26.7 C
Jakarta
Senin, Juni 29, 2026
Beranda blog Halaman 64

Hari Raya Qurban dalam Tauhid Kenabian Ma’rifatullah: dari Penyembelihan Hewan Menuju Penyembelihan Ego Manusia

0

Oleh:  Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

Wartain.com – Hari raya qurban selama ini sering dipahami sebatas ritual penyembelihan hewan: kambing, sapi, atau unta. Padahal di dalam Al-Qur’an, Allah tidak berhenti pada bentuk lahiriah qurban, tetapi membawa manusia menuju makna terdalam tentang penyerahan diri, pemurnian jiwa, dan penghancuran “aku” yang menutupi cahaya Tuhan dalam diri manusia.

Dalam perspektif tauhid kenabian Ma’rifatullah, qurban bukan sekadar peristiwa sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tetapi sebuah perjalanan ruhani manusia menuju Allah. Ia adalah perjalanan memotong segala sesuatu yang menghalangi manusia dari Tuhan: kesombongan, hawa nafsu, ketakutan, cinta dunia, bahkan keakuan spiritual.

Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini adalah pintu besar Ma’rifatullah. Sebab Allah sejak awal menegaskan bahwa yang diterima bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan kemeriahan ritualnya, tetapi keadaan batin manusia. Maka hakikat qurban bukan pertama-tama tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang diri manusia yang dipersembahkan kepada Allah.

Dalam tauhid kenabian, para nabi datang bukan hanya membawa hukum ritual, tetapi membimbing manusia agar kembali mengenal Allah secara hidup dan sadar. Karena itu, qurban Nabi Ibrahim bukan sekadar kisah ayah yang hendak menyembelih anaknya, tetapi simbol penghancuran keterikatan terdalam manusia kepada selain Allah.

Nabi Ibrahim adalah simbol tauhid murni. Beliau menghancurkan berhala bukan hanya di luar dirinya, tetapi juga berhala dalam hati. Dan berhala terbesar manusia bukan batu, melainkan “aku”.

Ketika Allah memerintahkan Ibrahim mengorbankan Ismail, sesungguhnya Allah sedang menguji: apakah cinta Ibrahim kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada apa pun yang paling ia cintai?

Maka Ismail dalam makna ruhani bukan sekadar seorang anak, tetapi lambang dari sesuatu yang paling dicintai manusia di dunia. Bisa berupa anak, jabatan, harta, kehormatan, pengaruh, bahkan pemikiran dan ego dirinya sendiri.

Karena itu, perjalanan Ibrahim adalah perjalanan memotong keterikatan jiwa agar manusia kembali utuh kepada Allah.

Dan Ismail bukanlah korban kebencian, melainkan korban cinta tauhid.
Lihatlah jawaban Ismail:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Di sini tampak bahwa qurban sejati bukan pemaksaan, tetapi kepasrahan total kepada kehendak Allah. Ibrahim menyerahkan cinta. Ismail menyerahkan diri. Dan keduanya dipertemukan dalam tauhid.

Dalam Ma’rifatullah, “hari raya” bukan sekadar tanggal pada kalender, melainkan keadaan batin ketika cahaya Allah mulai menang atas kegelapan ego manusia.

“Hari” dalam diri manusia adalah saat kesadaran ruhani terbit.
Sebagaimana malam adalah kegelapan jiwa yang tertutup dunia, maka hari adalah bangkitnya nur Ilahi dalam hati manusia.

Karena itu, Idul Adha sejatinya adalah hari kemenangan ruh atas nafsu. Hari ketika manusia mulai menyembelih sifat hewani dalam dirinya: rakus, sombong, iri, tamak, dendam, dan cinta dunia berlebihan.

Sebab banyak manusia menyembelih hewan, tetapi tidak pernah menyembelih egonya.
Banyak yang mengalirkan darah qurban, tetapi masih memelihara kesombongan.
Banyak yang bertakbir, tetapi dirinya masih menjadi tuhan kecil dalam hidupnya.

Padahal inti tauhid adalah gugurnya “aku” di hadapan Allah.
Nabi Ibrahim tidak hanya mengajarkan penyembelihan, tetapi penyerahan total.

Karena itu, qurban yang diterima Allah adalah qurban batin yang melahirkan ketakwaan hidup.

