26.7 C
Jakarta
Sabtu, Juli 11, 2026
Beranda blog Halaman 274

Damkar Sukabumi Evakuasi Ular Sanca di Palabuhanratu, Warga Berterima Kasih

0

Wartain.com || Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Sukabumi kembali menunjukkan dedikasi dan profesionalisme mereka dalam melayani masyarakat. Pada Rabu, 18 Februari 2026, tim Damkar berhasil melakukan evakuasi ular sanca di Kp Gadog RT 02/13 Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Evakuasi ini merupakan salah satu contoh pelayanan dasar (operasi non kebakaran) yang dilakukan oleh Damkar Kabupaten Sukabumi. Tim yang dipimpin oleh Yudha Brama Jaya berhasil menangkap ular sanca yang diduga masuk ke permukiman warga.

“Kami menerima laporan dari warga sekitar pukul 09.00 WIB, dan tim kami langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi,” kata Budianto Kepala Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi.

Evakuasi berjalan lancar dan ular sanca tersebut berhasil diamankan tanpa ada korban jiwa. Ular sanca itu kemudian dilepasliarkan ke habitatnya yang lebih aman.

“Terima kasih kepada tim Damkar Kabupaten Sukabumi yang telah membantu evakuasi ular sanca ini. Kami sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi mereka,” kata salah satu warga.

Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, tidak hanya dalam penanganan kebakaran, tetapi juga dalam operasi non kebakaran seperti evakuasi hewan liar.

“Damkar Melayani Sepenuh Hati, menjaga dedikasi dan semangat dalam bertugas,” demikian pesan yang disampaikan oleh tim Damkar Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Ma’rifatullah Sebagai Fondasi Ontologi Kehidupan Manusia: Perspektif Filsafat Islam

0
Oplus_0

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Di dalam horizon filsafat Islam, pertanyaan paling mendasar bukanlah “apa yang harus dilakukan manusia,” tetapi “siapa yang dikenalnya sebagai sumber keberadaan.” Sebab tindakan adalah konsekuensi, sementara pengenalan adalah fondasi. Dalam tradisi hikmah Islam, dikenal sebuah ungkapan agung: Awwaluddin ma’rifatullah — awal agama adalah mengenal Allah. Ungkapan ini bukan sekadar doktrin teologis, melainkan pernyataan ontologis tentang struktur realitas dan kesadaran manusia.

Manusia hidup di antara dua ruang: ruang keberadaan lahir dan ruang kesadaran batin. Lahirnya bergerak di dunia, tetapi batinnya mencari makna. Dunia menyediakan objek, tetapi tidak menyediakan makna. Makna hanya lahir ketika kesadaran menemukan sumbernya.

Di sinilah ma’rifatullah menjadi titik awal dari seluruh perjalanan eksistensi manusia.
Secara ontologis, manusia adalah makhluk yang bergantung. Ia tidak menciptakan dirinya, tidak mengatur kelahirannya, dan tidak menentukan kematiannya.

Keberadaannya adalah keberadaan yang dipinjam. Dalam bahasa filsafat, manusia adalah contingent being — wujud yang mungkin, bukan wujud yang niscaya. Karena itu, kesadaran manusia secara alami terdorong untuk mencari Wujud Niscaya, yaitu Allah, sumber dari segala yang ada.

Ma’rifatullah bukan sekadar mengetahui bahwa Allah ada, tetapi menyadari bahwa seluruh keberadaan bergantung kepada-Nya. Ini adalah transformasi dari pengetahuan konseptual menuju kesadaran eksistensial. Pengetahuan konseptual berada di akal, tetapi ma’rifat hidup di dalam kesadaran terdalam manusia. Ia bukan informasi, melainkan pencerahan.

Tanpa ma’rifatullah, manusia hidup dalam keterputusan ontologis. Ia bergerak, tetapi tidak tahu tujuan. Ia beribadah, tetapi tidak merasakan kehadiran yang disembah. Ia menjalankan syariat, tetapi belum menyentuh hakikat. Ibadah tanpa ma’rifat bagaikan tubuh tanpa ruh — memiliki bentuk, tetapi kehilangan kehidupan.

