Wartain.com || Hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur sejak beberapa waktu terakhir mengakibatkan satu unit rumah warga ambruk di Kampung Nyalindung, Desa Pasirsuren, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa,(3/3/2026).
Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan turun tanpa henti dan menyebabkan kondisi tanah di sekitar lokasi menjadi labil.
Rumah warga yang berdiri di atas tanah dengan kontur yang kurang stabil itu diduga tidak mampu menahan pergeseran tanah yang terus tergerus air hujan. Akibatnya, bangunan tersebut roboh dan mengalami kerusakan pada bagian utama konstruksi.
Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi warga setempat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat curah hujan tinggi yang berpotensi memicu pergerakan tanah maupun bencana lainnya.
Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) Kecamatan Palabuhanratu, Mahbubillah, menyatakan bahwa peristiwa itu memang benar terjadi.
“Pagi ini kami menerima laporan satu unit rumah panggung ambruk akibat hujan deras dan pergerakan tanah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, begitu memperoleh laporan dari masyarakat, pihak kecamatan segera turun ke lokasi guna mengecek langsung kondisi bangunan sekaligus memantau situasi di sekitar area kejadian.
Berdasarkan hasil peninjauan langsung di lokasi, kondisi rumah terpantau mengalami kerusakan yang cukup parah. Bagian struktur penyangga bangunan melemah karena tanah di sekitarnya tergerus oleh aliran air hujan, sehingga konstruksi rumah tidak lagi berdiri dengan stabil dan kokoh.
Ia menyampaikan harapannya agar warga yang terdampak diberikan kekuatan dan ketabahan. Ia juga mengajak semua pihak untuk senantiasa berdoa agar terjaga dan mendapat perlindungan.
“Semoga warga yang terdampak diberikan kekuatan dan ketabahan. Kita berdoa agar Allah SWT melindungi kita semua,” pungkasnya.***
Wartain.com || Di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Kecamatan Cikakak, Desa Sirnarasa tumbuh sebagai desa dengan karakter agraris yang kuat dan lanskap alam yang masih terjaga. Hamparan sawah, perbukitan hijau, serta aktivitas warga yang lekat dengan sektor pertanian menjadi wajah utama desa ini.
Sebagai bagian dari kawasan selatan Jawa Barat, Desa Sirnarasa memiliki potensi yang tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kekuatan sosial masyarakatnya. Kombinasi keduanya menjadi modal penting dalam mendorong pembangunan desa berbasis kemandirian.
Pertanian: Denyut Nadi Kehidupan Warga
Mayoritas warga Desa Sirnarasa menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Padi menjadi komoditas utama yang ditanam di lahan sawah dengan sistem tanam musiman. Selain itu, palawija seperti jagung dan umbi-umbian juga dikembangkan sebagai bentuk diversifikasi hasil tani.
Kondisi tanah yang relatif subur serta dukungan sumber air menjadi faktor penunjang produktivitas. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul dorongan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen melalui pengolahan pascapanen, sehingga produk tidak hanya dijual dalam bentuk mentah.
Potensi hortikultura pun mulai dilirik. Sayuran dan tanaman buah musiman dinilai memiliki peluang pasar yang baik, terutama untuk memenuhi kebutuhan wilayah sekitar Kecamatan Cikakak.
Lanskap Alam yang Menjanjikan Wisata Berbasis Desa
Secara geografis, Desa Sirnarasa memiliki kontur perbukitan yang menghadirkan panorama alami khas pedesaan Sukabumi selatan. Suasana yang relatif tenang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda dari hiruk-pikuk perkotaan.
Potensi wisata desa dapat dikembangkan dalam bentuk:
*Wisata trekking ringan di jalur perbukitan.
*Agrowisata, mengenal langsung aktivitas bertani.
*Wisata edukasi, terutama bagi pelajar yang ingin memahami proses tanam hingga panen.
Konsep wisata berbasis masyarakat dinilai paling relevan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan kearifan lokal.
Mengintip Desa Sirnarasa: Menjaga Tradisi, Membangun Ekonomi Lokal (foto : DH)
UMKM: Mengolah Potensi Jadi Nilai Ekonomi
Selain sektor primer, geliat usaha mikro mulai terlihat. Produk olahan pangan berbasis hasil pertanian, seperti makanan tradisional dan camilan rumahan, memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ciri khas desa.
Dengan kemasan yang lebih baik dan strategi pemasaran digital, produk UMKM Desa Sirnarasa berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas. Penguatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan manajemen dan pemasaran menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing.
Ekonomi kreatif berbasis rumah tangga juga menjadi alternatif sumber pendapatan, sekaligus membuka lapangan kerja di tingkat lokal.
Modal Sosial: Gotong Royong dan Partisipasi
Di balik potensi fisik yang dimiliki, kekuatan utama Desa Sirnarasa terletak pada solidaritas warganya. Budaya gotong royong masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan desa menjadi fondasi penting dalam mendorong program-program strategis.
Pendekatan pembangunan partisipatif memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek pembangunan.
Arah Pengembangan: Berkelanjutan dan Terukur
Pengembangan Desa Sirnarasa diarahkan pada prinsip keberlanjutan. Artinya, pemanfaatan potensi dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan serta mempertahankan identitas desa.
Beberapa fokus pengembangan yang dinilai strategis antara lain:
1. Peningkatan produktivitas dan nilai tambah pertanian.
2. Penguatan UMKM berbasis potensi lokal.
3. Pengembangan wisata desa yang terintegrasi.
4. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi berbagai pihak, Desa Sirnarasa memiliki peluang untuk tumbuh sebagai desa mandiri yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan akar tradisinya.***
Wartain.com || Upaya memperkuat kemandirian pangan berbasis masyarakat terus digencarkan jajaran Polres Sukabumi Kota. Salah satunya melalui peresmian Green House binaan di Kampung Cisarua RT 07/02, Desa Warnasari, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Selasa (3/3/2026).
Peresmian fasilitas tersebut dipimpin langsung Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sentot Kunto Wibowo, dan dihadiri pejabat utama Polres, Kapolsek Sukabumi, unsur Forkopimcam, Kepala Desa Warnasari, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sukabumi, P2BK Sukabumi, serta masyarakat setempat.
Program Green House ini menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan warga melalui sektor pertanian dan perikanan. Fasilitas tersebut dirancang sebagai sarana produktif untuk mendukung ketersediaan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Sebagai tanda dimulainya operasional, Kapolres bersama jajaran melakukan penebaran bibit ikan nila dan ikan emas di kolam yang berada di area Green House. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa fasilitas tersebut siap dimanfaatkan secara optimal oleh warga.
Plt. Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, IPDA Ade Ruli Bahtiarudin, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk nyata komitmen Polri dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
“Green House binaan ini diharapkan menjadi sarana yang produktif dan berkelanjutan. Tidak hanya mendukung ketersediaan pangan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi warga,” ujarnya.
Ia menegaskan, pihaknya akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat agar program serupa dapat berkembang dan memberikan dampak jangka panjang.
“Sinergitas menjadi kunci. Ketahanan pangan yang kuat akan berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.***(RAF)
Wartain.com || Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, meluruskan informasi terkait 15 aset hibah yang diterima Pemerintah Kota Sukabumi dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia menegaskan, aset tersebut berupa bangunan rumah, bukan lahan yang diperuntukkan bagi kawasan industri.
“Bukan lahan industri, itu rumah,” kata Ayep, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, dari sejumlah aset yang diterima, terdapat satu rumah dengan kondisi paling representatif yang berada di Gang Isnen, wilayah Kabandungan. Selain itu, beberapa aset lainnya tersebar di sejumlah titik, termasuk di kawasan Jampang.
“Ada juga yang di kabupaten, termasuk di Jampang. Yang paling bagus itu di Gang Isnen, Kabandungan,” ujarnya.
Ayep menjelaskan, secara umum kondisi bangunan yang dihibahkan tergolong layak dan memiliki potensi untuk menunjang kebutuhan operasional maupun pelayanan Pemerintah Kota Sukabumi. Salah satu wacana yang tengah dipertimbangkan adalah memanfaatkannya sebagai rumah singgah bagi tamu resmi pemerintah daerah.
“Rumahnya bagus. Nanti kita lihat apakah bisa dimanfaatkan sebagai rumah singgah untuk tamu-tamu Pemkot, sehingga tidak selalu harus menginap di hotel,” jelasnya.
Untuk memastikan kondisi riil di lapangan, Ayep menyatakan pihaknya akan melakukan peninjauan langsung terhadap seluruh aset tersebut. Ia bahkan mengajak media untuk ikut serta dalam survei agar prosesnya berjalan transparan.
“Ada 15 aset. Nanti kita jadwalkan waktu khusus, kita keliling bersama, datang ke masing-masing lokasi dan dokumentasikan,” ungkapnya.
Setelah proses peninjauan selesai, Pemkot Sukabumi akan menyusun skema pemanfaatan secara rinci agar aset hibah tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan publik dan pembangunan daerah.
Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota Sukabumi menerima hibah 15 bidang aset dari KPK RI yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat serta mendukung program pembangunan daerah.***(RAF)
Wartain.com || Pergerakan tanah melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, sejak awal pekan ini. Sedikitnya 90 rumah terdampak, dengan total 112 kepala keluarga (KK) atau 355 jiwa terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung, Sihab, mengatakan laporan awal diterima pada 23 Februari 2026 melalui grup WhatsApp tingkat kecamatan yang menginformasikan adanya dugaan pergerakan tanah di wilayah tersebut.
“Pada tanggal 23 kami bersama Kasi Trantib langsung mengecek ke lokasi. Saat itu belum terlihat ada pergerakan signifikan, retakan yang ada masih seperti kondisi lama,” ujarnya.
Namun, pihak kecamatan tetap melakukan pemantauan intensif dengan meminta laporan berkala dari RT setempat. Pada pengecekan lanjutan Selasa dan Rabu, mulai terlihat perubahan di lapangan dibanding hasil survei sebelumnya.
“Di hari Jumat kondisinya sudah cukup parah. Ada tiang rumah yang mulai miring. Puncaknya terjadi pada Sabtu malam, bangunan mulai ambruk dan kondisinya sudah tidak karuan,” kata Sihab.
Warga pun melakukan evakuasi mandiri pada Sabtu pagi. Sebagian mengungsi ke rumah kerabat, sementara lainnya bertahan di sekitar lokasi. Pemerintah kecamatan segera berkoordinasi dengan unsur Forkopimcam serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.
Sebanyak 10 tenda darurat dikirim dan enam di antaranya didirikan di halaman masjid setempat. Pada malam Minggu, sekitar 100 jiwa telah menempati tenda karena rumah mereka mengalami kerusakan berat.
Namun, karena pergerakan tanah kembali terjadi pada malam itu, warga meminta tenda dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Pada Minggu, sembilan tenda dipindahkan ke samping Puskesmas Bantargadung. Tambahan dua tenda kembali dikirim Dinas Sosial pada hari berikutnya.
“Saat ini seluruh warga sudah tidak ada yang tinggal di rumah. Semua mengungsi di tenda. Total ada 90 rumah terdampak, 112 KK atau 355 jiwa. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada korban luka maupun korban jiwa,” ungkap Sihab.
Salah seorang warga terdampak, Yusuf (56), mengaku peristiwa ambruknya bangunan terjadi sekitar pukul 18.00 WIB.
“Suaranya seperti bom waktu Magrib. Bangunan yang roboh itu masih baru, jadi kaget sekali,” tuturnya.
Menurut Yusuf, hingga kini pergerakan tanah masih berlangsung dan beberapa bangunan masih terus mengalami kerusakan. “Hari ini masih ada yang rubuh. Kondisinya sudah hancur dan semua sudah kosong, warga sudah pindah. Jujur, kami takut sekali dengan kejadian ini,” katanya.
Hingga saat ini, pemerintah setempat bersama BPBD Kabupaten Sukabumi terus melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah susulan.***(RAF)
Wartain.com || Gorengan Abah Nu Biasa atau yang akrab disapa warga sebagai Gorengan si Abah. Abah (65) cukup sukses dalam menjalani usaha gorengannya dan menjadi salah satu UMKM kuliner yang cukup dikenal di Palabuhanratu tepatnya di Jalan Raya Pangsor, Kampung Jembatan Dua, Palabuhanratu.
Usaha gorengan yang sederhana ini setiap hari tak pernah sepi pembeli, terutama menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan. Kehadirannya menjadi pilihan favorit masyarakat sekitar yang ingin menikmati camilan hangat dengan cita rasa khas.
Berbagai jenis gorengan tersedia di lapak milik Abah, mulai dari kroket, bakwan, gehu, hingga goreng tempe. Seluruh gorengan dijual dengan harga terjangkau, dimulai dari Rp1.000 per potong.
Selain rasanya yang gurih dan renyah, serta sambal kacang pedas racikan Abah menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pelanggan ketagihan.
Abah menuturkan, usaha ini telah ia rintis sejak 12 tahun lalu dengan penuh perjuangan. “Saya mulai jualan dari nol, dulu cuma coba-coba untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Alhamdulillah sekarang sudah 12 tahun berjalan. Kuncinya sabar, konsisten, dan selalu jaga rasa supaya pelanggan tidak kecewa,” ujar Abah saat ditemui di lapaknya.
Abah menekuni usaha gorengan ini dengan penuh optimisme. Ia dikenal ramah dan murah senyum kepada setiap pembeli yang datang. Sikapnya yang bersahaja membuat pelanggan merasa nyaman dan tak segan kembali membeli.
“Intinya kita harus Istiqomah dan yakin, dan berikan kenyamanan ke pembeli Insyaallah,” tambahnya.
Di luar bulan Ramadhan, Gorengan si Abah biasanya mulai buka pukul 16.00 WIB. Meski baru sore hari, pembeli sudah mulai berdatangan dan biasanya dagangannya selalu habis sebelum pukul 21.00 WIB. Hal tersebut menjadi bukti bahwa usaha kecil ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Memasuki bulan Ramadhan, suasana di lapak Abah semakin ramai. Pembeli kerap mengantri untuk mendapatkan gorengan hangat sebagai menu takjil berbuka puasa.
Pada momen Ramadhan, Abah biasanya biasa dibantu oleh sang istri agar pelayanan tetap cepat dan maksimal.
Salah satu pelanggan setia, Yuda (23), mengaku sudah lama menjadi penikmat gorengan Abah. “Rasanya beda dari yang lain, apalagi sambalnya pedasnya pas. Harganya juga murah, jadi cocok buat semua kalangan. Kalau Ramadhan pasti saya bela-belain antre,” kata Yuda.
Dari usaha sederhana tersebut, Abah mampu meraup omzet harian berkisar antara Rp300.000 hingga Rp500.000, tergantung tingkat keramaian. Angka tersebut cukup membantu perekonomian keluarga dan menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu bertahan dan berkembang dengan konsistensi.
Ke depan, Gorengan Abah Nu Biasa berencana mengurus legalitas usaha agar semakin berkembang dan mendapat kepercayaan penuh di pelanggan.
Dengan cita rasa khas, harga terjangkau, serta pelayanan yang ramah, Gorengan si Abah terus menjadi primadona di Palabuhanratu.
Kisahnya menjadi inspirasi bahwa kerja keras, konsistensi, dan optimisme dapat mengantarkan sebuah UMKM sederhana bertahan lebih dari satu dekade dan dicintai banyak orang.***
Wartain.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali melaksanakan agenda tahunan Muhibah Ramadhan 1447 H. Memasuki titik keempat, kegiatan kali ini dipusatkan di Masjid Besar Al Misbahul Huda, Kecamatan Simpenan, pada Selasa (3/3/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sukabumi, tokoh ulama, organisasi keagamaan, serta ratusan masyarakat setempat. Mengingat Bupati Sukabumi sedang berhalangan hadir karena alasan kesehatan, kehadiran beliau diwakili langsung oleh Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, S.E.
Sejak siang hari, kemeriahan sudah terlihat dengan adanya bazar bahan pokok yang diinisiasi oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) untuk membantu masyarakat mendapatkan pangan murah.
Rangkaian acara inti kemudian dilanjutkan dengan:
1. Khotam Al-Qur’an Kubro dan Sholat Ashar berjamaah.
2. Penyerahan bantuan sosial berupa 200 paket sembako untuk kaum dhuafa dan anak yatim.
3. Pemberian bantuan Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) bagi salah satu warga Kecamatan Simpenan.
4. Undian Bantuan Umroh yang diperuntukkan bagi guru madrasah, guru pengajian, marbot, dan muadzin sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati H. Andreas menekankan bahwa Ramadhan adalah kawah candradimuka bagi keimanan seseorang. Ia mengingatkan bahwa esensi ibadah bukan hanya saat bulan suci berlangsung, melainkan konsistensinya di bulan-bulan berikutnya.
“Ayo kita tingkatkan iman kita di bulan suci ini sebagai momentum. Muhibah Ramadan ini adalah salah satu pengingat bahwasanya momentum ini bukan tentang Ramadan saja, tapi bagaimana kita sebagai hamba Allah harus menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya setiap detiknya,” ujar H. Andreas.
Beliau menambahkan bahwa Ramadhan merupakan ajang latihan bagi umat Muslim. “Nanti pertempurannya setelah Ramadan, biasanya seperti itu,” imbuhnya.
Kegiatan ditutup dengan tausyiah agama dan doa bersama, yang kemudian diakhiri dengan buka puasa bersama serta Sholat Maghrib berjamaah untuk mempererat tali silaturahmi antara pemerintah dan warga.***
Wartain.com, Sukabumi || SCG, pemimpin bisnis regional dengan beragam unit bisnis, terus menegaskan komitmennya dalam menjalankan bisnis yang bertanggung jawab serta berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Melalui anak perusahaannya, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, SCG berhasil menerima penghargaan sebagai Pemberi Kerja Badan Usaha Terbaik 1 dari BPJS Ketenagakerjaan dalam ajang Night of Appreciation Gala 2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 12 Februari 2026 di Kota Sukabumi. Penghargaan ini diserahkan kepada perusahaan-perusahaan yang menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung perluasan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, dalam rilis diterima redaksi, Selasa 3 Maret 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat, Kunto Wibowo, Koordinator Advokasi BPJS, Watch Timboel Siregar, GM Administration Semen Jawa, Indra Leksono, Ketua Kader Norma Ketenagakerjaan Nasional, Heri Wijaya, Kepala Disnaker Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi, Rektor UMMI, perwakilan Kejaksaan Negeri, serta sejumlah perwakilan perusahaan dan pemangku kepentingan lainnya. PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi juga diberikan kesempatan untuk memaparkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan agar dapat dijadikan contoh baik bagi para pelaku industri di Jawa Barat.
Dalam sambutannya, Kunto Wibowo menyampaikan bahwa perusahaan-perusahaan yang hadir merupakan perusahaan besar yang tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian daerah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pekerja .
Pencapaian ini menjadi bukti pengakuan atas konsistensi perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip Inclusive Green Growth. Melalui penyediaan jaminan sosial yang inklusif bagi pekerja rentan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah operasional, SCG memastikan bahwa pertumbuhan bisnis berjalan selaras dengan kesejahteraan sosial.
Peramas Wajananawat, Presiden Direktur PT Semen Jawa & PT Tambang Semen Sukabumi mengatakan, “Kami percaya bahwa pertumbuhan bisnis harus beriringan dengan perlindungan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Kami sangat mengapresiasi penghargaan sebagai Badan Usaha Pemberi Kerja Terbaik dari BPJS Ketenagakerjaan. Ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus memperluas dukungan terhadap program jaminan sosial ketenagakerjaan, khususnya bagi pekerja rentan dan masyarakat sektor informal di wilayah operasional kami.”
Penghargaan Pemberi Kerja Badan Usaha Terbaik dari BPJS Ketenagakerjaan merupakan merupakan bentuk apresiasi kepada badan usaha yang tidak hanya patuh dalam kepesertaan dan administrasi, tetapi juga aktif memperluas perlindungan sosial bagi pekerja, termasuk kelompok rentan di sektor informal.
Transformasi Kesejahteraan Melalui Jaminan Sosial yang Inklusif
Keberhasilan SCG dalam meraih predikat Pemberi Kerja Terbaik didorong oleh kontribusi masif dalam Gerakan Peduli Jaminan Pekerjaan Rentan. Program ini menyasar masyarakat di sektor informal yang berada di lima desa binaan utama, yaitu Desa Kebonmanggu, Sirnaresmi, Sukamaju, Tanjungsari, dan Wangunreja.
Hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 502 pekerja rentan telah mendapatkan perlindungan jaminan sosial dari perusahaan. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun 2023 yang berjumlah 147 orang. Inisiatif ini selaras dengan arahan Pemerintah Provinsi untuk memprioritaskan kesejahteraan masyarakat yang berada di lingkungan terdekat operasional perusahaan sesuai pesan Gubernur Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi, untuk mencintai masyarakat sekitar terlebih dahulu.
Sinergi Prestasi dan Inovasi dalam Daftar Apresiasi (Appreciation and Awards)
Selain keberhasilan mendapatkan penghargaan dari BPJS Ketenagakerjaan, dedikasi SCG dalam mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial telah diakui secara luas melalui berbagai penghargaan prestisius. Pada ajang Indonesia Green and Sustainable Company Award 2025, perusahaan sukses meraih kategori Best ESG Implementation dan Best Circular Economy Innovation, sebuah pencapaian yang mengukuhkan posisi perusahaan dalam praktik bisnis berkelanjutan. Tak hanya di level nasional, kontribusi nyata perusahaan juga mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang dibuktikan dengan perolehan 1st Winner Top Partner Award atas investasi besar dalam program CSR, serta 2nd Winner Corporate Environment Stewardship atas inovasi pengelolaan limbah dan penggunaan energi ramah lingkungan.
Konsistensi perusahaan dalam mendukung sistem keberlanjutan operasional bisnis juga membuahkan CSR Sustainability Awards, sementara kepedulian terhadap ketahanan pangan dan regenerasi sektor agraris diakui melalui The Millennial Farmer Award. Di bidang komunikasi dan pemberdayaan, SCG meraih Bronze Winner pada ajang Public Relations Indonesia Awards Awards 2024 untuk kategori CSR Communication Program dan sub-kategori Community-Based Development. Prestasi ini diperkuat dengan penghargaan Anugerah Sukabumi Awards dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi atas keberhasilan membina UMKM lokal melalui program GESARI. (Sumber : Amanda Utari Brand and Communications Manager PT SCG Indonesia)***
Wartain.com || Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Tanah Pelangi Nusantara-01 tetap menjalankan pendistribusian makanan bergizi ke sejumlah posyandu selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Jumat dengan menyasar kurang lebih 11 posyandu.
Program ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta kelompok rentan lainnya tetap terpenuhi meskipun tengah menjalani ibadah puasa. Distribusi dilakukan pada pagi hari dengan sistem pengantaran langsung ke masing-masing titik posyandu.
Angga, salah satu karyawan yang bertugas mendistribusikan makanan bergizi, mengatakan bahwa selama Ramadan tim tetap bekerja sesuai jadwal dengan melakukan penyesuaian teknis di lapangan. Selasa (3/3/2026)
“Alhamdulillah, pendistribusian tetap berjalan dari Senin sampai Jumat. Kami memastikan makanan sampai tepat waktu ke sekitar 11 posyandu agar bisa segera dimanfaatkan,” ujar Angga.
Ia menjelaskan, setiap paket makanan telah disusun sesuai standar pemenuhan gizi, dengan memperhatikan keseimbangan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Proses pengemasan dan pengiriman juga dilakukan dengan menjaga kebersihan serta keamanan pangan.
Para kader posyandu menyambut baik keberlanjutan program tersebut. Mereka menilai distribusi rutin selama Ramadan membantu menjaga asupan nutrisi balita dan ibu hamil, sehingga pelayanan kesehatan dasar di tingkat posyandu tetap optimal.
Melalui pendistribusian yang konsisten ini, SPPG Yayasan Tanah Pelangi Nusantara-01 berharap upaya peningkatan gizi masyarakat, termasuk pencegahan stunting, dapat terus berjalan meski di tengah suasana ibadah Ramadan. Evaluasi berkala juga dilakukan untuk memastikan program tepat sasaran dan berjalan efektif.***
Wartain.com || Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, SH., MM., menerima Entry Meeting Tim Evaluasi Perencanaan dan Penganggaran (EVRAN) dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Jawa Barat di Pendopo Sukabumi, Selasa (03/03/2026).
Ketua tim evaluasi, Iman Husyanto, menjelaskan bahwa pelaksanaan evaluasi di Kabupaten Sukabumi berlangsung mulai 24 Februari hingga 6 Maret 2026. Kegiatan ini difokuskan pada sejumlah sektor strategis yang menjadi prioritas pembangunan.
“Ruang lingkup evaluasi meliputi bidang pendidikan, kesehatan, penurunan kemiskinan, prevalensi stunting, ketahanan pangan, hingga dukungan terhadap Program Hasil Terbaik Cepat,” ujarnya.
Menurutnya, evaluasi tersebut bertujuan memastikan perencanaan dan penganggaran daerah berjalan efektif, tepat sasaran, serta selaras dengan kebijakan pemerintah pusat.
Sementara itu, Sekda menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk menyesuaikan struktur APBD agar sejalan dengan arahan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Ia menekankan pentingnya sinergi dan keterbukaan data dalam mendukung kelancaran proses evaluasi.
Untuk itu, ia menginstruksikan seluruh kepala perangkat daerah agar segera melengkapi data serta dokumen pendukung yang dibutuhkan oleh tim evaluator.
“Setiap kepala perangkat daerah harus mengarahkan pengelola perencanaan agar berkoordinasi intensif dengan Inspektorat dan Bapperida sebagai fasilitator evaluasi,” tegasnya.
Melalui evaluasi ini, diharapkan kualitas perencanaan dan penganggaran di Kabupaten Sukabumi semakin akuntabel, terukur, dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.***