26.7 C
Jakarta
Senin, Juli 6, 2026
Beranda blog Halaman 150

PPJNA 98 : Pengesahan RUU PPRT Kado Terindah Kartini dan May Day, Bukti Nyata Keberpihakan Prabowo-Gibran pada Wong Cilik

0
Oplus_131072

Wartain.com || Momentum Hari Kartini dan ambang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tahun ini menjadi saksi sejarah baru bagi kaum marjinal di Indonesia. Pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) menjadi titik balik yang memicu apresiasi luas dari berbagai lapisan masyarakat. Langkah politik ini bukan sekadar pemenuhan janji legislasi, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tegas tentang ke mana arah keberpihakan negara saat ini.

Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98-PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menegaskan bahwa progres signifikan RUU PPRT ini merupakan bukti nyata keberpihakan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Presiden Prabowo Subianto terhadap nasib “wong cilik”. Selama belasan tahun, para pekerja rumah tangga—yang mayoritas adalah perempuan—berada dalam ruang gelap tanpa payung hukum yang memadai. Dengan dorongan kuat dari kepemimpinan DPR dan restu eksekutif, kegelapan itu kini mulai sirna.

Senada dengan hal tersebut, Sekjen PPJNA 98, Aam Abdul Salam, melihat kebijakan ini sebagai manifestasi konkret dari visi pemerintahan Prabowo-Gibran. Pengesahan ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya pandai beretorika, tetapi terus bekerja membuktikan komitmennya melalui kebijakan yang pro-rakyat kecil. Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, perhatian terhadap aspek perlindungan buruh domestik menunjukkan bahwa keadilan sosial sedang diupayakan untuk menyentuh dapur-dapur rakyat, bukan hanya gedung-gedung bertingkat.

Pengesahan ini dengan semangat Kartini memberikan makna mendalam tentang emansipasi yang hakiki. Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk berdaya, dan RUU PPRT memberikan martabat serta perlindungan bagi jutaan perempuan yang menggantungkan hidupnya sebagai pahlawan domestik.

Sementara itu, menyongsong May Day, kebijakan ini menjadi kado bagi kelas pekerja yang selama ini sering terlupakan dalam struktur ketenagakerjaan formal.

Kita patut mengapresiasi keberanian politik para pemimpin yang berani mengambil langkah tidak populer demi kepentingan kemanusiaan. Kini, tantangan selanjutnya terletak pada implementasi di lapangan. Publik berharap agar semangat keberpihakan ini terus terjaga, memastikan bahwa setiap pekerja rumah tangga di pelosok negeri benar-benar merasakan kehadiran negara dalam setiap peluh keringat mereka.

Pengesahan RUU PPRT adalah kemenangan kecil bagi wong cilik, namun menjadi langkah besar bagi kemajuan peradaban hukum bangsa Indonesia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Menimbang Klaim Kebenaran: Ahlul Bait dan Takfir dalam Perspektif Cahaya Tauhid Ma’rifatullah

0
Oplus_131072

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Pertanyaan tentang siapa yang benar dalam Islam sering kali muncul ketika wilayah kecintaan, loyalitas, dan otoritas keagamaan bersentuhan dengan klaim kebenaran yang eksklusif. Ketika seseorang berwilayah kepada Ahlul Bait—keluarga Nabi yang dimuliakan—lalu dituduh kafir oleh pihak lain, maka persoalan yang muncul bukan sekadar perbedaan pendapat, tetapi telah masuk ke wilayah yang lebih dalam: bagaimana manusia memahami agama, otoritas, dan Tuhan itu sendiri.

Dalam perspektif historis, kecintaan kepada Ahlul Bait bukanlah hal asing dalam Islam. Ia justru memiliki akar yang kuat dalam tradisi awal umat. Namun, sejarah juga mencatat bahwa setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, dinamika politik, kekuasaan, dan konflik internal umat melahirkan fragmentasi. Dari sinilah muncul berbagai kelompok dengan penekanan berbeda terhadap otoritas: ada yang menekankan legitimasi politik, ada yang menekankan sanad keilmuan, dan ada yang menekankan garis spiritual. Dalam proses ini, makna “berwilayah” pun mengalami pergeseran—dari cinta dan penghormatan, menjadi simbol identitas kelompok.

Masalah mulai mengeras ketika identitas tersebut berubah menjadi alat penghakiman. Takfir—mengkafirkan pihak lain—sering kali bukan lahir dari kedalaman ilmu, tetapi dari ketakutan kehilangan kebenaran versi sendiri. Secara filosofis, ini menunjukkan adanya kecenderungan manusia untuk mengobjektifikasi kebenaran: menjadikannya sesuatu yang dimiliki, bukan sesuatu yang disaksikan. Padahal kebenaran ilahi tidak pernah sepenuhnya bisa dimonopoli oleh satu kelompok manusia.