Inilah sebabnya Nabi Muhammad pertama kali membangun ma’rifatullah di dalam jiwa manusia sebelum menegakkan syariat secara sempurna. Selama periode Makkah, wahyu yang turun tidak berfokus pada hukum-hukum sosial, tetapi pada penanaman kesadaran tauhid. Karena syariat adalah struktur, sementara ma’rifat adalah fondasi. Tanpa fondasi, struktur akan runtuh oleh beban keberadaan itu sendiri.

Dalam perspektif epistemologi Islam, ma’rifatullah adalah puncak dari pengetahuan manusia. Pengetahuan indrawi hanya menangkap fenomena. Pengetahuan rasional hanya menangkap konsep. Tetapi ma’rifat menangkap realitas terdalam. Ia adalah pengetahuan melalui kehadiran, bukan melalui perantara. Dalam istilah sufi, ini disebut ilm hudhuri — pengetahuan melalui penyaksian batin.

Ketika manusia mencapai ma’rifatullah, ia mengalami transformasi kesadaran. Dunia tidak lagi dilihat sebagai realitas yang berdiri sendiri, tetapi sebagai manifestasi dari kehendak Ilahi. Segala sesuatu menjadi tanda, bukan tujuan. Segala sesuatu menjadi jalan, bukan akhir. Inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai ayat — tanda-tanda keberadaan Allah.

Tanpa ma’rifatullah, manusia cenderung menganggap dirinya sebagai pusat realitas. Ego menjadi penguasa kesadaran. Keinginan menjadi hukum. Dunia menjadi tujuan. Inilah akar dari krisis spiritual manusia modern. Ia memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan makna. Ia memiliki kekuasaan, tetapi kehilangan arah. Ia memiliki teknologi, tetapi kehilangan hikmah.

Ma’rifatullah menghancurkan ilusi kemandirian ego. Ia menyadarkan manusia bahwa dirinya hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati ontologis. Bukan kerendahan hati yang dibuat-buat, tetapi kerendahan hati yang lahir dari penyaksian hakikat keberadaan.

Dari ma’rifatullah lahirlah syariat yang hidup. Shalat tidak lagi sekadar gerakan, tetapi perjumpaan. Dzikir tidak lagi sekadar ucapan, tetapi kesadaran. Ibadah tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan eksistensial. Manusia tidak lagi beribadah karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena menyadari bahwa dirinya tidak memiliki keberadaan tanpa Allah.
Inilah puncak kebebasan manusia.

Paradoksnya, manusia menjadi benar-benar bebas ketika ia menyadari ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah. Karena ketika ia bergantung kepada Yang Maha Kekal, ia terbebas dari ketergantungan kepada yang fana.

Ma’rifatullah adalah kelahiran kedua manusia. Kelahiran pertama adalah kelahiran jasad ke dunia. Kelahiran kedua adalah kelahiran kesadaran menuju Allah. Tanpa kelahiran kedua ini, manusia hidup dalam tidur eksistensial. Ia hidup secara biologis, tetapi belum hidup secara spiritual.

Dengan ma’rifatullah, manusia kembali kepada hakikatnya sebagai makhluk Ilahi. Ia menjadi cermin yang memantulkan cahaya ketuhanan. Ia menjadi saksi keberadaan Allah di alam semesta. Ia menjadi hamba yang sadar, bukan sekadar makhluk yang bergerak.

Akhirnya, ma’rifatullah bukan tujuan akhir, tetapi awal dari seluruh perjalanan spiritual manusia. Ia adalah pintu menuju hakikat. Ia adalah fondasi bagi seluruh amal. Ia adalah cahaya yang menerangi keberadaan.

Sebab manusia yang tidak mengenal Allah, pada hakikatnya belum mengenal dirinya sendiri. Dan manusia yang telah mengenal Allah, telah menemukan makna dari seluruh keberadaannya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Tak Hanya Padamkan Api, Damkar Sukabumi Lepaskan Jam Tangan yang Jepit Pergelangan Warga

0

Wartain.com || Peran petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sukabumi kembali melampaui tugas utamanya memadamkan kebakaran. Pada Selasa (17/2/2026) pagi, Tim Rescue Posko VI Sukaraja melakukan aksi penyelamatan terhadap seorang warga yang pergelangan tangannya terjepit jam tangan rusak.

Korban diketahui bernama Siti Alma Shabika Amanda (20), warga Kampung Cidadap, Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja.

Insiden bermula pada Senin malam saat ia hendak melepas jam tangan sebelum beristirahat. Namun, pengunci berbahan logam pada tali jam tersebut justru macet dan semakin mengencang di pergelangan tangannya.

Komandan Regu Posko VI Sukaraja, Ade Feri, menjelaskan bahwa kondisi semakin sulit setelah korban berupaya membuka jam itu sendiri.

“Menurut pelapor, kejadian sejak semalam. Kemungkinan karena kurang pas, pengunci jarum tengahnya malah mengunci. Ditambah lagi tali jam jadi lebih erat, terasa lebih mencekik,” ujar Ade Feri.

Upaya paksa yang dilakukan justru membuat jarum pengunci melengkung ke dalam. Akibatnya, mekanisme pengunci terkunci total dan tak dapat digerakkan sama sekali. Khawatir menimbulkan cedera serius pada pergelangan tangan, keluarga korban akhirnya meminta bantuan Damkar keesokan paginya.

Mendapat laporan tersebut, dua personel rescue, Mulyadin dan Okke, segera menuju lokasi. Proses pelepasan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan alat khusus berpresisi tinggi untuk memotong bagian jam yang menjepit.

Dengan penanganan yang hati-hati, jam tangan berhasil dilepaskan dalam waktu kurang lebih 10 menit tanpa menyebabkan luka pada korban.

Ade Feri menegaskan, kejadian ini menjadi pengingat bahwa layanan Damkar tidak terbatas pada penanganan kebakaran saja, melainkan juga berbagai aksi penyelamatan atau human rescue, seperti evakuasi cincin tersangkut, sarang tawon, hingga pelepasan benda berbahaya yang menempel di tubuh.

“Saya tekankan, kami siap melayani bantuan apa pun selama kami bisa, kapan pun dan di mana pun. Pelayanan kami gratis, sama sekali tidak dipungut biaya,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak ragu menghubungi Damkar apabila menghadapi kondisi darurat yang berpotensi membahayakan keselamatan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Jelang Ramadan, Polisi Sita Puluhan Botol Miras Oplosan di Sukabumi

0

Wartain.com || Aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Sukabumi Kota mengungkap dugaan peredaran minuman keras oplosan dalam operasi yang digelar di wilayah Jalan Pelabuhan Dua, Lembursitu, Kota Sukabumi, Kamis (12/2/2026).
Dalam penggerebekan tersebut, petugas menemukan sejumlah bahan yang diduga akan digunakan untuk meracik miras ilegal.

Dari lokasi pertama, polisi mengamankan 11 botol miras oplosan, 5 liter alkohol murni, serta satu botol air mineral yang di dalamnya terdapat beberapa sachet minuman energi yang diduga hendak dicampurkan.

Kasat Res Narkoba Polres Sukabumi Kota, AKP Tenda Sukendar, mengatakan razia dilakukan berdasarkan laporan masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut.

Operasi berlanjut pada Jumat (13/2/2026) di sebuah ruko di Jalan Pelabuhan Dua, Kecamatan Gunungguruh dan sebuah warung jamu. Di tenpat itu petugas kembali mengamankan puluhan botol miras berbagai merek.

Menurut Tenda, langkah penertiban ini merupakan bagian dari komitmen kepolisian dalam menekan peredaran miras ilegal yang berpotensi membahayakan masyarakat.

“Miras oplosan sangat berbahaya karena tidak diketahui kandungan dan takarannya. Dampaknya bisa fatal. Karena itu, kami bertindak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat dan melakukan razia di lokasi yang diduga menjadi tempat peredaran,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Ia menegaskan, kegiatan serupa akan terus dilakukan secara intensif, terutama menjelang dan selama bulan suci Ramadan guna menjaga situasi tetap aman dan kondusif.

“Selain membahayakan kesehatan, miras juga sering memicu gangguan kamtibmas. Ini menjadi bagian dari upaya kami menjaga situasi tetap aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota,” tegasnya.

Seluruh barang bukti hasil razia kini telah diamankan di Mapolres Sukabumi Kota untuk proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Progres Tol Bocimi Seksi 3 Capai 71,95 Persen, Segmen Cibadak–Karangtengah Ditargetkan Fungsional Saat Lebaran 2026

0

Wartain.com || Pembangunan Jalan Tol Ciawi–Sukabumi (Bocimi) Seksi 3 terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga pertengahan Februari 2026, pengerjaan fisik ruas Cibadak–Sukabumi Barat sepanjang 13,7 kilometer telah mencapai 71,95 persen.

Seksi ini merupakan bagian dari jaringan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi sepanjang 54 kilometer yang menghubungkan kawasan Ciawi di Kabupaten Bogor hingga Kota dan Kabupaten Sukabumi. Proyek tersebut masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas di jalur arteri Bogor–Sukabumi yang selama ini kerap padat, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

Dalam waktu dekat, sebagian Seksi 3 direncanakan mulai difungsikan secara terbatas. Segmen Cibadak hingga akses Karangtengah sepanjang 4,9 kilometer diproyeksikan dapat digunakan secara gratis selama periode arus mudik dan balik Lebaran 2026. Langkah ini dilakukan untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan yang meningkat tajam saat momentum Idulfitri.

Rencana pengoperasian sementara tersebut disampaikan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) melalui kanal resmi mereka. Disebutkan bahwa sejumlah persiapan teknis tengah dimatangkan agar ruas tersebut laik dilintasi saat periode libur panjang.

Kepala Kantor Pertanahan ATR/BPN Kabupaten Sukabumi, Wendi Ismawan, turut membenarkan upaya percepatan tersebut. Menurutnya, pihak pengelola proyek, PT Trans Jabar Tol (TJT), tengah memaksimalkan tahapan penyelesaian dan uji kelayakan agar jalur alternatif ini bisa segera dimanfaatkan masyarakat.

“Seksi 3 diharapkan dapat segera fungsional untuk membantu mengurai kepadatan lalu lintas saat Lebaran,” ujarnya.

Sementara itu, dua seksi sebelumnya telah beroperasi penuh dan memberi dampak nyata terhadap efisiensi perjalanan. Waktu tempuh Jakarta–Sukabumi yang sebelumnya bisa mencapai 5 hingga 9 jam, kini dapat dipangkas menjadi sekitar 1,5 jam. Ruas Cigombong–Cibadak bahkan hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 10 hingga 15 menit dari sebelumnya sekitar 1,5 jam.

Dari sisi pengadaan lahan, progres Seksi 3 telah mencapai 97 persen. Adapun Seksi 4 ruas Sukabumi Barat–Sukabumi Timur sepanjang 13,05 kilometer masih berada pada tahap perencanaan, dengan pembebasan lahan sekitar 10,37 persen.

Secara keseluruhan, kehadiran Tol Bocimi dinilai strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat, memperlancar distribusi logistik, serta membuka akses menuju berbagai pusat pertumbuhan baru, termasuk kawasan wisata dan pengembangan ekonomi di selatan Jawa Barat.

Masyarakat pun berharap pembangunan Seksi 3 dapat segera tuntas sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara optimal dan berkelanjutan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Libur Imlek, KA Pangrango dan Siliwangi Layani 23.495 Penumpang

0

Wartain.com || PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta mencatat lonjakan penumpang pada periode libur Imlek 13 hingga 16 Februari 2026. Dua kereta andalan yakni KA Pangrango relasi Bogor–Sukabumi, dan KA Siliwangi relasi Sukabumi-Cipatat, melayani total 23.495 pelanggan dengan rata-rata tingkat okupansi mencapai 102 persen.

Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan bahwa angka okupansi yang melebihi 100 persen dimungkinkan karena adanya pola naik-turun penumpang di sejumlah stasiun antara pada relasi jarak menengah.

“Pada periode libur Imlek ini, KA Pangrango dan KA Siliwangi mencatat total 23.495 pelanggan dengan rata-rata okupansi 102 persen. Angka tersebut dimungkinkan karena adanya pola perjalanan penumpang yang naik dan turun di beberapa stasiun antara,” ujar Franoto dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).

Untuk keberangkatan dari Sukabumi, jumlah pelanggan pada 13 Februari tercatat sebanyak 3.035 orang. Angka itu meningkat pada 14 Februari menjadi 4.236 pelanggan dan 15 Februari sebanyak 4.465 pelanggan. Sementara pada 16 Februari, tercatat 3.852 pelanggan. Total pelanggan keberangkatan Sukabumi selama empat hari mencapai 15.588 orang.

Sedangkan dari Stasiun Bogor Paledang, tercatat 1.978 pelanggan pada 13 Februari, kemudian 2.043 pelanggan pada 14 Februari, 2.031 pelanggan pada 15 Februari, dan 1.855 pelanggan pada 16 Februari. Total keberangkatan dari Bogor Paledang selama periode tersebut mencapai 7.907 pelanggan.

Memasuki arus balik, penjualan tiket masih menunjukkan angka yang cukup tinggi. Untuk keberangkatan 17 Februari 2026, tercatat 2.372 tiket telah terjual dengan sisa 1.488 tempat duduk tersedia. Sementara untuk 18 Februari 2026, sebanyak 1.073 tiket sudah terjual dan masih tersedia 2.692 kursi.

KAI Daop 1 Jakarta mengimbau masyarakat agar merencanakan perjalanan dengan baik dan melakukan pemesanan melalui aplikasi Access by KAI maupun kanal resmi lainnya guna memastikan ketersediaan tiket.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pelanggan yang telah memilih dan menggunakan layanan kereta api, khususnya KA Pangrango dan KA Siliwangi, sebagai moda transportasi selama periode libur Imlek. Kepercayaan masyarakat menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan,” tutup Franoto.

KAI Daop 1 Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan layanan transportasi yang aman, tertib, dan andal, baik pada periode libur panjang maupun hari biasa.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Diserbu Jelang Ramadan, Bazar Kurma di Sukabumi Dongkrak Perputaran Ekonomi Warga

0

Wartain.com || Menjelang Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, geliat ekonomi musiman mulai terasa di wilayah Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Salah satunya terlihat di Bazar Kurma yang digelar Toko Al Madinah, Jalan Lingkar Selatan, Desa Babakan, yang sejak beberapa hari terakhir dipadati pembeli.

Tak sekadar tradisi menyambut bulan puasa, tingginya minat masyarakat membeli kurma turut mendongkrak perputaran ekonomi lokal. Supervisor Toko Al Madinah, Devina Sari, menyebutkan lonjakan pengunjung sudah terjadi sejak tiga hari terakhir.

“Alhamdulillah, sangat ramai. Setiap tahun memang kita selalu adakan bazar kurma dan antusias masyarakat selalu tinggi,” ujar Devina, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan, dibandingkan hari biasa, jumlah pelanggan meningkat hingga 75 persen. Kurma yang identik dengan menu berbuka dan sahur menjadi komoditas yang paling diburu.

“Kalau dibandingkan hari biasanya, peningkatannya bisa sampai 75 persen,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, manajemen toko telah menyiapkan stok hingga seribu kilogram. Persediaan itu dipastikan aman hingga memasuki Idulfitri 1447 H bahkan sampai bulan Syawal.
“Sampai lebaran juga kita ready, sampai Syawal, Insya Allah aman,” katanya.

Beragam jenis kurma impor tersedia, mulai dari Arab Saudi, Mesir, Bangladesh hingga Palestina. Harga pun variatif, dari Rp40 ribu per kilogram untuk kurma Mesir hingga Rp350 ribu per kilogram untuk kurma Medjool yang dikenal sebagai “kurma sultan”.

“Sejak tiga tahun lalu kita sudah jalan. Yang best seller itu Sukari, Azwa, dan Medjool. Paling banyak dicari Sukari Premium harganya Rp70 ribu per kilo, serta Azwa Rp150 ribu sampai Rp220 ribu per kilogram,” jelas Devina.

Ia menambahkan, kurma Medjool asal Palestina memiliki ukuran besar dengan biji kecil sehingga menjadi pilihan premium meski harganya paling tinggi.

Tak hanya melayani pembeli dari Sukabumi, toko ini juga menerima pesanan luar daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikirim melalui jasa ekspedisi.

“Menjelang Ramadan ini pembeli makin banyak, ada yang dari Jateng dan Jatim, kita kirim lewat ekspedisi,” ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan kurma juga menjadi bagian dari persiapan pengurus masjid dalam menyediakan takjil bagi jemaah. Ketua DKM Baitussalam, Lukmanul Hakim, mengaku sengaja membeli kurma lebih awal untuk memastikan ketersediaan hidangan berbuka.

“Sebenarnya sengaja kita mau beli kurma di sini. Kita fasilitasi bagi jemaah biar senang ketika sediakan hidangan berbuka. Jadi tidak berharap ke orang yang memberi,” katanya.

Ia membeli enam kilogram kurma jenis Sukari untuk stok awal. Jika dirasa kurang, pembelian akan kembali dilakukan.

“Sementara kita beli enam kilogram dulu, nanti kalau tidak cukup kita beli lagi. Karena alhamdulillah jemaah kalau buka di masjid itu banyak, anak-anak juga banyak. Ini mah buat ngebatalin,” pungkasnya.

Ramainya bazar kurma ini menjadi penanda bahwa denyut persiapan Ramadan di Sukabumi tidak hanya terasa secara spiritual, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat menjelang bulan penuh berkah.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Kemenag RI Tetapkan Awal Ramadhan 1447 H, Jatuh Pada Hari Kamis 

0
Oplus_131072

Wartain.com || Sidang isbat digelar Kementerian Agama yang dipimpin langsung oleh menteri Nazarudin Umar, untuk menentukan awal Ramadan 1447 H/2026, bertempat di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (17/02/1/26). Diman, Sidang tersebut disiarkan secara langsung di beberapa stasiun televisi nasional dan chanel live streaming lainnya.

Sebelumnya Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan hilal atau bulan sabit baru sebagai tanda memasuki 1 Ramadan 1447 Hijriah belum terlihat di semua titik wilayah Indonesia pada sore hari ini. Posisi hilal masih negatif atau berada di bawah ufuk setelah matahari terbenam.

Posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang digunakan Indonesia bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Diketahui, bahwa untuk penentuan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan dengan dasar kriteria MABIMS tersebut menetapkan ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat.

“Oleh karena itu berdasarkan laporan rukyatul hilal di seluruh titik wilayah Indonesia, yang tidak ada satupun melihat hilal, Kementerian Agama RI mewakili pemerintah menetapkan, bahwa awal Ramadhan 1447 H, jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ucap Menag.

Sementara itu PP Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, besok.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi dengan cerdas dan tasamuh jika terjadi perbedaan awal puasa, 1 Ramadan 1447 Hijriah atau 2026.

“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar pada Selasa (17/02/2026), sesaat selesai sidang Isbat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Hilal Tak Terlihat, Sidang Isbat di POB Cibeas Sukabumi Nyatakan Tolak Permohonan 

0

Wartain.com || Sidang isbat rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah yang digelar oleh Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Selasa (17/2/2026), menyatakan hilal tidak terlihat dan permohonan tidak dapat diterima.

Sidang terbuka tersebut dipimpin oleh Ketua Pengadilan Agama Cibadak, Ahmad Fadli sebagai hakim tunggal, dengan Aji Sucipto bertindak sebagai panitera pengganti. Sidang digelar usai pelaksanaan rukyatul hilal yang melibatkan enam perukyat, dengan lima orang di antaranya hadir memberikan laporan.

Berdasarkan hasil laporan para pemohon dan perukyat, hilal dinyatakan tidak terlihat. Secara ilmiah, posisi ketinggian hilal di POB Cibeas berada pada angka minus sehingga tidak memungkinkan untuk teramati.

Dalam Surat Keputusan (SK) yang dibacakan di persidangan, hakim memutuskan bahwa karena tidak satu pun pemohon maupun perukyat yang melihat hilal, maka permohonan penetapan awal Ramadhan tidak dapat diterima.

Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, H. Deddy Wijaya, LC., MH., menyampaikan bahwa kegiatan rukyatul hilal telah dilaksanakan secara tuntas.

“Jamaah yang berada di wilayah Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya, Alhamdulillah pada sore hari ini kita telah tuntas melaksanakan kegiatan rukyatul hilal untuk penentuan awal bulan Ramadan. Dapat disampaikan bahwa di sore hari ini, hilal di wilayah POB Cibeas, Kabupaten Sukabumi, itu tidak terlihat karena memang posisi hilal itu minus. Jadi tidak terlihat,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil rukyat yang telah diketuai oleh Ketua Pengadilan Agama Cibadak tersebut menetapkan bahwa hilal tidak terlihat. Meski demikian, pihaknya tetap menunggu keputusan resmi Pemerintah Indonesia melalui sidang isbat tingkat nasional yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada hari yang sama.

“Oleh karena itu, berdasarkan hasil penetapan rukyat yang sudah dilaksanakan tadi dan diketuai oleh Ketua Pengadilan Agama Cibadak, telah menetapkan bahwa hasil rukyat tidak terlihat. Walaupun seperti itu, kita tetap menunggu keputusan dari Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama Indonesia, yang hari ini juga akan melaksanakan sidang isbat untuk penetapan awal bulan Ramadan,” kata Deddy.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menyambut dan melaksanakan ibadah Ramadhan dengan lebih khusyuk dan maksimal, sembari menunggu penetapan resmi pemerintah terkait awal bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Alya Dewi Lailatus Syabina, Resmi Pimpin PD Himi Persis Tasikmalaya Raya Periode 2026–2027

0
Oplus_131072

Wartain.com || Musyawarah Daerah (Musda) X Himpunan Mahasiswa Himi Persis Tasikmalaya Raya resmi menetapkan Alya Dewi Lailatus Syabina sebagai Ketua Pimpinan Daerah (PD) Himi Persis Tasikmalaya Raya periode 2026–2027. Penetapan tersebut dilakukan setelah melalui rangkaian sidang pleno yang berlangsung dinamis dan demokratis di Bale Morosono, Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (16/2/2026).

Terpilihnya Alya menjadi penanda estafet kepemimpinan baru dalam tubuh Himi Persis Tasikmalaya Raya, sekaligus melanjutkan semangat restorasi nilai ulul ilmi yang menjadi tema besar Musda X. Forum tertinggi di tingkat daerah ini sebelumnya telah mengevaluasi laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2024–2026 serta merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan.

Dalam sambutan perdananya sebagai ketua terpilih, Alya Dewi Lailatus Syabina menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan fondasi gerakan yang telah dibangun serta memperkuat posisi Himi Persis sebagai organisasi kader mahasiswa yang inklusif dan berdampak.

“Amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab perjuangan. Kami akan melanjutkan penguatan kaderisasi, memperluas jejaring, serta memastikan Himi Persis Tasikmalaya Raya hadir dan relevan di tengah kebutuhan umat dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga soliditas internal serta mempererat sinergi dengan keluarga besar Persatuan Islam di Tasikmalaya Raya, termasuk unsur otonom dan badan khusus.

Musda X yang telah berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum konsolidasi gagasan dan peneguhan arah gerakan. Dengan kepemimpinan baru, diharapkan PD Himi Persis Tasikmalaya Raya periode 2026–2027 mampu menghadirkan program-program konkret, memperkuat peran kader perempuan mahasiswa Persis, serta menjadi mitra strategis dalam pembangunan sosial dan keumatan di Tasikmalaya Raya.

Estafet telah berlanjut. Harapan baru pun dititipkan pada kepemimpinan Alya Dewi Lailatus Syabina untuk membawa Himi Persis Tasikmalaya Raya semakin progresif, visioner, dan berdampak.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)