Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Perang antara Israel dan Iran kini bukan lagi bayang-bayang, melainkan kenyataan berdarah. Amerika Serikat kembali menunjukkan keberpihakannya yang terang-terangan kepada Israel dengan melancarkan bombardir terhadap wilayah-wilayah strategis Iran. Dunia Islam sekali lagi diguncang oleh kekuatan militer dan narasi-narasi yang menyertainya. Tapi lebih dari itu, umat Islam kini juga menghadapi gelombang lain yang tak kalah berbahaya: fitnah internal, perpecahan mazhab, dan perang wacana yang memecah-belah akidah dan ukhuwah.
Stigma-stigma lama tentang Syiah sebagai mazhab sesat kini dihidupkan kembali, bahkan dibakar lebih besar. Media sosial, ceramah, berita, hingga mimbar-mimbar keagamaan akan kembali ramai dengan provokasi. Tuduhan, kutukan, dan caci maki akan mengisi ruang batin umat, menggantikan zikir dan tafakur. Sekali lagi, umat Islam diadu domba. Syiah diposisikan sebagai musuh, bukan karena akidah semata, tapi karena kepentingan geopolitik global yang butuh alasan untuk menjustifikasi perang dan dominasi.
Dan umat pun banyak yang akan terhasut. Mereka yang tidak memahami sejarah, yang tidak mengenal mazhab-mazhab dalam Islam, yang hanya mengenal Islam dari potongan-potongan dalil dan ceramah satu arah, akan dengan mudah diseret dalam konflik. Umat akan sibuk saling mencurigai, saling menyesatkan, bahkan saling mendoakan kebinasaan. Padahal, musuh yang sejati justru menonton di balik layar: tersenyum melihat Islam saling menumpahkan darah atas nama Tuhan yang sama.
Di tengah kekacauan ini, pertanyaan besar muncul: di manakah posisi orang-orang yang benar-benar bertuhan kepada Allah, bernabi kepada Muhammad ﷺ, dan berpedoman kepada al-Qur’an? Apakah mereka akan diam, atau akan terseret dalam arus kebencian? Apakah mereka akan ikut membakar jembatan ukhuwah, atau justru menjadi penjaga cahaya di tengah gelapnya fitnah?
Orang-orang yang bertuhan kepada Allah sejati tidak akan mudah terjebak dalam narasi sesat yang dibuat oleh musuh Islam. Mereka tahu bahwa mazhab bukan alasan untuk saling membunuh. Mereka tahu bahwa sejarah Islam mencatat perbedaan, tapi bukan untuk dijadikan alat saling mengafirkan. Mereka tahu bahwa darah seorang Muslim, apa pun mazhabnya, tetap suci, dan pembunuhan atas nama mazhab adalah pengkhianatan terhadap ajaran Nabi.
Orang-orang ini—baik di Indonesia, Iran, Irak, Saudi, Mesir, Yaman, Pakistan, atau mana pun di dunia—harus menjadi pelita. Mereka harus tampil ke depan bukan untuk membela satu mazhab, tapi untuk menjaga hati umat agar tidak terpecah. Mereka harus menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan. Mereka harus menghidupkan kembali ruh Islam sebagai agama kasih sayang, bukan kebencian.
Apa yang harus dilakukan?
Pertama, menjaga diri dan umat dari hasutan. Saring informasi, waspadai propaganda, dan jangan mudah percaya pada narasi yang menyulut permusuhan. Jangan jadikan YouTube, status WhatsApp, dan potongan ceramah sebagai dalil utama untuk memvonis sesama Muslim.
Kedua, perbanyak majelis ilmu dan tafakur yang membangun cinta kepada Allah dan Rasulullah, bukan kebencian kepada sesama Muslim. Bangun ruang dialog yang sehat, bukan debat yang membakar.
Ketiga, sadarkan umat bahwa konflik ini bukan hanya soal Iran dan Israel, bukan soal Syiah dan Sunni. Ini tentang kekuatan global yang ingin menghancurkan umat dari dalam. Pecah-belah adalah strategi lama, dan umat harus sadar akan itu.
Keempat, doakan agar Allah menjaga umat Islam dari fitnah besar. Doakan agar pemimpin-pemimpin Islam diberi hidayah untuk tidak menjadi alat kepentingan asing. Dan doakan agar darah-darah yang tertumpah di Palestina, Iran, Yaman, dan seluruh negeri Muslim tidak menjadi sia-sia, tapi menjadi api kesadaran bagi kebangkitan umat.
Di tengah bom dan fitnah, orang-orang yang beriman harus tetap berdiri di atas jalan yang lurus—ṣirāṭ al-mustaqīm—yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ: jalan yang mengedepankan cinta, ilmu, keadilan, dan kasih sayang.
Bukan saatnya lagi umat bertengkar karena nama mazhab. Saat ini, kita harus bertanya lebih dalam: apakah aku membela kebenaran karena Allah, atau karena kebencian yang ditanamkan musuh?
Karena bisa jadi, yang kita lawan sesungguhnya bukanlah Syiah atau Sunni, tapi Allah sendiri—jika kita memerangi saudara kita atas dasar kebodohan dan kebencian.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
