Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah ﷺ keluar dengan menyelimutkan pakaiannya lalu bersabda:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya manusia bertambah banyak, dan kaum Anshar semakin sedikit. Maka barang siapa di antara kalian memegang urusan yang dapat memberi manfaat kepada seseorang, hendaklah ia menerima dari orang yang baik di antara mereka serta melewatkan (jangan menghiraukan) orang-orang yang buruk di antara mereka.”
(HR. Ahmad: 2498)
Pendahuluan
Hadits ini tampak singkat, namun menyimpan kedalaman makna strategis tentang perubahan sosial, dinamika kekuasaan, dan etika kepemimpinan. Rasulullah ﷺ menyampaikannya bukan dalam kondisi biasa, tetapi keluar dengan menyelimutkan pakaiannya, sebuah isyarat dzāhir bahwa pesan ini bersifat penting, serius, dan penuh peringatan. Ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan peta sunnatullah tentang perjalanan umat dan negara.
Makna Dzāhir Hadits
Secara tekstual (dzāhir), Nabi ﷺ menjelaskan dua realitas besar:
Manusia akan semakin banyak,
Kaum Anshar akan semakin sedikit.
Anshar adalah simbol kelompok yang tulus, berkorban, setia pada kebenaran, dan mendukung dakwah tanpa pamrih. Berkurangnya Anshar bukan sekadar berkurangnya jumlah, tetapi berkurangnya kualitas manusia: keikhlasan, keberanian moral, dan komitmen terhadap kebenaran.
Kemudian Nabi ﷺ memberi pedoman praktis bagi siapa pun yang kelak memegang urusan publik (wilāyah, kekuasaan, jabatan, amanah):
Terimalah dari orang-orang yang baik,
Lewatkan orang-orang yang buruk.
Ini bukan ajakan diskriminatif, tetapi manajemen amanah. Kepemimpinan tidak boleh dikendalikan oleh tekanan orang rusak, licik, atau bermotif kepentingan pribadi.
Makna Bāthin (Hikmah Mendalam)
Secara bāthin, hadits ini mengungkap hukum sejarah dan intelijen sosial umat.
Pertama, bertambahnya jumlah manusia tidak selalu berarti bertambahnya kualitas umat. Justru di akhir zaman, kuantitas melimpah sering diiringi degradasi nilai. Ini selaras dengan hadits lain tentang ghutsā’ (buih di lautan): banyak tetapi rapuh.
Kedua, berkurangnya Anshar adalah isyarat kelangkaan orang-orang yang jujur di sekitar kekuasaan. Dalam konteks negara, Anshar adalah pejabat, ulama, aparat, dan rakyat yang tetap lurus meski tekanan besar. Mereka selalu minoritas, dan akan semakin minoritas seiring waktu.
Ketiga, perintah “melewatkan orang-orang buruk” adalah strategi keselamatan kekuasaan. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa tidak semua suara layak didengar, tidak semua kritik layak dituruti, dan tidak semua aspirasi berasal dari niat baik. Ini adalah filter intelijen moral dalam kepemimpinan.
Relevansi Sosial dan Kenegaraan
Hadits ini sangat relevan bagi pemimpin, aparat negara, pengambil kebijakan, dan siapa pun yang mengelola urusan publik. Negara sering runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu memberi ruang kepada orang-orang rusak yang lihai berbicara namun kosong integritas.
Nabi ﷺ tidak memerintahkan untuk menindas mereka, tetapi tidak memberi mereka panggung. Ini adalah keseimbangan antara keadilan dan ketegasan.
Penutup
Hadits ini adalah peringatan sekaligus pedoman. Ketika manusia semakin banyak, dan orang-orang tulus semakin sedikit, maka keselamatan umat dan negara bergantung pada ketajaman memilih siapa yang didengar dan siapa yang dilewatkan.
Inilah sunnah Nabi ﷺ dalam menjaga umat:bukan dengan mengikuti semua suara, tetapi dengan berpihak pada kebaikan meski jumlahnya kecil.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
