26.7 C
Jakarta
Sabtu, Juli 11, 2026
Beranda blog Halaman 273

Terkendala Izin Bea Cukai, Bantuan Diaspora Aceh dari Malaysia Belum Bisa Masuk

0

Wartain.com || Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyampaikan bahwa proses penyaluran bantuan untuk korban bencana di Aceh mengalami hambatan. Bantuan yang berasal dari diaspora Aceh di Malaysia tersebut hingga kini belum bisa disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Menurutnya, kendala utama terletak pada perizinan dari pihak Bea Cukai. Akibatnya, bantuan yang sangat dibutuhkan oleh para korban masih tertahan dan belum dapat masuk ke wilayah Aceh untuk segera didistribusikan.

“Saat ini, kita dihadapkan pada situasi di mana bantuan dari diaspora Aceh, yang kita ketahui memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan yang kuat dengan masyarakat di Aceh, masih tertahan. Kita semua menyadari bahwa di Malaysia terdapat kurang lebih 500 ribu warga Aceh yang bekerja dan memiliki hubungan keluarga yang erat dengan mereka yang berada di kampung halaman,” ujar Tito Karnavian saat rapat bersama DPR RI, di Senayan Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Diketahui, diaspora Aceh di Malaysia tidak hanya memberikan bantuan finansial, tapi kebutuhan pokok sperti pangan untuk meringankan beban para korban.

Tito Karnavian menegaskan perlunya dukungan dari jajaran pimpinan DPR guna membantu mengurai berbagai hambatan dalam proses penyaluran bantuan. Ia mengungkapkan bahwa bantuan yang berasal dari diaspora Aceh sejatinya sudah siap diberangkatkan, namun hingga kini masih tertahan lantaran belum memperoleh persetujuan masuk dari pihak Bea Cukai.

“Barang-barang bantuan ini sudah siap untuk dikirimkan dari Port Klang di Kuala Lumpur menuju pelabuhan di Lhokseumawe, yaitu Pelabuhan Krueng Geukueh. Namun, saat ini pengiriman tersebut masih tertahan karena belum mendapatkan izin masuk dari pihak Bea Cukai,” tegasnya.

Kejadian tersebut sekaligus menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk meningkatkan sinergi antar lembaga dalam mengelola bantuan kebencanaan, khususnya yang datang dari luar negeri. Mekanisme perizinan yang cepat, jelas, dan terbuka dinilai krusial agar bantuan dapat disalurkan tepat waktu kepada para korban tanpa terkendala prosedur yang berbelit.

Dukungan DPR dinilai penting untuk memperkuat langkah pemerintah dalam merumuskan kebijakan penanggulangan bencana yang lebih efektif. Termasuk di dalamnya pengaturan mekanisme penerimaan serta penyaluran bantuan dari luar negeri agar berjalan transparan dan tepat sasaran. Kebijakan yang terintegrasi dan sigap diharapkan mampu menekan dampak bencana sekaligus mempercepat proses pemulihan di daerah terdampak.

Permasalahan bantuan diaspora Aceh yang tertahan di Bea Cukai ini menjadi sorotan penting dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia.

Pemerintah didorong untuk segera mengambil kebijakan nyata dan terukur guna mencegah terulangnya peristiwa serupa di kemudian hari. Upaya ini tidak hanya sebatas pada penanganan dampak, tetapi juga harus menyentuh akar permasalahan agar solusi yang dihasilkan benar-benar bersifat jangka panjang.

Langkah-langkah strategis tersebut mencakup evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada, penguatan regulasi, serta peningkatan pengawasan di lapangan. Selain itu, koordinasi lintas lembaga juga menjadi kunci agar setiap kebijakan dapat berjalan efektif dan tidak saling tumpang tindih.

Dengan komitmen yang kuat serta keterlibatan semua pihak, diharapkan pemerintah mampu menciptakan sistem yang lebih aman, adil, dan berkelanjutan. Melalui kebijakan yang tegas dan transparan, kepercayaan publik dapat dipulihkan sekaligus memastikan kejadian serupa tidak lagi terulang di masa depan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Instruksi Bupati : Kepala Dinas Kesehatan Sukabumi Pimpin Aksi Bersih Pantai Citepus

0

Wartain.com || Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, memimpin langsung kegiatan bersih-bersih di kawasan Pantai Citepus, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Rabu (18/2/2026). Kegiatan tersebut merupakan instruksi langsung dari Bupati Sukabumi dalam rangka menjaga kebersihan lingkungan menjelang bulan suci Ramadan sekaligus mewujudkan Sukabumi Mubarokah.

Aksi bersih pantai itu melibatkan jajaran pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi. Sejak pagi, petugas tampak membersihkan area pantai dari sampah plastik, ranting, dan berbagai jenis limbah yang berserakan di sepanjang garis pantai.

Masykur Alawi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk tindak lanjut atas arahan Bupati agar seluruh perangkat daerah berperan aktif menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, khususnya di kawasan publik dan destinasi wisata.

“Ini adalah instruksi langsung dari Bupati Sukabumi agar OPD turun langsung menjaga kebersihan lingkungan menjelang Ramadan. Kebersihan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan masyarakat, sekaligus ikhtiar bersama mewujudkan Sukabumi Mubarokah,” ujarnya di sela kegiatan.

Pantai Citepus yang berada di wilayah pesisir Kecamatan Palabuhanratu merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Sukabumi. Menjelang Ramadan, kawasan tersebut dipastikan tetap bersih dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan menegaskan komitmennya untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan tertata, sebagai bagian dari langkah nyata membangun Kabupaten Sukabumi yang religius, maju, dan penuh keberkahan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pemkab Sukabumi Mengucapkan Hari Pers Nasional, 9 Febuari 2026 “Pers Sehat Ekonomi Berdaulat Bangsa Kuat”

0

Pemerintah Kabupaten Sukabumi Mengucapkan Hari Pers Nasional, 9 Febuari 2026 “Pers Sehat Ekonomi Berdaulat Bangsa Kuat”

Retribusi Pantai Minajaya Disorot Warganet, Kadispar Sukabumi: Tarif Sudah Sesuai Perda dan Termasuk Asuransi

0

Wartain.com || Sorotan publik terhadap besaran retribusi masuk ke Pantai Minajaya, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, yang ramai diperbincangkan di media sosial, akhirnya dijawab Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Dinas Pariwisata memastikan pungutan tersebut telah sesuai regulasi dan mencakup perlindungan asuransi bagi wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menyampaikan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat. Ia menilai kritik dan koreksi publik merupakan bagian penting dalam mengawal kebijakan agar tetap berjalan sesuai aturan.

Menurutnya, Pantai Minajaya merupakan destinasi yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah. Karena itu, penerapan retribusi dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan daerah yang berlaku. Tarif masuk saat ini sebesar Rp12 ribu per orang.

Ali menjelaskan, angka tersebut sebelumnya sempat turun menjadi Rp10 ribu. Namun, penyesuaian kembali ke Rp12 ribu dilakukan karena adanya tambahan komponen asuransi keselamatan bagi pengunjung.

“Mengingat karakteristik wisata pantai dan laut yang memiliki potensi risiko, perlindungan asuransi dinilai penting untuk memberikan rasa aman bagi wisatawan,” ungkap Ali dalam keterangannya, Selasa 17/02/2026.

Ia menegaskan, rincian retribusi dan asuransi telah dicantumkan secara jelas pada tiket masuk yang diterima pengunjung. Seluruh penerimaan retribusi tersebut, lanjutnya, masuk ke kas daerah dan akan digunakan kembali untuk pembiayaan pelayanan publik serta pembangunan.

Di sisi lain, Dinas Pariwisata tidak menampik adanya kekurangan fasilitas di kawasan Pantai Minajaya. Beberapa aspek seperti akses jalan dan amenitas masih perlu pembenahan. Pemerintah daerah, kata Ali, terus mendorong peningkatan sarana dan prasarana agar kualitas destinasi semakin baik.

Pemkab Sukabumi juga membuka peluang evaluasi terhadap kebijakan tarif apabila diperlukan. Diskusi dengan berbagai pihak akan dilakukan untuk memastikan kebijakan tersebut selaras dengan kondisi dan kemampuan masyarakat.

Selain itu, pengawasan terhadap petugas di lapangan akan diperketat guna memastikan proses pemungutan berjalan transparan dan sesuai aturan.

Menutup keterangannya, Ali Iskandar menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang berkembang. Ia memastikan seluruh masukan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi demi perbaikan pengelolaan destinasi wisata di Kabupaten Sukabumi ke depan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Muhammadiyah Sukabumi Gelar Tarawih Perdana, 1 Ramadan 1447 H Ditetapkan 18 Februari 2026

0

Wartain.com || Pelaksanaan salat tarawih perdana telah digelar warga Muhammadiyah Sukabumi pada Selasa (17/2/2026) malam, seiring dengan penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan tersebut berbeda satu hari dengan hasil Sidang Isbat pemerintah melalui Kementerian Agama.

Salah satu lokasi pelaksanaan tarawih berlangsung di Masjid Al-Umm, lingkungan Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI). Salat tarawih berakhir sekitar pukul 20.35 WIB dan diikuti puluhan jemaah yang terdiri dari unsur dosen, karyawan, keluarga besar UMMI, hingga masyarakat sekitar.

Sebelum tarawih dimulai, jemaah terlebih dahulu mengikuti khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Thoriq Aziz, yang juga bertindak sebagai imam pada malam itu.

Wakil Rektor I Bidang Keislaman UMMI, Asep Muhammad Ramdhan, menjelaskan bahwa pelaksanaan tarawih tersebut merujuk pada maklumat resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Kebetulan hari ini kita melaksanakan tarawih perdana sesuai dengan maklumat dari pimpinan pusat Muhammadiyah. Jadi pimpinan pusat jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa 1 Ramadan itu bertepatan dengan tanggal 18 Februari jadi Insya Allah besok kita sudah mulai melaksanakan Ramadan pertama,” ujar Asep.

Ia menilai antusiasme jemaah cukup tinggi pada malam pertama ini. Selain sivitas akademika UMMI, masyarakat di sekitar kampus juga turut bergabung untuk melaksanakan tarawih bersama warga Muhammadiyah.

“Jadi umumnya dosen dan keluarga UMMI kemudian masyarakat setempat yang ikut dan dari karyawan lainnya,” katanya.

Menurutnya, jumlah jemaah pada malam perdana tahun ini terasa lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu tidak terlepas dari imbauan pihak universitas agar civitas akademika menghadiri tarawih pertama, sekaligus membuka ruang bagi warga sekitar yang ingin beribadah bersama.

“Kelihatannya hari ini sangat antusias. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mungkin hari ini agak lebih banyak karena dari pimpinan universitas juga memberikan imbauan untuk melaksanakan sholat tarawih, minimal yang perdana, dan juga kita memfasilitasi warga setempat yang ingin melaksanakan sholat tarawih berbarengan dengan kita Muhammadiyah,” tuturnya.

Asep menambahkan, pelaksanaan tarawih dengan waktu yang sama juga digelar di sejumlah titik lain, seperti di Kecamatan Kadudampit serta di berbagai kantong persyarikatan Muhammadiyah di Kota Sukabumi.

“Kalau tempat lain yang pertama di kantong-kantong perserikatan Muhammadiyah kayak di Kadudampit, itu banyak karena memang yang paling banyak disana. Kemudian di pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Sukabumi itu banyak dan di sekitar,” paparnya.

Ia menyebut, mayoritas mahasiswa UMMI akan mulai menjalankan ibadah puasa pada Rabu (18/2/2026), meskipun sebagian lainnya kemungkinan mengikuti penetapan yang berbeda satu hari.

Terkait perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, Asep memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah dan tidak perlu menjadi polemik. Perbedaan metode penentuan awal bulan, menurutnya, adalah hal yang wajar dalam khazanah umat Islam.

“Itu biasalah ada perbedaan kan cuma cara menentukan, saya pikir gak masalah ada perbedaan antara Muhammadiyah dengan organisasi yang lain itu hal yang wajar saja. Karena mungkin pendekatan yang digunakan berbeda ya, Muhammadiyah menggunakan A, organisasi lain menggunakan B, saya pikir gak masalah, yang penting kita sama-sama muslim semua sama,” sebutnya.

Ia pun mengajak umat Islam, khususnya di Kota Sukabumi, untuk memaknai Ramadan sebagai momentum memperbanyak ibadah dan mempererat persatuan.

“Saya berpesan kepada seluruh warga muslim khususnya yang ada di Kota Sukabumi semoga dalam pelaksanaan ibadah tarawih di malam pertama ini mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dan ibadah kita sampai akhir nanti diterima Allah SWT,” tandasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Menyambut Ramadan: Ini Persiapan Penting Agar Puasa Hari Pertama Berjalan Lancar!

0

Wartain.com || Menyambut bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan melakukan berbagai persiapan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan khusyuk dan lancar sejak hari pertama. Persiapan tersebut tidak hanya menyangkut kebutuhan fisik, tetapi juga kesiapan mental dan spiritual.

Secara spiritual, niat menjadi fondasi utama dalam menjalankan ibadah puasa. Umat Muslim dianjurkan meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT serta memanfaatkan momen Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Menentukan target, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga salat tepat waktu, hingga meningkatkan sedekah, dapat membantu menjaga konsistensi selama sebulan penuh. Selain itu, saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan juga menjadi langkah penting untuk membersihkan hati.

Dari sisi fisik, penyesuaian pola makan dan istirahat perlu dilakukan sejak beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Mengurangi konsumsi kafein dan makanan tinggi gula dapat membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan jam makan. Tidur yang cukup juga penting agar tubuh tetap bugar saat menjalani puasa, terutama pada hari-hari awal yang biasanya terasa lebih berat.

Persiapan kebutuhan sahur dan berbuka pun tak kalah penting. Masyarakat disarankan menyiapkan bahan makanan bergizi seimbang, seperti karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Kurma dan air putih menjadi pilihan utama saat berbuka untuk mengembalikan energi secara bertahap. Para ahli juga mengingatkan agar tidak berlebihan saat berbuka guna menghindari gangguan pencernaan.

Sementara itu, kesiapan mental turut berperan dalam kelancaran puasa. Mengelola aktivitas harian, mengurangi pekerjaan berat di siang hari, serta melatih kesabaran menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas ibadah.

Dengan persiapan yang matang, diharapkan umat Islam dapat menjalani puasa hari pertama Ramadan dengan lebih ringan dan penuh semangat, sekaligus menjadikan bulan suci sebagai momentum memperbaiki diri secara menyeluruh.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Damkar Sukabumi Evakuasi Ular Sanca di Palabuhanratu, Warga Berterima Kasih

0

Wartain.com || Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Sukabumi kembali menunjukkan dedikasi dan profesionalisme mereka dalam melayani masyarakat. Pada Rabu, 18 Februari 2026, tim Damkar berhasil melakukan evakuasi ular sanca di Kp Gadog RT 02/13 Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Evakuasi ini merupakan salah satu contoh pelayanan dasar (operasi non kebakaran) yang dilakukan oleh Damkar Kabupaten Sukabumi. Tim yang dipimpin oleh Yudha Brama Jaya berhasil menangkap ular sanca yang diduga masuk ke permukiman warga.

“Kami menerima laporan dari warga sekitar pukul 09.00 WIB, dan tim kami langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi,” kata Budianto Kepala Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi.

Evakuasi berjalan lancar dan ular sanca tersebut berhasil diamankan tanpa ada korban jiwa. Ular sanca itu kemudian dilepasliarkan ke habitatnya yang lebih aman.

“Terima kasih kepada tim Damkar Kabupaten Sukabumi yang telah membantu evakuasi ular sanca ini. Kami sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi mereka,” kata salah satu warga.

Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, tidak hanya dalam penanganan kebakaran, tetapi juga dalam operasi non kebakaran seperti evakuasi hewan liar.

“Damkar Melayani Sepenuh Hati, menjaga dedikasi dan semangat dalam bertugas,” demikian pesan yang disampaikan oleh tim Damkar Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Ma’rifatullah Sebagai Fondasi Ontologi Kehidupan Manusia: Perspektif Filsafat Islam

0
Oplus_0

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Di dalam horizon filsafat Islam, pertanyaan paling mendasar bukanlah “apa yang harus dilakukan manusia,” tetapi “siapa yang dikenalnya sebagai sumber keberadaan.” Sebab tindakan adalah konsekuensi, sementara pengenalan adalah fondasi. Dalam tradisi hikmah Islam, dikenal sebuah ungkapan agung: Awwaluddin ma’rifatullah — awal agama adalah mengenal Allah. Ungkapan ini bukan sekadar doktrin teologis, melainkan pernyataan ontologis tentang struktur realitas dan kesadaran manusia.

Manusia hidup di antara dua ruang: ruang keberadaan lahir dan ruang kesadaran batin. Lahirnya bergerak di dunia, tetapi batinnya mencari makna. Dunia menyediakan objek, tetapi tidak menyediakan makna. Makna hanya lahir ketika kesadaran menemukan sumbernya.

Di sinilah ma’rifatullah menjadi titik awal dari seluruh perjalanan eksistensi manusia.
Secara ontologis, manusia adalah makhluk yang bergantung. Ia tidak menciptakan dirinya, tidak mengatur kelahirannya, dan tidak menentukan kematiannya.

Keberadaannya adalah keberadaan yang dipinjam. Dalam bahasa filsafat, manusia adalah contingent being — wujud yang mungkin, bukan wujud yang niscaya. Karena itu, kesadaran manusia secara alami terdorong untuk mencari Wujud Niscaya, yaitu Allah, sumber dari segala yang ada.

Ma’rifatullah bukan sekadar mengetahui bahwa Allah ada, tetapi menyadari bahwa seluruh keberadaan bergantung kepada-Nya. Ini adalah transformasi dari pengetahuan konseptual menuju kesadaran eksistensial. Pengetahuan konseptual berada di akal, tetapi ma’rifat hidup di dalam kesadaran terdalam manusia. Ia bukan informasi, melainkan pencerahan.

Tanpa ma’rifatullah, manusia hidup dalam keterputusan ontologis. Ia bergerak, tetapi tidak tahu tujuan. Ia beribadah, tetapi tidak merasakan kehadiran yang disembah. Ia menjalankan syariat, tetapi belum menyentuh hakikat. Ibadah tanpa ma’rifat bagaikan tubuh tanpa ruh — memiliki bentuk, tetapi kehilangan kehidupan.

Inilah sebabnya Nabi Muhammad pertama kali membangun ma’rifatullah di dalam jiwa manusia sebelum menegakkan syariat secara sempurna. Selama periode Makkah, wahyu yang turun tidak berfokus pada hukum-hukum sosial, tetapi pada penanaman kesadaran tauhid. Karena syariat adalah struktur, sementara ma’rifat adalah fondasi. Tanpa fondasi, struktur akan runtuh oleh beban keberadaan itu sendiri.

Dalam perspektif epistemologi Islam, ma’rifatullah adalah puncak dari pengetahuan manusia. Pengetahuan indrawi hanya menangkap fenomena. Pengetahuan rasional hanya menangkap konsep. Tetapi ma’rifat menangkap realitas terdalam. Ia adalah pengetahuan melalui kehadiran, bukan melalui perantara. Dalam istilah sufi, ini disebut ilm hudhuri — pengetahuan melalui penyaksian batin.

Ketika manusia mencapai ma’rifatullah, ia mengalami transformasi kesadaran. Dunia tidak lagi dilihat sebagai realitas yang berdiri sendiri, tetapi sebagai manifestasi dari kehendak Ilahi. Segala sesuatu menjadi tanda, bukan tujuan. Segala sesuatu menjadi jalan, bukan akhir. Inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai ayat — tanda-tanda keberadaan Allah.

Tanpa ma’rifatullah, manusia cenderung menganggap dirinya sebagai pusat realitas. Ego menjadi penguasa kesadaran. Keinginan menjadi hukum. Dunia menjadi tujuan. Inilah akar dari krisis spiritual manusia modern. Ia memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan makna. Ia memiliki kekuasaan, tetapi kehilangan arah. Ia memiliki teknologi, tetapi kehilangan hikmah.

Ma’rifatullah menghancurkan ilusi kemandirian ego. Ia menyadarkan manusia bahwa dirinya hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati ontologis. Bukan kerendahan hati yang dibuat-buat, tetapi kerendahan hati yang lahir dari penyaksian hakikat keberadaan.

Dari ma’rifatullah lahirlah syariat yang hidup. Shalat tidak lagi sekadar gerakan, tetapi perjumpaan. Dzikir tidak lagi sekadar ucapan, tetapi kesadaran. Ibadah tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan eksistensial. Manusia tidak lagi beribadah karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena menyadari bahwa dirinya tidak memiliki keberadaan tanpa Allah.
Inilah puncak kebebasan manusia.

Paradoksnya, manusia menjadi benar-benar bebas ketika ia menyadari ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah. Karena ketika ia bergantung kepada Yang Maha Kekal, ia terbebas dari ketergantungan kepada yang fana.

Ma’rifatullah adalah kelahiran kedua manusia. Kelahiran pertama adalah kelahiran jasad ke dunia. Kelahiran kedua adalah kelahiran kesadaran menuju Allah. Tanpa kelahiran kedua ini, manusia hidup dalam tidur eksistensial. Ia hidup secara biologis, tetapi belum hidup secara spiritual.

Dengan ma’rifatullah, manusia kembali kepada hakikatnya sebagai makhluk Ilahi. Ia menjadi cermin yang memantulkan cahaya ketuhanan. Ia menjadi saksi keberadaan Allah di alam semesta. Ia menjadi hamba yang sadar, bukan sekadar makhluk yang bergerak.

Akhirnya, ma’rifatullah bukan tujuan akhir, tetapi awal dari seluruh perjalanan spiritual manusia. Ia adalah pintu menuju hakikat. Ia adalah fondasi bagi seluruh amal. Ia adalah cahaya yang menerangi keberadaan.

Sebab manusia yang tidak mengenal Allah, pada hakikatnya belum mengenal dirinya sendiri. Dan manusia yang telah mengenal Allah, telah menemukan makna dari seluruh keberadaannya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Tak Hanya Padamkan Api, Damkar Sukabumi Lepaskan Jam Tangan yang Jepit Pergelangan Warga

0

Wartain.com || Peran petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sukabumi kembali melampaui tugas utamanya memadamkan kebakaran. Pada Selasa (17/2/2026) pagi, Tim Rescue Posko VI Sukaraja melakukan aksi penyelamatan terhadap seorang warga yang pergelangan tangannya terjepit jam tangan rusak.

Korban diketahui bernama Siti Alma Shabika Amanda (20), warga Kampung Cidadap, Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja.

Insiden bermula pada Senin malam saat ia hendak melepas jam tangan sebelum beristirahat. Namun, pengunci berbahan logam pada tali jam tersebut justru macet dan semakin mengencang di pergelangan tangannya.

Komandan Regu Posko VI Sukaraja, Ade Feri, menjelaskan bahwa kondisi semakin sulit setelah korban berupaya membuka jam itu sendiri.

“Menurut pelapor, kejadian sejak semalam. Kemungkinan karena kurang pas, pengunci jarum tengahnya malah mengunci. Ditambah lagi tali jam jadi lebih erat, terasa lebih mencekik,” ujar Ade Feri.

Upaya paksa yang dilakukan justru membuat jarum pengunci melengkung ke dalam. Akibatnya, mekanisme pengunci terkunci total dan tak dapat digerakkan sama sekali. Khawatir menimbulkan cedera serius pada pergelangan tangan, keluarga korban akhirnya meminta bantuan Damkar keesokan paginya.

Mendapat laporan tersebut, dua personel rescue, Mulyadin dan Okke, segera menuju lokasi. Proses pelepasan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan alat khusus berpresisi tinggi untuk memotong bagian jam yang menjepit.

Dengan penanganan yang hati-hati, jam tangan berhasil dilepaskan dalam waktu kurang lebih 10 menit tanpa menyebabkan luka pada korban.

Ade Feri menegaskan, kejadian ini menjadi pengingat bahwa layanan Damkar tidak terbatas pada penanganan kebakaran saja, melainkan juga berbagai aksi penyelamatan atau human rescue, seperti evakuasi cincin tersangkut, sarang tawon, hingga pelepasan benda berbahaya yang menempel di tubuh.

“Saya tekankan, kami siap melayani bantuan apa pun selama kami bisa, kapan pun dan di mana pun. Pelayanan kami gratis, sama sekali tidak dipungut biaya,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak ragu menghubungi Damkar apabila menghadapi kondisi darurat yang berpotensi membahayakan keselamatan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Jelang Ramadan, Polisi Sita Puluhan Botol Miras Oplosan di Sukabumi

0

Wartain.com || Aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Sukabumi Kota mengungkap dugaan peredaran minuman keras oplosan dalam operasi yang digelar di wilayah Jalan Pelabuhan Dua, Lembursitu, Kota Sukabumi, Kamis (12/2/2026).
Dalam penggerebekan tersebut, petugas menemukan sejumlah bahan yang diduga akan digunakan untuk meracik miras ilegal.

Dari lokasi pertama, polisi mengamankan 11 botol miras oplosan, 5 liter alkohol murni, serta satu botol air mineral yang di dalamnya terdapat beberapa sachet minuman energi yang diduga hendak dicampurkan.

Kasat Res Narkoba Polres Sukabumi Kota, AKP Tenda Sukendar, mengatakan razia dilakukan berdasarkan laporan masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut.

Operasi berlanjut pada Jumat (13/2/2026) di sebuah ruko di Jalan Pelabuhan Dua, Kecamatan Gunungguruh dan sebuah warung jamu. Di tenpat itu petugas kembali mengamankan puluhan botol miras berbagai merek.

Menurut Tenda, langkah penertiban ini merupakan bagian dari komitmen kepolisian dalam menekan peredaran miras ilegal yang berpotensi membahayakan masyarakat.

“Miras oplosan sangat berbahaya karena tidak diketahui kandungan dan takarannya. Dampaknya bisa fatal. Karena itu, kami bertindak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat dan melakukan razia di lokasi yang diduga menjadi tempat peredaran,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Ia menegaskan, kegiatan serupa akan terus dilakukan secara intensif, terutama menjelang dan selama bulan suci Ramadan guna menjaga situasi tetap aman dan kondusif.

“Selain membahayakan kesehatan, miras juga sering memicu gangguan kamtibmas. Ini menjadi bagian dari upaya kami menjaga situasi tetap aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota,” tegasnya.

Seluruh barang bukti hasil razia kini telah diamankan di Mapolres Sukabumi Kota untuk proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik