26.7 C
Jakarta
Rabu, Juni 10, 2026

Latest Posts

Tajalli Adzan dan Shalat, Dalam Timbangan Tauhid dan Adab Ruhani: Kajian Kitab Syekh ‘Abdul Qādir al-Jailānī

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Syekh ‘Abdul Qādir al-Jailānī—Sulṭān al-Awliyā’, Qutb al-A‘ẓam—tidak mewariskan tasawuf yang kabur oleh klaim rasa, melainkan jalan tauhid yang jernih, berpagar syariat, berhias adab, dan berbuah akhlak. Dalam karya-karyanya seperti Futūḥ al-Ghaib, Fatḥ ar-Rabbānī, dan Ghunyat ath-Ṭālibīn, beliau berulang kali menegaskan: siapa pun yang berbicara tentang hakikat tanpa adab syariat, maka ia sedang tertipu oleh dirinya sendiri.

Dalam kerangka inilah adzan dan shalat dipahami—bukan semata ritual lahir, tetapi tajallī (penyingkapan) kehadiran Allah di dalam kesadaran hamba; kehadiran yang disaksikan, bukan disatukan; dirasa, bukan diklaim.

Adzan: Seruan Tajallī yang Membangunkan Fitrah

Menurut jalan Syekh ‘Abdul Qādir al-Jailānī, setiap seruan Ilahi adalah tarikan rahmat agar hamba keluar dari kelalaian. Adzan adalah panggilan tajallī awal, seruan dari Yang Maha Hadir agar hati kembali menghadap.

Allāhu Akbar

Ini bukan pernyataan lisan semata, tetapi pukulan tauhid yang meremukkan keakuan. Dalam Futūḥ al-Ghaib, Syekh al-Jailānī menegaskan bahwa kebesaran Allah hanya dapat disaksikan ketika nafsu dan kehendak diri ditundukkan. Selama “aku” masih berdiri, “Allāhu Akbar” belum benar-benar terdengar oleh hati.

Ashhadu an lā ilāha illā Allāh

Kesaksian ini adalah pemurnian pusat realitas. Syekh al-Jailānī mengingatkan: banyak orang mengucap tauhid, namun masih menggantungkan rasa aman pada selain Allah. Tauhid sejati adalah lenyapnya ketergantungan, bukan lenyapnya wujud hamba.

Ashhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh

Inilah pagar keselamatan. Setiap tajallī harus melewati cermin kenabian. Tanpa ittibā‘ Rasul, pengalaman ruhani berubah menjadi istidrāj. Maka Syekh al-Jailānī menegaskan: “Setiap jalan yang tidak ditempuh Rasulullah, ia adalah jalan menuju kebinasaan.”

Ḥayya ‘alaṣ-ṣalāh

Panggilan ini bukan ajakan bergerak menuju tempat, melainkan berpindah keadaan batin—dari lalai menuju hadir.
Adzan, dengan demikian, adalah tajallī suara Ilahi yang menggugah fitrah agar bersiap memasuki mi‘raj hamba.

Shalat: Tajallī Kehadiran dalam Adab Kehambaan

Syekh ‘Abdul Qādir al-Jailānī memandang shalat sebagai maqām perjumpaan, namun perjumpaan seorang hamba yang hina dengan Rabb Yang Maha Mulia. Bukan penyatuan zat, melainkan kedekatan dalam ketaatan.

Takbiratul Ihram

Ini adalah pintu fana’ al-irādah—kehendak pribadi ditanggalkan. Dunia tidak hilang secara fisik, tetapi kehilangan kekuasaannya atas hati.

Qiyām dan Qirā’ah

Hamba berdiri dengan tubuh, dan bersaksi dengan hati. Al-Fātiḥah adalah dialog hidup; sebagaimana hadis qudsi, Allah menjawab setiap ayat yang dibaca hamba. Inilah tajallī al-Ẓāhir dalam lafaz, dan al-Bāṭin dalam rasa.

Rukū‘

Akal dan kehendak tunduk. Syekh al-Jailānī menegaskan bahwa siapa yang belum merendahkan akalnya, ia belum siap menerima cahaya hakikat.

Sujūd

Inilah puncak tajallī. Saat hamba berada pada titik paling rendah, kedekatan paling tinggi dianugerahkan. Namun Syekh al-Jailānī mengingatkan:
“Jangan engkau klaim apa yang engkau rasa, karena kedekatan itu adalah karunia, bukan identitas.”

Tasyahhud dan Salam

Tajallī ditutup dengan kesaksian dan adab sosial. Kehadiran Allah yang benar mengalir menjadi keselamatan bagi kanan dan kiri, bukan keterasingan dari sesama.

Al-Ẓāhir wa al-Bāṭin dalam Timbangan Tauhid

Dalam manhaj Syekh ‘Abdul Qādir al-Jailānī, Allah disaksikan sebagai al-Ẓāhir melalui hukum, perintah, dan gerak ibadah; dan al-Bāṭin melalui rasa hadir yang tidak terlukiskan. Namun beliau menegaskan garis tegas:
“Barangsiapa menyangka bahwa Allah menyatu dengan makhluk, maka ia telah kafir; dan barangsiapa meniadakan rasa kehadiran-Nya, maka ia telah kering dari ma‘rifat.”

Maka yang benar adalah syuhūd (penyaksian), bukan ittiḥād (penyatuan).
Penutup: Ukuran Tajallī Menurut Syekh al-Jailānī

Syekh ‘Abdul Qādir al-Jailānī memberikan ukuran yang sangat tegas:
buah tajallī bukan rasa tinggi, tetapi akhlak yang lurus.

Semakin seseorang merasakan kehadiran Allah dalam shalatnya, semakin:
tawadhu‘ lisannya,
jujur perbuatannya,
lembut sikapnya,
patuh pada syariat.

Jika tidak demikian, maka yang hadir bukan tajallī, melainkan tipu daya nafsu.
Wallāhu A‘lam biṣ-Ṣawāb
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa adzan dan shalat adalah jalan pulang, tempat hamba menyaksikan kehadiran Allah tanpa kehilangan adab kehambaan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.