26.7 C
Jakarta
Rabu, Juni 24, 2026

Latest Posts

Paradoks KDM: Ketika Pemimpin dari Dalam Sistem Membongkar Borok Sistem

Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Di tengah kegaduhan politik yang kerap hanya melahirkan pencitraan, hadir seorang pemimpin yang membalikkan arah angin: KDM, Gubernur Jawa Barat.

Ia tidak datang sebagai orang luar yang meneriakkan perubahan dari pinggir lapangan. Ia lahir dan besar di dalam sistem: pernah menjadi bupati, lalu anggota DPR, dan kini memegang kendali provinsi.

Tapi justru dari dalam itulah ia menelanjangi apa yang selama ini ditutup-tutupi—dan di situlah paradoksnya.
Biasanya, mereka yang tumbuh dari dalam kekuasaan akan larut dalam kenikmatan kekuasaan.

Tapi tidak dengan KDM. Ia tahu bagaimana permainan anggaran, ia paham cara kerja manipulasi kebijakan, dan ia mengerti bagaimana agama sering dijadikan alat untuk mengamankan kekuasaan. Tapi ia memilih jalan lain. Ia memilih berpihak kepada rakyat kecil, turun ke sawah, ke jalan becek, ke rumah-rumah tanpa atap harapan. Bukan untuk kamera, tapi untuk kerja nyata.

Namun, ketika ia mengalihkan fokus dari elite ke rakyat kecil, justru mereka yang selama ini menikmati kenyamanan sistem mulai gusar. Para “rakyat besar”—para pejabat lama, kaum oligarki lokal, para makelar proyek, dan para tokoh agama yang terbiasa menjual ayat untuk legitimasi duniawi—merasa terusik.

Mereka tidak nyaman melihat seorang pemimpin yang mengerti permainan mereka, tetapi tidak mau ikut bermain. Karena ia tahu dari dekat, mereka tidak bisa menipunya.

Inilah yang membuat fenomena KDM menjadi unik dan mengguncang. Ia tidak hanya memimpin, ia menyembuhkan luka sistem. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tapi mempraktikkannya. Dan itulah yang paling menakutkan bagi mereka yang hidup dari stagnasi dan kemunafikan.

Yang paling ironis, banyak dari mereka yang menuduhnya populis, seolah keberpihakan kepada rakyat kecil adalah dosa dalam politik modern. Mereka lupa, politik yang tidak berpihak pada wong cilik hanyalah perpanjangan tangan dari penjajahan baru—penjajahan dari dalam. Mereka panik bukan karena KDM gagal, tapi karena ia berhasil. Dan keberhasilan itu merusak simetri kepentingan yang selama ini mereka jaga.

Ketika seorang pemimpin seperti KDM tampil dengan keberanian, pengalaman, dan integritas, maka wajah sistem pun mulai retak. Yang selama ini menari di atas penderitaan rakyat mulai kehilangan irama. Tapi bukan berarti perjuangan selesai. Justru ini awal dari pertarungan yang lebih dalam—antara mereka yang ingin memperbaiki negeri ini dari dalam, dan mereka yang ingin mempertahankan kegelapan dengan tameng agama dan kuasa.

KDM adalah cermin dari kemungkinan: bahwa seorang anak sistem bisa memilih menjadi pembersih sistem. Tapi untuk itu, ia harus siap dimusuhi oleh para penjaga warisan kebusukan. Dan kita, sebagai rakyat, harus sadar: ketika pemimpin yang membela kita diserang, itu bukan karena ia lemah. Tapi karena ia benar.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.