26.7 C
Jakarta
Jumat, September 4, 2026

Latest Posts

Waspada TPPO! Disnakertrans Sukabumi Ungkap Modus Rekrutmen Lewat Medsos Ilegal

Wartain.com – Modus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kini semakin beragam dan sulit dideteksi. Perekrutan tidak lagi hanya lewat calo, tetapi juga memanfaatkan iklan lowongan kerja di media sosial tanpa identitas dan penanggung jawab yang jelas.

Hal itu disampaikan Sigit Widarmadi, Kepala Disnakertrans Kabupaten Sukabumi. Ia menyebut banyak modus untuk menjerat korban yang dilakukan  oleh pelaku.

“Kalau modus banyak cara. Bisa calo, bisa iklan di media sosial yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi lowongan kerja yang menawarkan gaji besar namun tidak transparan soal perusahaan, jenis pekerjaan, lokasi, maupun proses keberangkatan.

Sigit mendorong masyarakat menggunakan kanal pencarian kerja resmi milik pemerintah untuk meminimalisir risiko penipuan dan perekrutan ilegal.

Menurutnya, layanan resmi memiliki mekanisme yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Di Kabupaten Sukabumi, salah satunya tersedia melalui layanan Silent Center.

“Kalau aplikasi pencari kerja milik pemerintah biasanya resmi. Contohnya Kabupaten Sukabumi punya Silent Center,” tuturnya.

Selain itu, Disnakertrans juga rutin mengunggah informasi lowongan kerja melalui media sosial resmi dinas. Data tersebut berasal langsung dari perusahaan yang mengajukan permohonan pembukaan lowongan.

“Jadi saya berharap sering-sering saja lihat medsos Dinas. Karena di situ saya yakini jelas dan real ya, apa jenis pekerjaan dan kebutuhan tenaga kerjanya,” kata Sigit.

Kenali Ciri Tawaran Kerja yang Perlu Diwaspadai

Sigit menyebut ada beberapa tanda tawaran kerja yang harus dicermati, terutama untuk kerja ke luar negeri:

1. Tawaran kerja ke luar negeri tanpa biaya

“Pertama, menawarkan kerja ke luar negeri tanpa biaya. Kan enggak mungkin ya, paspor harus dibayar,” kata Sigit.

2. Tidak ada pelatihan sebelum berangkat

Calon pekerja minimal harus mendapat pembekalan bahasa dan keterampilan sesuai bidang kerja.

“Yang kedua, tidak dilatih, minimal bahasa, minimal keterampilan apa.”

3. Proses pemulangan dipersulit

“Yang ketiganya, setelah terjadi di sana kemudian dipulangkan susah. Jadi hati-hati dalam mencari pekerjaan,” ujarnya.

Sigit juga membagikan pengalaman korban yang ditemuinya. Banyak calon pekerja tidak langsung ke negara tujuan, melainkan transit dulu ke negara lain lalu dibawa lewat jalur darat.

“Berangkat ke Malaysia dulu, berangkat ke Thailand dulu, transit, nanti Singapura baru dibawa lewat darat,” ungkapnya.

Kondisi itu membuat pekerja rentan mengalami masalah di negara tujuan. Sigit menyebut ada korban yang mengalami kekerasan fisik, gaji ditahan, hingga dipaksa merekrut orang lain dengan janji haknya akan diberikan.

“Ternyata setelah di sana terjadi kekerasan fisik, gaji ditahan, terus ada mesti jaminan kalau mau gaji dikeluarin kamu mesti bawa orang lagi,” katanya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.