Allah menerima qurban Habil karena kejernihan ruhnya, bukan karena bentuk persembahannya.
Qurban yang diterima Allah adalah ketika manusia:
mengorbankan kesombongannya demi kerendahan hati,
mengorbankan kebenciannya demi kasih sayang,
mengorbankan kerakusannya demi keadilan,
mengorbankan cintanya kepada dunia demi cinta kepada Allah,
dan mengorbankan egonya agar cahaya Tuhan hidup dalam dirinya.
Inilah yang sulit dilakukan manusia modern.

Hari ini umat Islam sering berhenti pada simbol, tetapi kehilangan ruh. Ritual ada, tetapi transformasi jiwa tidak terjadi. Takbir menggema, namun permusuhan tetap menyala. Masjid penuh, tetapi hati kosong dari kasih Allah.

Karena itu, umat saat ini bukan hanya membutuhkan penyembelihan hewan, tetapi penyembelihan nafsu kolektif.
Qurban hari ini harus melahirkan manusia yang:
jujur dalam mencari nafkah,
adil dalam kekuasaan,
lembut kepada sesama,
peduli kepada fakir miskin,
dan hidup dalam kesadaran bahwa seluruh hidup adalah milik Allah.
Sebab hakikat Islam bukan sekadar ibadah formal, tetapi penyerahan diri total kepada Tuhan Yang Maha Hidup.

Dalam tauhid kenabian Ma’rifatullah, para nabi datang untuk membangunkan manusia dari penyembahan terhadap dunia menuju penyaksian kepada Allah.
Dan Idul Adha adalah panggilan abadi itu.

Panggilan agar manusia kembali menjadi Ibrahim: menghancurkan berhala dirinya.
Kembali menjadi Ismail: rela menyerahkan diri kepada Allah.
Dan kembali menjadi hamba: yang hidup bukan demi ego, tetapi demi Tuhan.

Karena pada akhirnya, qurban terbesar bukanlah kambing atau sapi yang disembelih, melainkan ketika manusia mampu menyembelih “aku”-nya di hadapan Allah.

Di situlah lahir tauhid sejati.
Dan di situlah Ma’rifatullah mulai menyala dalam diri manusia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Sekda Ade Suryaman Pimpin Pembentukan Pokja BSAN, Wujudkan Sekolah Aman dan Bebas Kekerasan

0

Wartain.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan melalui pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) periode 2026-2030. Pembentukan Pokja tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, H. Ade Suryaman, di Pendopo Sukabumi, Jumat (29/05/2026).

Pembentukan Pokja BSAN merupakan tindak lanjut dari amanat Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya sekolah yang aman dan kondusif.

Dalam arahannya, Sekda H. Ade Suryaman menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sukabumi ingin bergerak cepat agar seluruh sekolah mampu memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi peserta didik.

“Batas waktu pembentukan Pokja ini memang sampai 9 Juli 2026. Namun Kabupaten Sukabumi memilih bergerak lebih awal agar seluruh sekolah benar-benar mampu memenuhi kebutuhan spiritual, memberikan perlindungan fisik, serta menjamin kesejahteraan psikologis peserta didik,” ungkapnya.

Menurut Sekda, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Karena itu, dibutuhkan sinergi seluruh pihak untuk mencegah terjadinya perundungan, kekerasan, maupun intoleransi di lingkungan pendidikan.

Pokja BSAN Kabupaten Sukabumi dibentuk dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, Kepolisian, Kementerian Agama, tokoh masyarakat, perwakilan orang tua, hingga media massa.

H. Ade Suryaman sendiri dipercaya sebagai Ketua Pokja, didampingi Kepala Bapperida sebagai Wakil Ketua dan Kepala Dinas Pendidikan sebagai Koordinator.

Sekda berharap keberadaan Pokja BSAN mampu memperkuat sistem pencegahan dan penanganan berbagai persoalan di lingkungan sekolah sehingga tercipta iklim pendidikan yang positif dan berkualitas.

“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, kita ingin menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan membahagiakan bagi seluruh anak-anak di Kabupaten Sukabumi,” tandasnya.

Melalui langkah strategis tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi optimistis dapat mendukung terwujudnya visi daerah yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah dimulai dari lingkungan pendidikan yang sehat dan bebas kekerasan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Tebar Kurban, Kades Iing Sembelih 4 Sapi dan 1 Kambing untuk 1.542 Rumah

0
Oplus_131072

Wartain.com – Kepala Desa Pawenang, Hilman Nulhakim atau yang akrab disapa Aa Iing, kembali menunjukkan kepedulian sosialnya pada Idul Adha 1447 H, dengan menyembelih 4 ekor sapi dan 1 ekor kambing, bertempat di rumah kediamannya, Jumat 29/05/2026. Hewan kurban tersebut dibagikan kepada seluruh warga desa yang tersebar di 1.542 rumah tinggal dari 3 kedusunan.

Pemotongan hewan kurban dilakukan di halaman rumah tinggal kepala desa, dan berlangsung secara gotong royong bersama perangkat desa serta warga. Daging kurban kemudian dikemas dan didistribusikan langsung ke setiap rumah agar merata.

Aa Iing menyebut, kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama, terutama bagi warga yang belum berkesempatan berkurban. Menurutnya, Idul Adha menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan di tingkat desa.

“Ini bentuk kepedulian sosial terhadap sesama. Kami niat ikhlas untuk berbagi terhadap sesama,” ujarnya saat ditemui di lokasi penyembelihan.

Menariknya, seluruh anggaran untuk pembelian hewan kurban berasal dari uang pribadi Kades Iing. Ia sengaja menggunakan dana pribadi agar tidak membebani anggaran desa dan bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tebar Kurban, Kades Iing Sembelih 4 Sapi dan 1 Kambing untuk 1.542 Rumah (Foto : Aab)

Langkah ini mendapat apresiasi dari salah satu warga Kedusunan Pasirhuni, Oyok Mubarok atau yang karib disapa Orok. Ia menilai kepedulian kepala desa menjadi contoh nyata kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat. Proses pembagian daging pun berjalan tertib dan lancar.

“Kami bersyukur, tahun ini semua warga kebagian daging kurban. Semoga jadi berkah untuk Pak Kades dan keluarga,” ucap Orok.

“Ini contoh yang patut di apresiasi oleh semua warga desa atas kepeduliannya. Karena semua warga ikut merasakan kebahagiaan,” tambah Orok.

Kades Iing berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan ditingkatkan di tahun-tahun mendatang. Ia menargetkan jumlah hewan kurban bisa lebih banyak agar manfaatnya semakin luas.

“Kami berharap tahun depan bisa lebih dari sekarang. Jumlah hewan yang disembelih juga harus lebih banyak dari sekarang,” harap Aa Iing.

Dengan distribusi yang merata ke 1.542 rumah, suasana Idul Adha di Desa Pawenang tahun ini terasa lebih hangat. Warga berharap semangat berbagi yang ditunjukkan kepala desa bisa menjadi inspirasi bagi pihak lain untuk ikut berbagi di momentum keagamaan mendatang.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Sukabumi Diprakirakan Cerah Berawan 29 Mei, Waspada Hujan Malam Hari

0
Oplus_131072

Wartain.com – Warga Kabupaten Sukabumi dapat bersiap menghadapi cuaca cerah berawan pada Jumat, 29 Mei 2026. Berdasarkan data prakiraan terbaru, kondisi cuaca diprediksi bersahabat di siang hari meski potensi hujan ringan mulai muncul menjelang malam.

Pagi hari dimulai dengan suhu 28°C dan langit sedikit mendung. Angin bertiup dari arah selatan dengan kecepatan 6,5 m/s dan kelembapan mencapai 81%. Kondisi ini membuat suasana pagi terasa sejuk dan cocok untuk beraktivitas di luar ruangan.

Memasuki siang hari, suhu naik ke angka 29°C dengan langit yang cenderung cerah. Angin masih konsisten dari arah selatan berkecepatan 6,6 m/s. Intensitas sinar ultraviolet diperkirakan mencapai level ekstrem, sehingga masyarakat diimbau menggunakan pelindung diri jika beraktivitas di bawah matahari langsung.

“Siang hari cuaca cukup cerah, tapi UV index-nya tinggi. Gunakan topi, kacamata, atau sunscreen kalau harus keluar rumah,” kata petugas prakiraan cuaca dalam laporan harian.

Sore hingga malam, awan mulai menebal dan kondisi berubah menjadi awan rusak. Suhu bertahan di 29°C dengan kelembapan 78%. Peluang hujan mulai meningkat pada periode ini, terutama untuk wilayah dengan topografi lebih tinggi.

