26.7 C
Jakarta
Rabu, September 9, 2026

Latest Posts

Ancaman Krisis Air Mengintai, Pembalakan Blok Cangkuang Gunung Salak Ungkap Lemahnya Pengawasan Lingkungan

Wartain.com || Dugaan pembalakan liar di hutan Blok Cangkuang, kawasan Gunung Salak, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, kini disorot sebagai peringatan keras atas rapuhnya sistem pengelolaan dan pengawasan lingkungan di daerah tersebut. Kerusakan hutan yang terus melebar bukan hanya meninggalkan luka ekologis, namun juga mengancam sumber air bersih bagi ribuan warga di tiga kecamatan.

Jumroni (50), salah seorang tokoh masyarakat setempat, menyatakan bahwa dampak dari aktivitas ilegal itu sudah dirasakan warga. Ia menilai kerusakan hutan tidak bisa dianggap sepele karena Blok Cangkuang merupakan salah satu penyangga utama ketersediaan air.

“Kalau hutan ini rusak, air kami terancam. Tiga kecamatan bergantung pada kawasan itu. Kami hanya berharap pemulihan dilakukan secepatnya,” ujarnya, Senin (17/11/2025).

Sumber Air Utama Terancam Hilang

Blok Cangkuang dikenal sebagai daerah tangkapan air terpenting di kaki Gunung Salak. Kerusakan yang ditimbulkan pembalakan liar dikhawatirkan berimbas pada kekeruhan air, penurunan debit, hingga potensi banjir dan longsor di musim hujan. Kondisi ini memperkuat tuntutan warga agar pemerintah bergerak cepat memperbaiki tata kelola lingkungan di wilayah tersebut.

Warga menilai rehabilitasi hutan dan penataan kembali area yang rusak tidak lagi bisa ditunda. Pengawasan yang selama ini dinilai lemah harus diperkuat untuk mencegah aksi para pembalak yang berulang kali mengeksploitasi kawasan konservasi tersebut.

Tuntutan Penegakan Hukum dan Evaluasi Pemerintahan Desa

Selain pemulihan hutan, masyarakat juga menilai penegakan hukum terhadap para pelaku pembalakan liar harus dilakukan tanpa kompromi.

“Jangan sampai yang merusak dibiarkan. Kami yang menjaga lingkungan justru butuh perlindungan,” tegas Jumroni.

Sorotan warga juga mengarah kepada Kepala Desa Cidahu. Tim Advokasi Warga Cidahu menilai kepala desa kurang responsif terhadap kerusakan yang terjadi.

“Pemerintah daerah harus memberi perhatian serius. Sikap pembiaran sama saja dengan ikut merusak,” kritik Rozak Daud dari tim advokasi.

Harapan pada Pola Pengelolaan yang Pernah Berhasil

Masyarakat juga mengingat masa ketika pengelolaan hutan di bawah perhatian mendiang Menteri Bustanil Arifin berjalan efektif dan melibatkan warga secara aktif. Menurut mereka, program pada masa itu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

“Dulu kami dilibatkan, programnya jelas, dan hutan terjaga. Kami berharap pendekatan seperti itu bisa kembali diterapkan,” ucap Jumroni.

Polisi Sudah Turun Tangan

Menanggapi laporan tersebut, pihak kepolisian mulai melakukan penyelidikan. Kasat Reskrim Polres Sukabumi, IPTU Hartono, mengungkapkan bahwa tim Tipidter telah mengecek langsung lokasi kerusakan di Blok Cangkuang.

“Kami sudah turun ke lokasi untuk pemeriksaan. Pengumpulan keterangan dari berbagai pihak sedang kami lakukan,” ujarnya.

Hartono memastikan proses penyelidikan masih berlangsung dan pihaknya akan mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab. “Penyelidikan berjalan. Kami pastikan kasus ini ditindaklanjuti,” tegasnya.

Masa Depan Ekosistem Gunung Salak Dipertaruhkan

Bagi warga Cidahu dan sekitarnya, pembalakan liar bukan sekadar persoalan kayu yang hilang. Ini adalah soal keberlangsungan hidup—air bersih, keselamatan dari bencana, dan kelestarian lingkungan. Mereka berharap aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta instansi terkait bergerak cepat sebelum kerusakan semakin meluas dan mengancam generasi mendatang.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.