Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Langit semalam memerah. Bulan purnama yang biasanya bersinar putih bersih, mendadak tertutup bayangan bumi dan berubah jadi merah darah. Fenomena Blood Moon selalu membuat manusia tertegun: ada rasa kagum, ada rasa takut, dan ada getaran batin bahwa sesuatu sedang bergeser.
Sejatinya, gerhana bulan hanyalah peristiwa astronomi. Tapi bagi banyak orang, ia membawa makna simbolis: tanda perubahan besar, pergantian zaman, atau datangnya ujian. Dan bila kita jujur melihat keadaan hari ini, makna itu begitu pas. Dunia sedang berguncang, politik global bergeser, dan Indonesia pun berada di persimpangan jalan.
Kita menyaksikan lahirnya kekuatan baru: BRICS. Semula ia hanyalah forum ekonomi negara berkembang, kini menjelma menjadi blok geopolitik yang menantang dominasi Barat. Rusia menjadikannya jalan keluar dari sanksi, Cina menggunakannya untuk memperluas pengaruh, India untuk menyeimbangkan langkah, Brazil untuk mengangkat suara Global South, dan Afrika Selatan untuk menegaskan peran Afrika. Kini BRICS melebar, banyak negara tertarik bergabung, karena mereka ingin dunia yang lebih adil dan tidak hanya dikendalikan satu kutub.
Apa artinya bagi Indonesia? Peluang terbuka lebar. Dengan BRICS, kita bisa memperluas pasar, mencari investasi alternatif, dan memperkuat posisi dalam negosiasi global. Tapi ada juga risiko. Bergabung terlalu jauh bisa memicu ketegangan dengan mitra lama kita di Barat dan Asia. Karena itu, yang dibutuhkan Indonesia adalah kabinet yang lihai, mampu menari di panggung multipolar, tanpa terjebak dalam pelukan satu blok saja.
Persoalannya, apakah kabinet kita sudah siap?
Kita baru saja menyaksikan reshuffle, pergantian menteri, dan gejolak pasar yang membuat rupiah melemah. Publik pun dilanda keresahan: demo di jalanan, suara rakyat yang muak dengan ketidakadilan, dan kekhawatiran bahwa elit lebih sibuk mengurus dinasti daripada menata negeri. Dalam suasana seperti ini, kabinet harus tampil sebagai tim tangguh, bukan sekadar kumpulan pejabat yang mencari kursi.
Kabinet hari ini punya tiga tugas mendesak. Pertama, menjaga stabilitas ekonomi. Pasar butuh kepastian, rakyat butuh kejelasan. Menteri keuangan baru dan bank sentral harus segera memberi pesan menenangkan, bahwa anggaran terkendali dan kebijakan jelas arahnya. Kedua, mengelola keresahan sosial. Rakyat harus diyakinkan lewat kebijakan nyata: harga terkendali, lapangan kerja terbuka, dan pelayanan publik membaik. Ketiga, merumuskan strategi luar negeri yang cerdas. Indonesia harus memanfaatkan peluang BRICS, tapi tetap menjaga jembatan dengan AS, Eropa, Jepang, dan tentu ASEAN sebagai rumah kita.
Di sinilah pentingnya sebuah kompas. Bung Karno dulu menyebut Pancasila sebagai bintang penuntun. Kini kita bisa merumuskannya dalam asta citanya—delapan arah cita-cita bangsa: kedaulatan ekonomi, kemandirian energi, pemerataan sosial, keadilan hukum, pendidikan mencerahkan, ketahanan budaya, diplomasi bermartabat, dan spiritualitas kebangsaan. Delapan cita inilah yang seharusnya menjadi dasar langkah setiap menteri, bukan sekadar kepentingan pribadi atau kelompok.
Fenomena Blood Moon mengingatkan kita: di tengah kegelapan, ada cahaya merah yang lahir dari pertemuan bumi, matahari, dan bulan. Begitu pula Indonesia: di tengah krisis politik, ekonomi, dan global, masih ada peluang untuk melahirkan tatanan baru yang lebih adil. Asalkan pemimpin berani menyingkirkan ego, memilih orang yang mumpuni, dan menjalankan asta citanya dengan konsistensi.
Kini sejarah memberi kita kesempatan sekali lagi. Apakah Indonesia akan berdiri sebagai bangsa besar yang diperhitungkan dunia, atau hanya tercatat sebagai negeri yang melewatkan momentum? Blood Moon sudah memberi tanda. Sisanya, tergantung keberanian kita memilih jalan terang.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
