26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 25, 2026

Latest Posts

Memeluk Rakyat, Menyelamatkan Republik : Strategi Nurani Sang Kesatria

Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Di ambang kekuasaan,  puncak Prabowo Subianto kembali berdiri di persimpangan sejarah. Seorang prajurit, ahli strategi perang, dan tokoh kontroversial yang kini dibebani bukan sekadar jabatan presiden, melainkan amanat untuk memulihkan kepercayaan rakyat dalam republik yang mulai kehilangan arah.

Hari-hari ini, demonstrasi meletup di jalanan. Bukan semata soal hasil pemilu, tapi rasa kehilangan terhadap etika publik yang terluka. Dinasti, kroni, dan cawe-cawe politik menyulut api keresahan. Di balik itu, ada aroma kuat manipulasi dan keberpihakan kekuasaan yang dianggap menyimpang dari semangat reformasi. TNI mulai turun menjaga kejaksaan, purnawirawan angkat suara, dan publik mempertanyakan: ke mana arah republik ini?

Prabowo bukan tokoh baru dalam lanskap politik Indonesia. Tapi hari ini ia menghadapi medan yang berbeda. Ini bukan sekadar soal kekuatan militer atau kekuasaan administratif, tapi medan perang batin—antara memelihara loyalitas politik atau menegakkan amanat rakyat. Ia tahu betul: musuh paling berbahaya bukan yang di luar, tapi yang menyamar sebagai sahabat di dalam.

Sejarah mencatat, seorang kesatria tidak hanya menguasai strategi tempur, tapi mampu meredakan gejolak dengan kebijaksanaan. Ini saatnya Prabowo memeluk kembali rakyat yang kecewa.

Bukan dengan slogan, tapi dengan tindakan simbolik dan konkret: memisahkan diri dari praktik politik dinasti, memotong tali kendali kroni, dan merangkul kelompok-kelompok kritis yang selama ini hanya minta didengar.

Prabowo punya pilihan langka: menjadi pelanjut praktik lama, atau menjadi penyelamat moral republik ini. Ia bisa menggeser narasi dari sekadar “pemenang pilpres” menjadi “pemimpin rakyat seluruhnya”—tanpa syarat, tanpa sekat.

Penting bagi Prabowo untuk menunjukkan bahwa ia bukan hanya pewaris jabatan, melainkan pemikul tanggung jawab sejarah. Ia harus membuktikan bahwa strategi tak selalu berarti taktik licik, melainkan keberanian untuk menertibkan yang bengkok dan mengangkat yang lurus.

Bahwa kekuasaan yang besar justru menuntut kerendahan hati yang dalam.
Jika Prabowo mampu menolak cawe-cawe kekuasaan yang korosif dan menyerahkan kembali kemurnian negara kepada konstitusi dan suara hati rakyat, maka ia tidak hanya sedang memimpin lima tahun ke depan—tapi sedang menulis babak baru dalam sejarah Indonesia.

Republik ini sedang menunggu. Menunggu apakah sang kesatria akan menunggang kuda gagah menuju istana dengan kehormatan penuh, atau masuk dalam arak-arakan kekuasaan yang kehilangan arah.

Karena pada akhirnya, bukan kemenangan politik yang akan dikenang sejarah, tapi keberanian untuk mencintai rakyat—meski harus melawan arus di dalam istana sendiri.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.