26.7 C
Jakarta
Kamis, Juli 16, 2026
Beranda blog Halaman 328

Program MBG Jadi Peluang Emas :  BUMDes Cidadap Gerakkan Ekonomi Desa

0
Oplus_131072

Wartain.com || Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) kini memegang peranan krusial sebagai mesin penggerak ekonomi sekaligus instrumen utama peningkat Pendapatan Asli Desa (PADes).

Melalui pengelolaan potensi lokal yang tepat, BUMDes diharapkan mampu menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan.

Hal inilah yang ditangkap oleh Direktur BUMDes Cidadap, Muhammad Aldi Nugraha. Di bawah kepemimpinannya, BUMDes Cidadap yang berlokasi di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, mengambil langkah strategis untuk menyambut dan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini tengah berjalan.

“Desa kami memiliki kekayaan alam luar biasa, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan. Kami melihat program MBG sebagai peluang besar untuk menghidupkan dan menyerap hasil potensi lokal tersebut secara langsung,” ujar Aldi, Minggu (25/1/2026)

Menurut Aldi, program MBG akan menciptakan ekosistem ekonomi baru di desa. Para petani dan pelaku UMKM kini berkesempatan menjadi mitra dapur MBG sebagai penyuplai bahan baku.

BUMDes Cidadap pun mengambil posisi strategis dengan memperkuat sektor peternakan ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan protein pada program tersebut.

“Kami telah menyusun rencana matang dan mulai membangun kandang ayam petelur sebagai unit usaha baru,” tambahnya.

Proses pembangunan kandang tersebut dimulai pada 15 Oktober 2025 dan resmi beroperasi pada 11 Desember 2025. Saat ini, unit peternakan BUMDes Cidadap mengelola 1.000 ekor ayam petelur dan sedang menunggu masa produksi atau panen perdana.

Guna memastikan rantai pasok berjalan lancar, pihak BUMDes juga telah menjalin komunikasi intensif dengan Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPI) Kecamatan Simpenan.

“Respons dari pihak koordinator sangat baik. Kami ingin memastikan BUMDes hadir sebagai bagian dari rantai pasok dapur MBG,” jelas Aldi.

Terbukanya peluang usaha melalui dapur MBG diharapkan tidak hanya menguntungkan sekelompok pihak, tetapi menyentuh seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan harapan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan keterlibatan aktif BUMDes dan UMKM lokal, perputaran ekonomi di tingkat desa diharapkan meningkat signifikan sehingga manfaat program MBG dapat dirasakan secara merata.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Pelayanan KB Sukabumi Melonjak Tajam, Raih Terbaik Nasional dengan Capaian 223 Persen

0

Wartain.com || Komitmen Kabupaten Sukabumi dalam memperkuat pelayanan keluarga berencana kembali menuai pengakuan nasional. Pada momentum Pelayanan KB Serentak memperingati HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-74 sekaligus International Day of The Midwife (IDM) 2025, Kabupaten Sukabumi dinobatkan sebagai Terbaik I Kabupaten/Kota Kategori Besar dalam pelayanan KB.

Prestasi tersebut terasa istimewa karena capaian pelayanan KB di Kabupaten Sukabumi menembus angka 223,2 persen, tertinggi di Indonesia. Penghargaan ini diumumkan oleh Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat dan mendapat apresiasi langsung dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sukabumi, Eka Nandang Nugraha, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut.

Ia menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja bersama seluruh pihak yang terlibat di lapangan.

“Alhamdulillah, capaian ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara jajaran DPPKB, para bidan, tenaga kesehatan, serta mitra kerja hingga tingkat desa. Tingginya capaian menunjukkan partisipasi masyarakat terhadap program KB terus meningkat,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

Ia menjelaskan, strategi pelayanan yang mengedepankan pendekatan langsung kepada masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan. Pelayanan jemput bola, penguatan peran fasilitas kesehatan, serta sinergi lintas sektor dilakukan secara konsisten agar layanan KB dapat diakses secara merata.

“Kami berupaya memastikan pelayanan KB hadir lebih dekat, mudah dijangkau, ramah, dan berkualitas. Dengan pendekatan langsung, masyarakat tidak lagi ragu atau kesulitan memperoleh layanan KB,” jelasnya.

