Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Kuliah Ngaji Kitab Fusūs al-Ḥikam.Seri 2 :
” Hakikat Iman dan Tauhid”.
“Dari Iman Iltizām ke Iman ‘Irfān”.
Oleh: Kang Dzikri Nurdiansyah.
Mukadimah Ruhan.
Segala puji bagi Allah yang membuka tabir hati dengan cahaya ma‘rifat, menyingkap rahasia wujud-Nya dalam setiap nafas makhluk, dan menjadikan iman bukan sekadar pengakuan, melainkan penyaksian ruhani (syuhūd).
Dalam kitab Fusūs al-Ḥikam, Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabī tidak membahas iman sebagai doktrin teologis semata, tetapi sebagai kesadaran eksistensial yang menyingkap hakikat Lā ilāha illā Allāh bukan hanya di lisan, tapi di dalam inti wujud manusia.
1. Iman Iltizām dan Iman ‘Irfān.
Dalam istilah para sufi, iman iltizām adalah iman yang berpegang pada syariat secara zahir — mengucap, mengakui, dan membenarkan.
Namun iman ‘irfān adalah iman yang tumbuh dari penyaksian hati terhadap Wujud Allah dalam segala sesuatu.
Ibn ‘Arabī menjelaskan bahwa setiap orang beriman memiliki dua lapisan pengetahuan:
‘Ilm al-yaqīn — keyakinan berdasarkan dalil dan pembuktian.
‘Ayn al-yaqīn — keyakinan karena penyaksian langsung.
Dan puncaknya adalah Ḥaqq al-yaqīn — keyakinan karena menyatu dengan hakikat yang disaksikan.
Sebagaimana firman Allah:
“Kallā law ta‘lamūna ‘ilma al-yaqīn, la-tarawunna al-jaḥīm, thumma la-tarawunnahā ‘ayna al-yaqīn.”
— (QS. al-Takātsur: 5–7)
Iman pada tingkat ‘irfān adalah iman yang merasakan kehadiran Allah dalam setiap tajallī wujud, bukan hanya mengetahui bahwa Allah ada.
2. Tauhid: Dari Konsep ke Kesadaran.
Tauhid dalam pandangan Ibn ‘Arabī bukan sekadar meniadakan tuhan-tuhan palsu, tapi meniadakan pandangan selain Allah dalam seluruh bentuk wujud.
Maka kalimat Lā ilāha illā Allāh tidak berhenti pada negasi konseptual (lā ilāha), tetapi menyingkap afirmasi eksistensial (illā Allāh).
Beliau berkata dalam Fusūs:
“Tidak ada yang menyembah selain Allah, meskipun mereka menyangka menyembah selain-Nya. Karena tiada yang wujud kecuali Dia.”
Maksudnya bukan meniadakan perbedaan antara Haqq dan makhluk, tetapi menyingkap bahwa segala wujud adalah pancaran Wujud Allah (tajallī al-Ḥaqq), dan tiada satu pun yang berdiri sendiri tanpa-Nya.
Tauhid sejati adalah kesadaran bahwa segala yang ada hanyalah cermin, dan yang terpantul di dalamnya hanyalah Wajah Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
“Fa aynamā tuwallū fa tsamma wajhu Allāh.”
— (QS. al-Baqarah: 115)
“Ke mana pun kamu memandang, di sanalah Wajah Allah.”
3. Bahaya Tauhid yang Kaku.
Ibn ‘Arabī mengingatkan bahwa tauhid yang berhenti pada konsep rasional tanpa dzauq ruhani justru melahirkan syirik khafī (kesyirikan tersembunyi).
Karena seseorang masih melihat dua: “Aku” dan “Dia”, “makhluk” dan “Khalik” sebagai dua wujud terpisah.
Padahal tauhid hakiki menyingkap bahwa tiada dua dalam wujud; yang ada hanyalah satu cahaya yang menampakkan diri dalam banyak rupa.
Beliau menulis:
“Setiap yang kamu lihat adalah bayangan dari satu Wujud; maka janganlah engkau terhijab oleh bentuk dan melupakan sumber cahayanya.”
Tauhid kaku melahirkan keangkuhan intelektual, sedangkan tauhid yang hidup dalam ma‘rifat melahirkan tawadhu‘, cinta, dan pengakuan diri sebagai tiada.
4. Maqām Ma‘rifah: Cermin Ciptaan dan Diri.
Ma‘rifat bukan sekadar mengenal Allah melalui dalil, tapi menyaksikan Allah melalui ciptaan-Nya dan melalui dirimu sendiri.
Sebagaimana firman Allah:
“Sanurīhim āyātinā fī al-āfāq wa fī anfusihim ḥattā yatabayyana lahum annahu al-Ḥaqq.”
— (QS. Fuṣṣilat: 53)
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di cakrawala dan dalam diri mereka, hingga jelas bagi mereka bahwa Dialah al-Ḥaqq.”
Bagi Ibn ‘Arabī, alam semesta adalah mushaf terbuka — ayat-ayat yang berbicara tentang Allah. Dan manusia, sebagai Insān Kāmil, adalah tafsir hidup dari mushaf itu.
Maka barang siapa membaca alam dengan hati yang suci, ia membaca nama-nama Allah. Barang siapa mengenal dirinya dengan jujur, ia mengenal Tuhannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa rabbah.”
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
5. Dari Ilmu Menuju Syuhūd.
Ibn ‘Arabī menegaskan bahwa perjalanan iman sejati adalah peralihan dari ‘ilm menuju dzikr, dari dzikr menuju syuhūd.
Ilmu tanpa zikir melahirkan jarak, tapi zikir yang disertai ilmu membuka pintu penyaksian.
Ketika hati menjadi cermin, maka yang tampak di dalamnya bukan lagi “aku”, tetapi Dia yang menampakkan diri melalui aku.
Inilah maqam fanā’ fi al-tawḥīd — lenyap dalam kesadaran keesaan.
Pada titik ini, seorang arif tidak berkata “Aku melihat Allah,” melainkan “Allah melihat melalui aku.”
6. Iman yang Menghidupkan.
Ibn ‘Arabī menggambarkan iman sejati sebagai hidupnya ruh dalam cahaya kesadaran Ilahi.
Ia menulis:
“Hati orang beriman adalah tempat turun pandangan Allah; maka berhati-hatilah agar tidak ada sesuatu di dalam hatimu selain Dia.”
Iman yang hidup bukan sekadar menolak kufur, tetapi menghidupkan hubungan antara hamba dan Tuhan secara terus-menerus.
Setiap napas menjadi dzikir, setiap pandangan menjadi ibadah, setiap gerak menjadi tajallī.
Penutup Seri 2.
Seri ini menegaskan bahwa iman hakiki adalah penyaksian ruhani terhadap Wujud Allah dalam segala hal.
Tauhid sejati bukan menolak keberagaman, tetapi melihat kesatuan di dalam keberagaman.
Ma‘rifat bukan meninggalkan dunia, tetapi melihat dunia sebagai ayat Allah yang hidup.
Maka perjalanan Fusūs al-Ḥikam mengajarkan:
“Tidak ada jalan menuju Allah selain melalui ciptaan-Nya,
dan tidak ada ciptaan yang sejati selain Dia yang menampakkan diri di dalamnya.”
Di sinilah iman menjadi cahaya, tauhid menjadi kesadaran, dan ma‘rifat menjadi kehidupan itu sendiri.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