Memasuki dini hari, hujan sedang diprakirakan mengguyur sebagian wilayah Sukabumi. Angin bergeser ke tenggara dengan kecepatan 5,3 m/s dan kelembapan naik hingga 80%. Kondisi ini berpotensi menurunkan jarak pandang dan membuat jalanan menjadi licin.

Suhu terendah diprediksi terjadi pada dini hari di angka 20°C, sementara suhu tertinggi menyentuh 29°C pada siang. Matahari akan terbit pukul 05.57 WIB dan terbenam pada 17.42 WIB dengan durasi penyinaran sekitar 11 jam 53 menit.

“Warga yang berencana bepergian malam hari disarankan membawa perlengkapan hujan. Kondisi jalan bisa licin dan jarak pandang berkurang saat hujan turun,” ujar sumber prakiraan cuaca tersebut.

Secara keseluruhan, cuaca Sukabumi pada 29 Mei 2026 tergolong normal untuk akhir Mei. Masyarakat dapat menjalankan aktivitas seperti biasa di siang hari, namun tetap waspada terhadap perubahan cuaca menjelang malam.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Malam Jumat di Sakawayana Sukabumi : Doa untuk Prabowo Menepis Badai Geopolitik

0

Di sudut ruangan bale bale pantai Sakawayana nampak hadir Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, Asep Sugianto tokoh aktivis HMI, HM Fikrie tuan rumah Majelis Sholawat Cahaya Muhamad, Yosep Maulana aktivis mahasiswa/ jurnalis, Siti Ratna Maymunah CEO Wartain.Com, serta M. Rafi Asyam pemilik media Bisnisnews.net dan Aam Abdul Salam Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98.

Wartain.com – Deburan ombak Palabuhanratu lamat-lamat terdengar di sela-sela lantunan sholawat yang mengalun syahdu. Malam Jumat, Kamis, 28 Mei 2026, udara di Majelis Sholawat Cahaya Muhamad “Majelis Pencerahan Nusantara”, Sakawayana, Sukabumi, terasa berbeda. Ada kehangatan spiritual yang berkelindan dengan diskusi bernas khas anak muda.

Di sudut ruangan bale bale pantai Sakawayana, tampak wajah-wajah tak asing bagi dunia gerakan dan media di Sukabumi. Ada Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, Asep Sugianto tokoh aktivis HMI, HM Fikrie selaku tuan rumah Majelis Sholawat Cahaya Muhamad, Yosep Maulana aktivis mahasiswa sekaligus jurnalis, Siti Ratna Maymunah CEO Wartain.com, serta M. Rafi Asyam pemilik media Bisnisnews.net dan Aam Abdul Salam Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98.

Obrolan mengalir rileks, berpindah dari cangkir kopi ke cangkir berikutnya. Namun, esensi yang dibicarakan sangat mendalam: tentang seni bertahan sebuah bangsa, filsafat kekuasaan yang melayani, dan keteguhan hati seorang pemimpin bernama Prabowo Subianto.

Filsafat Nusantara selalu mengajarkan bahwa tanah, air, dan segala isinya adalah amanah suci—sebuah mandat langit yang harus dijaga untuk kemaslahatan rakyat. Langkah berani dan tegas Presiden Prabowo dalam menata ulang tata kelola Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia adalah pengejawantahan dari seni kepemimpinan tersebut. Ia sedang mengembalikan hak milik ibu pertiwi ke pangkuan anak cucunya sendiri.

Namun, dalam hukum alam dan politik global, setiap tindakan revolusioner selalu melahirkan reaksi. Ketegasan Prabowo menyelamatkan SDA kita memicu serangan balik yang masif. Kekuatan asing yang terusik kenyamanannya, berkolaborasi dengan kaki tangan di dalam negeri, mulai memainkan ritme destruktif. Rupiah digoyang, pasar saham dirontokkan dalam semalam melalui perang asimetris.

Secara kalkulasi logika ekonomi murni, situasi ini mencemaskan. Namun, para tokoh muda yang berkumpul di Sakawayana malam ini sepakat: kedaulatan tidak bisa ditukar dengan kestabilan semu yang mendikte harga diri bangsa.

Secara spiritual, setiap ujian yang menimpa pemimpin yang lurus adalah proses pemurnian (riyadhah) bagi sebuah bangsa. Ketika instrumen kapital global mencoba merontokkan sendi ekonomi kita, ada satu variabel yang selalu gagal mereka hitung: kekuatan doa rakyat yang tulus.

Rakyat Indonesia memiliki chemistry spiritual yang kuat dengan para pemimpinnya yang berani. Di saat rupiah diguncang, di situlah gelombang doa dan dukungan moral dari surau-surau, pesantren, dan majelis taklim justru mengalir deras tanpa henti. Energi spiritual inilah yang menjadi benteng tak kasatmata bagi Presiden Prabowo untuk tetap tegak berdiri menghadapi badai geopolitik.

Menutup obrolan santai yang penuh pencerahan di malam Jumat ini, mari kita ketuk pintu langit dengan untaian doa yang tulus untuk sang pemimpin negeri.

Doa Malam Jumat untuk Presiden Prabowo Subianto

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, asshalatu wasshalamu ‘ala asyrafal anbiya’i wal mursalin, sayyidina muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Ya Allah, Ya Malikul Mulk, Penguasa Tertinggi Alam Semesta,

Di malam Jumat yang penuh berkah dan rahmat-Mu ini, dari pesisir Sakawayana kami tengadahkan tangan, memohon perlindungan-Mu untuk pemimpin negeri kami, Presiden Prabowo Subianto.

Ya Aziz, Ya Qawiyyu,

Berikanlah kekuatan fisik, ketajaman berpikir, dan keteguhan iman kepada Presiden Prabowo dalam menjaga setiap jengkal tanah air dan kekayaan alam Indonesia. Kuatkan pundaknya saat memikul amanah berat ini, dan jadikanlah hatinya sekeras karang dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dari rongrongan kekuatan asing maupun pengkhianatan dari dalam negeri.

Ya Rahman, Ya Rahim,

Jadikanlah kebijakan-kebijakan yang beliau ambil menjadi asbab turunnya keberkahan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketika musuh-musuh bangsa mencoba menggoyang ekonomi dan stabilitas negeri ini, runtuhkanlah tipu daya mereka dengan keagungan-Mu. 

Berikanlah ketenangan pada pasar kami, kekuatan pada mata uang kami, dan kesabaran pada hati rakyat kami.

Ya Allah, bimbinglah beliau agar selalu dikelilingi oleh orang-orang yang setia, jujur, dan berintegritas. Jadikanlah setiap keringat dan lelahnya dalam membela kaum lemah sebagai amal jariyah yang mengantarkannya pada rida-Mu.

Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Editor : AS

DPR Ingatkan Kemenkeu Tak Mainkan ‘Langgam Sendiri’ dalam Penanganan Pascabencana Sumatra

0

Wartain.com – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, meminta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk tidak memainkan “langgam” sendiri dalam orkestrasi penanganan pascabencana banjir di Sumatra. Ia menekankan pentingnya keselarasan langkah antara bendahara negara dengan kementerian teknis terkait.

“Menteri Keuangan kepada media menyebut, ada Rp60 triliun anggaran hasil efisien untuk penanganan bencana yang tak terserap. Sementara, permintaan tambahan anggaran Kementrian Kehutanan, Rp8,4 triliun, tak kunjung diberikan hingga Mei 2026 ini,” tegas Alex dalam pernyataan tertulis yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Menurut Alex, berdasarkan hasil pembahasan Komisi IV dengan Kementerian Kehutanan pada Februari 2026, tambahan anggaran sebesar Rp8,4 triliun tersebut salah satunya dialokasikan untuk memulihkan kawasan hijau yang rusak.

“Reforestasi ini akan menyelesaikan persoalan hulu dari bencana banjir. Artinya, kegiatan ini sangat urgen,” terang Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

Alex menambahkan bahwa upaya pemulihan lingkungan ini memerlukan proses yang panjang dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.

“Terlebih, pemulihan hutan yang kini dalam kondisi rusak berat itu, secara teknis bukan persoalan sederhana dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa tampak seperti hutan lagi,” terangnya.

Di sisi lain, Alex meminta kementerian dan lembaga yang terkait dengan penanganan dampak bencana Sumatra makin mengintensifkan komunikasi dan koordinasi dengan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) serta Kementerian Keuangan sebagai bendahara negara.

“Semua kegiatan yang dirancang, harus dipastikan mendapatkan dukungan anggaran. Artinya, pengerjaan kegiatan bisa tuntas dan tak meninggalkan sisa anggaran lagi,” tegas Alex.

Sebagai informasi, DPR saat ini telah menyetujui Rencana Induk (Renduk) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang diajukan oleh Satgas PRR. Dalam rencana induk tersebut, terdapat 11.512 program kegiatan dengan total kebutuhan anggaran mencapai Rp100,1 triliun yang akan dijalankan selama tiga tahun. Rincian alokasi anggaran tersebut adalah tahun 2026 Rp38,9 triliun, tahun 2027 Rp32,9 triliun, tahun 2028 Rp28,2 triliun.

Kendati melayangkan kritik, Alex tetap memberikan apresiasi atas langkah responsif yang ditunjukkan oleh Menteri Keuangan dalam mempercepat proses birokrasi di internal kementeriannya. Alex mengapresiasi keputusan Menteri Keuangan yang memerintahkan para Dirjennya proaktif menuntaskan administrasi perencanaan penanganan bencana, yang diajukan kementerian dan lembaga.

“Sekarang ini, Renduknya tuntas. Alokasi anggarannya juga sudah disepakati DPR. Menteri Keuangannya juga sudah mau proaktif jemput bola,” ungkap Alex.

Kini, seluruh pihak tinggal menunggu eksekusi riil di lapangan agar program pemulihan pascabencana ini berjalan harmonis tanpa kendala sektoral.

“Sekarang, rakyat menyaksikan, apakah semua elemen pemerintahan, ada dalam satu komando, bergerak mengatasi dampak bencana. Sehingga, tak terdengar lagi nada fals dalam orkestrasi penanganan bencana ini,” tukas Alex.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sule)

Forum RT RW Tetap Lanjutkan Aksi P2RW Meski Pemkot Sukabumi Klaim Program Hanya Ditunda

0

Wartain.com – Rencana aksi unjuk rasa Forum RT RW se-Kota Sukabumi terkait penundaan Program Pemberdayaan Rukun Warga (P2RW) dipastikan tetap berjalan pada 2 Juni 2026 mendatang. Sikap tersebut muncul meski Pemerintah Kota Sukabumi telah memberikan penjelasan resmi bahwa program hanya ditunda akibat keterbatasan anggaran daerah.

Perwakilan Forum RT RW se-Kota Sukabumi, Mauly Fahlevi Prawira, menilai penjelasan pemerintah terkait alasan fiskal bukan satu-satunya persoalan yang menjadi perhatian forum.

Menurut pria yang akrab disapa Levi itu, pihaknya justru menemukan adanya berbagai upaya untuk meredam rencana aksi massa yang akan digelar para pengurus RT dan RW.

“Kami melihat ada berbagai upaya untuk menghalangi aksi tanggal 2 Juni nanti,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Levi menyebutkan, salah satu indikasi yang mereka soroti adalah munculnya sejumlah pihak yang dinilai aktif menggiring opini publik untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait penundaan P2RW.

Selain itu, ia juga menuding adanya instruksi kepada aparat kewilayahan agar melakukan pendekatan kepada masyarakat guna mencegah keterlibatan dalam aksi unjuk rasa.

“Kami melihat ada upaya meredam di tingkat wilayah hingga penyebaran narasi tertentu terkait penundaan program,” katanya.

Forum RT RW juga menyoroti adanya penyebaran flyer berisi penjelasan pemerintah mengenai kondisi fiskal daerah yang dilakukan secara masif hingga ke tingkat bawah.

Meski demikian, Levi memastikan forum tetap berkomitmen melaksanakan aksi sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait keberlanjutan program P2RW.

“Insyaallah aksi tetap berjalan sesuai rencana pada 2 Juni nanti,” tegasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Sukabumi melalui Sekretaris Daerah, Andang Tjahjandi, menyampaikan bahwa penundaan P2RW disebabkan tekanan fiskal daerah setelah berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat sekitar Rp158,5 miliar.

Pemkot Sukabumi menegaskan program tersebut tidak dihapus dan berpeluang dilanjutkan kembali melalui APBD Perubahan apabila kondisi keuangan daerah memungkinkan.

Hingga kini, belum terdapat titik temu antara aspirasi Forum RT RW dengan kebijakan pemerintah daerah terkait pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat tersebut.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

TNGGP Ancam Black List Pendaki Nekat Saat Jalur Gunung Gede Pangrango Ditutup

0

Wartain.com – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada pendaki yang nekat masuk saat jalur pendakian ditutup pada 27 hingga 28 Mei 2026.

Penutupan sementara seluruh jalur pendakian dilakukan untuk mendukung kelancaran perayaan Hari Raya Iduladha sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban di kawasan konservasi Gunung Gede Pangrango.

Humas Balai Besar TNGGP, Agus Deni, mengatakan puluhan petugas telah disiagakan di sejumlah pintu masuk pendakian guna mengantisipasi adanya aktivitas pendakian ilegal selama masa penutupan berlangsung.

“Petugas kami siagakan di setiap jalur pendakian. Jika ditemukan ada pendaki ilegal yang tetap memaksa masuk, tentu akan diamankan dan dikenakan sanksi,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Selain pengawasan dari petugas, pihak TNGGP juga melibatkan masyarakat sekitar kawasan untuk membantu pemantauan dan melaporkan apabila ada aktivitas pendakian tanpa izin resmi.

Agus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap oknum yang menawarkan jasa pendakian saat jalur resmi ditutup. Menurutnya, seluruh aktivitas pendakian hanya dapat dilakukan melalui mekanisme resmi menggunakan sistem pendaftaran online TNGGP.

“Pendaki yang baik adalah yang mematuhi aturan dan melakukan registrasi melalui jalur resmi. Jangan tergiur iming-iming bisa masuk saat penutupan,” tegasnya.

Ia menyebutkan, selama ini TNGGP telah menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 100 pendaki yang melanggar aturan kawasan konservasi. Sanksi yang diberikan mulai dari tindakan administrasi hingga daftar hitam atau black list.

Pendaki yang masuk daftar hitam tidak diperbolehkan melakukan pendakian di seluruh kawasan taman nasional di Indonesia dalam jangka waktu dua hingga lima tahun.

Menurut Agus, langkah tegas tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan pendaki sekaligus melindungi kelestarian kawasan konservasi Gunung Gede Pangrango dari aktivitas yang melanggar aturan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Pemkot Sukabumi Pastikan Program P2RW Tetap Dilanjutkan Sesuai Kemampuan Anggaran

0

Wartain.com – Pemerintah Kota Sukabumi menegaskan bahwa Program Pemberdayaan Rukun Warga (P2RW) tetap menjadi bagian dari program pembangunan yang diprioritaskan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat lingkungan.

Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kota Sukabumi, Andang Tjahjandi, menyusul munculnya berbagai dinamika terkait pelaksanaan program P2RW di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami tekanan.

Menurut Andang, program P2RW sebenarnya telah masuk dalam perencanaan RKPD dan APBD Tahun Anggaran 2025 yang disusun pada tahun sebelumnya. Namun dalam pelaksanaannya ditemukan sejumlah ketidaksesuaian administrasi antara usulan kegiatan dengan realisasi di lapangan.

Untuk memperbaiki hal tersebut, Pemerintah Kota Sukabumi telah menyusun Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) P2RW Tahun 2025 sebagai pedoman bersama agar pelaksanaan program berjalan lebih tertib, transparan, dan sesuai aturan.

“Juklak ini menjadi acuan operasional agar pelaksanaan program di lapangan lebih akuntabel dan sesuai regulasi,” ujar Andang, Kamis (28/5/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah daerah berupaya memastikan seluruh kebijakan berjalan sesuai ketentuan hukum sekaligus tetap menjaga efektivitas program berbasis partisipasi masyarakat tersebut.

Andang juga menegaskan bahwa P2RW bukan merupakan program politik maupun program unggulan kepala daerah. Meski demikian, Wali Kota Sukabumi tetap berkomitmen mempertahankan program tersebut karena dinilai efektif dalam mendukung pembangunan lingkungan berbasis gotong royong masyarakat.

Selama ini, P2RW dinilai mampu mendorong keterlibatan warga secara langsung dalam pembangunan di tingkat RW sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat.

Di sisi lain, Pemkot Sukabumi mengakui kondisi fiskal daerah saat ini sedang menghadapi tantangan cukup berat. Penurunan dana transfer dari pemerintah pusat sekitar Rp158,5 miliar berdampak terhadap kapasitas anggaran daerah dalam menyusun RAPBD Tahun 2026.

Akibat kondisi tersebut, pemerintah daerah harus melakukan efisiensi anggaran dan memprioritaskan belanja wajib serta program-program prioritas lainnya. Karena keterbatasan fiskal itu, pelaksanaan P2RW pada Tahun Anggaran 2026 untuk sementara ditunda.

“Program ini tidak dihapus. Jika kondisi keuangan daerah membaik atau ada tambahan dana transfer dari pemerintah pusat, maka P2RW direncanakan bisa dilanjutkan kembali melalui APBD Perubahan Tahun 2026,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah meminta para pengurus RW tetap mengusulkan program melalui Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) beserta dokumen persyaratan lainnya agar seluruh proses penganggaran hibah tetap memenuhi prosedur hukum yang berlaku.

Pemkot Sukabumi juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan pengurus RW yang selama ini terus mendukung pembangunan berbasis partisipasi dan gotong royong di lingkungan masing-masing.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Gen Z Jadi Penyembelih Kurban di Ponpes Sukabumi, Siap Jadi Regenerasi Pemimpin Umat

0

Wartain.com – Suasana Hari Raya Idul Adha di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, menghadirkan pemandangan yang berbeda dari biasanya. Jika proses penyembelihan hewan kurban identik dilakukan oleh kalangan orang tua, di pesantren ini justru para santri muda dari generasi Z mengambil peran utama sebagai penyembelih hewan kurban.

Para santri tidak hanya dilibatkan dalam proses pembagian daging atau persiapan kegiatan, tetapi juga dipercaya langsung menjadi eksekutor penyembelihan sapi dan domba. Langkah tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus regenerasi agar anak muda memiliki kemampuan memimpin kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

Salah seorang santri sekaligus alumni Ponpes Dzikir Al-Fath asal Bogor, Muhammad Fahrudin (27), mengaku pengalaman pertama menyembelih hewan kurban menjadi momen yang paling menegangkan baginya. Meski kini sudah terbiasa, rasa gugup menurutnya tetap muncul setiap kali menjalankan tugas tersebut.

“Pertama kali tentu deg-degan karena belum pernah. Tapi lama-lama terbiasa. Sampai sekarang rasa gugup masih ada, hanya saja sudah lebih bisa dikendalikan,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Dalam proses pelatihan, para santri muda tidak hanya diajarkan teknik penyembelihan yang benar, tetapi juga pemahaman mengenai syariat dan etika dalam memperlakukan hewan kurban.

Menurut Fahrudin, salah satu hal yang paling ditekankan oleh para pembimbing di pondok adalah bagaimana memuliakan hewan dan memastikan proses penyembelihan dilakukan tanpa menyakiti secara berlebihan.

Gen Z Jadi Penyembelih Kurban di Ponpes Sukabumi, Siap Jadi Regenerasi Pemimpin Umat (Foto : Azi)

“Ketika menyembelih, kita diajarkan agar tidak menyakiti hewan. Adab dan etika harus dijaga supaya hewan tidak stres ataupun diperlakukan kasar,” katanya.

Keterlibatan generasi muda dalam proses penyembelihan hewan kurban juga menjadi upaya pondok pesantren untuk membentuk karakter dan mematahkan stigma negatif terhadap Gen Z yang kerap dianggap kurang siap terjun di masyarakat.

Melalui praktik langsung, para santri dibekali ilmu-ilmu fardu kifayah seperti pengurusan jenazah hingga penyembelihan hewan kurban agar nantinya mampu menjadi penggerak kegiatan keagamaan di lingkungan masing-masing.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Kalau generasi muda tidak belajar dari sekarang, lalu siapa yang akan meneruskan peran para ulama dan tokoh masyarakat nanti,” ungkap Fahrudin.

Pada Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini, Ponpes Dzikir Al-Fath menangani total 28 hewan kurban yang terdiri dari 6 ekor sapi dan 22 ekor domba. Banyaknya hewan kurban tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para santri untuk belajar langsung di lapangan.

Fahrudin sendiri mengaku mendapat tugas menyembelih beberapa ekor domba bersama tim penyembelih muda lainnya.

“Alhamdulillah tahun ini di pondok ada 28 hewan kurban. Untuk saya pribadi hari ini mendapat bagian menyembelih empat ekor hewan kurban bersama teman-teman yang lain,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik