Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Dalam horizon pemikiran Islam sufistik, istilah “pesan semesta” bukanlah bisikan dari ruang kosong, melainkan pantulan realitas terdalam dari diri manusia sendiri. Para arif menyebutnya sebagai nida’ al-bathin—panggilan batin—yang muncul ketika kesadaran manusia disentuh oleh limpahan nūr al-ḥaqīqah, cahaya kebenaran yang memancar dari Tuhan sebagai sumber keberadaan. Dalam tradisi Ibn ‘Arabī, semesta adalah cermin raksasa yang memantulkan Wujud Tunggal.
Maka ketika seseorang merasa mendapatkan “pesan”, sesungguhnya ia sedang menyaksikan gema dari dirinya sendiri sebagai manifestasi tajalli Ilahi.
Bagi jiwa-jiwa yang sensitif, yang disebut oleh para sufi sebagai al-qulūb al-raqqah, kehalusan batin menjadi pintu untuk menangkap bisikan yang tak terdengar oleh telinga biasa.
Sensitivitas ini bukanlah keistimewaan elitis, tetapi kemampuan yang terlahir dari tazkiyat al-nafs—pembersihan jiwa dari kebisingan ego. Jiwa yang bersih adalah seperti cermin yang jernih: ia tidak menciptakan bayangan, tetapi memantulkan cahaya sebagaimana adanya.
Kesadaran dalam perspektif filosofis-sufistik bukan hanya aktivitas mental, melainkan keadaan ontologis. Ia adalah kesanggupan untuk mengakui dan merasakan keberadaan diri sebagai bagian dari arus wujud yang mengalir dari Tuhan.
Oleh karena itu, kebangkitan spiritual bukanlah peristiwa mistis yang eksentrik, tetapi proses kembali kepada fitrah terdalam, sebagaimana firman Tuhan: “Dan pada dirimu sendiri, apakah engkau tidak memperhatikan?” Kesadaran yang bangkit mengubah cara memandang semesta—bukan lagi sebagai dunia benda, melainkan sebagai kitab terbuka yang ayat-ayatnya bertebaran di segala arah.
Intuisi dalam tasawuf disebut firāsah, kepekaan jiwa yang mampu menangkap makna sebelum bentuk, hakikat sebelum kata. Para sufi yakin bahwa firāsah adalah anugerah bagi mereka yang hatinya terhubung dengan kebenaran. Ia bukan ramalan atau firasat kosong; ia adalah kemampuan melihat dengan cahaya Allah: “Takutlah terhadap firāsah orang beriman, sebab ia melihat dengan cahaya Tuhan.” Intuisi menjadi lentera batin yang menuntun manusia menyeberangi gelapnya pengalaman hidup, memasuki wilayah di mana logika hanya mampu berdiri di tepi.
Dalam konteks modern, bahasa “pesan semesta” sering disalahpahami sebagai jargon motivasi. Namun bagi filsafat sufistik, ia lebih dalam dari sekadar saran emosional. Ia adalah tanda-tanda keberadaan yang berbicara melalui peristiwa, pengalaman, dan keadaan batin. Semesta berbicara karena ia pada hakikatnya adalah cermin Tuhan, dan manusia membaca pesan-pesan itu melalui kejernihan batin yang dilatih.
Dengan demikian, narasi tentang kesadaran, intuisi, dan pesan semesta menemukan akar kuat dalam kosmologi tasawuf: bahwa manusia adalah mikrokosmos yang memuat seluruh rahasia makrokosmos. Kebangkitan spiritual adalah perjalanan pulang—kembali kepada Sang Sumber, melalui jalan penyucian jiwa, penajaman kesadaran, dan penyingkapan kebenaran dalam setiap detik kehidupan. Semesta berbicara bukan untuk memanjakan ego, tetapi untuk menuntun jiwa menuju keutuhan dirinya. Dan di sanalah, manusia menemukan kemerdekaan terdalamnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
