WARTAIN.COM, BOGOR – Komunitas aktivis yang tergabung dalam Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 (PPJNA 98) bersama elemen aktivis 98 Bandung, Rumah Literasi Merah Putih dan Majekis Sholawat Cahaya Nusantara mengeluarkan pernyataan sikap bersama terkait situasi politik dan keamanan nasional saat ini. Mereka menyerukan pentingnya menegakkan politik kebangsaan, menjaga persatuan nasional, serta memperkuat benteng spiritual demi keselamatan bangsa.

Pernyataan sikap bersama tersebut disampaikan secara tertulis oleh Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda, Sekjen PPJNA 98 Abdul Salam Nur Ahmad, Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, serta para tokoh aktivis 98 Bandung yang terdiri dari Yosep Bahtiar, Deni Kusdinar,, Agis dan KH.Yudi Suryadikrama (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara).
Penyadapan Presiden adalah Tindakan Makar
Dalam poin pertamanya, para aktivis 98 ini mengecam keras dan menyatakan keprihatinan yang mendalam atas munculnya peristiwa dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat tinggi negara lainnya.
Ketua Umum PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menegaskan bahwa tindakan penyadapan terhadap kepala negara secara hukum tidak dapat dibenarkan dan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi.
“Ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan tindakan yang mengarah pada bagian dari gerakan makar serta pengkhianatan nyata terhadap negara. Hukum harus ditegakkan secara tegas dan diusut tuntas sampai ke akar-akarnya tanpa pandang bulu,” ujar Anto dalam keterangan tertulis yang diterima di Bogor.
Pihaknya mendesak aparat penegak hukum untuk membongkar tuntas siapa saja jaringan yang bermain di balik layar penyadapan tersebut. Penyelidikan komprehensif diperlukan untuk mengungkap aktor intelektual yang memerintahkan, pihak yang mendanai, serta untuk kepentingan siapa data hasil penyadapan itu diberikan.
“Apakah penyadapan ini digerakkan untuk kepentingan elite politik tertentu di dalam negeri, atau justru demi melayani agenda asing dan jaringan oligarki hitam yang ingin melemahkan kedaulatan kita? Semua anasir yang mengoperasikan konspirasi jahat ini harus dibersihkan dari seluruh struktur kelembagaan negara,” tambah Sekjen PPJNA 98, Abdul Salam Nur Ahmad.
Akhiri Polemik Wapres Lewat Jalur Konstitusi
Selain persoalan penyadapan, para tokoh gerakan 98 ini juga menyoroti polemik terkait ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai terus bergulir tanpa ujung.
Menurut Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, pasca-keluarnya putusan dari Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA), persoalan tersebut semestinya sudah mendapatkan kejelasan hukum. Lembaga legislatif, baik MPR maupun DPR RI, diharapkan segera mengambil sikap konstitusional yang tegas agar polemik ini tidak berlarut-larut menjadi komoditas politik yang menguras energi bangsa.
“Kepentingan dan kehormatan negara harus ditempatkan di atas segalanya. Kita tidak boleh membiarkan stabilitas negara dikorbankan hanya demi kepentingan kelompok atau perebutan kekuasaan semata,” tegas Dede Heri.
Perkuat Persatuan Nasional dan Benteng Spiritual
Menghadapi berbagai ancaman, mulai dari upaya sabotase asing, persekongkolan oligarki hitam, hingga gerakan dari barisan elite yang kecewa, para aktivis mengajak seluruh komponen rakyat untuk merapatkan barisan.
“Rakyat harus berdiri bersama Presiden Prabowo. Kita perkuat persatuan nasional untuk menegakkan hukum dan konstitusi, sekaligus melawan setiap upaya memecah belah bangsa yang bertujuan untuk menjatuhkan kepemimpinan sah nasional,” kata Yosep Bahtiar bersama Deni Kusdinar dan Agis, tokoh pergerakan 98 Bandung.
Sebagai penutup pernyataan sikap, para aktivis menekankan pentingnya pendekatan spiritual dalam menjaga keutuhan NKRI. Mereka mengajak seluruh elemen bangsa untuk meluangkan waktu memanjatkan doa bersama.
“Kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu dan bermunajat kepada Allah SWT agar senantiasa melindungi Presiden Prabowo Subianto serta seluruh rakyat Indonesia. Semoga negeri yang kita cintai ini tetap aman, damai, berdaulat, dan diberkahi dalam melangkah maju menuju cita-cita bersama, Indonesia Emas,” pungkasnya. (RA)***
Editor : AS