Dalam cahaya tauhid Ma’rifatullah, persoalan ini bergeser dari “siapa yang benar secara kelompok” menjadi “siapa yang benar-benar mengenal Allah”. Ma’rifatullah tidak bertumpu pada label, afiliasi, atau klaim verbal, melainkan pada penyaksian batin yang melahirkan adab, kerendahan hati, dan kejujuran eksistensial. Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak mudah mengkafirkan, karena ia sadar bahwa hidayah adalah wilayah Allah, bukan otoritas manusia.

Berwilayah kepada Ahlul Bait, dalam makna terdalamnya, bukan sekadar loyalitas genealogis, tetapi keterikatan pada cahaya kenabian yang mereka warisi—ilmu, akhlak, dan kedekatan spiritual kepada Allah. Jika wilayah ini melahirkan cinta kepada kebenaran, keadilan, dan penyucian diri, maka ia sejalan dengan ruh Islam itu sendiri. Namun jika ia berubah menjadi fanatisme kelompok yang menutup diri dari kebenaran lain, maka ia kehilangan substansinya.

Di sisi lain, mengkafirkan orang yang mencintai Ahlul Bait juga menunjukkan reduksi dalam memahami Islam. Islam bukan hanya kumpulan doktrin yang harus diseragamkan, tetapi jalan menuju Allah yang melibatkan dimensi lahir dan batin. Ketika dimensi batin diabaikan, maka agama mudah berubah menjadi identitas kaku yang defensif.

Telisik inteligensia membawa kita pada kesadaran bahwa konflik semacam ini sering kali tidak murni teologis. Ia juga dipengaruhi oleh sejarah kekuasaan, narasi politik, dan konstruksi sosial yang diwariskan turun-temurun. Apa yang hari ini dianggap “kebenaran mutlak” oleh satu kelompok, bisa jadi merupakan hasil dari proses panjang yang tidak sepenuhnya disadari oleh para pengikutnya.

Maka pertanyaan “Islam mana yang benar” tidak bisa dijawab hanya dengan menunjuk kelompok tertentu. Dalam horizon Ma’rifatullah, kebenaran diukur dari sejauh mana seseorang tersambung kepada Allah dan memancarkan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan. Islam yang benar bukan sekadar yang paling keras mengklaim, tetapi yang paling jernih menghadirkan tauhid dalam diri—yang melahirkan kasih, keadilan, dan kebijaksanaan.

Dengan demikian, ketika seseorang berwilayah kepada Ahlul Bait lalu dituduh kafir, kita tidak cukup hanya menilai klaim tersebut benar atau salah secara hitam-putih. Kita perlu melihat kedalaman pemahaman di baliknya. Apakah ia lahir dari cahaya ilmu dan ma’rifat, atau dari bayang-bayang ketakutan dan fanatisme.

Pada akhirnya, Ma’rifatullah mengajarkan bahwa jalan menuju Allah tidak bisa direduksi menjadi sekat-sekat sempit. Ia adalah perjalanan penyucian diri yang menembus identitas lahir. Dalam perjalanan itu, Ahlul Bait bisa menjadi cahaya penuntun, para ulama bisa menjadi penjaga ilmu, dan umat bisa menjadi ladang amal. Tetapi semua itu hanya bermakna jika hati tetap terarah kepada Allah—bukan kepada klaim kebenaran yang membatasi-Nya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Riset Sebut Gen Ibu Punya Peran Kunci dalam Kecerdasan Anak Dibanding Ayah

0
Oplus_131072

Wartain.com || Kecerdasan anak kerap dikaitkan dengan faktor keturunan dari orang tua. Dari situ muncul perdebatan klasik: gen ayah atau ibu yang sebenarnya lebih berpengaruh dalam membentuk kemampuan kognitif anak.

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Psychology Spot mengungkap bahwa ibu memiliki kontribusi lebih besar dalam menurunkan gen kecerdasan. Temuan ini memberi gambaran berbasis sains tentang bagaimana warisan genetik dari orang tua bekerja pada otak anak.

Penelitian tersebut melibatkan 12.686 partisipan remaja dengan rentang usia 14 sampai 22 tahun. Tim peneliti menghimpun beragam data, mulai dari latar belakang etnis, pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi para remaja dan ibu mereka untuk dianalisis.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa perempuan lebih cenderung meneruskan gen terkait kecerdasan karena gen tersebut berada pada kromosom X. Perempuan diketahui memiliki sepasang kromosom X, sementara laki-laki hanya satu. Kondisi ini membuat peluang perempuan menurunkan gen kecerdasan menjadi dua kali lipat dibanding laki-laki.

Di sisi lain, gen dari ayah disebut lebih banyak berperan dalam mewariskan karakteristik lain seperti intuisi dan aspek emosional. Sifat-sifat ini tetap penting karena turut mendukung berkembangnya potensi kecerdasan anak. “Apabila gen serupa justru diwariskan dari ayah, maka gen itu akan dalam kondisi tidak aktif,” tulis laporan dalam Psychology Spot.

