26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 25, 2026

Latest Posts

Petani Tomat Keluhkan Cuaca Buruk yang Berimbas ke Hasil Panen

Wartain.com, Sukabumi || Melambungnya harga tomat di pasaran kini tengah kita rasakan. Salah satu penyebabnya yaitu cuaca yang tidak menentu membuat tanaman tomat yang sering terkena penyakit, akbitanya hasil panen menurun dan membuat harga tomat di awal tahun 2024 ini terus melambung hingga tembus harga Rp9 ribu per kilo gram dari petani, bahkan mencapai harga Rp 20 ribuper kilo gram di pasaran.

Hal tersebut dirasakan oleh salah seorang petani tomat, Oni (50) warga Kampung Cicadas, Desa Bojongraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.

Kepada wartain.com Oni mengatakan, tanaman tomat yang ditanam di lahan miliknya kerap mengalami kerusakan karena hama.

“Karena cuaca yang tidak menentu, kadang paginya panas tapi siangnya tiba-tiba hujan deras, jadi sering terkena penyakit dan hama” ungkapnya.

Terlepas dari itu semua, Oni terbilang sukses dan berhasil di bidang pertanian. Tak hanya tomat, ia juga menanam mentimun dan cabai di lahan ± 2 Hektar miliknya. Bahkan saat ini ada 12.000 lubang untuk tanaman mentimun dan 600 lubang untuk tomat.

“Malahan saya insya Allah minggu depan akan menambah menanam buncis dan pakcoy, karena lahan dan medianya sudah saya siapkan, jadi minggu depan tinggal siap tanam,” ucapnya.

Tomat yang Oni (50) tanam tengah memasuki masa panen, siap untuk diangkut oleh pengepul untuk di distribusikan ke pasar. Foto: Wartain.com/Ujang Kamaludin.

Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan ditengah cuaca yang sedang tidak menentu, ia melakukan perawatan khusus untuk tanaman miliknya yaitu dengan menyiram obat anti hama selama 10 hari sekali dan melakukan pengecoran pupuk selama 5 hari sekali.

Durasi penanaman tomat hingga masuk usia siap panen itu adalah 3 bulan, karena yang ia jual adalah tomat hijau bukan tomat merah.

“Kalau saya panen tomatnya yang masih hijau, bukan yang merah. Karena kalau tomat merah atau matang itu membutuhkan waktu yang cukup lama takutnya nanti busuk di pohon kalau diliat dari cuaca yang sekarang, dan alhamdulillah terakhir panen itu kita sampai satu ton lebih” ungkapnya kembali.

Lahan milik Oni adalah lahan baru, bekas penanaman tanaman padi atau sawah. Kemudian ia olah kembali agar bisa ditanami tomat, mentimun dan cabai. Pengolahan lahannya ia rombak kembali menggunakan alat berat yang ia sewa sendiri, setelah itu ia bentuk menjadi bedengan.

Ia mengatakan salah satu kendala yang dihadapi selain cuaca adalah sulitnya mendapatkan pupuk. Karena pupuk yang ia gunakan salah satunya adalah pupuk Phonska.

“Susah ya kalau sekarang, meskipun sudah punya kartu tani tapi ketika saya mau beli pupuk selalu susah entah itu kehabisan ataupun sudah dipesan oleh petani yang lain,” keluhnya.***

Foto: Wartain.com/Ujang Kamaludin

Pewarta: Raika P. Damara/Ruswandi

Editor: Raka A. Firmansyah

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.