Selain Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat juga mencatat prestasi dengan meraih penghargaan Terbaik I Provinsi Kategori Besar melalui capaian 103,9 persen atau lebih dari 100 ribu peserta KB. Sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Banjar pun turut mendapatkan penghargaan pada kategori TPMB Pelayanan KB Terbaik.

Eka menegaskan, penghargaan ini bukan sekadar capaian seremonial, melainkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Prestasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berbenah. Tujuan utama kami adalah memastikan setiap keluarga di Kabupaten Sukabumi memperoleh pelayanan KB yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Dengan capaian tersebut, Kabupaten Sukabumi semakin menegaskan perannya sebagai daerah yang aktif mendukung program Bangga Kencana serta berkomitmen mewujudkan keluarga berkualitas sebagai fondasi menuju Indonesia maju.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Dari Warungkiara untuk Sukabumi: Pramuka Garuda Menyemai Karakter Pemimpin Muda

0

Wartain.com || Di balik seragam cokelat dan tanda kecakapan yang tersemat di dada, tersimpan proses panjang pembinaan karakter generasi muda.

Hal inilah yang tercermin dari keberhasilan Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, yang berhasil mengukuhkan 529 Pramuka Garuda dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.

Capaian tersebut mendapat apresiasi langsung dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena. Ia menilai keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh kuat ketika sekolah bersinergi dengan Gerakan Pramuka.

Menurut Deden, Pramuka memiliki peran strategis dalam dunia pendidikan karena mampu melengkapi pembelajaran di kelas dengan pengalaman nyata di lapangan. Melalui kegiatan kepramukaan, peserta didik tidak hanya dibentuk secara akademik, tetapi juga diasah sikap, mental, serta kepemimpinannya sejak usia dini.

“Pendidikan sejatinya tidak hanya mencetak anak yang pintar, tetapi juga berkarakter. Pramuka menjawab kebutuhan itu karena di dalamnya ada pembiasaan disiplin, tanggung jawab, kemandirian, hingga jiwa kepemimpinan,” ungkapnya, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, nilai-nilai yang diajarkan dalam Gerakan Pramuka seperti kejujuran, kerja sama, kepedulian sosial, dan nasionalisme sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.

Karena itu, pihaknya terus mendorong satuan pendidikan agar menjadikan kegiatan Pramuka sebagai bagian penting dari proses pembentukan kepribadian peserta didik.

Keberhasilan melahirkan 529 Pramuka Garuda dari satu kwartir ranting dinilai sebagai prestasi luar biasa. Deden menyebut capaian tersebut sebagai contoh konkret keberhasilan kolaborasi antara sekolah, pembina Pramuka, dan peran aktif orang tua.

“Ini menunjukkan pembinaan berjalan konsisten dan terarah. Harapannya, keberhasilan Warungkiara bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kabupaten Sukabumi,” ujarnya.

Ke depan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi berharap semakin banyak peserta didik yang termotivasi mengikuti jejak Pramuka Garuda. Dengan karakter kuat, mental tangguh, dan jiwa kepemimpinan yang terasah, generasi muda Sukabumi diyakini siap menjadi sumber daya manusia unggul dan pemimpin masa depan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

5 Pola Pikir Utama yang Membedakan Orang Kaya, Kelas Menengah, dan Miskin: Di Mana Posisi Anda ?

0
Oplus_131072

Wartain.com || Setiap individu, terlepas dari latar belakangnya, mendambakan stabilitas dan kebebasan finansial. Namun, dalam realitasnya, sering kali terdapat jurang lebar antara harapan untuk sejahtera dengan kenyataan ekonomi yang dihadapi sehari-hari.

Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengejar kesuksesan, bekerja keras dari fajar hingga petang, namun merasa seolah hanya berjalan di tempat.

Meskipun produktivitas meningkat, saldo tabungan tetap tak beranjak, dan impian kemapanan terasa kian menjauh. Kondisi ini memicu pertanyaan mendasar :
Apakah kekayaan hanyalah keberuntungan bagi mereka yang lahir dengan modal besar, atau ada variabel lain yang kita lewatkan ?

Kenyataannya, faktor pembeda antara kebebasan finansial dan kesulitan ekonomi kronis sering kali bukan terletak pada besarnya gaji atau warisan yang diterima.

Kita sering menyaksikan fenomena di mana seseorang dengan penghasilan tinggi justru terjerat hutang, sementara mereka yang memulai dari nol mampu membangun imperium bisnis yang kokoh. Hal ini membuktikan bahwa uang hanyalah alat yang efektivitasnya sangat bergantung pada siapa yang memegangnya.

Perbedaan fundamental tersebut berakar pada pola pikir (mindset). Cara seseorang memandang uang, risiko, dan peluang akan menentukan tindakan finansial mereka. Tanpa pola pikir yang tepat, berapapun uang yang datang akan habis tanpa bekas. Sebaliknya, dengan pola pikir yang benar, keterbatasan modal awal bukanlah penghalang untuk mencapai puncak kesuksesan.

Merujuk pada konsep legendaris Robert Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, terdapat perbedaan kontras dalam cara setiap kelas sosial mengelola arus kas dan aset mereka. Berikut adalah lima pola pikir utama yang membedakan kelompok miskin, menengah, dan kaya

1.Orientasi Terhadap Keuangan: Membangun Aset vs. Bekerja Demi Upah

Perbedaan fundamental antar strata ekonomi terletak pada paradigma mereka dalam memandang dan mengelola arus keuangan

Masyarakat berpenghasilan rendah (miskin), secara umum, fokus utama mereka dalam bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mempertahankan kelangsungan hidup jangka pendek.

Seluruh pendapatan yang diperoleh cenderung dialokasikan langsung untuk konsumsi rumah tangga, sehingga kapasitas untuk menabung atau berinvestasi menjadi sangat terbatas.

Kelompok kelas menengah, biasanya memiliki dedikasi tinggi dalam mengejar stabilitas pendapatan melalui gaji tetap. Namun, terdapat kecenderungan untuk mengalokasikan pendapatan tersebut guna mengakuisisi liabilitas seperti cicilan kendaraan, properti konsumtif, atau gawai terbaru yang kerap dianggap sebagai simbol status atau aset, padahal nilai ekonomisnya menurun dan justru menambah beban pengeluaran.

Sementara kelompok kaya,
fokus utama mereka bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan membangun dan memperluas portofolio aset yang mampu menghasilkan pendapatan pasif (passive income).

Pada titik ini, mereka tidak lagi bekerja untuk uang, melainkan memastikan bahwa sumber daya keuangan mereka bekerja secara berkelanjutan untuk menciptakan kesejahteraan jangka panjang

2.Pandangan Terhadap Risiko: Menghindari vs Mengelola

Perbedaan fundamental antar strata ekonomi juga terlihat jelas dalam cara mereka memandang dan menyikapi risiko finansial.

Individu berpenghasilan rendah,
cenderung sangat menghindari risiko finansial karena kekhawatiran yang besar akan kehilangan sedikit dana yang dimiliki. Fokus utama mereka adalah keamanan absolut, yang sering kali menghalangi mereka untuk mengeksplorasi peluang investasi yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan.

Kelompok kelas menengah,
sering kali enggan mengambil risiko, lebih memilih stabilitas dan “zona nyaman” seperti pekerjaan tetap, yang terkadang membuat mereka bergantung pada utang untuk memenuhi aspirasi (seperti KPR atau kredit mobil).

Sementara itu, individu atau kelompok kaya, cenderung berani mengambil risiko yang telah dianalisis secara cermat. Mereka mengevaluasi peluang secara menyeluruh, mengambil pelajaran dari potensi kegagalan, dan memahami korelasi langsung antara risiko yang terukur dengan potensi imbal hasil yang signifikan.

3.Pemanfaatan Waktu & Pembelajaran: Konsumsi Hiburan vs. Investasi Diri

Cara individu mengalokasikan waktu luang dan sumber daya intelektual mereka sering kali menjadi cerminan dari pola pikir serta strata ekonomi mereka. Perbedaan dalam memandang pembelajaran menciptakan jurang pemisah antara stagnasi dan pertumbuhan berkelanjutan.

Kelompok yang hidup dalam kemiskinan, sering mengalokasikan waktu untuk hiburan dan aktivitas pasif, dan mungkin berfokus pada keluhan terkait situasi yang dihadapi tanpa inisiatif aktif untuk mencari solusi atau meningkatkan keterampilan.

Kelompok kelas menengah,
setelah menyelesaikan pendidikan formal (sekolah/kuliah), mungkin merasa “cukup tahu” dan menghabiskan sebagian besar waktu kerja produktif untuk orang lain (bekerja sebagai karyawan). Waktu luang sering dihabiskan untuk hobi atau aktivitas keluarga.

Sementara itu, individu atau kelompok kaya, cenderung menganut prinsip pembelajaran seumur hidup (lifelong learner). Mereka secara aktif membaca, mengikuti seminar, dan secara konsisten berinvestasi pada peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan diri, memahami bahwa pengetahuan adalah aset yang paling berharga.

4.Sikap Terhadap Tantangan: Menghindar vs. Merangkul Peluang

Perbedaan cara pandang terhadap masalah dan tantangan hidup, khususnya yang berkaitan dengan finansial menjadi cermin utama dalam membedakan strata mentalitas seseorang, yang kemudian berdampak langsung pada posisi ekonominya.

Individu dengan penghasilan rendah,
mungkin melihat masalah sebagai penghalang dan cenderung menyalahkan faktor eksternal (pemerintah, nasib, orang lain) atas kesulitan yang dialami.

Kelompok kelas menengah,
cenderung menghindari masalah finansial yang kompleks atau mengalami kepanikan saat menghadapi tantangan tak terduga. Respons utamanya seringkali mencari solusi cepat, seperti pinjaman, daripada akar penyelesaian jangka panjang.

Sementara itu, individu atau kelompok kaya, cenderung memandang tantangan atau masalah sebagai kesempatan untuk berinovasi, menemukan solusi kreatif, dan berkembang. Mereka mungkin melatih diri untuk tetap tenang di bawah tekanan, menganalisis situasi secara objektif, dan fokus pada solusi yang dapat menghasilkan keuntungan atau efisiensi baru.

5.Pengelolaan Keuntungan: Konsumsi Instan vs. Reinvestasi Disiplin

Bagaimana keuntungan atau pendapatan ekstra dikelola dapat menunjukkan perbedaan dalam prioritas keuangan.

Individu atau kelompok miskin, cenderung segera membelanjakan kelebihan uang yang diperoleh (seperti bonus atau THR) untuk konsumsi instan atau pemenuhan keinginan jangka pendek, tanpa pertimbangan masa depan.

Kelompok kelas menengah,
umumnya menyimpan dana di instrumen dengan imbal hasil rendah (seperti tabungan biasa di bank) dan mungkin mengutamakan gaya hidup konsumtif membeli barang yang nilainya menurun.

Sementara itu, individu atau kelompok kaya cenderung secara disiplin menginvestasikan kembali keuntungan yang didapat ke dalam aset produktif (bisnis, saham, real estat) untuk membangun basis aset yang lebih besar. Bagi mereka, keuntungan adalah modal kerja yang dapat dilipat gandakan.

Untuk mengetahui di mana posisi finansial Anda, cobalah jujur pada diri sendiri dengan menjawab tiga pertanyaan ini:

Apakah Anda bekerja untuk uang, atau uang yang bekerja untuk Anda?

Apakah pengeluaran terbesar Anda untuk liabilitas (beban) atau aset produktif?

Saat ada peluang investasi, apakah yang muncul pertama kali adalah rasa takut atau antusiasme untuk belajar?

Jika Anda merasa masih terjebak dalam pola pikir kelas menengah atau bawah, kabar baiknya adalah pola pikir bersifat dinamis. Anda bisa mengubahnya mulai hari ini.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Fikri)

21 Jenis Penyakit dan Layanan yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

0

Wartain.com || BPJS Kesehatan dibentuk sebagai bagian dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang bertujuan memberikan layanan kesehatan menyeluruh untuk masyarakat Indonesia. Dengan program ini, masyarakat berhak mendapatkan pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku.

Kendati demikian, tidak semua jenis penyakit dapat dijamin oleh BPJS Kesehatan. Ada regulasi yang sudah disepakati pemerintah secara tegas menetapkan sejumlah pengecualian manfaat yang tidak masuk dalam lingkup pembiayaan JKN. Yang mana ketentuan itu diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Dalam regulasi tersebut, ada 21 kategori penyakit dan layanan kesehatan yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan itu sendiri. Berikut rinciannya:

1. Penyakit yang terjadi akibat wabah atau kejadian luar biasa (KLB).

2. Pelayanan kesehatan yang bersifat estetika atau kecantikan, termasuk operasi plastik non-medis.

3. Perawatan perataan gigi, seperti penggunaan kawat gigi (behel) untuk tujuan kosmetik.

4. Penyakit atau cedera yang timbul akibat tindak pidana, misalnya penganiayaan dan kekerasan seksual.

5. Kondisi medis akibat perbuatan yang disengaja untuk menyakiti diri sendiri atau percobaan bunuh diri.

6. Penyakit yang disebabkan oleh konsumsi alkohol atau ketergantungan narkotika dan obat-obatan terlarang.

7. Pengobatan yang berkaitan dengan infertilitas atau gangguan kesuburan.

8. Cedera atau penyakit akibat kejadian yang sebenarnya dapat dicegah, seperti perkelahian massal atau tawuran.

9. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar wilayah Indonesia.

10. Pengobatan maupun tindakan medis yang masih bersifat uji coba atau eksperimental.

11. Pengobatan komplementer, alternatif, dan tradisional yang belum terbukti efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan.

12. Penyediaan alat kontrasepsi.

13. Perbekalan kesehatan rumah tangga.

14. Pelayanan kesehatan yang tidak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk rujukan atas permintaan sendiri.

15. Pelayanan kesehatan di fasilitas yang tidak menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan, kecuali dalam kondisi gawat darurat.

16. Pelayanan atas penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja atau menjadi tanggung jawab pemberi kerja.

17. Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program wajib jaminan kecelakaan lalu lintas hingga batas manfaat yang ditentukan.

18. Pelayanan kesehatan tertentu yang berkaitan dengan Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

19. Pelayanan kesehatan yang diberikan dalam rangka kegiatan bakti sosial.

20. Pelayanan yang manfaatnya telah ditanggung oleh program jaminan lain.

21. Pelayanan kesehatan lain yang tidak berkaitan langsung dengan manfaat jaminan kesehatan yang dijamin BPJS Kesehatan.

Dengan demikian memahami daftar pengecualian tersebut, peserta JKN diharapkan dapat lebih bijak dalam memanfaatkan layanan BPJS Kesehatan, sosialisasi yang baik mengenai hak dan kewajiban peserta menjadi kunci agar layanan JKN berjalan dengan tepat sasaran.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Ternak Ikan Gabus dalam Galon, Solusi Budidaya Rumahan Hemat Lahan dan Modal

0

Wartain.com || Budidaya ikan rumahan kini semakin berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap usaha perikanan skala kecil. Salah satu metode yang banyak dilirik adalah ternak ikan gabus dalam galon, karena dinilai praktis, hemat tempat, dan tidak memerlukan kolam besar.

Ikan gabus dikenal sebagai jenis ikan air tawar yang memiliki daya tahan tinggi. Karakter ini membuat ikan gabus sangat cocok dibudidayakan dalam wadah sederhana seperti galon bekas air mineral. Selain mudah dirawat, metode ini juga ramah bagi pemula yang baru mencoba usaha budidaya ikan.

Tidak hanya sekadar hobi, ternak ikan gabus dalam galon juga memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan. Dengan modal terbatas dan lahan sempit, budidaya ini dapat dikembangkan menjadi usaha sampingan yang berkelanjutan.

Keunggulan Ikan Gabus untuk Budidaya

Mengutip buku Panduan Lengkap Bisnis dan Budi Daya Ikan Gabus (2024) karya M. Ghufran H. Kordi K, ikan gabus memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut diverticula. Organ ini memungkinkan ikan gabus mengambil oksigen langsung dari udara.

Kemampuan tersebut membuat ikan gabus dapat hidup di perairan minim oksigen, seperti rawa, kolam tadah hujan, maupun wadah air tergenang. Selain itu, ikan gabus juga mampu dipelihara dengan kepadatan tinggi, sehingga sangat efisien untuk sistem galon.

Persiapan Awal Ternak Ikan Gabus dalam Galon

Langkah pertama adalah menyiapkan galon bekas yang masih kuat dan tidak bocor. Galon dicuci bersih, lalu bagian atasnya dipotong sekitar 10–15 cm agar memudahkan pemberian pakan dan pemantauan ikan.

Galon kemudian diisi air bersih hingga 70–80% dari volumenya. Air sebaiknya diendapkan selama 12–24 jam untuk mengurangi kadar klorin. Penambahan daun ketapang atau EM4 perikanan dapat membantu menjaga kualitas air tetap stabil.

Pemilihan bibit menjadi faktor penting. Bibit ikan gabus yang ideal berukuran 5–7 cm, sehat, aktif, dan seragam. Dalam satu galon, jumlah tebar yang disarankan berkisar 5–10 ekor agar ikan tidak stres dan pertumbuhannya optimal.

Perawatan Harian dan Pemberian Pakan

Pakan memegang peranan besar dalam keberhasilan ternak ikan gabus dalam galon. Ikan gabus membutuhkan pakan berprotein tinggi karena bersifat karnivora. Pakan dapat berupa pelet khusus ikan gabus, cacing sutra, ikan rucah, atau pakan alami seperti kutu air.

Pemberian pakan dilakukan 2–3 kali sehari dengan takaran sekitar 3–5% dari total bobot ikan. Pemberian pakan secukupnya penting untuk mencegah air cepat keruh dan menekan risiko penyakit.

Penggantian air dilakukan secara berkala sebanyak 20–30% setiap 3–4 hari. Jika air terlihat kotor atau berbau, penggantian bisa dilakukan lebih cepat. Galon sebaiknya diletakkan di tempat teduh untuk menjaga suhu dan pH air tetap stabil.

Tantangan dalam Budidaya Ikan Gabus

Salah satu tantangan utama adalah sifat kanibalisme ikan gabus. Untuk mengurangi risiko ini, peternak disarankan menggunakan bibit dengan ukuran seragam dan memberikan pakan yang cukup.

Selain itu, ikan gabus dikenal aktif dan mampu melompat keluar wadah. Oleh karena itu, galon perlu diberi penutup berupa jaring atau kawat ram. Risiko penyakit seperti bintik putih juga perlu diantisipasi dengan menjaga kebersihan air dan mengisolasi ikan yang sakit.

Waktu Panen dan Peluang Pasar

Ikan gabus umumnya dapat dipanen setelah masa pemeliharaan sekitar enam bulan. Pada usia tersebut, bobot ikan mencapai 150–200 gram per ekor dan siap dipasarkan sebagai ikan konsumsi.

Permintaan pasar terhadap ikan gabus tergolong tinggi, baik untuk konsumsi rumah tangga, kuliner, maupun kebutuhan kesehatan. Harga ikan gabus konsumsi berada di kisaran Rp35.000–Rp50.000 per kilogram, sementara harga benih dapat mencapai Rp300.000 per seribu ekor.

Potensi Usaha Jangka Panjang

Meski produksi per galon relatif terbatas, keunggulan ternak ikan gabus dalam galon terletak pada kemudahan pengembangan skala. Dengan menambah jumlah galon dan menjalankan siklus budidaya secara konsisten, keuntungan dapat meningkat secara bertahap.

Fleksibilitas lokasi, modal terjangkau, serta permintaan pasar yang stabil menjadikan ternak ikan gabus dalam galon sebagai peluang usaha rumahan yang layak dicoba, terutama bagi masyarakat di perkotaan dengan keterbatasan lahan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Skema Cicilan Tadpole Berpotensi Sebabkan Gagal Bayar dan Rugikan Konsumen

0
Oplus_131072

Oleh : Asep Sugianto/Lingkar Mahasiswa Sukabumi

Wartain.com || Skema Tadpole atau yang berarti kecebong merupakan pola cicilan pinjaman dengan pembayaran lebih besar di awal tenor lalu mengecil pada pembayaran selanjutnya.

Pola ini berbeda dengan cicilan biasa yang umumnya memiliki jumlah angsuran tetap setiap bulannya, dari tenor awal sampai dengan pembayaran selesai.

Skema Tadpole dengan memberatkan pembayaran lebih besar di awal tenor, berpotensi sebabkan gagal bayar dan rugikan konsumen.

Pasalnya pembayaran besar di awal tenor membuat tekanan baru bagi peminjam yang membutuhkan dalam keadaan mendesak.

Sehingga hal tersebut, mendorong peminjam untuk mencari pinjaman lain guna untuk membayar kewajiban mereka.

Fenomena ini dapat memicu konsumen terjebak dalam masalah utang karena pembayaran besar di awal tenor, sementara peminjam belum punya cukup kemampuan untuk melakukan pembayaran.

Jika kita lihat pada Regulasi Otoritas Jasa Keuangan sistem Penagihan Pinjaman Online harus profesional dan tidak boleh memberatkan konsumen.

Begitupun pada persoalan Skema Tadpole Otoritas Jasa Keuangan telah mengambil keputusan agar membatasi praktik Skema Tadpole dengan tiga syarat di antaranya :

1. Mematuhi batasan manfaat ekonomi, yaitu total bunga dan biaya lainnya harus sesuai dengan regulasi yang berlaku dari OJK.

2. Memenuhi aspek transparansi, artinya penyelenggara wajib memberikan informasi yang lengkap dan jelas pada konsumen tentang skema pembayaran besar di awal.

3. Hanya untuk Pinjaman Online Sehat, skema ini hanya boleh dijalankan oleh penyelenggara pinjol yang memiliki tingkat kredit macet (TWP90) di bawah 5%

Selain itu Otoritas Jasa Keuangan juga mewajibkan semua Platfrom Pinjaman Online untuk melakukan penilaian kelayakan kredit yang lebih cermat, sehingga mengurangi resiko gagal bayar dan menguntungkan satu sama lain.

Walaupun demikian, tidak sedikit banyak Platfrom Pinjaman Online yang menjalankan perusahaannya tidak sesuai dengan Regulasi Otoritas Jasa Keuangan.

Oleh karena itu, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan harus betul-betul tegas dalam menyikapi persoalan tersebut.***

Editor : Aab Abdul Malik

(ASP)

Wabup Sukabumi Hadiri Peringatan Isra Miraj yang Digelar MWC NU Kecamatan Nagrak, Sampaikan Pesan Begini!

0
Oplus_131072

Wartain.com || Wabup Sukabumi, H. Andreas menghadiri peringatan Isra Miraj yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, yang berlangsung di Balai Desa Pawenang, Minggu 25/01/2026.

Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri Kadis Peternakan Kabupaten Sukabumi, Camat Nagrak, Kapolsek Nagrak, Kepala Desa Pawenang,  para tokoh agama, pengurus MWCNU dan ranting se-Kecamatan Nagrak, serta masyarakat sekitar.

Ketua MWCNU Kecamatan Nagrak, Ustadz Hamdan, S.Pd, mengatakan  bahwa Isra Miraj Nabi Muhammad, merupakan momen memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“Isra Miraj bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari syiar Islam yang memperkuat hubungan spiritual kita dengan Rasulullah SAW,” kata Ustadz Hamdan.

Ketua MWC NU Nagrak juga menekankan, peringatan Isra Miraj ini harus dijadikan landasan untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyyah.

“Keteladanan Rasul sebagai pribadi yang memiliki tingkat kesempurnaan, harus dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Sementara itu Wabup Sukabumi, H. Andreas dalam sambutannya, mengungkapkan bahwa pesan Isra Miraj sangat mendalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Karena peristiwa Isra Miraj membawa risalah tentang kewajiban shalat lima waktu. Dimana, dalam pelaksanaanya harus dilaksanakan dengan penuh sabar dan tawakal.

“Salah satu hikmahnya adalah kesabaran dan keimanan. Peristiwa Isra Miraj mengajarkan kita untuk memiliki kesabaran dan keimanan yang kuat, seperti Nabi Muhammad SAW yang menghadapi kesulitan dengan sabar dan tawakal,” ungkapnya.

Selain itu, kewajiban shalat lima waktu juga mengajarkan kita untuk selalu disiplin, dalam mengerjakan tugas sehari-hari, apapun bentuk tugasnya.

“Perintah shalat lima waktu juga mengajarkan kita tentang pentingnya kedisiplinan dan mengatur waktu. Sehingga, pekerjaan apapun yang kita lakukan selalu sesuai dengan tupoksinya masing-masing,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Begini Respon Gubernur KDM Soal Bencana Longsor di Bandung Barat

0
Oplus_131072

Wartain.com || Bencana longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Jabar, termasuk Bandung Barat mendapat respons dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Melalui unggahan terbaru di akun Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi mengatakan, bencana alam bisa menimpa siapa saja, termasuk mereka yang tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan bencana itu terjadi.

