Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Katakanlah selalu dalam desah nafasmu—terutama saat dunia mulai sunyi dan kelopak mata hendak terpejam:
“Aku rindu pada-Mu… pada-Mu… pada-Mu, ya Allah.”
Sebab rindu kepada Allah bukanlah kata, ia adalah keadaan jiwa. Ia tidak lahir dari bibir, tetapi dari hati yang lelah oleh dunia, dari ruh yang terlalu lama merantau jauh dari asalnya. Ketika malam menurunkan tirainya dan segala hiruk-pikuk kehilangan makna, di situlah rindu sejati menemukan jalannya.
Nafas yang keluar-masuk bukan sekadar kerja jasad, melainkan tasbih yang sering tak kita sadari. Jika setiap hembus nafas disertai kesadaran akan Dia, maka tidur pun berubah menjadi ibadah, dan diam pun menjadi doa. Betapa banyak manusia memejamkan mata, namun hanya sedikit yang benar-benar “pulang”.
Rindu kepada Allah adalah tanda kehidupan ruh. Sebab ruh berasal dari-Nya dan hanya akan tenang bila kembali menghadap-Nya. Dunia, dengan segala gemerlap dan janjinya, tak pernah mampu menggantikan satu detik kedekatan dengan-Nya. Maka wajar bila hati selalu merasa kurang, selalu terasa hampa, selama Allah belum menjadi tujuan.
Saat engkau hendak tidur, lepaskan semua beban: ambisi, luka, kecewa, bahkan harapanmu sendiri. Biarkan hanya satu yang tersisa—kerinduan. Ucapkan perlahan, tanpa suara jika perlu, biarlah langit yang mendengarnya:
“Ya Allah, aku rindu pada-Mu.”Dalam rindu itu ada pengakuan: bahwa kita lemah.
Dalam rindu itu ada tauhid: bahwa tiada yang layak dicinta melebihi-Nya.
Dalam rindu itu ada doa paling jujur: doa seorang hamba yang ingin dekat tanpa syarat.
Jika engkau mati dalam tidurmu, maka rindu itulah yang terakhir terucap.
Jika engkau terbangun, maka rindu itulah yang pertama menyapamu.
Dan ketahuilah, Allah tidak pernah menolak hati yang datang dengan rindu. Sebab rindu kepada-Nya adalah undangan yang Dia tanamkan sendiri di dalam jiwa hamba-Nya.
Maka katakanlah selalu, dalam desah nafasmu—siang dan malam, sadar atau terlelap:
“Aku rindu pada-Mu… pada-Mu… pada-Mu, ya Allah.”
Karena di sanalah ketenangan bermula,
dan di sanalah segala perjalanan akhirnya berlabuh.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
