum internasional yang mulai kehilangan daya. Ia tentu bukan tanpa risiko—sebab forum semacam itu hanya akan berarti jika disangga oleh kekuatan dan kehendak kolektif yang hari ini justru tercerai-berai.

Namun mungkin justru di situlah maknanya: sebuah penolakan untuk sepenuhnya tunduk pada logika rimba. Bagi Indonesia, ini adalah pilihan yang tidak mudah—berdiri di sisi norma, sambil perlahan menyadari bahwa norma tanpa daya hanyalah harapan. Dan di dunia yang kehilangan malu, barangkali yang paling berani bukanlah mereka yang paling kuat, melainkan mereka yang masih bersedia percaya bahwa keadilan belum sepenuhnya usai.

Penulis: Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Presidium KAPPAK
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Diplomasi AS di Titik Nadir: Biro Timur Dekat ‘Lumpuh’ Saat Konflik Iran Memanas

0

Wartain.com || Di tengah eskalasi konflik di Iran yang kian memanas, kemampuan diplomasi Amerika Serikat kini berada dalam sorotan tajam. Biro Urusan Timur Dekat di Departemen Luar Negeri, yang merupakan garda terdepan kebijakan AS di kawasan tersebut, dilaporkan mengalami krisis sumber daya manusia dan kekosongan kepemimpinan yang mengkhawatirkan di tengah krisis geopolitik.

Biro yang bertanggung jawab mengoordinasikan kebijakan luar negeri AS di 18 negara kawasan Timur Tengah ini justru mengalami penyusutan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Mengutip laporan AP News, Kamis (19/3/2026), kondisi ini terjadi tepat saat wilayah tersebut kembali bergolak akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Penyusutan ini diperparah dengan kebijakan penunjukan personel yang kontroversial. Pemerintahan Presiden Donald Trump sempat menunjuk Mora Namdar, seorang pengacara keturunan Iran dengan pengalaman terbatas di bidang manajemen, sebagai kepala sementara biro tersebut sebelum akhirnya dipindahkan ke posisi lain.

Langkah ini dinilai sangat kontras dengan pendahulunya yang merupakan diplomat senior berpengalaman panjang di Timur Tengah dan pernah menjabat sebagai duta besar AS untuk Uni Emirat Arab.

Dari sisi finansial, biro ini juga dihantam pemangkasan anggaran. Proposal awal pemerintah bahkan mengusulkan pemotongan hingga 40 persen, meski Kongres kemudian mengurangi besaran pemangkasan tersebut. Selain itu, kantor khusus yang menangani Iran dihapus dan digabungkan dengan kantor yang menangani Irak.

Kombinasi pemangkasan anggaran dan restrukturisasi organisasi ini dilaporkan telah menghambat kemampuan Washington dalam merespons situasi darurat global. Lebih dari 80 staf di biro Urusan Timur Dekat dilaporkan telah dipangkas.

Banyak diplomat senior dengan pengalaman puluhan tahun memilih pensiun, dipindahkan, atau diberhentikan, dan digantikan oleh pejabat yang lebih muda atau penunjukan politik.

Saat ini, posisi kunci seperti Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Timur Dekat masih kosong. Sejumlah posisi duta besar penting di kawasan juga belum terisi, sementara empat dari lima pengawas di biro tersebut hanya menjabat secara sementara.

Kondisi ini membuat analisis dan rekomendasi kebijakan dari para diplomat tidak lagi menjadi faktor utama, bahkan beberapa pejabat mengaku bahwa masukan mereka kerap diabaikan dalam proses penentuan kebijakan.

Max Stier, CEO Partnership for Public Service, memberikan peringatan keras terhadap pendekatan yang mengabaikan keahlian birokrasi ini.

“Keputusan diambil tanpa memanfaatkan keahlian yang ada di seluruh pemerintahan. Ini berisiko pada isu-isu besar yang membutuhkan pertimbangan matang dari berbagai sisi,” ujarnya.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Departemen Luar Negeri melalui juru bicara Tommy Pigott memberikan bantahan keras. Ia menyatakan bahwa laporan yang beredar tidak akurat dan terlalu bergantung pada pihak luar.

“Juru bicara Tommy Pigott menyebut laporan yang beredar tidak akurat dan terlalu bergantung pada sumber eksternal maupun mantan pejabat.” ujarnya

Namun, data menunjukkan tren pengurangan personel yang nyata. Sejak Trump menjabat, lebih dari 3.800 pegawai Departemen Luar Negeri dilaporkan telah meninggalkan posisi mereka. Data dari American Foreign Service Association menunjukkan bahwa pegawai senior terdampak secara tidak proporsional, yang berpotensi mengurangi kapasitas institusional AS dalam menangani krisis global yang semakin kompleks di masa depan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sule)

Comeback Fantastis! Raymond/Nikolaus Segel Tiket Perempat Final Orleans Masters 2026

0

Wartain.com || Ganda putra masa depan Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, sukses mengamankan tiket ke babak perempat final turnamen Orleans Masters Badminton 2026. Kepastian ini didapat setelah unggulan kedua tersebut berhasil menumbangkan wakil tuan rumah, Mael Cattoen/Lucas Renoir, lewat drama rubber game yang berlangsung sengit di Palais des Sports, Prancis, Kamis (19/3/2026).

Pertandingan babak 16 besar ini dimulai dengan tekanan tinggi dari pasangan Prancis. Raymond/Nikolaus sempat kesulitan menemukan ritme permainan terbaik mereka di gim pertama, hingga akhirnya harus menyerah tipis dengan skor 19-21. Dukungan penuh penonton tuan rumah sempat membuat tensi pertandingan memihak kepada Cattoen/Renoir di awal laga.

Tak ingin angkat koper lebih awal, pasangan Indonesia langsung melakukan evaluasi cepat dan mengubah strategi di gim kedua. Hasilnya luar biasa, Raymond/Nikolaus tampil sangat dominan dan tidak memberikan ruang bagi lawan untuk berkembang. Mereka berhasil memaksa dilanjutkannya gim penentuan setelah menang telak dengan skor mencolok 21-9.

Memasuki gim ketiga atau set penentuan, pertarungan kembali berjalan alot dengan aksi saling kejar angka. Namun, ketenangan dan ketangguhan mental Raymond/Nikolaus di poin-poin kritis menjadi pembeda. Ganda putra Merah Putih ini akhirnya menutup perlawanan Cattoen/Renoir dengan skor 21-18, sekaligus memastikan diri melaju ke babak delapan besar turnamen level BWF World Tour Super 300 ini.

Kemenangan ini menjaga harapan Indonesia untuk meraih gelar juara di sektor ganda putra pada ajang Orleans Masters 2026. Setelah melewati ujian berat dari wakil tuan rumah, Raymond/Nikolaus kini langsung mengalihkan fokus untuk menghadapi lawan selanjutnya di babak perempat final yang akan digelar esok hari guna memperebutkan tempat di babak semifinal.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)