Oleh : Dr. Ade Nurpriatna S.Ag.,M.Ud/ Rektor Institut Kharisma Nusantara
Wartain.com – Tidur adalah sebuah kebutuhan manusia yang sangat alami, sekuat apapun tubuh manusia, tetap dia membutuhkan waktu untuk istirahat. Kalau tradisi ini di bolak-balik, malam dijadikan siang, siang dijadikan malam, maka akan ada pengaruh pada kesehatan.
Dalam konteks ajaran kita (Islam), Rasul sudah mengajarkan kita tentang pola tidur sehat, pertama berbaring di atas rusuk sebelah kanan sebagai diriwayatkan oleh hadits (Al Bukhori Muslim) dari Al Bara bin Azib, kedua meletakkan telapak tangan kanan di bawah pipi kanan sebagai fungsi mensejajarkan tulang leher kepala dan punggung, ketiga menghadap kiblat hal ini dilakukan supaya memudahkan kita bangun di sepertiga malam sebagai mana keterangan Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaad al Maad.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh scince ternyata tidur ala Rosul ini seperti ini melahirkan manfaat kesehatan yang luar biasa:
Manfaat Kesehatan dari Sisi Medis
Posisi tidur yang diajarkan Rasulullah SAW ini sejalan dengan berbagai temuan ilmu kedokteran modern, antara lain:
Meringankan Kerja Jantung: Posisi lambung dan organ di sebelah kiri tidak menimpa atau menekan jantung, sehingga aliran darah dan fungsi kardiovaskular menjadi lebih ringan dan lancar.
Melancarkan Pencernaan: Membantu proses pengosongan lambung dan empedu lebih optimal serta mencegah asam lambung naik kembali ke kerongkongan.
Menyehatkan Paru-paru: Paru-paru sebelah kiri berukuran lebih kecil dan tidak tertekan oleh jantung saat miring ke kanan, sehingga pernapasan lebih lega dan mengurangi risiko mendengkur (sleep apnea).
Tidur miring ke kanan membuat seseorang tidak terlalu nyenyak sehingga lebih mudah bangun untuk melaksanakan shalat malam (tahajud).
Amalan Sebelum Tidur: Diawali dengan berwudhu, membaca doa atau dzikir sebelum tidur (seperti Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau doa Allahumma aslamtu nafsi ilaik).
Menelusuri Keterkaitan Antara Tidur ala Sang Buddha dan Tuntunan Rasulullah
​Fenomena tidur ala Sang Buddha ternyata memiliki sejumlah kemiripan dengan posisi tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Setelah ditelusuri, manfaat kesehatan dari gaya tidur tersebut ternyata sangat banyak.
​Topik ini sempat menjadi bahan perdebatan yang menarik ketika penulis menjalani perkuliahan jenjang S-2 bersama Prof. Dr. H. Dadang Kahmad. Dalam diskusi tersebut, muncul pertanyaan mendasar: “Apakah ada kesamaan antara ajaran Buddha dan ajaran Islam?” Dari pembahasan itu, ditemukan bahwa memang ada banyak titik kesamaan.
​Bahkan, sempat timbul pemikiran kritis mengenai apakah Buddha merupakan bagian kecil dari Islam, mengingat Sang Buddha secara historis tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan.
​Kendati perdebatan tersebut sempat mengarah pada pertanyaan-pertanyaan besar yang pelik, pada akhirnya terjawab sebuah kesimpulan jelas: Islam bukanlah Buddha, dan Buddha bukanlah Islam. Perbedaan esensial antarkedua keyakinan ini pada akhirnya turut tercatat dalam sejarah dinamika hubungan serta konflik masa lampau di India antara umat Islam dan Buddha.***
Editor: Aab Abdul Malik
(DH)
