26.7 C
Jakarta
Selasa, Mei 26, 2026

Latest Posts

Menyucikan Pandangan terhadap Seksualitas: Rekonstruksi Spiritualitas Seks dalam Kesadaran Ilahi dan Kebudayaan Masyarakat

Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

I. Pendahuluan

Wartain.com || Seksualitas adalah aspek fundamental dalam eksistensi manusia yang sering menjadi pusat tarik-menarik antara agama, budaya, dan ideologi. Dalam sejarah peradaban, seks sering kali ditempatkan dalam ruang yang ambigu: disakralkan dalam lembaga pernikahan, namun dicurigai sebagai sumber dosa dan moralitas yang menurun.

Dalam masyarakat modern, seks mengalami banalitas, direduksi menjadi objek konsumsi, kehilangan nilai spiritual, dan tercerabut dari kesadaran ketuhanan.
Padahal, dalam perspektif spiritualitas Islam—terutama dalam khazanah kenabian dan tasawuf—seks bukan hanya keniscayaan biologis, melainkan juga media penyatuan ruhani, simbol keindahan ciptaan, dan bahkan jembatan menuju Tuhan.

Seks dapat menjadi suci bila diletakkan dalam konteks ilahi, namun dapat menjadi najis bila dipenuhi syahwat hewani dan tanpa akhlak.

Oleh karena itu, tulisan ini hendak mengajukan rekonstruksi paradigma terhadap seks: dari sekadar aktivitas fisik menuju spiritualitas seksual. Pendekatan ini diperlukan untuk menjawab problem pemaknaan seks dalam masyarakat kontemporer yang mengalami keterputusan antara tubuh dan ruh, antara hasrat dan keimanan.

II. Tinjauan Literatur dan Perspektif Konseptual

1. Seks dalam Tradisi Agama

Dalam al-Qur’an, seks tidak pernah ditabukan, tetapi ditempatkan secara proporsional dalam bingkai pernikahan dan kasih sayang:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya…”
(QS Ar-Rūm: 21)

Hadis Rasulullah menyebutkan bahwa:

“Di setiap hubungan suami istri yang halal, ada sedekah di dalamnya.”
(HR. Muslim).

Artinya, seks memiliki dimensi ibadah. Rasulullah bahkan menyatakan bahwa cinta terhadap wanita adalah bagian dari kenikmatan duniawi yang disucikan:

“Dijadikan cinta kepadaku dari duniamu: wanita, wewangian, dan penyejuk mataku dalam salat.”

2. Pemikiran Sufi tentang Seks

Ibnu ‘Arabī dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam menjelaskan bahwa penciptaan Adam dan Hawa mencerminkan dualitas yang kembali bersatu dalam cinta dan pengenalan:

“Cinta seksual adalah bayangan dari cinta ilahiah, karena Allah menciptakan manusia dalam bentuk-Nya dan melalui hubungan cinta, manusia dapat menyaksikan rahasia penciptaan.”

Jalāluddīn Rūmī bahkan menyamakan hubungan cinta antara dua insan dengan tarikan gravitasi spiritual menuju Tuhan.

III. Pembahasan: Menuju Paradigma Seksualitas Spiritual

1. Seks Sebagai Ayat Ilahi

Dalam Islam, seks merupakan “āyah”—tanda Tuhan. Seks bukan hanya cara memperbanyak keturunan, tetapi ekspresi keindahan Tuhan dalam bentuk biologis, emosional, dan spiritual. Ketika hubungan seksual dilakukan dengan kesadaran akan Tuhan, ia menjadi ibadah.

2. Krisis Pemahaman Seks dalam Masyarakat

Terdapat dua ekstrem dalam masyarakat:

Ekstrem represi, yang men-tabukan seks, menjadikannya tabu, dan menghambat pendidikan seksual berbasis ruhani.

Ekstrem liberal, yang melepaskan seks dari nilai dan moral, menjadikannya alat konsumsi dan hiburan semata.

Keduanya lahir dari krisis ontologi tubuh dan jiwa, yang gagal melihat seks sebagai manifestasi ketuhanan.

3. Rekonstruksi Seks dalam Spiritualitas Masyarakat

Seks harus didekati secara utuh—menggabungkan dimensi fisik, emosional, dan ruhani. Dibutuhkan pendidikan seks spiritual yang:

Melatih manusia memuliakan tubuh dan pasangannya,

Memahami cinta sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah,

Menjadikan pernikahan sebagai sarana saling menyempurnakan ruh.

IV. Penutup: Seks sebagai Jalan Ma‘rifat

Seks bukan hanya hubungan antara dua tubuh, tapi juga pertemuan antara dua jiwa yang kembali ke asal-usul ketuhanan mereka. Penyucian pandangan terhadap seks bukan berarti menolak tubuh, tetapi mendekatkannya kepada cahaya Ilahi. Seks adalah jalan ma‘rifat—jika dijalani dalam keimanan dan kesadaran.

Paradigma ini perlu ditanamkan dalam masyarakat melalui pendidikan ruhani, kebijakan yang berlandaskan akhlak, dan pembaharuan cara pandang dalam tradisi keilmuan. Dengan demikian, masyarakat akan berhenti melihat seks sebagai sesuatu yang kotor atau murahan, dan mulai memahaminya sebagai bagian dari kehormatan, kasih sayang, dan cinta Tuhan.

Referensi.

=.Al-Qur’an al-Karim.

= Hadis Nabi Muhammad SAW (HR. Muslim, HR. Ahmad).

= Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ. al-Ḥikam

= Jalāluddīn Rūmī, Mathnawī.

= Nasr, Seyyed Hossein. The Garden of Truth.

= Schuon, Frithjof. Understanding Islam.

= Murata, Sachiko. The Tao of Islam: A Sourcebook on Gender Relationships in Islamic Thought. (***)

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.