“Longsor yang dialami sodara kita di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa bencana bisa menimpa siapa saja, tanpa orang tersebut melakukan perbuatan yang mengakibatkan bencana,” kata Dedi Mulyadi, Minggu 25/01/2026.

Gubernur Jawa Barat itu secara terang-terangan mengungkapkan salah satu penyebab terjadinya bencana alam di wilayah yang ia pimpin.

“Lereng-lereng gunung berubah menjadi tanaman sayur, dan kebun bunga dengan sistem green house dengan penanamannya menggunakan media plastik adalah fakta bahwa kita telah berbuat salah pada area-area perbukitan,” ungkap Dedi Mulyadi.

Lebih lanjut, Dedi juga menyebut area sawah yang berubah menjadi perumahan dan sungai yang mengalami pendangkalan merupakan bentuk ketidak pedulian manusia terhadap alam yang mereka tempati.

Orang nomor satu di Jabar itu lantas mengajak seluruh masyarakat untuk mulai berbenah dan intropeksi diri untuk tidak merusak alam yang memberikan kehidupan kepada manusia.

“Sudah saatnya kita intropeksi diri untuk merubah seluruh perilaku buruk yang menjadikan alam hanya bahan eksploitasi kita tanpa mempertimbangkan keharmonisan hidup, keselarasan hidup agar kita yang numpang di bumi ini mengohormati bumi sebagai tempat tumpanngan kita,” jelasnya.

Tidak berhenti sampai itu, Dedi bukan hanya mengajak masyarakat untuk intropeksi, tapi juga meminta pemerintah untuk dengan gagah mengakui setiap kesalahannya.

Dedi Mulyadi memperjelas apa yang ia sampaikan, bahwa tindakan merusak alam akan menyebabkan bencana yang merugikan semua orang.

“Untuk itu marilah kita bersama-sama menyadari, pemerintah harus sadar akan kelasalahnnya, masyarakat pun harus menyadari bahwa tindakan-tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan menjadi bencana dan menimpa siapapun.” pungkas Dedi Mulyadi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Belum Sebulan Menjabat, Kapolres Sukabumi Kota Kembali Berganti

0

Wartain.com || AKBP Ardian Satrio Utomo mendapat penugasan baru di lingkungan Polri meski belum genap sebulan menjabat sebagai Kapolres Sukabumi Kota. Perwira menengah Polri tersebut dimutasi ke Polda Metro Jaya untuk menduduki jabatan Wakil Direktur Reserse Siber (Wadirressiber).

Mutasi ini tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/143/KEP./2026 yang mengatur rotasi dan mutasi sejumlah perwira tinggi dan perwira menengah Polri. Dalam surat tersebut, AKBP Ardian tercatat sebagai salah satu dari lima Kapolres yang masuk dalam daftar mutasi sebagai bagian dari penyegaran organisasi.

Seiring mutasi tersebut, jabatan Kapolres Sukabumi Kota akan diemban oleh AKBP Sentot Kunto Wibowo. Sebelumnya, AKBP Sentot menjabat sebagai Kanit 1 Subdit III Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri.

Rotasi jabatan di wilayah Polda Jawa Barat ini merupakan bagian dari mutasi besar Polri yang digelar pada Januari 2026.

Secara keseluruhan, terdapat 85 personel perwira tinggi dan perwira menengah yang mengalami mutasi, baik berupa promosi jabatan maupun pergeseran setara untuk mengisi posisi strategis di Mabes Polri hingga satuan kewilayahan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa mutasi merupakan hal lumrah dalam dinamika organisasi Polri.

“Mutasi jabatan merupakan mekanisme rutin sebagai bagian dari pembinaan organisasi. Ini dilakukan untuk penyegaran, penguatan struktur, serta pengembangan karier personel agar pelaksanaan tugas Polri berjalan profesional dan optimal,” ujar Trunoyudo dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/1/2026).

Ia berharap para pejabat yang mendapatkan penugasan baru dapat segera menyesuaikan diri serta memberikan kontribusi maksimal dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Diketahui, AKBP Ardian Satrio Utomo resmi menjabat sebagai Kapolres Sukabumi Kota pada 5 Januari 2026 menggantikan AKBP Rita Suwadi yang kini dipercaya mengemban jabatan sebagai Kapolres Majalengka.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik