Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Dunia Islam hari ini tengah berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi, umat Muslim memiliki kekayaan spiritual, ajaran luhur, dan warisan kenabian yang agung. Namun di sisi lain, umat ini terpecah-pecah oleh perbedaan teologis, mazhab, dan perdebatan identitas antar kelompok seperti Sunni dan Syi’ah.
Akibatnya, musuh-musuh Islam tertawa puas melihat umat Muhammad saling mencurigai, saling melemahkan, bahkan saling menumpahkan darah, padahal mereka membaca Al-Qur’an yang sama dan mengakui Nabi yang sama.
Sudah saatnya umat Islam sadar bahwa yang sedang mereka hadapi bukanlah sekadar perbedaan fiqih atau akidah, melainkan ancaman nyata terhadap martabat, keadilan, dan kemanusiaan. Umat Islam harus segera berhenti menjadi bagian dari proyek kehancuran yang dirancang oleh kekuatan-kekuatan global yang ingin memecah belah.
Umat Islam harus berani mengambil posisi: menjadi pembela cinta Allah dan Rasul-Nya, atau menjadi alat dari musuh yang berwujud kekuasaan zalim, kapitalisme global, kolonialisme gaya baru, dan adu domba berkedok agama.
Perbedaan Bukan Alasan Perpecahan
Umat Islam terdiri dari berbagai madzhab, tradisi teologi, dan ekspresi keberagamaan. Ada Sunni, Syi’ah, Salafi, Asy’ari, Maturidi, bahkan komunitas-komunitas tasawuf yang beraneka ragam. Perbedaan ini adalah bagian dari dinamika pemikiran umat yang tidak terelakkan. Sayangnya, perbedaan ini justru sering dipolitisasi untuk menciptakan konflik dan kebencian.
Padahal, Islam sendiri mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat. Allah berfirman: “Dan seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja). Akan tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap apa yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebajikan…” (QS. Al-Maidah: 48).
Alih-alih memperbesar perbedaan, kita harus menyalakan obor persaudaraan. Cinta kepada Allah dan Rasulullah tidak diukur dari identitas madzhab, tetapi dari sikap hidup yang menjunjung nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan keberpihakan kepada yang tertindas.
Bersatu untuk Menegakkan Keadilan dan Menumpas Kezaliman
Hari ini, umat Islam menyaksikan berbagai bentuk kezaliman yang terjadi di depan mata: penjajahan atas Palestina, perang saudara di Yaman dan Suriah, pembantaian minoritas Muslim di India dan Myanmar, serta penindasan ekonomi di banyak negeri Muslim oleh sistem kapitalis dunia.
Namun alih-alih bersatu melawan kejahatan ini, umat Islam justru sibuk memperdebatkan keabsahan mazhab atau saling menuduh sebagai sesat.
Musuh-musuh Islam—baik dalam bentuk negara adidaya maupun elite global—tidak perlu lagi mengirim tentara untuk menghancurkan umat.
Mereka cukup menyebarkan fitnah, membiayai konflik sektarian, dan membeli suara para tokoh agama yang haus pengaruh. Sisanya akan dikerjakan oleh umat Islam sendiri: saling memusuhi dan melupakan tugas sucinya.
Sudah cukup darah tertumpah. Sudah cukup air mata para janda, yatim, dan kaum dhuafa mengering di medan pertempuran sesama Muslim.
Umat Islam harus segera bangkit dan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah rahmatan lil ‘alamin. Bersatu dalam cinta Allah dan Rasulullah adalah satu-satunya jalan untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan sejati.
Misi Umat Hari Ini : Membangun Kekuatan Cinta dan Ukhuwah
Tugas kita bukan memperbanyak pengikut mazhab, tetapi memperluas dampak kasih sayang. Bukan memperuncing perbedaan, tapi menebarkan kehangatan ukhuwah.
Cinta kepada Allah bukanlah slogan. Ia adalah komitmen konkret untuk memperjuangkan hak-hak manusia, menegakkan kejujuran, dan menolak segala bentuk kejahatan yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Cinta kepada Rasulullah bukan berarti hanya memperingati Maulid, tapi menghidupkan semangat beliau: membela yang tertindas, merangkul yang tertolak, dan menyatukan hati umat.
Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Manusia ada dua: saudaramu dalam iman, atau sesamamu dalam kemanusiaan.” Maka umat Islam hari ini harus menjadi pionir cinta, pelopor keadilan, dan penjaga kesejahteraan.
Buatlah musuh Islam menangis putus asa karena mereka gagal memecah belah kita. Buatlah mereka gemetar karena melihat umat Islam berdiri kokoh dalam persatuan, walau berbeda cara berdoa.
Penutup : Umat Islam Harus Menjadi Satu Tubuh
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan saling mengasihi, ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kini saatnya umat Islam kembali menjadi satu tubuh. Kita tidak boleh lagi menjadi tangan yang menampar saudara kita sendiri. Kita harus menjadi tangan yang mengusap air mata umat, kaki yang berjalan ke rumah dhuafa, dan suara yang menjerit melawan ketidakadilan.
Cinta Allah dan Rasulullah harus terwujud dalam kerja nyata: membela yang tertindas, menyatukan yang tercerai, dan memperjuangkan dunia yang adil.
Ingatlah, musuh Islam tidak takut pada jumlah kita. Mereka takut jika kita bersatu. Maka tugas terbesar kita hari ini adalah merajut cinta dalam perbedaan, dan dari situ membangun peradaban Islam yang kembali harum di langit dan membumi dalam kasih.
“Jangan jadi bagian dari musuh-musuh Islam. Jadilah bagian dari jawaban Allah untuk menyelamatkan umat.” (***)
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
