Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Prolog
Wartain.com || Langit belum sepenuhnya terang ketika ia berdiri di ujung jalan yang sepi. Kabut tipis menggantung di udara, seolah menyimpan rahasia yang belum siap diungkap. Namanya tak penting—atau mungkin ia sendiri telah melupakannya.
Yang tersisa hanyalah satu rasa: pencarian.
Bukan pencarian dunia. Bukan pula pencarian manusia. Ia mencari sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang telah lama ada, namun tertutup oleh hiruk-pikuk kehidupan.
“Siapa aku…?” bisiknya.
Dan lebih jauh dari itu—
“Di mana Engkau…?”
Langkah pertamanya dimulai tanpa arah yang jelas. Tapi hatinya tahu, ini bukan perjalanan biasa.
Ini perjalanan pulang.
Bab 1: Retaknya Dunia
Ia pernah hidup seperti orang lain.
Tertawa ketika dunia memberi, dan gelisah ketika dunia mengambil.
Namun suatu malam, segalanya berubah.
Ia duduk sendiri, di tengah keramaian yang terasa kosong. Suara orang-orang seperti gema jauh yang tak lagi bermakna.
Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.
Bukan karena kehilangan harta. Bukan karena kehilangan cinta manusia.
Tapi karena ia menyadari—selama ini, ia hidup tanpa mengenal yang paling dekat dengannya.
Dirinya sendiri.
Dan lebih dalam lagi—Tuhannya.
Malam itu, ia menangis tanpa suara.
Bukan karena sedih.
Tapi karena merasa asing di dalam hidupnya sendiri.
Bab 2: Panggilan yang Tak Terlihat
Hari-hari setelah itu terasa berbeda.
Dunia tetap sama, namun cara ia melihat berubah.
Ia mulai mempertanyakan segalanya.
Mengapa manusia begitu sibuk mengejar sesuatu yang akan hilang?
Mengapa hati terasa kosong meski segala keinginan terpenuhi?
Dan mengapa… dalam kesunyian, ia justru merasa ada yang memanggil?
Suara itu tak terdengar, namun terasa.
Lembut, tapi kuat.
Seakan berkata:
“Kembalilah.”
Ia tak tahu harus ke mana.
Namun ia tahu—ia harus berjalan.
Bab 3: Guru Tanpa Nama
Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, ia bertemu seorang lelaki tua.
Wajahnya biasa saja. Pakaiannya sederhana. Namun matanya…
Matanya seperti lautan yang tak bertepi.
“Apa yang kau cari?” tanya lelaki itu.
Ia terdiam.
Lalu menjawab pelan, “Aku mencari Tuhan.”
Lelaki itu tersenyum.
“Jika kau masih merasa terpisah dari-Nya, berarti kau belum benar-benar mencari.”
Kata-kata itu mengguncangnya.
“Maksudmu?”
“Yang kau cari, tidak pernah jauh. Yang jauh adalah kesadaranmu.”
Hari itu, perjalanan sejatinya dimulai.
Bab 4: Menghapus yang Selain Dia
“Tutup matamu,” kata sang guru.
Ia menurut.
“Sekarang, lihat ke dalam dirimu. Apa yang kau temukan?”
“Pikiran… kenangan… keinginan…”
“Hapus semuanya.”
“Bagaimana caranya?”
“Sadari bahwa semuanya bukan dirimu.”
Perlahan, ia mulai melepaskan.
Setiap pikiran yang muncul, ia lepaskan.
Setiap rasa yang datang, ia lepaskan.
Hingga akhirnya…
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang kosong.
Sunyi yang penuh.
Dan di dalam sunyi itu—
Ia merasakan sesuatu.
Bukan sesuatu yang bisa dilihat.
Bukan sesuatu yang bisa dijelaskan.
Namun nyata.
Sangat nyata.
Bab 5: Fana
Hari demi hari, ia tenggelam dalam latihan itu.
Dunia luar mulai kehilangan cengkeramannya.
Yang tersisa hanyalah kesadaran yang semakin dalam.
Suatu malam, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dirinya… seolah menghilang.
Bukan mati.
Namun lenyap sebagai “aku”.
Yang ada hanyalah…
Keberadaan.
Tanpa batas.
Tanpa bentuk.
Tanpa nama.
Air matanya mengalir.
Namun bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya…
Ia menemukan.
Bab 6: Kembali ke Dunia
“Sekarang, bukalah matamu,” kata sang guru.
Ia membuka mata.
Dunia kembali terlihat.
Namun kali ini… berbeda.
Ia melihat pohon, namun bukan sekadar pohon.
Ia melihat manusia, namun bukan sekadar manusia.
Segala sesuatu terasa hidup… dengan satu kehidupan yang sama.
“Apakah ini akhir?” tanyanya.
Sang guru menggeleng.
“Ini awal.”
Bab 7: Hidup dalam Cahaya
Ia kembali ke dunia.
Namun bukan sebagai orang lama.
Ia berjalan, bekerja, berbicara—seperti biasa.
Namun di dalam dirinya…
Ada cahaya yang tak pernah padam.
Ia tak lagi mencari.
Karena ia telah menemukan.
Dan yang ia temukan…
Selalu bersamanya.
Epilog
Langit kini benar-benar terang.
Ia kembali berdiri di ujung jalan.
Namun kali ini, ia tersenyum.
Karena ia tahu—
Ia tidak pernah sendiri.
Dan tidak pernah terpisah.
Perjalanan itu ternyata bukan menuju sesuatu.
Melainkan kembali kepada Yang Selalu Ada.(***)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
