Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Setelah berakhirnya kenabian, umat manusia memasuki zaman yang penuh paradoks spiritual. Di satu sisi, teknologi dan rasionalitas berkembang pesat; di sisi lain, krisis makna dan kehilangan arah dalam bertuhan semakin meluas.
Di tengah dunia yang tidak lagi dipimpin langsung oleh Nabi atau Rasul, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana manusia modern bisa sampai kepada Tuhan yang sejati, bukan kepada Tuhan hasil rekaan sosial, budaya, atau ego individu?
Pertanyaan ini telah lama menghantui filsafat agama. Karen Armstrong, dalam karya monumentalnya A History of God, menunjukkan bagaimana perjalanan konsep ketuhanan dalam tiga agama besar—Yahudi, Kristen, dan Islam—telah mengalami transformasi besar akibat sejarah politik, kekuasaan, dan tafsir teologis. Ia menulis bahwa Tuhan dalam sejarah bukan sekadar objek iman, tapi telah menjadi “simbol kekuasaan” yang diperebutkan oleh institusi.
Dalam pemikiran Barat, sejak era Pencerahan, Tuhan secara perlahan disingkirkan dari ruang publik. Filsuf seperti Immanuel Kant menyatakan bahwa Tuhan berada di luar jangkauan rasio murni. Nietzsche bahkan mengumumkan “kematian Tuhan”, bukan sebagai klaim metafisika, tetapi sebagai kritik terhadap kemunafikan agama dan kehampaan spiritual yang dihasilkan oleh modernitas.
Di sisi lain, dalam dunia Timur, Tuhan lebih sering dilihat bukan sebagai entitas yang harus didefinisikan, tetapi sebagai Kehadiran yang dialami. Tokoh-tokoh seperti Rumi, Laozi, dan bahkan Buddha, menekankan pentingnya perjalanan batin untuk menyentuh yang Ilahi.
Namun, baik Timur maupun Barat, keduanya menghadapi krisis serupa: Tuhan telah direduksi menjadi “konsep”. Ia menjadi tema diskusi, bahan ceramah, atau simbol filosofis, tapi tak lagi hadir sebagai kekuatan transenden yang mengguncang kesadaran dan menuntun kehidupan.
Di sinilah pentingnya memahami kembali peran Nabi. Dalam Islam, Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai khatam al-nabiyyīn (penutup para nabi), namun ini tidak berarti bahwa cahaya kenabian berhenti menyinari dunia. Wahyu memang telah ditutup, tetapi kesadaran kenabian masih dapat diwarisi oleh siapa pun yang membersihkan dirinya dan menempuh jalan pencarian sejati. Dalam QS Al-Māidah:15, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai “cahaya dan kitab yang menjelaskan”, artinya: Tuhan telah meninggalkan cahaya yang hidup untuk dibaca dan direnungkan oleh setiap jiwa yang rindu.
Masalahnya, banyak manusia modern tak lagi melihat kitab suci sebagai sumber hidup. Di sisi lain, kepercayaan pada agama formal melemah karena sejarah yang penuh luka dan manipulasi. Maka muncullah bentuk-bentuk spiritualitas bebas—spiritualisme individual, mistisisme universal, dan bahkan deifikasi diri. Tetapi tanpa kerangka wahyu yang sahih, banyak dari bentuk spiritualitas itu jatuh ke dalam proyeksi psikologis, bukan penyaksian Ilahi. Tuhan pun kembali menjadi cermin ego manusia.
Dalam kondisi ini, apa yang bisa menyelamatkan manusia?
Pertama, kesadaran akan keterbatasan akal dan pentingnya merendahkan diri di hadapan Misteri. Kedua, keberanian untuk membaca kembali wahyu suci secara mendalam, bukan sekadar legalistik, tetapi secara eksistensial dan spiritual. Ketiga, kebutuhan untuk membangun komunitas pencari—bukan sekte, bukan aliran baru, tetapi jejaring kesadaran yang meniti jalan para nabi.
Kesimpulan
Tuhan bukanlah hasil pikiran atau simbol budaya, tapi Realitas yang menuntut perjumpaan langsung—dalam batin yang bersih, dalam wahyu yang hidup, dan dalam cinta yang setia. Zaman tanpa nabi bukan alasan untuk kehilangan arah, melainkan panggilan untuk menyucikan kembali fitrah manusia dan menapaki jejak para utusan-Nya dengan kesadaran yang lebih jujur dan mendalam.
Manusia modern masih bisa menemukan Tuhan. Tapi tidak dengan mendefinisikan-Nya, melainkan dengan menyingkirkan segala bentuk palsu tentang-Nya. Dan di situlah perjalanan sejati dimulai.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
