26.7 C
Jakarta
Senin, Juli 6, 2026
Beranda blog Halaman 149

Asda III Sukabumi Tegaskan Loyalitas dan Kesiapan Total Dukung Arahan Pimpinan Daerah 

0

Wartain.com || Asisten Daerah (Asda) III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi, Gun Gun Gunardi, menegaskan komitmennya untuk selalu sigap menjalankan setiap arahan pimpinan daerah dalam mendukung jalannya pemerintahan.

Menurutnya, sebagai bagian dari unsur strategis di lingkungan Sekretariat Daerah, dirinya memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan setiap kebijakan dapat diimplementasikan dengan baik. Ia bahkan menyatakan kesiapan untuk bekerja tanpa mengenal batas waktu demi menjalankan tugas yang diberikan.

“Sebagai aparatur, saya siap setiap saat menjalankan instruksi pimpinan, mulai dari Bupati, Wakil Bupati, hingga Sekretaris Daerah,” ungkapnya, Selasa (21/4/2026).

Gun Gun menilai, komitmen tersebut merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat dan daerah. Baginya, dalam menjalankan amanah jabatan, tidak ada ruang untuk menolak selama itu demi kepentingan pelayanan publik dan kemajuan daerah.

Dalam perannya sebagai Asda III, ia turut mendukung Sekretaris Daerah dalam pengelolaan administrasi umum pemerintahan. Posisi ini menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga efektivitas dan efisiensi birokrasi di lingkungan pemerintah daerah.

Ia pun berharap, melalui dedikasi dan kerja optimal, kinerja pemerintahan dapat terus meningkat, sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin berkualitas dan sejalan dengan arah pembangunan yang telah ditetapkan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

SMK Taruna Tunas Bangsa, Klarifikasi Isu Penyegelan Gedung Sekolah 

0

Wartain.com ||  Polemik yang menyeret nama SMK Taruna Tunas Bangsa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, akhirnya mulai menemukan titik terang. Isu penyegelan sekolah yang sempat beredar luas di masyarakat disebut tidak sepenuhnya benar. Pihak sekolah menegaskan, persoalan utama bukan pada penyegelan, melainkan konflik internal yang tak terselesaikan.

Kepala SMK Taruna Tunas Bangsa, Raihan angkat bicara. Dengan nada santai, ia meluruskan kabar yang dinilai sudah berkembang liar.

“Informasi yang beredar itu perlu diluruskan. Tidak ada penyegelan seluruh sekolah seperti yang ramai dibicarakan. Kalau pun ada, itu hanya di ruang perpustakaan, dan itu pun hanya berlangsung beberapa jam saja,” ujarnya, kepada mediaaksara.id, Selasa (21/4/2026).

Ia menjelaskan, tindakan tersebut bukan bentuk penutupan aktivitas sekolah, melainkan upaya memancing kehadiran pihak yayasan agar segera turun tangan menyelesaikan persoalan yang terjadi.

“Penyegelan itu hanya sebagai pemantik. Tujuannya supaya yayasan hadir dan kita bisa duduk bersama, berdiskusi mencari solusi ke depan,” katanya.

Namun di balik klarifikasi itu, realita yang dihadapi sekolah jauh lebih kompleks. Konflik internal yang terjadi telah berdampak langsung pada kenyamanan siswa dan kepercayaan orang tua.

Sebagai langkah cepat, pihak sekolah mengaku telah membuka ruang dialog dengan orang tua dan siswa. Hasilnya, keputusan besar pun diambil.

“Kami sudah berdiskusi dengan orang tua dan siswa. Dari hasil itu, orang tua melihat kondisi yang ada dan memutuskan untuk memutasikan siswa kelas 10 dan 11,” jelasnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Orang tua menginginkan kepastian dan kenyamanan belajar bagi anak-anak mereka, di tengah situasi yang dinilai sudah tidak kondusif.

Sementara itu, untuk siswa kelas 12, pihak sekolah memastikan tanggung jawab tetap dipegang penuh, terutama terkait kelulusan dan ijazah.

“Kami akan bertanggung jawab penuh terhadap ijazah siswa kelas 12. Pelaksanaan ujian akhirnya, yaitu Ujikom, akan dilaksanakan di SMK Dwiwarna Warungkiara,” tegasnya.

Ke depan, masih kata dia, arah penyelamatan SMK TTB masih menunggu sikap dari pihak yayasan. Pihak sekolah memilih untuk tidak berspekulasi dan akan fokus terlebih dahulu pada kepentingan siswa.

“Kami saat ini memprioritaskan anak-anak, khususnya kelas 12. Itu yang paling urgent. Setelah itu, baru kami akan membangun komunikasi lebih lanjut dengan yayasan,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Peringatan Hari Kartini 2026, DP3A Kabupaten Sukabumi Ajak Perempuan Terus Berkarya dan Berdaya 

0

Wartain.com || Peringatan Hari Kartini tahun 2026 menjadi momentum penting untuk kembali meneguhkan peran perempuan dalam pembangunan serta mendorong terciptanya kesetaraan gender di berbagai sektor kehidupan. Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus hidup dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Melalui unggahan resminya, Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat peran perempuan agar mampu berdaya, mandiri, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah maupun nasional.

Dalam pesannya, DP3A menekankan bahwa perempuan masa kini harus berani bermimpi, tangguh menghadapi tantangan, serta mampu berkarya di berbagai bidang.

Semangat Kartini tidak hanya dimaknai sebagai simbol perjuangan emansipasi, tetapi juga sebagai inspirasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Dinas DP3A Kabupaten Sukabumi, H. Agus Sanusi, menyampaikan bahwa upaya pemberdayaan perempuan harus terus diperkuat melalui berbagai program yang mendukung perlindungan, peningkatan kapasitas, serta akses terhadap kesempatan yang setara.

“Perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memastikan setiap perempuan mendapatkan ruang yang aman, kesempatan yang adil, serta perlindungan yang optimal,” ujarnya.

Selain itu, peringatan Hari Kartini juga menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kemajuan perempuan.

Dengan semangat Kartini, diharapkan perempuan Indonesia, khususnya di Kabupaten Sukabumi, dapat terus menjadi inspirasi, membawa perubahan positif, serta menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Diplomatic Forum di Sukabumi Jadi Ajang Promosi Budaya Ramah Lingkungan ke Dunia

0

Wartain.com || Kota Sukabumi kembali menunjukkan daya tariknya di mata dunia. Sebanyak 16 duta besar dari berbagai negara di Eropa, Asia, dan Amerika hadir dalam kegiatan Diplomatic Forum yang digelar pada Selasa, (21/4/2026).

Kunjungan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal yang berwawasan lingkungan kepada para delegasi internasional.

Salah satu kegiatan yang mencuri perhatian berlangsung di SMP Negeri 1 Kota Sukabumi. Di lokasi ini, para duta besar diajak langsung mencoba membuat batik ecoprint, sebuah teknik pewarnaan kain yang memanfaatkan bahan alami seperti daun, bunga, dan batang tanpa bahan kimia.

Dengan penuh antusias, para dubes mengikuti setiap tahapan pembuatan ecoprint. Mereka mencetak motif dedaunan di atas kain putih, didampingi oleh para siswa yang sebelumnya telah berlatih secara intensif selama tiga minggu.

Kepala SMP Negeri 1 Kota Sukabumi, Muhammad Adhi Rohmatullah, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya mengenalkan budaya, tetapi juga membawa pesan penting terkait isu global.

“Baik, itu adalah presentasi anak berkenaan dengan ecoprint. Nah, dari yang pertama tentu adalah berhubungan dengan perubahan iklim atau global warming. Jadi pesan kita ingin bahwa salah satu aktivitas ataupun salah satu menangani pemanasan global ini adalah dengan adanya ecoprint yang tentu tidak menggunakan bahan kimia, tapi lebih pada menggunakan alam, bahan-bahan alam,” ujar Adhi.

Sebanyak 150 siswa dan guru terlibat dalam kegiatan ini, menjadikannya sebagai momen edukatif sekaligus kebanggaan tersendiri bagi warga sekolah. Interaksi langsung dengan para perwakilan negara sahabat memberikan pengalaman berharga yang jarang didapatkan di ruang kelas.

“Ini juga adalah pengalaman yang terbaik bagi anak-anak, khususnya bagi siswa, guru, maupun warga sekolah. Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Sukabumi yang telah memberikan kepercayaan kepada kami, kami dapat menyambut para duta besar,” ucapnya.

Selain praktik ecoprint, para siswa juga menampilkan beragam seni budaya khas daerah, mulai dari tari tradisional, musik arumba, angklung, gamelan, hingga permainan tradisional “main boles” atau lempar bola api.

Melalui kegiatan ini, Sukabumi tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya, tetapi juga mempertegas komitmennya dalam mengangkat praktik ramah lingkungan ke panggung internasional. Para duta besar pun menyampaikan pesan kepada para siswa untuk terus mencintai budaya lokal dan meningkatkan semangat belajar.

“Tadi disampaikan para kedubes bahwa siswa tetap untuk mencintai, bangga terhadap budaya nasional kita dan mencintai Kota Sukabumi ini untuk lebih maju lagi seperti itu, dan belajar tentu lebih giat lagi,” jelasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Rapat Dinas, Bupati Asjap Tegaskan ASN Harus Tetap Disiplin Ditengah Kebijakan Efisiensi Anggaran 

0

Wartain.com || Bupati Sukabumi H Asep Japar memimpin Rapat Dinas Bulan April 2026 yang digelar di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi, Selasa (21/4/2026). Rapat yang dipandu Sekretaris Daerah H Ade Suryaman ini dihadiri Wakil Bupati H Andreas, kepala perangkat daerah, asisten daerah, staf ahli, kepala bagian, hingga para camat se-Kabupaten Sukabumi.

Dalam forum tersebut, Bupati didampingi Wabup menyerahkan penghargaan kepada sejumlah perangkat daerah atas kontribusi mereka dalam meningkatkan Indeks Reformasi Birokrasi. Selain itu, diserahkan pula sertifikat akreditasi laboratorium milik Dinas Lingkungan Hidup sebagai bentuk peningkatan kualitas layanan publik.

Rapat kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari sejumlah instansi, di antaranya Samsat Cibadak, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Kesehatan.

Bupati H Asep Japar menegaskan pentingnya menjaga disiplin aparatur sipil negara (ASN) di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Ia secara khusus menyoroti pelaksanaan kerja dari rumah (WFH) agar tidak disalahgunakan.

“WFH harus tetap disiplin. Jangan sampai yang dijadwalkan bekerja justru tidak berada di tempat, apalagi sampai di luar kota,” tegasnya.

Selain disiplin, Bupati juga mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama dari sektor pajak yang dinilai masih memiliki potensi besar untuk digali. Ia mengapresiasi kebijakan Gubernur Jawa Barat yang memberikan kemudahan pembayaran pajak kendaraan tanpa KTP pemilik lama.

Menurutnya, kebijakan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah daerah melalui langkah konkret di lapangan.

Bupati menambahkan, pemkab. Sukabumi tengah mencanangkan program operasi gabungan pajak kendaraan sekaligus layanan pembayaran pajak di wilayah masing-masing.

“Pajak ini langsung masuk ke kas daerah. Kita perlu jemput bola agar masyarakat lebih mudah dan sadar membayar pajak,” ujarnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Peringati Hari Kartini, SMPIT Yasin Simpenan Hidupkan Semangat Emansipasi Lewat Busana Adat

0
Oplus_131072

Wartain.com || Nuansa budaya menyelimuti halaman SMP Islam Terpadu (IT) Yasin, Jalan Bojong Kopo, Desa Loji, Kecamatan Simpenan. Ratusan siswa bersama jajaran guru menyelenggarakan peringatan Hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat nusantara. Selasa, 21 April 2026.

​Pantauan di lokasi, seluruh siswi dan guru perempuan tampil anggun mengenakan balutan baju kebaya. Sementara itu, para siswa dan guru laki-laki nampak gagah mengenakan pakaian tradisional pangsi. Kehadiran mereka di sekolah bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan terhadap perjuangan R.A. Kartini dalam memajukan pendidikan dan emansipasi.

​Rangkaian acara dimulai dengan apel pagi yang berlangsung khidmat di halaman sekolah. Usai apel, suasana berubah menjadi energik saat seluruh peserta mengikuti sesi senam bersama. Puncak kemeriahan terjadi ketika digelar ajang fashion show, di mana para siswa unjuk kebolehan berjalan di atas “catwalk” halaman sekolah dengan pakaian adat masing-masing.

​Kepala SMPIT Yasin, Asep Sunardi, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan mengenalkan nilai-nilai perjuangan pahlawan kepada generasi muda sejak dini.

​”Kami ingin para siswa tidak hanya mengenal nama Kartini, tetapi juga menyerap semangatnya. Dengan mengenakan kebaya dan pangsi, kami berupaya melestarikan identitas budaya bangsa di tengah gempuran zaman modern. Harapannya, semangat belajar dan dedikasi Kartini tertanam kuat dalam jiwa anak didik kami,” ujar Asep Sunardi di sela-sela kegiatan.

​Acara yang berlangsung meriah ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan sekolah guna mempererat tali silaturahmi antarwarga sekolah sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Pembangunan Jembatan Kamandoran–Karang Tengah Cibadak Resmi Dimulai 

0
Oplus_131072

Wartain.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) mulai melaksanakan pembangunan jembatan di Kampung Kamandoran, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak. Kegiatan ini turut melibatkan jajaran Polres Sukabumi, pemerintah desa, serta partisipasi aktif masyarakat setempat.

Tahapan pekerjaan diawali dengan pengangkutan material ke lokasi, dilanjutkan dengan pembongkaran jembatan lama, serta proses pembangunan pondasi sebagai dasar konstruksi jembatan yang baru. Keberadaan jembatan ini memiliki peran vital sebagai akses penghubung antara Kampung Karang Hilir 3/8 dan Kampung Kamandoran.

Infrastruktur tersebut selama ini dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas sehari-hari, seperti menuju sekolah, pasar, hingga tempat kerja.

Pemerintah berharap proses pembangunan dapat berjalan lancar dan tepat waktu, sehingga jembatan segera dapat digunakan kembali guna mendukung mobilitas serta meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Polsek Jampangkulon Bina 9 Anak Punk di Terminal, Imbau Jaga Kamtibmas

0

Wartain.com || Kapolsek Jampangkulon AKP Muhlis, S.I.P., M.M. bersama personel Polsek Jampangkulon melaksanakan pembinaan terhadap 9 orang anak punk di wilayah hukum Polsek Jampangkulon, Selasa (21/4/2026).

Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.30 WIB hingga selesai, bertempat di Terminal Jampangkulon. Pembinaan ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dalam giat tersebut, AKP Muhlis memberikan empat poin imbauan kepada para anak punk. Pertama, agar tetap menjaga kondusifitas lingkungan di mana pun berada. Kedua, tidak mudah terprovokasi ataupun memprovokasi tindakan yang menimbulkan keresahan atau keributan.

Poin ketiga, mereka diminta ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Keempat, bersikap sopan, santun, dan ramah serta bisa menyesuaikan dengan adat istiadat setempat.

Kapolsek menegaskan, kehadiran polisi melalui pembinaan ini bertujuan menciptakan kamtibmas yang aman dan kondusif. Selain itu juga untuk menunjukkan bahwa polisi hadir di tengah-tengah masyarakat.

Dari kegiatan ini, diharapkan terjalin komunikasi yang baik antara kepolisian dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas anak punk. Sehingga potensi gangguan keamanan bisa dicegah sejak dini.

Kegiatan berjalan lancar dan diakhiri dengan dokumentasi bersama. Polsek Jampangkulon berkomitmen terus melakukan pendekatan humanis dalam menjaga wilayah hukumnya tetap kondusif.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Saeful Usman)

PPJNA 98 : Pengesahan RUU PPRT Kado Terindah Kartini dan May Day, Bukti Nyata Keberpihakan Prabowo-Gibran pada Wong Cilik

0
Oplus_131072

Wartain.com || Momentum Hari Kartini dan ambang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tahun ini menjadi saksi sejarah baru bagi kaum marjinal di Indonesia. Pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) menjadi titik balik yang memicu apresiasi luas dari berbagai lapisan masyarakat. Langkah politik ini bukan sekadar pemenuhan janji legislasi, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tegas tentang ke mana arah keberpihakan negara saat ini.

Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98-PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menegaskan bahwa progres signifikan RUU PPRT ini merupakan bukti nyata keberpihakan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Presiden Prabowo Subianto terhadap nasib “wong cilik”. Selama belasan tahun, para pekerja rumah tangga—yang mayoritas adalah perempuan—berada dalam ruang gelap tanpa payung hukum yang memadai. Dengan dorongan kuat dari kepemimpinan DPR dan restu eksekutif, kegelapan itu kini mulai sirna.

Senada dengan hal tersebut, Sekjen PPJNA 98, Aam Abdul Salam, melihat kebijakan ini sebagai manifestasi konkret dari visi pemerintahan Prabowo-Gibran. Pengesahan ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya pandai beretorika, tetapi terus bekerja membuktikan komitmennya melalui kebijakan yang pro-rakyat kecil. Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, perhatian terhadap aspek perlindungan buruh domestik menunjukkan bahwa keadilan sosial sedang diupayakan untuk menyentuh dapur-dapur rakyat, bukan hanya gedung-gedung bertingkat.

Pengesahan ini dengan semangat Kartini memberikan makna mendalam tentang emansipasi yang hakiki. Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk berdaya, dan RUU PPRT memberikan martabat serta perlindungan bagi jutaan perempuan yang menggantungkan hidupnya sebagai pahlawan domestik.

Sementara itu, menyongsong May Day, kebijakan ini menjadi kado bagi kelas pekerja yang selama ini sering terlupakan dalam struktur ketenagakerjaan formal.

Kita patut mengapresiasi keberanian politik para pemimpin yang berani mengambil langkah tidak populer demi kepentingan kemanusiaan. Kini, tantangan selanjutnya terletak pada implementasi di lapangan. Publik berharap agar semangat keberpihakan ini terus terjaga, memastikan bahwa setiap pekerja rumah tangga di pelosok negeri benar-benar merasakan kehadiran negara dalam setiap peluh keringat mereka.

Pengesahan RUU PPRT adalah kemenangan kecil bagi wong cilik, namun menjadi langkah besar bagi kemajuan peradaban hukum bangsa Indonesia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Menimbang Klaim Kebenaran: Ahlul Bait dan Takfir dalam Perspektif Cahaya Tauhid Ma’rifatullah

0
Oplus_131072

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Pertanyaan tentang siapa yang benar dalam Islam sering kali muncul ketika wilayah kecintaan, loyalitas, dan otoritas keagamaan bersentuhan dengan klaim kebenaran yang eksklusif. Ketika seseorang berwilayah kepada Ahlul Bait—keluarga Nabi yang dimuliakan—lalu dituduh kafir oleh pihak lain, maka persoalan yang muncul bukan sekadar perbedaan pendapat, tetapi telah masuk ke wilayah yang lebih dalam: bagaimana manusia memahami agama, otoritas, dan Tuhan itu sendiri.

Dalam perspektif historis, kecintaan kepada Ahlul Bait bukanlah hal asing dalam Islam. Ia justru memiliki akar yang kuat dalam tradisi awal umat. Namun, sejarah juga mencatat bahwa setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, dinamika politik, kekuasaan, dan konflik internal umat melahirkan fragmentasi. Dari sinilah muncul berbagai kelompok dengan penekanan berbeda terhadap otoritas: ada yang menekankan legitimasi politik, ada yang menekankan sanad keilmuan, dan ada yang menekankan garis spiritual. Dalam proses ini, makna “berwilayah” pun mengalami pergeseran—dari cinta dan penghormatan, menjadi simbol identitas kelompok.

Masalah mulai mengeras ketika identitas tersebut berubah menjadi alat penghakiman. Takfir—mengkafirkan pihak lain—sering kali bukan lahir dari kedalaman ilmu, tetapi dari ketakutan kehilangan kebenaran versi sendiri. Secara filosofis, ini menunjukkan adanya kecenderungan manusia untuk mengobjektifikasi kebenaran: menjadikannya sesuatu yang dimiliki, bukan sesuatu yang disaksikan. Padahal kebenaran ilahi tidak pernah sepenuhnya bisa dimonopoli oleh satu kelompok manusia.

Dalam cahaya tauhid Ma’rifatullah, persoalan ini bergeser dari “siapa yang benar secara kelompok” menjadi “siapa yang benar-benar mengenal Allah”. Ma’rifatullah tidak bertumpu pada label, afiliasi, atau klaim verbal, melainkan pada penyaksian batin yang melahirkan adab, kerendahan hati, dan kejujuran eksistensial. Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak mudah mengkafirkan, karena ia sadar bahwa hidayah adalah wilayah Allah, bukan otoritas manusia.

Berwilayah kepada Ahlul Bait, dalam makna terdalamnya, bukan sekadar loyalitas genealogis, tetapi keterikatan pada cahaya kenabian yang mereka warisi—ilmu, akhlak, dan kedekatan spiritual kepada Allah. Jika wilayah ini melahirkan cinta kepada kebenaran, keadilan, dan penyucian diri, maka ia sejalan dengan ruh Islam itu sendiri. Namun jika ia berubah menjadi fanatisme kelompok yang menutup diri dari kebenaran lain, maka ia kehilangan substansinya.

Di sisi lain, mengkafirkan orang yang mencintai Ahlul Bait juga menunjukkan reduksi dalam memahami Islam. Islam bukan hanya kumpulan doktrin yang harus diseragamkan, tetapi jalan menuju Allah yang melibatkan dimensi lahir dan batin. Ketika dimensi batin diabaikan, maka agama mudah berubah menjadi identitas kaku yang defensif.

Telisik inteligensia membawa kita pada kesadaran bahwa konflik semacam ini sering kali tidak murni teologis. Ia juga dipengaruhi oleh sejarah kekuasaan, narasi politik, dan konstruksi sosial yang diwariskan turun-temurun. Apa yang hari ini dianggap “kebenaran mutlak” oleh satu kelompok, bisa jadi merupakan hasil dari proses panjang yang tidak sepenuhnya disadari oleh para pengikutnya.

Maka pertanyaan “Islam mana yang benar” tidak bisa dijawab hanya dengan menunjuk kelompok tertentu. Dalam horizon Ma’rifatullah, kebenaran diukur dari sejauh mana seseorang tersambung kepada Allah dan memancarkan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan. Islam yang benar bukan sekadar yang paling keras mengklaim, tetapi yang paling jernih menghadirkan tauhid dalam diri—yang melahirkan kasih, keadilan, dan kebijaksanaan.

Dengan demikian, ketika seseorang berwilayah kepada Ahlul Bait lalu dituduh kafir, kita tidak cukup hanya menilai klaim tersebut benar atau salah secara hitam-putih. Kita perlu melihat kedalaman pemahaman di baliknya. Apakah ia lahir dari cahaya ilmu dan ma’rifat, atau dari bayang-bayang ketakutan dan fanatisme.

Pada akhirnya, Ma’rifatullah mengajarkan bahwa jalan menuju Allah tidak bisa direduksi menjadi sekat-sekat sempit. Ia adalah perjalanan penyucian diri yang menembus identitas lahir. Dalam perjalanan itu, Ahlul Bait bisa menjadi cahaya penuntun, para ulama bisa menjadi penjaga ilmu, dan umat bisa menjadi ladang amal. Tetapi semua itu hanya bermakna jika hati tetap terarah kepada Allah—bukan kepada klaim kebenaran yang membatasi-Nya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)