Artinya, baik ibu maupun ayah sama-sama memberi kontribusi genetik terhadap kecerdasan anak. Namun, secara probabilitas, gen dari ibu memiliki kemungkinan lebih besar untuk terekspresi dan berperan aktif.

Kendati demikian, faktor keturunan bukanlah satu-satunya penentu. Perkembangan kecerdasan anak juga sangat ditentukan oleh stimulasi lingkungan, kualitas pendidikan, nutrisi, serta keterlibatan pengasuhan dari ayah dan ibu.***

Editor : Aab Abdul Malik

(SRM)

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama  

0

Oleh: Radhar Tribaskoro/ Pendiri Forum Aktivis Bandung, Anggota Komite Eksekutif KAMI, Presidium KAPPAK dan
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Wartain.com || Ada sesuatu yang rusak dalam cara kita berbangsa ketika Jusuf Kalla—tokoh yang justru dikenang karena membantu mendamaikan Poso, Maluku, dan Aceh—kini dilaporkan atas tuduhan penodaan agama gara-gara potongan ceramah yang dicabut dari konteksnya. Polemik itu muncul setelah cuplikan ceramah JK di Masjid UGM diperdebatkan di ruang publik, lalu berkembang menjadi laporan pidana dari GAMKI dan sejumlah organisasi Kristen. JK kemudian menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak sedang membahas dogma agama, melainkan menjelaskan konteks konflik Poso dan Ambon dalam ceramah bertema perdamaian. Ia menegaskan bahwa istilah “syahid” dipakai karena audiens di masjid lebih mudah memahami istilah itu dibanding “martir”.

Masalahnya, di negeri yang semakin dikuasai logika potongan video, konteks sering kalah oleh kemarahan. Orang tidak lagi mau mendengar satu ceramah utuh; mereka hanya membutuhkan satu fragmen yang cukup pendek untuk dipakai memukul. Inilah gejala zaman yang berbahaya: bukan zaman ketika orang paling benar yang menang, melainkan zaman ketika orang paling cepat tersinggung memperoleh panggung. Dalam suasana seperti itu, jasa perdamaian dapat dibatalkan oleh satu klip, rekam jejak kemanusiaan dapat dilucuti oleh satu tuduhan, dan agama—yang seharusnya menjadi sumber kejernihan batin—diubah menjadi alat pelaporan politik.

Padahal jika ada satu nama yang seharusnya dibaca dengan kehati-hatian sejarah, nama itu adalah Jusuf Kalla. Berbagai kajian tentang konflik Indonesia mencatat peran JK dalam proses resolusi konflik, termasuk Poso, Maluku, dan Aceh. Bahkan survei literatur tentang studi konflik di Indonesia menempatkan peran JK sebagai salah satu titik penting dalam pembicaraan tentang proses damai, sementara kajian lain secara khusus menyorot strategi komunikasi politik JK dalam fasilitasi perdamaian Poso. Jadi, orang boleh tidak setuju dengan ceramahnya, boleh mengkritik pilihan katanya, tetapi menuduhnya sebagai penista agama tanpa membaca konteks adalah bentuk kemalasan moral.

Yang tragis justru karena tuduhan itu datang dari organisasi pemuda Kristen. Tragis, sebab Poso dan Ambon bukan sekadar nama tempat dalam arsip konflik. Keduanya adalah luka kebangsaan. Dan JK bukan tokoh yang datang sesudah semuanya selesai; ia terlibat dalam usaha menjahit kembali masyarakat yang koyak. Maka ketika seorang pendamai konflik agama dilaporkan atas nama agama, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan keberanian iman, melainkan kemerosotan nalar peradaban. Kita seperti lupa membedakan antara penjelasan sosiologis atas konflik dengan penghinaan teologis terhadap ajaran iman. Padahal dua hal itu sangat berbeda.

Di sinilah kasus ini perlu dilihat dari sudut pandang peradaban. Republik ini tidak lahir dari ruang kosong. Jauh sebelum Indonesia merdeka, jauh sebelum istilah “pluralisme” menjadi jargon seminar, para cendekiawan Nusantara sudah menyadari bahwa masyarakat majemuk hanya bisa bertahan bila perbedaan tidak dijadikan sumber perang. Dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14 lahir ungkapan yang kemudian menjadi semboyan kita: Bhinneka Tunggal Ika. Sejumlah kajian menegaskan bahwa frasa itu berasal dari konteks upaya merawat harmoni di tengah keragaman keagamaan, terutama Siwa dan Buddha, dan mengandung dorongan toleransi, persatuan, serta pengakuan bahwa perbedaan tidak harus berujung permusuhan.

Artinya, sejak lama peradaban di kepulauan ini sudah mengembangkan semacam insting kebudayaan: agama terlalu penting untuk dijadikan sumber sengketa politik. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan administratif. Ia adalah keputusan intelektual dan moral. Ia lahir dari kesadaran bahwa jika masyarakat majemuk membiarkan identitas iman menjadi sumber pertikaian permanen, maka yang hancur bukan cuma ketertiban politik, melainkan kemampuan bangsa itu sendiri untuk bertahan.

Karena itu saya kira pokok argumentasi yang lebih besar bukanlah apakah JK salah memilih satu istilah. Pokoknya adalah: apakah kita rela membiarkan agama dipakai sebagai senjata hukum dalam pertikaian opini? Sebab jika kebiasaan ini dibiarkan, maka ruang publik kita akan berubah menjadi ladang ranjau. Sejarawan, sosiolog, mubalig, pendeta, dosen, penulis—siapa pun yang berusaha menjelaskan konflik agama secara jujur—dapat sewaktu-waktu diancam pasal, hanya karena ada pihak yang lebih suka tersinggung daripada memahami. Itu bukan pertanda bangsa religius. Itu pertanda bangsa yang mulai kehilangan kepercayaan diri intelektualnya.

Padahal Sutasoma 700 tahun yang lalu telah mengajarkan bahwa bangsa yang matang belajar dari sejarah panjang pertikaian keagamaan dunia. Para intelektual Nusantara yang berada di balik penulisan Kakawin Sutasoma, saya percaya, telah mempelajari Perang Salib yang dimulai pada 300 tahun sebelumnya. Selama berabad-abad dunia menyaksikan bagaimana agama dapat dijadikan bahan bakar perang. Dalam horizon sejarah seperti itulah kebijaksanaan Nusantara terasa istimewa: perbedaan agama diakui, tetapi sebisa mungkin tidak dijadikan mesin permusuhan.

Warisan itu juga tampak dalam cara Indonesia berjumpa dengan Islam. Islam datang ke Nusantara terutama melalui perdagangan, jejaring ulama, pendidikan, perkawinan, dan akulturasi, bukan terutama melalui ekspedisi militer. Karena itu, kedatangannya pada umumnya tidak dibaca sebagai imperialisme agama. Ia masuk, berakar, lalu berbaur. Bahkan ketika Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda datang, bangsa-bangsa di Nusantara melawan mereka terutama sebagai kekuatan kolonial dan ekonomi-politik, bukan sekadar sebagai representasi agama tertentu. Dengan kata lain, sejak lama akal sejarah kita sudah membedakan antara dominasi kekuasaan dan perbedaan iman. Inilah kedewasaan yang kini justru terancam oleh politik ketersinggungan.

Di titik ini, saya kira polemik JK bukan soal JK semata. Ini cermin dari sesuatu yang lebih luas: rendahnya mutu kebudayaan politik kita. Kita makin mudah mengkriminalkan, makin malas menafsirkan. Kita makin cepat melapor, makin enggan membaca. Kita makin gemar menyulut identitas, makin lemah merawat kebangsaan. Orang-orang yang seharusnya dididik untuk menjadi penjaga jembatan antarkelompok justru tampil sebagai pemburu pasal. Dan yang lebih menyedihkan, semua itu dilakukan di bawah nama agama, seakan Tuhan membutuhkan amarah kita untuk mempertahankan kemuliaan-Nya.

Padahal yang membutuhkan perlindungan sesungguhnya bukan Tuhan, melainkan republik ini. Republik yang majemuk. Republik yang rapuh bila agama diseret ke pasar dendam. Republik yang dulu dirumuskan dengan kebijaksanaan tinggi oleh para pendiri bangsa, dan jauh sebelumnya telah dibayangkan oleh Mpu Tantular: berbeda, tetapi satu; berbeda, tetapi jangan saling meniadakan; berbeda, tetapi jangan menjadikan iman sebagai alasan untuk mempidanakan satu sama lain setiap kali ruang publik memanas.

Karena itu, membela Jusuf Kalla dalam kasus ini bukan berarti menempatkannya di atas kritik. Bukan. Membela JK di sini berarti membela satu prinsip yang lebih besar: bahwa penjelasan tentang konflik tidak boleh dipelintir menjadi penistaan hanya demi memuaskan gairah polemik. Bahwa jasa perdamaian tidak boleh dihapus oleh algoritma. Bahwa agama harus dijauhkan dari godaan menjadi alat perang opini. Dan bahwa bangsa ini, jika masih ingin pantas menyebut dirinya Bhinneka Tunggal Ika, harus kembali belajar membedakan antara iman, politik, dan kebencian.

Barangkali di sinilah letak kesedihan kita hari ini: negeri yang diwarisi kebijaksanaan setua Sutasoma justru dipenuhi oleh politikus yang berpikir sependek potongan video. Mereka hidup dari cuplikan, bukan konteks; dari kegaduhan, bukan kejernihan; dari pelaporan, bukan perenungan. Padahal peradaban tidak diukur dari seberapa cepat orang tersinggung, melainkan dari seberapa dalam ia mampu memahami perbedaan tanpa segera mengubahnya menjadi permusuhan. Maka pertanyaannya pun menjadi pahit: apakah peradaban kita sungguh sedang mundur, atau jangan-jangan yang mundur adalah mutu elite yang hari ini mengisi panggung republik? Sebab bila seorang pendamai bisa diperlakukan sebagai penista hanya karena nalar publik telah dikerdilkan, maka yang sedang runtuh bukan sekadar etika politik, melainkan kecerdasan peradaban kita sendiri.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Dewa United vs Persib Bandung Berakhir Imbang 2-2, Maung Bandung Nyaris Tumbang

0
Oplus_131072

Wartain.com || Persib Bandung nyaris menelan kekalahan dalam laga lanjutan Liga 1 melawan Dewa United yang digelar di Banten International Stadium. Pertandingan yang berlangsung sengit tersebut berakhir dengan skor imbang 2-2 setelah melalui drama kejar-kejaran gol sejak babak pertama hingga menit-menit akhir pertandingan. Senin, 20 April 2026.

Tuan rumah Dewa United langsung menekan sejak awal laga dan berhasil unggul lebih dulu pada menit ke-24. Gol pembuka ini lahir akibat kelengahan lini pertahanan Persib Bandung yang membiarkan bola liar tanpa pengawalan ketat, sehingga Alex Martins Ferreira mampu mengonversinya menjadi gol. Kesalahan komunikasi di barisan belakang Maung Bandung menjadi catatan merah bagi sang pelatih di awal laga.

Memasuki babak kedua, Dewa United justru semakin menjauh pada menit ke-61 melalui gol Ricky Kambuaya. Lagi-lagi, gol ini berawal dari kesalahan fatal pemain Persib yang gagal membuang bola dengan sempurna di area pertahanan. Bola yang tidak bersih disapu justru mengarah tepat ke kaki pemain Dewa United yang langsung menghukum gawang Persib untuk kedua kalinya.

Persib Bandung baru bisa memperkecil ketertinggalan pada menit ke-77 melalui titik putih. Hadiah penalti diberikan wasit setelah salah satu pemain Persib dilanggar keras di dalam kotak terlarang. Thom Haye yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan tenang dan mengubah skor menjadi 2-1, sekaligus membakar semangat juang skuad Pangeran Biru.

Upaya pantang menyerah Persib akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-86. Berawal dari skema serangan yang rapi, Eliano Reijnders melepaskan umpan silang akurat yang berhasil disambut dengan sundulan tajam oleh Andrew Jung. Gol tersebut membuat kedudukan menjadi imbang 2-2 dan menyelamatkan wajah Persib Bandung dari kekalahan di markas Dewa United.

Dengan hasil imbang ini, kedua tim harus puas berbagi satu poin dalam persaingan ketat di papan klasemen Liga 1. Persib Bandung gagal memaksimalkan peluang membawa pulang tiga poin ke bandung dan tetap berada di puncak klasemen, sementara Dewa United masih tertahan di papan tengah. Pertandingan ini juga diwarnai dengan kartu merah yang diterima pencetak gol Dewa United, Alex Martins, pada menit ke-63, yang memaksa tuan rumah bermain dengan sepuluh orang di sisa waktu laga.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Persijap Jepara Permalukan Semen Padang 2-0 di Hadapan Publik Sendiri

0
Oplus_131072

Wartain.com || Persijap Jepara sukses mencuri poin penuh setelah menumbangkan tuan rumah Semen Padang FC dengan skor meyakinkan 0-2 dalam lanjutan kompetisi BRI Super League. Pertandingan yang berlangsung sengit tersebut digelar di Stadion GOR Haji Agus Salim, Padang, pada Senin (20/4/2026) sore WIB. Kemenangan ini sekaligus mempertegas dominasi tim tamu yang tampil lebih efektif sepanjang laga.

Dua gol kemenangan Laskar Kalinyamat masing-masing dicetak oleh Rendi pada menit ke-37 melalui skema serangan yang rapi. Menjelang turun minum, tepatnya pada menit ke-44, Persijap berhasil menggandakan keunggulan melalui eksekusi penalti tenang dari pemain nomor punggung 95, França. Hingga peluit panjang ditiupkan, Semen Padang gagal mengejar ketertinggalan meski terus berupaya menekan.

Berdasarkan statistik pertandingan, Persijap Jepara memang tampil lebih dominan dengan penguasaan bola mencapai 54 persen berbanding 46 persen milik tuan rumah. Tim tamu juga mencatatkan efektivitas serangan yang luar biasa dengan melepaskan 11 tembakan, di mana 8 di antaranya tepat sasaran (on target). Sementara itu, Semen Padang yang juga melepas 11 tembakan hanya mampu mengarahkan 3 bola ke gawang lawan.

Pertahanan Persijap Jepara menjadi kunci sukses dalam menjaga keunggulan ini. Tercatat, tim tamu melakukan 19 kali tekel sukses dan 25 kali sapuan (clearances) untuk mematahkan serangan bertubi-tubi dari tim Kabau Sirah. Selain itu, aliran bola Persijap juga lebih mengalir dengan total 417 operan, unggul jauh dari Semen Padang yang hanya mencatatkan 353 operan sepanjang pertandingan.

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Semen Padang yang bermain di depan pendukungnya sendiri. Meski unggul dalam jumlah intersep (34) dan sentuhan di kotak penalti lawan (26 kali), penyelesaian akhir yang buruk menjadi kendala utama bagi anak asuh pelatih Semen Padang untuk mengonversi peluang menjadi gol. Sebaliknya, Persijap tampil lebih tajam setiap kali memasuki area sepertiga akhir lawan.

Dengan hasil ini, Persijap Jepara berhak membawa pulang tiga poin penting untuk memperbaiki posisi mereka di klasemen sementara. Bagi Semen Padang, hasil negatif ini menjadi bahan evaluasi besar, terutama dalam meningkatkan akurasi tembakan dan koordinasi lini belakang sebelum menghadapi laga berikutnya dalam kompetisi liga musim ini.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Proyek Jalan Gudang, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah di Sejumlah Ruas Kota Sukabumi

0

Wartain.com || Satuan Lalu Lintas Polres Sukabumi Kota memberlakukan rekayasa arus kendaraan menyusul dimulainya proyek peningkatan kualitas jalan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi. Kebijakan ini diambil guna mengantisipasi kepadatan lalu lintas selama proses pekerjaan berlangsung.

Pengaturan arus difokuskan di sejumlah jalur vital, yakni Jalan Gudang, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Zaenal Zakse. Pada ruas-ruas tersebut, kendaraan akan diarahkan menggunakan sistem satu arah (one way) untuk menghindari penumpukan akibat penyempitan badan jalan dan aktivitas konstruksi.

Proyek peningkatan infrastruktur sendiri berpusat di Jalan Gudang dengan panjang penanganan sekitar 230 meter dan lebar 9,50 meter. Pekerjaan meliputi pembongkaran lapisan lama, pengecoran beton (rigid pavement), hingga pelapisan aspal (AC-WC). Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama empat bulan, mulai 1 April hingga 31 Juli 2026.

Plt Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, Ade Ruli Bahtiarudin, menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas dilakukan untuk memastikan arus kendaraan tetap terkendali sekaligus mendukung kelancaran proyek.

“Kami dari Sat Lantas Polres Sukabumi Kota melakukan pengaturan dan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan untuk meminimalisir kemacetan serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jalan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Ia mengingatkan masyarakat agar mematuhi rambu lalu lintas yang telah dipasang serta mengikuti arahan petugas di lapangan selama kebijakan ini diterapkan.

“Kami mengajak seluruh pengguna jalan untuk tetap disiplin, mengikuti petunjuk yang ada, serta bersabar selama proses pengerjaan berlangsung demi kepentingan bersama dalam pembangunan Kota Sukabumi,” tambahnya.

Polres Sukabumi Kota juga memastikan akan terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi lalu lintas di sekitar proyek. Evaluasi akan dilakukan untuk menyesuaikan skema rekayasa jika ditemukan potensi kemacetan di titik-titik tertentu, sehingga mobilitas warga tetap terjaga selama pembangunan berlangsung.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Aklamasi di Musda XVI, Sudar Fauzi Nahkodai KNPI Kota Sukabumi

0

Wartain.com || Musyawarah Daerah (Musda) ke-16 DPD KNPI Kota Sukabumi menetapkan Sudar Fauzi sebagai ketua baru secara aklamasi. Proses pemilihan berlangsung lancar dan kondusif, setelah hanya tersisa satu kandidat yang memenuhi syarat, menyusul tidak lolosnya bakal calon lainnya, Danial Fadhilah, dalam tahap penjaringan.

Usai terpilih, Sudar menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia memastikan dalam waktu dekat akan segera menyusun struktur organisasi melalui pembentukan tim formatur, sekaligus merancang arah program kerja KNPI ke depan.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian Musda berjalan lancar. Dalam waktu dekat kita akan menggelar rapat formatur dan menyusun kepengurusan, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan program kerja,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Dalam kepemimpinannya, Sudar membawa gagasan “Tri Harmoni” yang akan menjadi landasan gerak organisasi. Tiga pilar utama tersebut mencakup penguatan soliditas internal, peningkatan peran pemuda dalam berbagai sektor, serta menjadikan KNPI sebagai ruang strategis bagi pengembangan generasi muda.

“Pertama, kita ingin menjaga soliditas dan memperkuat koordinasi internal. Kedua, mendorong pemberdayaan pemuda di semua aspek. Ketiga, memastikan KNPI menjadi ruang strategis yang benar-benar berdampak bagi kemajuan pemuda,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga komunikasi di tengah dinamika organisasi. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang lumrah, selama tetap diarahkan pada tujuan bersama.

“Perbedaan itu hal biasa. Yang terpenting adalah bagaimana ke depan kita bisa kembali duduk bersama, membangun komunikasi, dan menyatukan tujuan untuk kemajuan pemuda,” katanya.

Lebih lanjut, Sudar menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah. Ia menilai KNPI harus mampu mengambil peran sebagai mitra strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan, khususnya di bidang kepemudaan.

“KNPI harus hadir sebagai organisasi yang mendukung pemerintah. Ke depan, kita akan memperkuat kolaborasi dan sinergi agar program kepemudaan bisa berjalan lebih optimal,” tegasnya.

Dalam proses penyusunan kepengurusan, Sudar menyebut akan melibatkan seluruh unsur organisasi kepemudaan (OKP). Ia menargetkan dalam kurun waktu satu bulan, struktur kepengurusan sudah terbentuk dan siap bekerja.

“Kita optimalkan waktu satu bulan untuk merampungkan semuanya. Harapannya, setelah itu KNPI bisa langsung bergerak menjalankan program-program yang bermanfaat bagi pemuda di Kota Sukabumi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPD KNPI Kota Sukabumi sebelumnya, Nurul Jaman Hadi, menyampaikan bahwa pelaksanaan Musda kali ini merupakan bagian dari proses panjang organisasi yang telah dilalui secara bertahap.

“Musda ini tidak serta-merta langsung ke-16, tapi melalui tahapan. Alhamdulillah hari ini berjalan kondusif dan kita berharap melahirkan ketua baru yang bisa membawa KNPI lebih baik ke depan,” ujarnya.

Nurul juga menegaskan komitmen untuk menjaga persatuan di tubuh KNPI Kota Sukabumi, meskipun sempat muncul perbedaan pandangan di internal organisasi.

“Kalau di provinsi ada beberapa kubu, di Kota Sukabumi kita ingin satu KNPI. Panitia bahkan sudah mengundang dan menghubungi mereka langsung agar semua bisa ikut berpartisipasi,” katanya.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berorganisasi, serta menjunjung tinggi nilai persahabatan di atas kepentingan jabatan.

“Dinamika itu biasa. Tapi jangan lupa ada etika dan persahabatan. Jabatan hanya sementara, pertemanan harus seumur hidup,” tutup Kang Aun, sapaan akrabnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Pondok Pesantren Terpadu Al Istiqomah, Melepas Santri untuk Praktek Lapangan

0

Wartain.com || PPT Al Istiqomah menggelar kegiatan praktek lapangan dengan nama “Perkampungan Santri”, mulai Senin, 20 April 2026 sampai 23 Mei 2026 di Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi.

Pelepasan dilakukan oleh Ketua Yayasan, Pembina, dan Pengurus Pondok. Dalam sambutannya, Ketua Yayasan H. Sihabudin, S.E., menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan sejak tahun 2010, sebagai wujud aktualisasi teori dan praktik.

“Diharapkan kalian mampu menjaga marwah pesantren, dan membuktikan bahwa ilmu-ilmu agama dan umum bisa dipraktikkan di lapangan, di masyarakat,” kata H. Sihabudin dalam arahannya.

Sementara itu, KH. Royanudin, sebagai pembina, menitipkan pesan agar menjaga etika dan akhlak di masyarakat, maupun dalam komunikasi dengan pemerintahan serta tokoh-tokoh di desa.

Setelah dilepas di halaman pondok oleh Ketua Yayasan, Pembina, dan para asatidz, pelaksanaan pembukaan dilaksanakan di Kantor Desa Buniwangi, yang beralamat di Kp. Tegal Koneng RT 009 RW 003, Kedusunan Lio.

Dalam sambutannya, Kepala MA Al Istiqomah Ust. Usep Wahidin Muslim, S.Pd.I., menyampaikan bahwa program ini sudah memasuki angkatan ke-16, diawali tahun 2010.

Program ini adalah sebuah praktik lapangan untuk mengaktualisasikan apa yang diperoleh selama di pondok. “Apa yang ada di desa dan masyarakat menjadi garapan kegiatan anak-anak santri,” pungkasnya.

Para santri PPT Al-Istiqamah siap melaksanakan kegiatan Praktek Lapangan (foto : Dn)

Sementara Direktur Pendidikan Pondok KH. Saeful Rahman, S.Pd.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah aktualisasi dari Visi Pondok, yaitu Kedalaman Spiritual, Ketajaman Nalar, Kepekaan Terhadap Problematika Sosial, dan Mental Keswadayaan. Perkampungan Santri ini memiliki 6 bidang garapan, yaitu keagamaan, pendidikan, pemerintahan, ekonomi, perempuan dan anak, serta sosial budaya.

Sementara Kepala Desa Buniwangi Dadun Kohar, S.H., dalam sambutan dan penerimaannya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan untuk menjadi tempat kegiatan.

“Ini menjadi tanggung jawab kami dalam memberikan bimbingan bersama para panitia dari Pondok,” demikian sambutannya.

Beliau menggarisbawahi kegiatan Perkampungan Santri ini menjadi implementasi bagi santri, kadang terjadi perbedaan antara teori dan praktik. Buktikan bahwa ilmu yang diperoleh bisa diterapkan.

Sementara Sekretaris Desa Uje Yakub menyampaikan bahwa Desa ini terdiri dari wilayah pertanian dan perkebunan, ada 4 Kedusunan: Sindangsari, Lio, Sumur, dan Kemang, dengan 7 RW dan 20 RT. Desa ini berbatasan sebelah utara dengan Desa Cireunghas dan Desa Cipurut Kec. Cireunghas, Desa Bojongsawah, Desa Jambenengang Kec. Kebonpedes; barat dengan Desa Neglasari Kec. Nyalindung; timur dengan Desa Caringin Kecamatan Gegerbitung; selatan dengan Desa Karangjaya Kec. Gegerbitung.

Yang dilakukan anak-anak santri nanti di lapangan adalah mengajar di sekolah dan madrasah, mengisi pengajian bapak atau ibu, kegiatan sosial kemasyarakatan seperti kerja bakti, terjun di pertanian atau perkebunan, serta kegiatan lainnya yang menjadi kebiasaan di masyarakat desa itu sendiri. Pada akhir kegiatan setiap kelompok akan membuat laporan, terkait profil desa, potensi desa, dan kegiatan mereka selama di lapangan. Jumlah santri yang mengikuti kegiatan 49 santri yang merupakan anak-anak tingkat akhir, yaitu kelas XII Madrasah Aliyah.

Diharapkan dari kegiatan ini akan menambah pengetahuan dan pengalaman, pengembangan karakter, dan bekal ilmu lainnya yang bermanfaat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pemkot Sukabumi Salurkan Donasi untuk 12 PAS, Perkuat Skema Filantropi Berkelanjutan

0

Wartain.com || Pemerintah Kota Sukabumi kembali menyalurkan bantuan sosial bagi warga yang membutuhkan melalui skema filantropi. Kali ini, donasi sebesar Rp41.218.000 diserahkan untuk mendukung 12 Pemerlu Atensi Sosial (PAS).

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyampaikan bahwa dana tersebut merupakan hasil donasi dari tim wali kota yang dipimpin oleh Ibu Yeni. Bantuan itu kemudian langsung disalurkan melalui Dinas Sosial Kota Sukabumi.

“Alhamdulillah hari ini kita mendapatkan donasi sebesar Rp41.218.000 dari tim Wali Kota yang dipimpin oleh Ibu Yeni. Dana ini langsung saya serahkan kepada Dinas Sosial untuk digunakan bagi 12 Pemerlu Atensi Sosial (PAS) di Kota Sukabumi,” ujarnya saat kegiatan di Op Room Setda Kota Sukabumi, Senin (20/4/2026).

Dengan tambahan dana ini, total anggaran filantropi yang berhasil dihimpun kini mencapai Rp191 juta, setelah sebelumnya memperoleh dukungan Rp150 juta dari Bank BJB. Dana tersebut akan difokuskan untuk program kesejahteraan sosial, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

Ayep menjelaskan, penguatan dana sosial ini merupakan bagian dari strategi pembiayaan pembangunan yang tidak semata bergantung pada anggaran pemerintah, baik dari APBN, APBD provinsi, maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia menilai, kontribusi dari sektor filantropi menjadi elemen penting dalam mendukung pembangunan sosial.

Ke depan, Pemkot Sukabumi juga akan mengembangkan model pendanaan berbasis wakaf sebagai salah satu pilar utama. Melalui Lembaga Wakaf Doa Bangsa, saat ini telah terhimpun aset sekitar Rp2,78 miliar yang dikelola melalui instrumen keuangan syariah, seperti sukuk di sejumlah bank syariah.

Dari pengelolaan tersebut, pemerintah memperoleh imbal hasil berkisar 4,8 hingga 5 persen per tahun. Hasil tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan berkelanjutan untuk berbagai program sosial.

“Dari hasil pengelolaan itu, kita memiliki sekitar Rp135 juta per tahun untuk kegiatan sosial. Jika ke depan nilainya meningkat hingga sepuluh kali lipat, maka potensi anggaran filantropis bisa mencapai lebih dari Rp1,3 miliar,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan filantropi ini dapat menjadi solusi alternatif dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat, mulai dari kemiskinan, kesehatan, hingga pendidikan. Skema dana yang berkelanjutan diharapkan mampu melengkapi peran pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan warga.

Ia juga mengajak seluruh aparatur pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan hingga fasilitas layanan kesehatan, untuk ikut menyosialisasikan dan mendukung program tersebut kepada masyarakat.

Lebih lanjut, Ayep menekankan pentingnya menjaga semangat kolaborasi serta tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang dapat menghambat upaya pembangunan sosial.

“Setiap kebaikan harus kita dorong bersama. Jangan sampai niat baik ini tercemari oleh hal-hal yang tidak produktif. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.

Program 12 PAS sendiri menjadi salah satu wujud konkret komitmen Pemerintah Kota Sukabumi dalam menghadirkan layanan sosial yang lebih inklusif, sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik