26.7 C
Jakarta
Jumat, Juli 10, 2026
Beranda blog Halaman 235

Anggota DPRD Jalil Abdilah Sebut, Penertiban IPAT Dorong Peningkatan PAD Sukabumi 

0
Oplus_0

Wartain.com || Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi, Jalil Abdillah, mendorong penertiban perizinan pemanfaatan air tanah di wilayah Kabupaten Sukabumi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi sekaligus mengoptimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Hal tersebut disampaikan Jalil usai melakukan kunjungan ke PT Indolakto Plant C-3 yang berlokasi di Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jumat (6/3/2026). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pengawasan sekaligus pembinaan terkait perizinan perusahaan.

Dalam kesempatan itu, Jalil mengingatkan masyarakat maupun pelaku usaha yang memanfaatkan air tanah agar memperhatikan dan menaati Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Izin Pengusahaan Air Tanah dan Persetujuan Penggunaan Air Tanah.

Menurutnya, pemanfaatan air tanah untuk kegiatan usaha hanya dapat dilakukan setelah memiliki Izin Pengusahaan Air Tanah (IPAT). Sementara itu, penggunaan sumber daya air tanah untuk kegiatan non-usaha harus terlebih dahulu mendapatkan Persetujuan Penggunaan Air Tanah.

“Pemanfaatan air tanah untuk kegiatan usaha wajib memiliki izin pengusahaan air tanah. Sedangkan penggunaan untuk non usaha harus memiliki persetujuan penggunaan air tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Jalil juga mengingatkan adanya sanksi tegas bagi pelaku usaha yang tidak menaati aturan tersebut. Bahkan, apabila pemanfaatan air tanah terbukti menimbulkan kerusakan lingkungan, pelaku usaha dapat dikenakan ancaman pidana.

Selain itu, Jalil memberikan kesempatan bagi masyarakat maupun pelaku usaha yang telah memiliki sumur air tanah tetapi belum mengantongi izin untuk segera melakukan penataan perizinan. Ia menegaskan sesuai peraturan bahwa proses penataan izin tersebut harus dilakukan paling lambat hingga 31 Maret 2026.

Di sisi lain, Jalil menyoroti potensi besar dari sektor pajak air tanah yang dinilai belum tergarap secara optimal di Kabupaten Sukabumi. Saat ini, kontribusi pajak air tanah terhadap PAD diperkirakan masih sekitar Rp65 miliar.

Menurutnya, jika potensi tersebut dioptimalkan melalui penertiban perizinan dan pengawasan yang lebih ketat, penerimaan daerah dari sektor tersebut bisa meningkat signifikan.

“Kalau potensi ini bisa dioptimalkan, pajak air tanah di Kabupaten Sukabumi bisa mencapai hingga Rp300 miliar,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Hadiri Silaturahmi Ramadan di Gedung Pakuan, Wakil Wali Kota Sukabumi Dorong Penguatan Sinergi Pusat dan Daerah

0

Wartain.com || Wakil Wali Kota Bobby Maulana menilai momentum silaturahmi di bulan Ramadan dapat menjadi sarana penting untuk mempererat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang lebih efektif serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar oleh Komisi II DPR RI bersama Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat, serta mitra kerja Komisi II DPR RI dan keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam se-Jawa Barat di Gedung Pakuan, Bandung, Jumat (6/3/2026).

Menurut Bobby, pertemuan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi lintas pemerintahan dalam mendukung percepatan pembangunan di daerah, khususnya pada sektor infrastruktur dan pelayanan publik.

“Melalui pertemuan ini diharapkan terbangun koordinasi yang semakin baik antara pemerintah pusat, provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota, sehingga kebutuhan pembangunan daerah dapat terakomodasi dan terealisasi dengan optimal,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadan yang bertujuan mempererat hubungan sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta pemerintah daerah di wilayah Jawa Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pandangannya terkait arah pembangunan dan tata kelola pemerintahan di Jawa Barat.

Ia menekankan pentingnya efisiensi dalam birokrasi serta peningkatan produktivitas aparatur negara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, pengelolaan anggaran harus dilakukan secara efektif agar tidak menimbulkan beban bagi pemerintahan di masa mendatang.

Ia juga menyinggung sejumlah tantangan keuangan daerah yang saat ini dihadapi pemerintah, termasuk adanya kewajiban yang masih tertunda seperti pembayaran layanan kesehatan melalui program BPJS Kesehatan.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap berupaya memastikan masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan tetap dapat memperoleh pelayanan, terutama melalui fasilitas kesehatan kelas III.

Dedi menegaskan bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari besarnya anggaran yang dimiliki, melainkan dari kemampuan memaksimalkan anggaran tersebut untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas pendidikan, serta upaya meningkatkan kesejahteraan warga.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir birokrasi agar lebih berorientasi pada semangat pengabdian kepada negara dan masyarakat.

Menurutnya, nilai-nilai budaya Sunda yang menjunjung tinggi kesetaraan dapat menjadi fondasi dalam membangun tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif dan berpihak kepada rakyat.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana berharap dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi terus diperkuat, sehingga berbagai program pembangunan di daerah dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia menilai kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut juga menjadi ruang dialog yang konstruktif untuk memperkuat pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, sekaligus membangun kolaborasi yang lebih solid antara pemerintah pusat dan daerah demi kemajuan Jawa Barat.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Nuzulul Qur’an di Masjid Agung Sukabumi, Wali Kota Ajak ASN Teladani Nilai Kejujuran dan Amanah

0

Wartain.com || Peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar di Masjid Agung Kota Sukabumi, Jumat (6/3/2026) malam, menjadi momentum bagi Wali Kota Ayep Zaki untuk mengingatkan pentingnya nilai kejujuran dan amanah dalam menjalankan pemerintahan.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, jajaran perangkat daerah, tokoh agama, serta masyarakat yang memadati masjid untuk memperingati turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam.
Dalam sambutannya, Ayep Zaki menyampaikan bahwa malam 17 Ramadan memiliki makna penting bagi umat Islam sebagai peristiwa diturunkannya Al-Qur’an.

“Malam ini merupakan malam yang luar biasa, malam diturunkannya Al-Qur’an. Pada tanggal 17 Ramadan berdasarkan penanggalan hijriyah atau qomariyah, yang berbeda dengan penanggalan syamsiah atau masehi. Malam ini adalah malam kemuliaan bagi umat Islam,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga mengibaratkan kepemimpinan pemerintahan seperti hubungan antara imam dan makmum dalam salat berjamaah. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki integritas agar dapat menjadi teladan bagi aparatur di bawahnya.

“Saya memiliki jabatan konstitusional yang mengacu kepada undang-undang. Mirip seperti tadi kita salat berjamaah, ada imam dan ada makmum. Imam harus memiliki wudhu, begitu juga makmum. Kalau saya sebagai pemimpin ingin jujur dan amanah, maka seluruh perangkat daerah juga harus jujur dan amanah,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Sukabumi untuk membangun semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

“Saya ingin berjamaahnya Pemerintah Kota sama baiknya seperti tadi kita melaksanakan salat Isya dan Tarawih. Berikan contoh kepada masyarakat,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ayep Zaki menyampaikan harapannya agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi pendorong perubahan menuju kondisi kota yang lebih baik.

“Kalau niat ingin hijrah, maka kita akan mendapatkan rido-Nya. Kota Sukabumi harus berhijrah dari kemiskinan menjadi sejahtera, dari pengangguran yang tinggi menjadi rendah, dari stunting 19 persen menjadi nol persen,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada peran perangkat daerah sebagai pelaksana program pemerintah.

“Negara telah memberikan fasilitas dan meminta kita untuk menyejahterakan Kota Sukabumi. Jika kita tidak menjalankan itu, maka sama seperti salat yang tidak sah atau batal,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

SMP IT An-Nuur Palabuhanratu Gelar Aksi Berbagi Takjil untuk Warga di Gunung Goong

0

Wartain.com || Keluarga besar SMP IT An-Nuur menunjukkan kepedulian sosial di bulan suci Ramadhan dengan menggelar aksi berbagi takjil gratis. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Gunung Goong, Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (7/3/2026) sore.

Dengan penuh semangat, para siswa dan guru membagikan paket takjil sederhana kepada warga sekitar serta para pengendara yang melintas di depan sekolah. Meski menu yang disajikan cukup sederhana, hal tersebut tidak mengurangi kekhidmatan dan esensi dari semangat berbagi di bulan yang penuh berkah ini.

Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Para pengguna jalan, mulai dari pengemudi ojek hingga warga setempat, tampak mengantre dengan tertib untuk mendapatkan paket berbuka puasa tersebut.

Kepala SMP IT An-Nuur, Endang Efendi, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan karakter bagi para siswa untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

“Kami ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa berbagi itu tidak harus menunggu mewah. Dengan takjil yang sederhana ini, kami berharap dapat membantu warga yang sedang dalam perjalanan sekaligus mempererat tali silaturahmi antara sekolah dengan lingkungan sekitar,” ujar Endang Efendi di sela-sela kegiatan.

Aksi sosial ini berjalan dengan lancar dan kondusif hingga menjelang waktu berbuka puasa. Melalui kegiatan rutin ini, SMP IT An-Nuur berkomitmen untuk terus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah Palabuhanratu dan sekitarnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Tajam dan Komunikasi Ambulance Pajampangan Berbagi 200 Paket Takjil, Perkuat Solidaritas Driver Ambulans Desa

0

Wartain.com || Tim Ambulans Pajampangan (Tajam), Driver Ambulans Pajampangan (DAP) bersama komunitas Ambulance lainnya menggelar kegiatan berbagi takjil kepada masyarakat pada bulan suci Ramadan. Dilaksanakan di depan Kantor Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah Kabupaten Sukabumi, Sabtu (07/03/2026).

Kegiatan sosial yang menjadi agenda tahunan tersebut merupakan wujud kepedulian dan kebersamaan para driver ambulans desa di wilayah Pajampangan.

Ketua Tajam sekaligus Ketua Penyelenggara, Muhamad Ali Abdurahman, mengatakan bahwa kegiatan berbagi takjil ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mempererat silaturahmi antaranggota serta masyarakat.

“Kegiatan berbagi takjil ini merupakan agenda tahunan setiap bulan Ramadan yang diselenggarakan oleh Tim Ambulans Pajampangan sebagai bentuk kepedulian sosial. Kami menyisihkan sebagian dari apa yang kami miliki untuk berbagi kepada masyarakat,” ujarnya.

Ali menjelaskan, kegiatan tersebut melibatkan beberapa komunitas terutama komunikasi driver ambulans, yakni Tajam dan DAP yang mencakup wilayah Kecamatan Jampang Kulon, Surade, Ciracap hingga Tegalbuleud.

Dalam kegiatan berbagi takjil tahun ini, Tajam dan DAP menyiapkan sekitar 200 paket takjil untuk dibagikan kepada masyarakat. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 50 paket.

“Alhamdulillah sekarang bisa sampai 200 paket takjil yang dibagikan kepada masyarakat,” katanya.

Selain kegiatan sosial di bulan Ramadan, Tajam juga menjalankan program pelayanan masyarakat melalui kerja sama dengan UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kecamatan Jampang Tengah.

Program tersebut dilakukan dengan metode jemput bola, khususnya bagi warga sakit atau lanjut usia yang belum memiliki atau belum melakukan perekaman e-KTP. Tim Tajam bersama petugas Disdukcapil mendatangi rumah warga untuk melakukan perekaman data kependudukan.

“Kami sering membawa pasien ke rumah sakit. Ternyata banyak yang terkendala administrasi seperti KTP yang belum online atau belum melakukan perekaman. Karena itu kami bekerja sama dengan Disdukcapil untuk melakukan perekaman secara door to door,” ungkapnya.

Program tersebut juga membantu masyarakat dalam proses administrasi lain seperti pengurusan BPJS Kesehatan.

Menurut Ali, kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat karena banyak warga yang tidak mampu datang langsung ke kantor Disdukcapil akibat kondisi sakit atau usia lanjut.

Di akhir kegiatan, ia berharap solidaritas antar driver ambulans desa di wilayah Pajampangan dapat terus terjaga serta mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Kami berharap ke depan semakin solid, silaturahmi tetap terjaga, dan kami bisa terus berbagi kepada masyarakat. Karena pada dasarnya ambulans desa ini murni pelayanan sosial. Tidak ada tarif, kalau ada yang memberi kami terima, kalau tidak ada pun kami tidak meminta,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Dedi Mulyadi: Bukan Tak Simpatik pada Tangisan, Tapi Ini Soal Lingkungan

0
Oplus_131072

Wartain.com || Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan sikap tegas dalam menegakkan aturan lingkungan hidup meski harus berhadapan dengan situasi emosional. Dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) di wilayah Kabupaten Subang, Sabtu (7/3/2026), Dedi menginstruksikan penutupan total sebuah tambang yang terbukti beroperasi tanpa izin.

Langkah ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah isak tangis pengelola tambang yang mengaku terhimpit kesulitan ekonomi. Namun, bagi orang nomor satu di Jawa Barat tersebut, urusan kelestarian alam dan profesionalisme jabatan berada di atas segalanya.

Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, terlihat dialog antara Dedi Mulyadi dan pengelola tambang berlangsung cukup alot. Pengelola tersebut mengakui secara terbuka bahwa usahanya belum mengantongi izin resmi. Sambil menahan tangis, ia mencurahkan kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan usaha di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Meski mendengarkan keluhan tersebut dengan seksama, Dedi Mulyadi tetap pada pendiriannya bahwa aktivitas ilegal tidak boleh ditoleransi.

“Kalau tidak ada izin, aktivitasnya harus dihentikan total,” tegas Dedi dalam pertemuan tersebut.

Satu hal yang menarik dari sikap Dedi kali ini adalah keberaniannya untuk mengesampingkan sentimen “balas budi” politik. Dalam keterangan unggahannya, ia secara eksplisit menyebutkan bahwa keputusannya tidak dipengaruhi oleh latar belakang pelaku sebagai simpatisan pada masa Pemilihan Gubernur (Pilgub) lalu.

“Saya harus mohon maaf, bukan tidak simpatik pada tangisan, bukan pula tidak simpatik pada simpatisan saat Pilgub lalu. Tapi ini soal alam, soal lingkungan dan soal profesionalisme saya sebagai pemimpin,” tulis Dedi.

Dedi menekankan bahwa pertambangan ilegal memiliki dampak domino yang merusak, mulai dari ancaman bencana ekologis hingga kerugian bagi masyarakat luas yang tinggal di sekitar lokasi tambang.

Gubernur mengingatkan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara bertanggung jawab dan mematuhi regulasi yang berlaku tanpa pengecualian. Penutupan tambang di Subang ini diharapkan menjadi peringatan keras bagi pelaku usaha lain di Jawa Barat untuk segera melegalkan aktivitas mereka atau menghadapi tindakan serupa.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sule)

Tercemar oleh Kasih Sayang yang Salah Tempat: Membangun Kembali Kesatuan Umat dalam Cahaya Cinta Allah dan Rasulullah

0
Oplus_131072

Esai Tasawuf

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

1. Pengantar: Ketika Cinta Kehilangan Arah

Wartain.com || Dalam ajaran tasawuf, seluruh gerak kehidupan berakar dari cinta (mahabbah). Alam semesta diciptakan karena cinta Ilahi, sebagaimana ungkapan para arif: “Allah menciptakan alam agar Dia dikenal.” Maka manusia sebagai makhluk yang diberi kesadaran memiliki potensi untuk menjadi cermin cinta Ilahi di bumi.
Namun perjalanan sejarah menunjukkan paradoks yang menyedihkan. Peradaban Islam yang dahulu dibangun oleh Rasulullah ﷺ dengan fondasi tauhid, akhlak, dan persaudaraan, perlahan mengalami retak dari dalam. Retakan itu bukan semata karena kekuatan luar, tetapi karena pergeseran orientasi cinta umatnya sendiri.

Ketika cinta kepada dunia, kekuasaan, golongan, dan identitas sempit mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka lahirlah apa yang oleh sebagian ulama kontemporer disebut sebagai “kasih sayang yang salah tempat.”
Ungkapan ini sering disampaikan oleh Ali Khamenei dalam pesan-pesan spiritualnya kepada umat Islam: bahwa umat bisa hancur bukan karena kekurangan cinta, tetapi karena cinta yang diarahkan pada sesuatu yang keliru.

2. Sumber Cinta Sejati: Allah dan Rasul-Nya

Dalam perspektif tasawuf, cinta memiliki hirarki.

Mahabbah Ilahiyyah – cinta kepada Allah
Mahabbah Rasuliyyah – cinta kepada Rasulullah
Mahabbah Insaniyyah – cinta kepada sesama manusia
Mahabbah Duniyawiyyah – cinta kepada dunia

Ketika urutan ini terbalik, maka manusia kehilangan keseimbangan batinnya.
Para sufi besar seperti Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa cinta kepada dunia tidak boleh menjadi pusat hati, sebab hati manusia adalah singgasana ma’rifatullah. Jika hati dipenuhi oleh ambisi dunia, maka cahaya Tuhan tidak lagi memantul darinya.
Inilah tragedi yang sering terjadi dalam perjalanan umat:
cinta kepada Allah berubah menjadi slogan, sementara cinta kepada kekuasaan menjadi kenyataan.

3. Pergulatan Negara dan Perebutan Hajat Manusia

Sejarah modern menunjukkan bagaimana negara-negara besar terlibat dalam pertarungan geopolitik untuk menguasai sumber daya dan arah peradaban manusia.
Energi, pangan, teknologi, bahkan narasi budaya menjadi alat perebutan kekuasaan global. Dalam situasi ini, umat Islam sering menjadi arena perebutan kepentingan, bukan subjek yang menentukan arah sejarahnya sendiri.

Dalam pandangan tasawuf, problem ini bukan sekadar politik atau ekonomi. Akar terdalamnya adalah krisis kesadaran tauhid.

Ketika tauhid melemah, manusia mulai:
memuja kekuasaan
memuja identitas kelompok
memuja kepentingan dunia

Akibatnya umat Islam mudah dipecah menjadi berbagai konflik sektarian, ideologis, dan geopolitik.

Padahal Rasulullah ﷺ telah membangun sebuah komunitas yang melampaui batas suku, ras, dan kepentingan duniawi.

4. Peradaban yang Dibangun Rasulullah

Peradaban Islam awal berdiri di atas tiga fondasi:

Tauhid (kesatuan sumber kehidupan)
Ukhuwwah (persaudaraan umat)
Keadilan (tanggung jawab terhadap kemanusiaan)

Ketika Rasulullah ﷺ membangun masyarakat di Madinah, beliau tidak hanya mendirikan negara, tetapi juga membangun kesadaran ruhani umat.

Kesadaran ini melahirkan generasi yang hatinya terikat kepada Allah, bukan kepada kekuasaan.

Para sahabat memahami bahwa kekuasaan hanyalah amanah, bukan tujuan.

Namun ketika generasi berikutnya mulai menjadikan kekuasaan sebagai pusat orientasi, maka konflik internal umat mulai muncul.

Di sinilah peradaban mulai mengalami kemunduran spiritual.

5. Kasih Sayang yang Salah Tempat

Kasih sayang yang salah tempat adalah kondisi ketika manusia mencintai sesuatu secara berlebihan sehingga menyingkirkan cinta kepada Allah.

Contohnya:
cinta kepada kelompok hingga membenci sesama muslim
cinta kepada kekuasaan hingga menindas manusia
cinta kepada dunia hingga melupakan akhirat

Dalam tasawuf, kondisi ini disebut hijab al-qalb — tertutupnya hati dari cahaya Tuhan.
Padahal kasih sayang yang benar seharusnya memancar dari tauhid.
Jika seseorang mencintai Allah dengan benar, maka cintanya kepada manusia akan menjadi rahmat, bukan konflik.

6. Jalan Kembali Menuju Kesatuan Umat

Tasawuf menawarkan jalan batin untuk memulihkan kesatuan umat.
Jalan ini bukan sekadar ideologi atau politik, tetapi transformasi kesadaran manusia.

Beberapa langkah yang diajarkan para arif billah:

1. Tazkiyatun Nafs

Membersihkan jiwa dari kesombongan, fanatisme, dan ambisi kekuasaan.

2. Tajdid Tauhid

Memperbaharui kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi pusat kehidupan.

3. Ukhuwwah Ruhaniyah

Membangun persaudaraan atas dasar cinta kepada Allah, bukan kepentingan dunia.

4. Ma’rifatullah

Mengenal Allah melalui penyucian hati sehingga manusia melihat seluruh makhluk sebagai bagian dari rahmat-Nya.

7. Menuju Umat yang Satu

Kesatuan umat tidak mungkin lahir dari paksaan politik semata. Ia harus lahir dari kesatuan hati.

Para sufi mengajarkan bahwa umat akan kembali bersatu ketika hati manusia kembali kepada sumber cinta yang sejati.
Ketika manusia mencintai Allah di atas segala sesuatu, maka perbedaan mazhab, bangsa, dan budaya tidak lagi menjadi sumber permusuhan.

Sebaliknya, ia menjadi kekayaan dalam rahmat Ilahi. Inilah makna terdalam dari firman Allah bahwa umat Islam seharusnya menjadi “ummatan wasathan”—umat yang menjadi penyeimbang dan pembawa rahmat bagi seluruh alam.

8. Penutup: Revolusi Cinta

Krisis umat Islam pada hakikatnya adalah krisis arah cinta.

Selama cinta manusia masih tertuju pada kekuasaan, dunia, dan identitas sempit, maka perpecahan akan terus terjadi.
Namun ketika cinta kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hati manusia akan dipenuhi oleh cahaya rahmat.

Dari cahaya itulah lahir peradaban yang adil, damai, dan memuliakan manusia.
Tasawuf mengajarkan bahwa perubahan besar di dunia selalu bermula dari revolusi di dalam hati manusia.

Dan revolusi itu dimulai ketika manusia kembali menyadari bahwa cinta sejati hanya milik Allah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pendidikan, Kesehatan Mental dan Hukum, Fokus DP3A Dampingi Korban Pelecehan di Pesantren 

0

Wartain.com || Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Wilayah Sukabumi, langsung turun tangan memberikan pendampingan terhadap korban pelecehan di salahsatu Ponpes di Kecamatan Cicantayan.  Langkah ini dilakukan untuk memastikan para korban mendapat perlindungan sekaligus dukungan psikologis.

Bagi DP3A, dugaan peristiwa tersebut dipandang sebagai pengkhianatan terhadap amanah dunia pendidikan. Sejak laporan pertama diterima, lembaga tersebut bergerak melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari pemantauan kondisi korban hingga pendampingan dalam proses hukum.

Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi Agus Sanusi melalui Kepala Subbagian Tata Usaha UPTD PPA Wilayah Sukabumi, Yeni Dewi Endrayani, menyebut tantangan terbesar dalam pendampingan adalah memecah kebungkaman para korban. Selama bertahun-tahun sejak 2021, mereka diduga berada dalam tekanan dan manipulasi psikologis sehingga sulit untuk berani bersuara.

Anak-anak ini diintimidasi agar tidak bicara. Mereka dibuat merasa istimewa, seolah-olah hanya dia yang diperlakukan seperti itu. Inilah yang membuat mereka merasa bingung dan takut mengadu,” kata Yeni pada Kamis (05/03/2026).

Langkah konkret pun segera diambil. DP3A tidak hanya memantau dari jauh, mereka mendampingi langsung proses visum di RSUD Sekarwangi guna memperkuat bukti hukum. Selain itu, kolaborasi lintas instansi dengan Dinas Sosial diperkuat untuk memberikan bantuan psikis.

“Secara kasat mata mungkin terlihat biasa, tapi guncangan di dalamnya sangat hebat. Bahkan ada korban yang sampai putus sekolah karena tekanan itu. Fokus kami adalah mengembalikan stabilitas emosional mereka agar mampu mengendalikan diri kembali,” tambah Yeni.

DP3A mencatat, hingga saat ini terdapat enam korban yang teridentifikasi, namun baru tiga orang yang secara resmi menempuh jalur hukum. Dalam setiap langkah di kantor kepolisian, tim DP3A bersama kuasa hukum dari lembaga bantuan hukum setia mendampingi.

Sinergi dengan Polres Sukabumi terus diperketat guna memastikan proses hukum berjalan transparan tanpa menambah beban mental bagi korban. “Kami terus berkoordinasi dengan Polres. Saling memantau sejauh mana prosesnya. Fokus kami adalah memastikan hak-hak korban terpenuhi selama penyidikan,” tegas Yeni.

Bagi DP3A, pendampingan tidak berakhir di meja hijau. Masa depan pendidikan para korban menjadi prioritas berikutnya. Ironisnya, trauma mendalam sempat membuat salah satu korban menarik diri dari lingkungan sekolah formal.

Sebagai solusi jangka pendek, beberapa korban telah diarahkan mengikuti program Paket C. Namun, DP3A memiliki target yang lebih besar. Yakni, reintegrasi pendidikan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Beberapa Keutamaan dan Pahala yang Dapat Diraih Umat Islam pada Puasa ke-17

0
Oplus_131072

Wartain.com || Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Setiap harinya, ibadah puasa menghadirkan keutamaan yang berbeda-beda serta pahala yang berlimpah dari Allah SWT.

Salah satu yang banyak dicari umat muslim, keutamaan puasa Ramadhan hari ke-17 yang diyakini memiliki keistimewaan luar biasa.

Dalam berbagai sumber literatur Islam disebutkan, puasa Ramadhan hari ke-17 menjadi salah satu hari penuh rahmat. Bahkan, disebutkan Allah SWT memberikan ampunan bukan hanya kepada orang yang berpuasa, tetapi juga kepada ayah atau orang tua mereka.

Keutamaan ini tentu menjadi motivasi bagi umat Islam untuk semakin bersungguh-sungguh menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini.

Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-17 yang Jarang Diketahui

Menurut kitab klasik Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah, hari ke-17 Ramadhan memiliki keutamaan khusus. Dalam salah satu penjelasan disebutkan, Allah SWT berfirman: “Sungguh Aku telah mengampuni mereka dan bapak-bapak mereka.”

Makna dari penjelasan tersebut, menunjukkan keutamaan puasa Ramadhan hari ke-17 bukan hanya memberikan pahala bagi orang yang berpuasa, tetapi juga menjadi jalan ampunan bagi orang tua mereka.

Beberapa keutamaan yang diyakini terjadi pada hari ke-17 Ramadhan antara lain:

* Ampunan dosa bagi orang yang menjalankan puasa dengan ikhlas

* Ampunan untuk ayah atau orang tua tercinta Pahala ibadah yang dilipatgandakan oleh Allah SWT

* Dibukanya pintu rahmat dan keberkahan

* Kesempatan memperbanyak amal ibadah menjelang malam Lailatul Qadar

Keutamaan ini tentu menjadi pengingat agar umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu selama bulan Ramadhan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

DKUKM Sukabumi Manfaatkan Muhibah Ramadan untuk Dorong Penguatan UMKM

0

Wartain.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali menggelar kegiatan Muhibah Ramadan sebagai upaya mempererat hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Modern Assalam Putri, Kecamatan Warungkiara, Jumat (6/3/2026).

Dalam kegiatan tersebut hadir Bupati Sukabumi H. Asep Japar, Wakil Bupati H. Andreas, Sekretaris Daerah H. Ade Suryaman, unsur Forkopimda, serta sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Salah satu yang turut hadir yakni Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DKUKM) Kabupaten Sukabumi. Ia menyampaikan bahwa kegiatan Muhibah Ramadan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya mendorong pertumbuhan UMKM melalui berbagai program pembinaan dan pemberdayaan agar pelaku usaha semakin berkembang dan memiliki daya saing.

“Kami terus berupaya memperkuat UMKM melalui berbagai program, mulai dari pelatihan, pendampingan usaha, hingga perluasan akses pemasaran. Dengan begitu, pelaku UMKM di Kabupaten Sukabumi dapat semakin berkembang dan mandiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan muhibah Ramadan juga menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mendengar langsung aspirasi para pelaku usaha di daerah.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pelaku usaha. Harapannya berbagai program yang dijalankan dapat benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Kegiatan Muhibah Ramadan di Pondok Pesantren Modern Assalam Putri tersebut juga diisi dengan rangkaian acara keagamaan, di antaranya buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, serta tausiah dalam rangka memperingati malam Nuzulul Quran.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)