26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 15, 2026
Beranda blog Halaman 563

Tembus Sampai 50 Triliun, Anggaran Program MBG di Jabar Melebihi APBD

0
Oplus_131072

Wartain.com || Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan anggaran untuk program makan bergizi gratis (MBG) di Jawa Barat bisa mencapai Rp 50 triliun. Hal ini seiring dengan adanya target di Jawa Barat harus mempunyai 4.500 lebih Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan Jawa Barat termasuk wilayah dengan jumlah penduduk paling besar. Untuk itu, pihaknya menargetkan 4.500 lebih SPPG yang berdiri di Jawa Barat.

“Uang Badan Gizi kalau sudah running 100% itu akan masuk di Jawa Barat kurang lebih Rp 50 triliun. Sementara APBD Jawa Barat hanya Rp 31 triliun. Jadi uang Badan Gizi yang masuk di Jawa Barat itu jauh lebih besar dibandingkan APBD-nya,” kata Dadan dalam BGN Talks Episode 1, dikutip dari akun Youtube BGN, Minggu (1/6/2025).

Dadan menjelaskan masing-masing SPPG akan menerima Rp 8 miliar hingga Rp 10 miliar per tahunnya. Sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk membeli bahan baku dari produsen setempat.

Menurut Dadan, hal tersebut menciptakan pergerakan ekonomi di daerah karena membuka lapangan kerja dan wirausahawan baru. Sebab, setiap SPPG berdiri akan membutuhkan setidaknya 50 orang untuk bekerja serta membutuhkan minimal 15 pemasok baru. Apabila program tersebut sudah merata di setiap wilayah, Dadan menilai dapat menciptakan pergerakan ekonomi yang masif.

“Di NTT kan APBD-nya hanya Rp 3 triliun ya, provinsi itu. Nah, Badan Gizi akan mengirimkan uang ke NTT Rp 8 triliun. Jadi 2 kali lipat lebih dari APBD-nya. Sehingga uang ini bisa digunakan untuk menggerakkan ekonomi daerah. Demikian juga ke Lampung. Di Lampung itu akan masuk kurang lebih Rp 10 triliun. Gubernur Lampung sudah wanti-wanti, jangan sampai uang Rp 10 triliun itu digunakan untuk beli bahan baku dari luar Lampung. Jadi itulah nanti potensi ekonomi yang akan terlihat dari program Makan Bergizi,” tambah Dadan.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Satu Lagi, PMI Kembali Meninggal  Diperantauan

0

Wartain.com || Berita duka datang dari Malaysia. Pekerja Migran Indonesia Sugiono meninggal pada 28 Mei 2025 di Malaysia karena penyakit komplikasi.

Almarhum Sugiono berasal dari Desa Lemahjaya, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Jenazah Almarhum kemudian tiba di Tanah Air dari Malaysia pada Jumat (30/5/2025), diterima oleh Balai Pelayanan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Jenazah Sugiono diterima oleh istrinya, Sumiyati, disaksikan bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja PMPTSP Banjarnegara dan Kepala Desa Lemahjaya Banjarnegara.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Karding selalu mengingatkan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) untuk bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi dan prosedural.

Karding juga mengimbau “CPMI harus mencari tahu lowongan pekerjaan di luar negeri melalui kantor-kantor pelayanan pekerja migran Indonesia di kabupaten atau kantor-kantor BP3MI di tingkat wilayah, atau langsung telepon ke kantor pusat atau ke Dinas Tenaga Kerja yang ada maupun siskop2mi.bp2mi.go.id,” ujarnya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

DPRD Kabupaten Sukabumi Sampaikan Ucapan Peringatan Hari Lahir Pancasila Lewat Pesan Virtual

0
Oplus_131072

Wartain.com || Dengan mengusung tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila,” Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sukabumi menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui pesan virtual bertema kebangsaan.

