26.7 C
Jakarta
Rabu, Mei 20, 2026

Latest Posts

Terlihat Kaya di Media Sosial, Namun Realitas Finansial Banyak yang Rapuh

Oleh : Dede Heri/Sekjen Rumah Literasi Merah Putih

Wartain.com — Fenomena gaya hidup digital semakin marak di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi aktivitas, tetapi juga ajang membangun citra diri. Tidak sedikit orang berlomba-lomba tampil mewah demi mendapat pengakuan sosial, meski kondisi keuangan sebenarnya jauh dari kata stabil.

Dalam kehidupan digital saat ini, ukuran kesuksesan kerap dinilai dari tampilan luar. Mulai dari pakaian bermerek, nongkrong di tempat elit, gawai terbaru, hingga liburan yang dipamerkan di media sosial dianggap sebagai simbol keberhasilan. Padahal, di balik unggahan tersebut, sebagian orang justru sedang menghadapi tekanan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Fenomena ini menjadi perhatian karena gaya hidup konsumtif perlahan mendorong masyarakat, terutama Gen Z, lebih mengutamakan gengsi dibanding kebutuhan pokok. Keinginan untuk terlihat “mapan” membuat sebagian orang rela memaksakan keadaan finansial demi mengikuti tren digital.

Pengamat sosial menilai, media sosial menciptakan tekanan psikologis yang besar. Banyak anak muda merasa harus tampil sempurna agar dianggap berhasil oleh lingkungan sekitarnya. Akibatnya, muncul perilaku konsumtif yang tidak seimbang dengan kemampuan ekonomi.

Kemudahan akses belanja digital, layanan pembayaran instan, hingga budaya flexing di internet semakin memperkuat pola hidup konsumtif tersebut. Tidak sedikit masyarakat akhirnya mengorbankan kestabilan keuangan hanya demi mempertahankan citra di media sosial.

Ironisnya, kehidupan yang terlihat mewah di internet sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Sebagian orang rela menutupi kesulitan ekonomi demi menjaga penampilan di ruang digital. Fenomena “terlihat kaya di media sosial namun rapuh secara finansial” kini menjadi realitas yang semakin sering ditemukan di masyarakat modern.

Pakar literasi keuangan mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kemampuan mengelola keuangan dinilai menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang hanya mengejar pengakuan sosial semata.

Selain itu, masyarakat juga diimbau lebih bijak menggunakan media sosial. Kehidupan sederhana namun stabil secara ekonomi dinilai jauh lebih penting dibanding pencitraan yang dipaksakan.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, literasi keuangan dan kesadaran hidup realistis menjadi tantangan besar bagi generasi masa kini. Tanpa pengendalian diri, budaya “ingin terlihat kaya” dikhawatirkan akan terus memengaruhi pola pikir dan kehidupan sosial masyarakat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.