Peringatan tersebut jatuh pada 1 Juni 2025, ini menjadi momentum penting bagi DPRD Kabupaten Sukabumi untuk menegaskan komitmennya, dalam menjaga serta mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam tampilan ucapan tersebut, hadir para pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi:

Budi Azhar Mutawali (Ketua DPRD)
Yudha Sukmagara (Wakil Ketua I)
H. Usep (Wakil Ketua II)
Ramzi Akbar Yusuf (Wakil Ketua III)

Ucapan tersebut juga menampilkan seluruh anggota DPRD Kabupaten Sukabumi sebagai simbol kebersamaan dan semangat kolektif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Dalam memperingati hal tersebut DPRD Kabupaten Sukabumi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Tema Peringatan Harlah Pancasila 2025, ” Memperkokoh Ideologi Menuju Indonesia Raya”

0
Oplus_131072

Wartain.com || Hari Lahir (Harlah) Pancasila 2025 akan segera tiba, yaitu pada tanggal 1 Juni. Momen ini akan dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, serta pejabat lainnya termasuk para tokoh dan tamu undangan.

Sebagai catatan, Upacara Bendera Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2025 di tingkat pusat dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 2 Juni 2025, pukul 10.00 WIB di halaman Gedung Pancasila, Jakarta.

Pada Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025 menampilkan Burung Garuda Pancasila sebagai elemen utama, sebuah simbol kenegaraan yang sarat makna filosofis, historis, dan ideologis. Garuda bukan hanya lambang negara, tetapi representasi dari jiwa dan semangat bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, sejalan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Tema resmi tahun ini, “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya” juga tercermin. Garuda digambarkan dengan tegas dan dinamis, merepresentasikan karakter bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, yang mampu menghadapi tantangan global dengan tetap berpijak pada akar budayanya sendiri.

Historis Harlah Pancasila

Dikutip dari laman Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila yang menetapkan tanggal 1 Juni 1945 merupakan Hari Lahir Pancasila, maka setiap tanggal 1 Juni segenap komponen bangsa dan masyarakat Indonesia berkomitmen untuk memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai bagian dari pengarusutamaan Pancasila sebagai panduan dalam seluruh bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan Harlah Pancasila diselenggarakan di tempat yang berbeda-beda.

Tahun lalu, upacara peringatan Harlah Pancasila dilaksanakan di Riau. Sementara pada 2023, upacara tersebut dilaksanakan di Lapangan Monumen Nasional, Medan Merdeka, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

Pada situasi khusus yakni 2020, Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2020 diselenggarakan melalui media elektronik, video conference atau dalam jaringan (on-line) dengan Pidato Kenegaraan oleh Bapak Ir. H. Joko Widodo Presiden RI melalui saluran Kanal Youtube BPIP, Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI).

Upacara Peringatan Harlah Pancasila 2025 Bukan Tanggal 1 Juni

Hal menarik yang bisa dicermati yakni soal upacara peringatan Harlah Pancasila yang bukan tanggal 1 Juni.

Di tahun ini, justru diundur menjadi tanggal 2 Juni 2025. Sebagai catatan, tanggal 1 Juni 2025 jatuh pada hari Minggu.

Sementara jika dilihat tahun-tahun sebelumnya, upacara peringatan Harlah Pancasila jatuh pada 1 Juni, baik tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, maupun 2024.

Dalam SE Nomor 5 Tahun 2025 disebutkan Harlah Pancasila dilakukan perubahan waktu.

“Menindaklanjuti hasil koordinasi antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dengan Kementerian Sekretariat Negara dan untuk penyempurnaan pelaksanaan Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2025, perlu melakukan perubahan waktu dan pakaian tamu undangan dalam pelaksanaan upacara bendera serta penambahan penjelasan tema Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2025,” dalam BPIP (SE Nomor 5 Tahun 2025).***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Gelar Diskusi Bersama Kelompok Tani Harapan Mekar Kertamukti

0

Wartain.com || Ratusan hektar sawah di Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, hingga kini belum bisa ditanami akibat persoalan irigasi.

Terkait hal tersebut Yudi Sastro Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, turun langsung ke lapangan dan menggelar diskusi bersama kelompok tani “Harapan Mekar” di Kampung Cilulumpang RT 001/008, Desa Kertamukti, Sabtu, 31/05/2025.

Kegiatan tersebut dihadiri di Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, UPTD, BPP, para penyuluh pertanian Kecamatan Warungkiara, Babinsa, Kepala Desa Kertamukti, BPD, Gapoktan, serta puluhan petani setempat

Para petani menyampaikan keluhan utama terkait rusaknya saluran irigasi sekunder Daerah Irigasi (DI) Warungkiara sepanjang kurang lebih 9 kilometer yang melewati Desa Ubrug, Bojongkerta, dan Kertamukti.

Akibat rusaknya irigasi tersebut sawah sekitar 500 hektare disepanjang 9 km irigasi belum bisa digarap dan ditanami sampai dengan saat ini.

Para petani pun berharap segera diadakannya normalisasi total terhadap saluran irigasi tersebut agar bisa kembali berproduksi.

Yudi Sastro langsung menanggapi perihal permasalahan para petani ia mengatakan bahwa pihaknya tengah menindaklanjuti langsung arahan Presiden untuk memastikan percepatan tanam dan peningkatan produksi.

“Hari ini kita menjalankan amanah dari Pak Presiden. Beliau menekankan agar pola tanam panen terus dilakukan untuk mencapai target produksi beras nasional tahun ini. Target kita adalah swasembada pada 2025, tanpa impor beras dan jagung,” ujar Yudi kepada awak media usai diskusi.

Menurut Yudi, permasalahan utama yang dihadapi petani di Warungkiara adalah kekurangan air akibat irigasi yang bermasalah.

Iapun memastikan, permasalahan tersebut akan segera dibawa ke meja diskusi dengan Kementerian PUPR dan BBWS.

“Insya Allah pada 2 Juni nanti kita akan melakukan desk bersama Kementerian PU dan BBWS. Semua data sudah kita catat—titik kerusakan, cakupan luas area, hingga dampaknya. Ini akan menjadi target dalam program rehabilitasi irigasi nasional,” jelasnya.

Pemerintah pusat menargetkan optimalisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi di seluruh Indonesia seluas 2 juta hektare pada tahun ini.

Lebih lanjut Yudi berharap data dan rekomendasi segera rampung dan instruksi presiden keluar, maka normalisasi irigasi di Warungkiara bisa dimulai dalam waktu dekat.

“Petani itu sebenarnya nggak usah disuruh tanam kalau airnya ada. Mereka pasti tanam. Jadi tugas kita sekarang pastikan air tersedia,” pungkasnya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Milad Paksi Extrass ke-55 : Save Sukabumi Utara

0

Wartain.com || Para aktivis pengiat lingkungan dan sejumlah pejabat menghadiri milad PAKSI EXTRASS ke- 55 tahun, diarea Kosim Pondok Halimun, Desa Perbawati, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (31/05/25).

Pejabat yang hadir diantaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Pratesyo, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Sukabumi, Tri Romadhono, Kepala Bakesbangpol Kota Sukabumi, Yudi Yustiawan, perwakilan Kecamatan Sukabumi, Perwakilan kepolisian, Kepala Desa Perbawati dan lainnya.

Acara diawali dengan
aksi nyata bersih-bersih sampah sepanjang jalan wisata Pondok Halimun (PH), penanaman ratusan pohon keras diarea Kosim Camp Venture Pondok Halimun dan diskusi seputar lingkungan.

Ketua PAKSI EXTRAS Sukabumi Raya, Fajar Febriansyah mengungkapkan, pada milad ke 55 ini mengusung tema “Save Sukabumi Utara”. Dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan meminimalisir terjadinya bencana, khususnya di Wilayah Sukabumi Utara.

“Hal ini dilakukan sebagai upaya membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan mendorong partisipasi aktif dalam menjaga alam,” terangnya.

Menurut Fajar, kerusakan lahan titik terparah di sepanjang Wilayah PTPN Regional 1 dimana yang tadi nya lahan produksi kebun teh, kini menjadi alih fungsi bukan lagi lahan produksi, tentunya permasalahan ini harus menjadi pusat perhatian kita semua.

“Sejatinya dengan adanya aksi penanaman pohon ini mengingatkan kepada siapapun, termasuk masyarakat penggarap lahan di PTPN, agar peduli menjaga dan melestarikan alam, bukan hanya untuk kepentingan sesaat saja. Dengan kondisi dan situasi perubahan alam saat ini juga harus menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Prasetyo, menyampaikan rasa bangga bisa menghadiri milad PAKSI EXTRASS ke- 55 tahun. Menurutnya, usia yang cukup tua sebagai penggiat lingkungan di Sukabumi.

“Saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Paksi. Semoga bisa terus menjaga eksistensi kepedulian terhadap lingkungan,” ucapnya.

Prasetyo menjelaskan, kondisi Sukabumi Utara saat ini berbeda dengan beberapa tahun kebelakang. Maka tema yang diangkat Save Sukabumi Utara, sangat menarik. Ini memiliki makna dan konsekwensi yang harus ditindak lanjuti oleh semua pihak.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), akan terus mengantisipasi kondisi yang berkembang di semua Wilayah Kabupaten, termasuk Wilayah Sukabumi Utara. Kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan harus kita dijaga bersama,” ucapnya.

Prasetyo menambahkan, pihaknya akan membuat kajian dan roadmap. Kemudian dibuatkan regulasi sebagai pegangan bersama dalam menata wilayah Sukabumi Utara dari hulu sampai hilir.

“Harus dibuatkan regulasi sebagai pijakan bersama. Seperti, bagaimana di wilayah ini tidak boleh ada bangunan permanen. Aturan ini penting sebagai upaya menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan,” ungkap Prasetyo.

Dibagian lain ia menegaskan, yang harus dipikirkan bukan hanya limbah saja, tetapi juga air yang penting untuk kehidupan. Kita harus memperhitungkan, bagaimana ketersediaan air itu tetap terjaga, ditopang pula dengan resapan air yang baik. “Begitupun disaat air melimpah (berlebihan) tidak menimbulkan bencana di hilir, karena penataan lingkungannya yang baik,” katanya.

Kepala DLH juga menambahkan, dalam pembangunan berwawasan lingkungan tidak hanya memikirkan keuntungan secara ekonomi, tetapi perlu dipikirkan faktor ekologinya yang berkesinambungan. Karena harus ada keseimbangan atau interaksi yang baik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. “Disini ada kesmen area yang harus dijaga dan ditata dengan baik,” tambahnya.

Di wilayah PTPN Regional I, menurut Prasetyo, terdapat lahan seluas 350 hektare yang perlu penanganan. Ini akan dihijaukan kembali atau di konservasi.

“Untuk terlaksananya gerakan tersebut kita akan coba melibatkan perusahaan yang tergabung dalam Forum CSR dengan tema Kebencanaan dan Lingkungan, bagai mana program penghijauan bisa terlaksana dengan baik,” pungkasnya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Bocah 12 Tahun Tewas Terseret Ombak di Palabuhanratu

0

Wartain.com || Upaya keras dan sinergi berbagai unsur penyelamat akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR gabungan berhasil menemukan jasad RA (12), seorang anak asal Palabuhanratu yang dilaporkan hilang akibat terseret ombak di Pantai Rawakalong, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

RA dilaporkan tenggelam pada Jumat, 30 Mei 2025 sekitar pukul 15.10 WIB, saat tengah bermain air di bibir pantai bersama teman-temannya. Cuaca cerah tidak menyurutkan keganasan ombak yang tiba-tiba datang menggulung korban.

Setelah pencarian intensif selama hampir dua hari, jenazah RA akhirnya ditemukan pada Sabtu pagi, 31 Mei 2025, sekitar pukul 08.00 WIB dalam kondisi tidak bernyawa.

“Korban ditemukan dalam posisi telungkup sekitar 50 meter dari lokasi kejadian,” ungkap Suryo Ardianto, Koordinator Pos SAR Sukabumi. “Setelah berhasil dievakuasi, jasadnya langsung diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka.”

Pencarian korban melibatkan lebih dari 10 unsur instansi dan komunitas. Tim SAR melakukan penyisiran melalui jalur laut menggunakan perahu karet hingga sejauh dua nautical mile (NM), serta menyisir darat sejauh dua kilometer. Selain itu, teknologi drone juga dikerahkan untuk menjangkau area pantai dengan radius 300 meter dari titik kejadian.

Kolaborasi ini melibatkan Pos SAR Sukabumi, Polair, TNI AL, Koramil, Polsek Palabuhanratu, dan berbagai elemen masyarakat seperti Destana, relawan, dan organisasi kemanusiaan lokal. Kehadiran mereka menunjukkan solidaritas yang kuat dalam misi penyelamatan.

“Dalam situasi seperti ini, kecepatan dan koordinasi adalah kunci. Kami berterima kasih kepada seluruh elemen yang ikut membantu, termasuk masyarakat yang turut serta memberikan informasi dan dukungan,” lanjut Suryo.

Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan pantai, terlebih pada musim ombak tinggi. Tim SAR juga mengimbau kepada orang tua untuk terus mengawasi anak-anaknya saat bermain di area pantai.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Penemuan Mayat Pasutri Hebohkan Warga Desa Sukamulya – Cikembar

0

Wartain.com || Pasangan Suami Istri (Pasutri) ditemukan meninggal dirumahnya, tepatnya di Kampung Sukabakti, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (31/5/2025).

Dari informasi yang didapatkan Pasutri tersebut bernama Ata (77) dan Emis (75) ditemukan meninggal sekitar pukul 11.40 WIB oleh Juju.

Andi Kasi Trantib Kecamatan Cikembar menuturkan kejadian itu bermula ketika Juju mau meminta air bersih dari sumur pasutri tersebut.

“Jadi, Ibu Juju itu memang sudah biasa meminta air bersih dari sumur milik korban (Ata). Namun, pada saat itu ia dikejutkan dengan menemukan Pak Ata dan Emis tertidur dan ketika mencoba dipanggil tidak ada yang bangun,” ujarnya.

Lebih lanjut Andi menjelaskan Juju langsung melapor kepada RT setempat untuk melihat kondisi mereka untuk kemudian dilaporkan ke pemdes Sukamulya agar dibantu oleh medis terdekat.

“Informasi dari pihak keluarga dan tetangga mereka sudah sakit dan hasil pemeriksaan Dokter dan Tim Medis dari Puskesmas Cikembar menyatakan tidak ada tanda tanda kekerasan ataupun racun,” tambahnya.

Dari info tersebut Andi langsung berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cikembar. “Kami langsung berkoordinasi dengan pihak terkait baik itu pemerintahan maupun tim medis,” pungkas Andi.

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Pemkot Sukabumi Siap Terapkan Jam Malam bagi Pelajar, Pelanggar Terancam Dikirim ke Barak Militer

0

Wartain.com || Pemerintah Kota Sukabumi menyatakan kesiapannya dalam menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang menetapkan pemberlakuan jam malam bagi pelajar mulai Minggu, 1 Juni 2025. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk menjaga ketertiban dan keamanan peserta didik di luar jam belajar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Sukabumi, Punjul Saepul Hayat, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi lintas sektoral, termasuk dengan aparat kepolisian, TNI, serta institusi pendidikan, guna memastikan implementasi aturan berjalan efektif.

“Koordinasi telah dilakukan tidak hanya dengan Polres Sukabumi Kota dan Kodim 0607, tapi juga melibatkan Batalyon 310 dan Armed Cikembang. Ini menunjukkan keseriusan kami dalam mendukung kebijakan Gubernur,” ungkap Punjul, Sabtu (31/5/2025).

Menurutnya, jam malam akan diberlakukan mulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB, khusus bagi pelajar. Tujuan utamanya adalah mencegah keterlibatan siswa dalam aksi kenakalan remaja dan kekerasan yang belakangan marak terjadi.

Meskipun surat edaran belum sepenuhnya berlaku, namun sosialisasi telah dilakukan ke seluruh satuan pendidikan di Kota Sukabumi. Punjul menambahkan, pelajar yang masih berkeliaran di luar jam malam tanpa pendampingan orang tua atau alasan yang jelas, berpotensi mendapat sanksi tegas.

“Kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa keamanan anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Jika ada pelajar yang membandel, tak menutup kemungkinan akan dibina di barak militer sebagai bentuk edukasi kedisiplinan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Disdikbud Kota Sukabumi juga akan menggelar rapat koordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan dalam waktu dekat untuk menyusun langkah teknis pelaksanaan aturan ini.

“Jika anak berada di luar rumah pada malam hari, harus jelas tujuannya, didampingi orang tua, atau memiliki surat tugas dari sekolah jika mengikuti kegiatan resmi,” ujarnya.

Punjul menyebutkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arahan Kementerian Pendidikan, khususnya dalam membentuk karakter pelajar Indonesia yang sehat, disiplin, dan bertanggung jawab—salah satunya dengan membiasakan tidur lebih awal dan bangun pagi.

“Diharapkan anak-anak usia sekolah yang tidak memiliki kegiatan penting, bisa segera pulang dan beristirahat di rumah. Ini demi kebaikan mereka juga,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

BRIN dan Museum Prabu Siliwangi Usulkan Dua Gunung di Sukabumi Jadi Cagar Budaya dan Eco-Museum

0

Wartain.com || Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim dari Museum Prabu Siliwangi melakukan peninjauan ke sejumlah situs bersejarah di Sukabumi, yakni Gunung Karang di Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, serta Gunung Tangkil di kawasan Cagar Alam Sukawayana, Desa Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Penelitian dilakukan pada 27–30 Mei 2025.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mencocokkan benda-benda purbakala yang telah menjadi koleksi Museum Prabu Siliwangi dengan lokasi asli penemuannya. Pendiri museum, KH Fajar Laksana, menyatakan bahwa survei lapangan memperkuat dugaan bahwa sejumlah artefak seperti arca batu dan fosil memang berasal dari dua gunung tersebut.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan yang ditemukan di Gunung Karang identik dengan yang ada di museum. Ini memperkuat keterkaitan antara koleksi kami dan situs aslinya,” jelas KH Fajar, Sabtu (31/5/2025).

Di Gunung Tangkil, tim menemukan indikasi kuat adanya aktivitas manusia masa lalu, termasuk peninggalan budaya megalitikum. Struktur punden berundak dan dua batu dakon yang ditemukan di lokasi memperkuat dugaan tersebut. Batu dakon, menurut peneliti BRIN Dwiyani Yuniawati Umar, kemungkinan digunakan dalam ritual keagamaan atau sebagai alat hitung astronomi oleh masyarakat masa lampau.

“Biasanya batu dakon digunakan untuk menentukan musim tanam dan panen, atau dalam ritual saat ada kematian,” jelas Dwiyani.

Peninjauan juga dilakukan ke Desa Tugu, Kecamatan Cisolok, yang diketahui pernah menjadi kawasan budaya megalitik. Sayangnya, banyak batu menhir yang ditemukan sebelumnya kini tertimbun akibat pembangunan permukiman.

Ahli sejarah Hindu-Buddha dari BRIN, Yusmaini Eriawati, menambahkan bahwa beberapa arca di Gunung Tangkil menunjukkan gaya khas masa Hindu-Buddha, meski dalam bentuk yang belum selesai dikerjakan (unfinished). Ia juga mengungkapkan bahwa situs tersebut menunjukkan jejak penggunaan berkelanjutan, mulai dari masa megalitikum, Hindu-Buddha, hingga masuknya Islam.

“Ini menunjukkan keberlangsungan pemanfaatan situs oleh berbagai generasi. Beberapa menhir yang diduga sebagai makam juga ditemukan,” ujar Yusmaini.

Benda-benda purba dari Gunung Tangkil saat ini menjadi bagian dari koleksi Museum Prabu Siliwangi di Kelurahan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi. Sementara itu, temuan di Gunung Karang berupa batu-batu yang menyerupai bentuk hewan menurut ahli prasejarah BRIN, Jatmiko, merupakan formasi alami, bukan buatan manusia.

“Batu-batu tersebut terbentuk secara geologis dan sangat tua, kemungkinan berasal dari masa pengangkatan geologi ketika wilayah ini masih berupa dasar laut,” katanya.

Ahli lingkungan prasejarah, Zubair Mas’ud, menambahkan bahwa jenis batuan di Gunung Karang adalah batuan gamping. Meski tidak ditemukan artefak buatan, lokasi tersebut diyakini pernah digunakan untuk praktik spiritual seperti bertapa.

“Di puncak gunung, kami temukan susunan batu seperti nisan, yang menunjukkan adanya kegiatan religi pada masa lalu,” jelasnya. Ia pun merekomendasikan agar kawasan ini dijadikan eco-museum agar pengunjung museum bisa menyaksikan langsung kondisi lingkungan tempat artefak ditemukan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, Punjul Saepul Hayat, menyambut baik rekomendasi tersebut. Namun, ia mengakui bahwa tantangan terbesar adalah kepemilikan lahan di Gunung Karang yang saat ini dikuasai pihak swasta.

“Mudah-mudahan rekomendasi dari BRIN dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menjadikan lokasi ini sebagai eco-museum. Kita juga perlu berdialog dengan pihak pemilik lahan agar kawasan ini bisa dijaga dan dikembangkan sebagai warisan budaya,” jelas Punjul.

Rencana pengembangan situs ini diharapkan bisa menjadi langkah konkret untuk pelestarian sejarah sekaligus pengembangan pariwisata berbasis edukasi dan budaya di Sukabumi.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik