26.7 C
Jakarta
Jumat, Juni 26, 2026
Beranda blog Halaman 34

Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi Soroti Tower Bodong, Bentuk Tim Khusus Data Ulang Menara Telekomunikasi

0
Oplus_131072

Taopik Guntur: Kita Mau Tahu Mana yang Resmi, Mana yang Ilegal. PAD Harus Naik

Wartain.com – Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi mulai mengambil langkah tegas untuk menertibkan keberadaan menara telekomunikasi yang menjamur. Fokus utamanya memastikan seluruh tower memiliki kelengkapan izin dan berkontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah.

Hal itu mengemuka dalam rapat Komisi II bersama sejumlah mitra kerja di Ruang Badan Musyawarah DPRD Kabupaten Sukabumi, Senin 8/6/2026. Rapat khusus membahas legalitas dan kontribusi tower yang jumlahnya terus bertambah.

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi Taopik Guntur mengungkapkan banyaknya menara telekomunikasi menimbulkan pertanyaan besar. “Legalitasnya bagaimana, kontribusinya ke daerah sudah sesuai belum,” ujarnya.

Taopik menegaskan tugas Komisi II membenahi keberadaan perusahaan pemilik tower di Sukabumi. “Jumlahnya terus bertambah, tetapi belum tentu seluruhnya memberikan manfaat atau kontribusi bagi pemerintah daerah, khususnya dari aspek perizinan seperti PBG dan dokumen pendukung lainnya,” katanya.

DPRD sebelumnya sudah mengundang perusahaan pemilik menara untuk rapat dan menjelaskan legalitas usahanya. Namun hingga rapat berlangsung, pihak perusahaan kembali tidak memenuhi undangan.

“Sayangnya sampai hari ini mereka tidak hadir. Karena itu Komisi II akan mengeluarkan rekomendasi kepada perangkat daerah terkait untuk membentuk tim khusus yang bertugas mendata ulang seluruh menara tower di Kabupaten Sukabumi,” tegas Taopik.

Tim khusus itu akan melibatkan lintas instansi. Mulai dari DPMPTSP, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, hingga pihak kecamatan. Semua dilibatkan untuk verifikasi lapangan.

Tugas tim tidak hanya mendata, tetapi juga memeriksa kelengkapan dokumen perizinan setiap menara yang berdiri. Mulai dari Persetujuan Bangunan Gedung, IMB lama, hingga izin lingkungan dan retribusi.

“Dengan pendataan ulang ini kita akan mengetahui mana perusahaan yang legal dan mana yang ilegal. Secara sederhana, kita ingin mengetahui mana yang resmi dan mana yang bodong,” ujar Taopik.

Komisi II menilai penertiban tower penting untuk dua hal: kepastian hukum dan peningkatan PAD. Tower ilegal berpotensi merugikan daerah karena tidak membayar retribusi dan pajak yang seharusnya.

Jika hasil pendataan menemukan tower tanpa izin, Satpol PP bersama Perkim dapat menindak sesuai aturan. Sanksi mulai dari peringatan, denda, hingga pembongkaran menara yang melanggar.

Langkah tegas Komisi II ini mendapat dukungan publik. Warga berharap keberadaan tower memberi manfaat ganda: sinyal lancar dan kas daerah terisi. “Jangan sampai tower menjamur, PAD-nya tetap segitu-gitu saja,” pungkas Taopik.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Mengapa Revolusi Selalu Terjadi, dan Mengapa Banyak yang Gagal?

0
Oplus_131072

Analisis Kritis atas Teori Elite Overproduction dan Pelajaran dari Revolusi Dunia Modern

Oleh : Kang Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com – Sejarah manusia dipenuhi oleh revolusi. Dari Revolusi Romawi yang melahirkan kekuasaan Julius Caesar, Revolusi Prancis yang mengguncang monarki Eropa, Revolusi Rusia yang melahirkan Uni Soviet, Revolusi China yang mengantarkan Mao Zedong ke tampuk kekuasaan, hingga berbagai pergolakan politik modern di berbagai negara, selalu muncul pola yang tampak berulang.

Dalam analisis Prof. Jiang, salah satu faktor utama yang melahirkan revolusi adalah apa yang disebut sebagai elite overproduction (kelebihan produksi elite). Konsep ini menjelaskan bahwa ketika suatu masyarakat menghasilkan terlalu banyak individu berpendidikan, ambisius, dan memiliki kapasitas kepemimpinan, sementara posisi kekuasaan dan sumber daya yang tersedia terbatas, maka konflik sosial akan meningkat. Kelompok elite yang tersisih kemudian menjadi motor penggerak perubahan bahkan revolusi.

Teori ini memiliki daya jelaskan yang kuat. Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah revolusi hanya soal perebutan kekuasaan antar elite? Mengapa sebagian besar revolusi justru gagal mewujudkan cita-cita awalnya? Dan adakah revolusi modern yang berhasil mempertahankan idealismenya dalam jangka panjang?

Pola Universal Revolusi dalam Sejarah

Jika ditelusuri secara historis, hampir semua revolusi besar memiliki tahapan yang serupa.

Tahap Pertama: Krisis Legitimasi.

Sistem yang berkuasa kehilangan kepercayaan rakyat.
Penyebabnya bisa berupa:
ketimpangan ekonomi,
korupsi,
kemerosotan moral elite,
kegagalan pemerintahan,
atau dominasi kelompok tertentu.
Pada fase ini rakyat mulai mempertanyakan keabsahan sistem yang ada.

Tahap Kedua: Munculnya Elite Alternatif

Kelompok terdidik yang tidak mendapatkan akses kekuasaan mulai menawarkan narasi baru.
Mereka bisa berupa:
-intelektual,
-ulama,
-militer,
-aktivis,
-atau pengusaha.
Kelompok inilah yang menjadi pemimpin gerakan perubahan.

Julius Caesar menantang aristokrasi Romawi.
Mao Zedong menantang elite nasionalis China.
Lenin menantang Tsar Rusia.
Ayatullah Khomeini menantang monarki Shah Iran.
Donald Trump muncul sebagai simbol perlawanan terhadap establishment politik Amerika.

Tahap Ketiga: Mobilisasi Massa

Elite alternatif tidak mungkin berhasil tanpa dukungan rakyat.
Maka lahirlah slogan-slogan besar:
kebebasan,
keadilan,
kesetaraan,
nasionalisme,
agama,
sosialisme,
atau demokrasi.
Massa bergerak karena harapan akan masa depan yang lebih baik.

Tahap Keempat: Perebutan Kekuasaan

Ketika rezim lama runtuh, elite baru mengambil alih negara.
Di sinilah biasanya revolusi mencapai kemenangan formal.
Namun kemenangan politik bukan berarti kemenangan peradaban.

Tahap Kelima: Siklus Baru

Setelah beberapa dekade, elite revolusioner berubah menjadi elite mapan.
Mereka menciptakan privilese baru.
Ketimpangan kembali muncul.
Kemudian lahirlah generasi penantang berikutnya.
Siklus revolusi berulang kembali.

Kelemahan Fundamental Sebagian Besar Revolusi Modern

Di sinilah kritik utama terhadap banyak revolusi modern.
Sebagian besar revolusi hanya mengganti penguasa tanpa mengubah paradigma manusia.
“Revolusi berhasil menghancurkan istana.
Tetapi gagal merevolusi jiwa manusia.”
Akibatnya:
korupsi kembali muncul,
oligarki baru lahir,
ketimpangan kembali terbentuk,
rakyat kembali kecewa.

Revolusi Prancis

Mengusung slogan:
Liberté, Égalité, Fraternité
(Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan).
Namun setelah monarki runtuh, muncul masa teror yang menelan ribuan korban.
Kemudian lahir kekuasaan militer di bawah Napoleon Bonaparte.
Monarki jatuh, tetapi dominasi kekuasaan tetap hadir dalam bentuk lain.

Revolusi Rusia

Menjanjikan masyarakat tanpa kelas.
Namun setelah kemenangan Bolshevik, lahir birokrasi negara yang sangat kuat.
Pada akhirnya sistem tersebut runtuh karena gagal memenuhi janji kesejahteraan dan kebebasan yang dijanjikan.

Revolusi China

Menghapus feodalisme dan kolonialisme.
Tetapi kemudian menghadapi berbagai tragedi sosial dan politik yang menelan jutaan korban sebelum akhirnya melakukan reformasi ekonomi.

Mengapa Revolusi Sering Gagal?

Karena sebagian besar revolusi modern berangkat dari analisis ekonomi dan politik semata.
Mereka berusaha mengubah:
struktur negara,
sistem ekonomi,
distribusi kekuasaan.
Namun melupakan persoalan paling mendasar:

Siapa manusia yang akan menjalankan sistem tersebut?

Jika manusia yang menjalankan sistem tetap dikuasai oleh:
-keserakahan,
-egoisme,
-hawa nafsu kekuasaan,
maka sistem baru hanya akan melahirkan tirani dalam bentuk baru.

Revolusi Islam Iran: Sebuah Kasus yang Berbeda

Salah satu revolusi modern yang sering disebut sebagai pengecualian adalah Iranian Revolution yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini.
Berbeda dengan revolusi modern lainnya, revolusi ini tidak berangkat dari ideologi materialistik semata.
Landasan utamanya -adalah:
-tauhid,
-keadilan,
-kepemimpinan moral,
-dan penolakan terhadap dominasi asing.

Dalam pandangan Khomeini, perubahan politik harus didahului perubahan kesadaran spiritual.
Karena itu revolusi tidak dipahami sekadar pergantian rezim, tetapi juga transformasi manusia dan masyarakat.

Apakah Revolusi Iran Berhasil?

Jawabannya bergantung pada ukuran dan perspektif yang digunakan.
Jika ukuran keberhasilan adalah:
-mempertahankan identitas revolusi,
-mempertahankan -kedaulatan nasional,
-bertahan menghadapi tekanan eksternal selama puluhan tahun,
maka Iran menunjukkan tingkat keberhasilan yang relatif tinggi dibanding banyak revolusi modern lainnya.
Namun jika ukuran keberhasilan adalah:
hilangnya seluruh ketimpangan sosial,
tercapainya keadilan sempurna,
berakhirnya konflik politik,
maka tentu masih terdapat berbagai tantangan dan kritik yang terus diperdebatkan hingga saat ini.
Karena tidak ada masyarakat manusia yang sepenuhnya bebas dari masalah sejarah.

Pelajaran yang Terlupakan: Revolusi Kenabian
Dalam perspektif Islam, revolusi paling mendasar bukanlah revolusi politik.

Revolusi pertama adalah revolusi kesadaran.
Perubahan dimulai dari transformasi manusia.
Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.*
Nabi Muhammad SAW tidak memulai dakwah dengan merebut negara.
Beliau memulai dengan membangun:
-tauhid,
-iman,
-akhlak,
-dan kesadaran manusia.

Negara Madinah lahir sebagai konsekuensi dari perubahan manusia, bukan sebaliknya.
Menuju Solusi: Dari Revolusi Kekuasaan Menuju Revolusi Kesadaran
Teori elite overproduction menjelaskan mengapa revolusi terjadi.
Namun teori itu belum menjelaskan bagaimana membangun masyarakat yang stabil dan berkeadilan setelah revolusi berhasil.
Di sinilah diperlukan paradigma yang lebih dalam.
-Mobilitas sosial memang penting.
-Demokrasi juga penting.
-Keadilan ekonomi juga penting.

Tetapi semuanya tidak cukup tanpa fondasi moral dan spiritual.
Sejarah menunjukkan bahwa revolusi yang hanya mengubah struktur kekuasaan cenderung mengulang siklus lama.
Sedangkan perubahan yang berangkat dari transformasi manusia memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan peradaban yang berkelanjutan.

Penutup

Revolusi bukan sekadar peristiwa politik. *Revolusi adalah gejala dari krisis yang lebih dalam dalam tubuh peradaban.*Teori Elite Overproduction* membantu kita memahami mekanisme sosial yang melahirkan pergolakan. Namun akar persoalan manusia tidak berhenti pada distribusi kekuasaan dan kekayaan.

Selama manusia belum menyelesaikan persoalan dirinya sendiri, setiap revolusi berisiko hanya mengganti wajah penguasa tanpa mengubah arah sejarah.

Karena itu pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang berkuasa setelah revolusi, melainkan:
manusia seperti apa yang lahir setelah revolusi itu terjadi.
Dari perspektif tauhid dan Ma’rifatullah, revolusi sejati bukanlah penaklukan istana, melainkan penaklukan ego; bukan sekadar perubahan rezim, melainkan perubahan kesadaran manusia menuju pengenalan kepada Tuhan, yang darinya lahir keadilan, amanah, dan peradaban yang berakar kuat dalam nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.***

BMKG Prakirakan Sukabumi Cerah Berawan, Waspada Hujan Ringan Malam Hari 9 Mei 2026

0
Oplus_131072

Suhu 18-29°C, Kualitas Udara Tidak Sehat, Warga Diminta Pakai Masker

Wartain.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan cuaca Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa 9 Mei 2026 dominan cerah berawan hingga berawan tebal sepanjang hari. Warga diimbau tetap membawa payung karena ada potensi hujan ringan pada malam hari.

Berdasarkan data prakiraan cuaca, suhu udara di Kota Sukabumi berkisar 18°C hingga 29°C. Pagi hari udara sejuk di kisaran 19-21°C, lalu berangsur naik mencapai puncak 29°C saat siang hari.

Kondisi langit diprediksi cerah berawan di pagi hingga siang hari. Memasuki sore hingga malam, tutupan awan meningkat menjadi berawan tebal. Peluang hujan ringan muncul mulai pukul 19:00 WIB dengan intensitas 0.1 mm.

Peluang hujan pada siang hari masih kecil, hanya sekitar 10%. Namun presentase meningkat menjadi 50% saat malam hari antara pukul 19:00-22:00 WIB. BMKG menyebut curah hujan tergolong ringan.

Angin bertiup relatif tenang dari arah Selatan hingga Barat Daya dengan kecepatan 3-10 km/jam. Kecepatan angin paling tinggi terjadi pada siang hingga sore hari sekitar 9-10 km/jam.

Kelembapan udara cukup tinggi, terutama pagi dan malam hari. Pagi hari kelembapan mencapai 82%, sementara malam hari bisa naik hingga 97-98%. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kabut tipis di daerah pegunungan.

Matahari terbit pukul 05:59 WIB dan terbenam pukul 17:39 WIB. Durasi penyinaran matahari diperkirakan sekitar 11 jam 39 menit.

Perhatian khusus perlu diberikan pada kualitas udara. Indeks Kualitas Udara AQI Sukabumi tercatat 158, masuk kategori “Tidak Sehat”. Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan bagi kelompok sensitif.

“Bagi anak-anak, lansia, dan penderita asma atau penyakit pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker,” imbau BMKG melalui situs resminya.

Prakiraan cuaca per jam menunjukkan suhu terendah 19°C terjadi pada pukul 04:00-07:00 WIB. Sementara suhu tertinggi 29°C terjadi pada pukul 13:00-16:00 WIB saat matahari tepat di atas Sukabumi.

Untuk aktivitas masyarakat, BMKG merekomendasikan jam pagi hingga siang aman untuk kegiatan luar ruangan. Namun warga yang beraktivitas sore hingga malam disarankan membawa jas hujan atau payung lipat.

BMKG juga mengingatkan musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dari kondisi normal. Meski demikian, potensi hujan lokal masih bisa terjadi. Masyarakat diminta memantau update cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG.***

Sumber: BMKG, http://Weather.com, Ventusky

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

DPP PBB Sahkan Pengurus DPC Kabupaten Sukabumi, Jaka Susila: Kami Siap Tempur di Pemilu 2029

0
Oplus_131072

SK No. SK.PP/073/2026 Jadi Modal Kerja Politik, Target Tambah Kursi DPRD Kabupaten Sukabumi

Wartain.com – Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang resmi mengesahkan susunan dan personalia Dewan Pimpinan Cabang PBB Kabupaten Sukabumi periode 1446-1451 H / 2025-2030 M melalui SK No. SK.PP/073/2026. Pengesahan ini menjadi sinyal kesiapan PBB Sukabumi menghadapi kontestasi Pemilu 2029.

Dengan terbitnya SK terbaru, DPC PBB Kabupaten Sukabumi menyatakan siap ikut kontestasi Pemilu 2029. Struktur kepengurusan yang solid dinilai menjadi modal utama untuk bergerak cepat menjangkau konstituen di tingkat akar rumput.

Ketua DPC PBB Kabupaten Sukabumi Jaka Susila, S.Pd.I menyebut SK pengesahan ini sebagai energi baru bagi seluruh kader. “SK ini jadi modal untuk melakukan kerja-kerja politik dalam meraih suara,” ujarnya.

Jaka menegaskan, kepengurusan periode 2025-2030 akan fokus pada konsolidasi internal dan penguatan struktur hingga tingkat ranting. Konsolidasi ini penting agar mesin partai berjalan efektif saat masa kampanye tiba.

“DPC sudah menyusun peta jalan politik lima tahun ke depan. Fokus utamanya adalah kaderisasi, rekrutmen caleg berkualitas, dan pemenangan pemilu,” tambah Jaka.

Sementara Sekretaris Cabang Hikmat Muhamad, S.Sy menyebut SK DPP memberikan legitimasi penuh bagi pengurus baru untuk bergerak. “Dengan SK ini, kami tidak lagi menunggu. Semua program kerja langsung dieksekusi,” katanya.

DPP PBB Sahkan Pengurus DPC Kabupaten Sukabumi, Jaka Susila: Kami Siap Tempur di Pemilu 2029 (Foto : Jak)

DPC PBB Kabupaten Sukabumi menargetkan peningkatan perolehan suara signifikan dibanding Pemilu sebelumnya. Strategi yang disiapkan meliputi penguatan basis massa, turun langsung ke masyarakat, serta isu kerakyatan yang dekat dengan kebutuhan warga Sukabumi.

“Kami akan menyiapkan program pemberdayaan UMKM dan petani. Ini sejalan dengan visi PBB yang mengedepankan kesejahteraan rakyat kecil,” lanjutnya.

Ia menyatakan seluruh pengurus berkomitmen menjaga soliditas dan transparansi. “Kami ingin PBB Sukabumi jadi rumah besar bagi semua kalangan yang ingin perubahan,” ujarnya.

Jaka juga menekankan pentingnya menjaga marwah partai. Ia meminta kader bekerja dengan etika, santun, dan mengedepankan nilai-nilai keislaman yang moderat.

Pengesahan SK oleh DPP PBB yang ditandatangani Pj. Ketua Umum Yuri Kemal Fadlullah dan Sekjen Dr. H. Ruksamin ini sekaligus menjawab konsolidasi internal PBB pasca pemilu. Struktur baru diharapkan mampu menjawab tantangan politik 5 tahun ke depan.

Dengan struktur lengkap dan target jelas, DPC PBB Kabupaten Sukabumi optimistis menambah kursi di DPRD Kabupaten Sukabumi pada Pemilu 2029.

“Kami siap tempur. Targetnya bukan sekadar ikut, tapi menang. Pada Pemilu 2029 harus masuk gedung  parlemen di DPR RI. Dengan komposisi kepengurusan baru sebagai langkah penyegaran mesin partai, mudah-mudahan mampu menyentuh akar rumput melalui program kerja yang populis,” pungkas Jaka.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Dubes Zimbabwe Apresiasi ICF 2026 Nusa Putra University, Dorong Kerja Sama Pendidikan Indonesia-Afrika

0

Wartain.com – International Cultural Festival 2026 yang diselenggarakan Nusa Putra University tidak hanya menjadi ajang pertemuan budaya berbagai negara. Festival itu juga mendapat apresiasi langsung dari perwakilan diplomatik internasional, salah satunya Mr. Alfred Mucheuki, Duta Besar Republik Zimbabwe.

Kehadiran Dubes Zimbabwe menjadi momen istimewa dalam ICF 2026. Festival yang diinisiasi mahasiswa internasional Nusa Putra University berhasil mempertemukan mahasiswa, pelajar, akademisi, serta masyarakat dalam suasana keberagaman, persahabatan, dan pertukaran budaya.

Mr. Alfred Mucheuki mengaku terkesan dengan atmosfer internasional yang dibangun Nusa Putra University. Menurutnya, kegiatan seperti ICF menjadi sarana penting mempererat hubungan antarbangsa melalui pendidikan dan pertukaran budaya.

“Saya sangat senang berada di sini. Ini kunjungan pertama saya ke Nusa Putra University dan saya yakin bukan yang terakhir. Saya melihat langsung bagaimana mahasiswa dari berbagai negara dapat berkumpul dan berinteraksi dalam suasana yang sangat positif,” ujarnya.

Dubes Zimbabwe juga mengungkapkan kebanggaannya karena saat ini terdapat mahasiswa asal Zimbabwe yang menempuh pendidikan di Nusa Putra University. Ia berharap jumlah mahasiswa Zimbabwe yang belajar di Indonesia, khususnya di Nusa Putra University, terus bertambah.

“Kami memiliki mahasiswa Zimbabwe di sini dan berharap dapat mengirim lebih banyak lagi mahasiswa untuk belajar di Nusa Putra University. Pada saat yang sama, kami juga berharap mahasiswa Nusa Putra dapat memperoleh pengalaman internasional melalui program kolaborasi,” katanya.

Lebih lanjut, Mr. Alfred Mucheuki melihat peluang besar mengembangkan kerja sama lebih luas antara Nusa Putra University dengan universitas di Zimbabwe. Kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, hingga kerja sama akademik lainnya.

“Kami berharap mendorong program pertukaran dan kerja sama riset antara Nusa Putra University dengan universitas-universitas di Zimbabwe. Dunia pendidikan saat ini membutuhkan lebih banyak kolaborasi lintas negara agar mahasiswa belajar dari berbagai budaya dan pengalaman global,” ungkapnya.

Menurut Alfred, kekuatan utama Nusa Putra University adalah kemampuannya membangun lingkungan pendidikan inklusif dan terbuka bagi mahasiswa internasional. Hal itu tercermin dari keberagaman mahasiswa yang hadir di ICF 2026.

Ia bahkan menilai konsep yang diterapkan Nusa Putra University layak menjadi inspirasi institusi pendidikan lain. “Saya berharap institusi pendidikan lain dapat belajar dari Nusa Putra University. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan mengenal budaya berbeda dan membangun pemahaman global,” tuturnya.

Tidak hanya memberi apresiasi, Dubes Zimbabwe juga berkomitmen memperkenalkan pengalaman positif itu ke berbagai universitas di negaranya. Ia berharap semakin banyak kampus mengadopsi konsep serupa untuk membangun hubungan internasional lewat budaya dan pendidikan.

“Ini acara luar biasa dan saya sangat menyukainya. Saya akan menceritakan pengalaman ini kepada rekan-rekan saya dan mendorong universitas di Zimbabwe membangun ruang kolaborasi internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dan budaya,” ujarnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(LT)

Kajian Prof. Jiang tentang Islam: Kekuatan Analisis Sejarah vs Keterbatasan Tanpa Tauhid dan Ma’rifatullah

0
Oplus_131072

Oleh : Kang Dzikri Nur: Sejarah jelaskan jejak, Tauhid jelaskan cahaya

Wartain.com – Dekade terakhir, kajian sejarah Islam masuk era kritis. Pendekatan sejarah, arkeologi, filologi, antropologi dipakai untuk membaca ulang kelahiran Islam. Prof. Jiang jadi sorotan karena menempatkan Islam bukan sekadar fenomena agama, tapi peristiwa sejarah yang mengubah arah peradaban manusia abad ke-7 Masehi.

Kekuatan Prof. Jiang jelas. Ia berani meletakkan Islam dalam konteks krisis global: Bizantium vs Persia Sasaniyah saling menguras, Yahudi menunggu Mesias, Kristen terbelah teologi, Arab dililit konflik suku. Di tengah kehancuran itu, Islam hadir. Ini analisis sejarah yang tajam dan membuka dialog lintas disiplin.

Tapi di titik inilah keterbatasannya muncul. Analisis akademik modern berhenti di “bagaimana” Islam lahir. Ia mampu memetakan konteks politik, ekonomi, sosial. Namun ia buntu menjawab “mengapa” Islam punya daya ubah yang tidak dimiliki ideologi lain. Dimensi transendennya hilang.

Padahal inti Islam bukan sekadar peristiwa abad ke-7. Inti Islam adalah tauhid. Tauhid bukan teologi sempit tentang Tuhan itu satu. Tauhid adalah paradigma peradaban. Ia mengubah cara manusia memandang diri, sesama, alam, dan tujuan hidup. Ini yang tidak bisa diukur dengan metode sejarah.

Prof. Jiang menyorot “misteri seratus tahun pertama Islam” karena minim catatan tertulis. Kritik ini keliru jika memakai kacamata modern. Masyarakat Arab abad ke-7 adalah masyarakat oral. Hafalan mereka setajam pedang. Syair, silsilah, hukum adat, Al-Qur’an dihafal sebelum ditulis.

Al-Qur’an dijaga di dada para sahabat, baru dikodifikasi jadi mushaf. Menilai validitas sejarah Islam hanya dari arsip tertulis adalah arogansi metodologi Barat. Banyak peradaban kuno justru selamat karena tradisi lisan. Sejarah tanpa pemahaman budaya akan salah vonis.

Pertanyaan klasik: Mengapa Nabi Muhammad ﷺ tidak menunjuk penerus secara final? Prof. Jiang baca ini sebagai celah politik. Tapi dari sudut tauhid, ini pendidikan umat. Jika semua ditentukan final, umat tidak belajar tanggung jawab kolektif. Khulafaur Rasyidin adalah kelas politik praktis di bawah bimbingan wahyu.

Dinamika setelah Nabi wafat bukan kegagalan sistem. Itu dinamika manusia yang harus memilih, berijtihad, salah, lalu belajar. Sejarah Islam tidak steril. Justru dari dinamika itulah umat matang. Pendekatan sejarah berhenti di konflik. Tauhid membaca di balik konflik ada proses tarbiyah.

Soal Al-Aqsa dan Temple Mount, Prof. Jiang benar: agama tidak lepas dari ruang geografis. Tapi ia berhenti di lapisan klaim politik dan sejarah. Islam melihat Al-Aqsa lebih dalam. Ia simbol kesinambungan risalah dari Ibrahim sampai Muhammad ﷺ. Mengurung Al-Aqsa sebagai “objek sengketa” berarti mereduksi makna spiritualnya.

Mengapa Islam mencapai Golden Age saat Eropa gelap? Prof. Jiang sebut stabilitas politik, perdagangan, bahasa Arab, dukungan negara, keterbukaan ilmu. Semua benar, tapi itu kulit luar. Akarnya satu: paradigma tauhid.

Dalam tauhid tidak ada dikotomi agama vs ilmu. Mempelajari alam = membaca ayat kauniyah. Mencari ilmu = ibadah. Mengembangkan teknologi = tugas khalifah. Karena itu ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni lahir bukan kebetulan. Mereka produk dari pandangan dunia tauhid.

Inilah keterbatasan paling mendasar historiografi modern. Sejarah bisa jelaskan “bagaimana” kota Baghdad dibangun, “bagaimana” Baitul Hikmah berdiri. Tapi sejarah bisu soal iman, keikhlasan, air mata tahajud yang menggerakkan semua itu. Padahal perubahan peradaban selalu dimulai dari perubahan hati.

Al-Qur’an tidak pertama mengubah sistem politik. Ia pertama mengubah hati manusia. Dari hati yang berubah lahir akhlak baru. Dari akhlak baru lahir masyarakat baru. Dari masyarakat baru lahir peradaban baru. Mata rantai ini putus dalam analisis Prof. Jiang.

Jika sejarah bertanya “bagaimana Islam berkembang”, maka Ma’rifatullah bertanya “mengapa Islam sanggup mengubah manusia”. Ma’rifatullah melahirkan kesadaran: hidup punya tujuan, ilmu punya makna, keadilan wajib, seluruh aktivitas adalah ibadah. Golden Age bukan sebab kebesaran Islam. Ia buah dari manusia beriman, berilmu, berakhlak.

Kesimpulan: Kajian Prof. Jiang penting sebagai pembuka wacana sejarah kritis. Ia memperkaya wawasan dan jembatan dialog agama-ilmu. Namun sejarah tanpa tauhid hanya jadi tumpukan data tanpa cahaya. Untuk memahami Islam secara utuh, kita butuh dua sayap: ketelitian sejarah untuk membaca fakta, kedalaman tauhid dan Ma’rifatullah untuk memahami makna. Sejarah tunjukkan jejak langkah. Ma’rifatullah tunjukkan siapa yang menuntun langkah itu sejak awal.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pembangunan TPT di Ruas Cipamatutan–Sukatani, Upaya PU Sukabumi Cegah Longsor dan Lindungi Jalan

0

Wartain.com – Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi melalui UPTD PU Wilayah III Cicurug melaksanakan pembangunan tembok penahan tanah (TPT) di ruas jalan Cipamatutan–Sukatani. Pekerjaan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi longsor akibat perubahan struktur tebing di sekitar badan jalan.

Kepala UPTD PU Wilayah III Cicurug, Asep Saepuloh, mengatakan pembangunan TPT tersebut merupakan bagian dari kegiatan Paket RK 45 yang difokuskan pada penanganan titik rawan kerusakan di ruas jalan Cipamatutan–Sukatani.

Berdasarkan data proyek, kegiatan ini didukung anggaran sebesar Rp185.350.531,73. Lokasi pembangunan berada di STA 3+650 sisi kanan jalan dan turut disertai pekerjaan penanganan bahu jalan guna meningkatkan keamanan serta kenyamanan pengguna jalan.

Menurut Asep, tembok penahan tanah yang dibangun menggunakan tipe gravitasi, yakni konstruksi yang mengandalkan berat struktur untuk menahan tekanan tanah di belakangnya. Jenis konstruksi ini dinilai efektif untuk menjaga kestabilan lereng dan mencegah pergerakan tanah.

“Keberadaan TPT sangat penting untuk mengurangi risiko longsor dan erosi, terutama pada titik-titik jalan yang berbatasan langsung dengan tebing. Selain itu, bangunan ini juga menjadi pelengkap infrastruktur jalan yang mendukung ketahanan dan keselamatan ruas jalan,” jelasnya, Senin (8/6/2026).

Ia menambahkan, fungsi TPT tidak hanya menahan tanah, tetapi juga menopang beban yang berada di atasnya, termasuk tekanan dari kendaraan yang melintas setiap hari. Dengan demikian, struktur jalan dapat tetap terjaga dan tidak mudah mengalami kerusakan.

Pembangunan TPT di lokasi tersebut dilakukan setelah adanya perubahan kondisi tebing yang dipicu derasnya aliran air saat musim hujan.

Kondisi itu menyebabkan stabilitas lereng berkurang sehingga diperlukan penanganan teknis untuk mencegah dampak yang lebih besar.

Melalui pembangunan ini, Pemerintah Kabupaten Sukabumi berharap ketahanan infrastruktur jalan dapat semakin meningkat, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menggunakan ruas jalan Cipamatutan–Sukatani sebagai akses mobilitas sehari-hari.

Pemkab dan DPRD Sukabumi Sepakati Raperda

0

Wartain.com – Bupati Sukabumi H Asep Japar menghadiri rapat paripurna DPRD Kabupaten Sukabumi di ruang sidang DPRD Kabupaten Sukabumi, Senin (8/6/2026). Dalam rapat tersebut, DPRD bersama Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyepakati dua Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), yakni Raperda tentang Pendataan, Pelaporan dan Pemanfaatan Kawasan dan Tanah Telantar serta Raperda tentang Penyelenggaraan Perhubungan.

Bupati H Asep Japar menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Sukabumi atas sinergi yang terjalin selama proses pembahasan kedua raperda hingga mencapai persetujuan bersama.

Menurutnya, kolaborasi antara legislatif dan eksekutif menjadi kunci dalam menghasilkan kebijakan yang mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Terkait Raperda tentang Pendataan, Pelaporan dan Pemanfaatan Kawasan dan Tanah Telantar, Bupati menjelaskan regulasi tersebut disusun untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang belum digunakan secara maksimal.

Ia menilai tanah merupakan modal dasar pembangunan yang harus dikelola secara efektif agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Melalui regulasi tersebut, pemerintah daerah akan melakukan pendataan terhadap kawasan dan tanah yang terindikasi telantar, mengatur mekanisme pelaporan, serta membuka peluang pemanfaatan lahan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Selain memberikan kepastian hukum, aturan ini juga diharapkan mampu mencegah penelantaran tanah dan mendukung pelaksanaan program reforma agraria di Kabupaten Sukabumi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bupati menegaskan pentingnya sektor perhubungan sebagai penopang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, Raperda tentang Penyelenggaraan Perhubungan disiapkan untuk mewujudkan sistem transportasi yang lebih tertata, aman, nyaman, dan berkelanjutan.

“Sektor perhubungan memiliki peran strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta konektivitas antarwilayah yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi,” jelasnya.

Ke depan, Pemkab. Sukabumi akan mendorong integrasi layanan transportasi, peningkatan pengawasan lalu lintas, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Saya berharap kedua raperda yang telah disepakati dapat menjadi landasan hukum yang kuat dalam mendukung pembangunan daerah dan mewujudkan Kabupaten Sukabumi yang Mubarakah,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Dari 4.300 Orang yang Dites HIV di Kota Sukabumi, 54 Orang Terkonfirmasi Positif

0

Wartain.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi terus mendorong peningkatan cakupan pemeriksaan HIV di tahun 2026. Dari target sebanyak 11.360 orang yang harus menjalani tes HIV sepanjang tahun ini, hingga akhir Mei realisasinya baru mencapai sekitar 39 persen.

Data tersebut terungkap dalam kegiatan monitoring dan evaluasi Program Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) HIV yang digelar Dinkes Kota Sukabumi bersama Yayasan Kasih Suwitno. Kegiatan tersebut bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus menyusun strategi untuk meningkatkan kualitas layanan HIV di Kota Sukabumi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengatakan hingga saat ini sebanyak 4.300 orang telah menjalani pemeriksaan HIV. Dari jumlah tersebut, terdapat 54 orang yang terkonfirmasi positif HIV.

“Sampai Bulan Mei cakupannya sekitar 39 persen. Dari 54 orang, 18 orang warga Kota Sukabumi, dan sisanya warga luar Kota Sukabumi,” ujar Denna.

Menurutnya, upaya perluasan layanan pemeriksaan HIV terus dilakukan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan kesehatan sekaligus mempercepat deteksi dini kasus HIV.

Selain memperluas pemeriksaan, Dinkes juga berupaya memastikan pasien yang telah terdiagnosis tetap menjalani pengobatan secara rutin. Saat ini Kota Sukabumi memiliki 11 fasilitas layanan PDP HIV yang terdiri dari enam rumah sakit dan lima puskesmas.

“Kota Sukabumi memiliki 11 tempat pengobatan yang terdiri dari enam rumah sakit dan lima puskesmas yang sudah dijadikan tempat PDP HIV. Ini terus kami kembangkan aksesnya, sehingga pasien-pasien HIV lebih mudah mendapatkan obat dan mencegah lost follow up,” jelasnya.

Denna menegaskan bahwa penanggulangan HIV tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan semata. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak melalui kolaborasi lintas sektor agar upaya pencegahan, deteksi, dan pengobatan dapat berjalan optimal.

Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah penguatan peran Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi yang kepengurusannya akan melibatkan berbagai perangkat daerah.

“Mudah-mudahan di Bulan Juni, Wali Kota akan melantik pengurus KPA, yang kepengurusannya melibatkan semua perangkat daerah,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Provinsi Jawa Barat Yayasan Kasih Suwitno, Edi Sutardi, menyebut evaluasi yang dilakukan juga mencakup layanan pemeriksaan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Berdasarkan hasil monitoring, sejumlah indikator program telah menunjukkan perkembangan positif meski masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan.

“Beberapa hasil kegiatan atau indikator, ada yang sudah meskipun belum semua PDP mencapai secara maksimal, tetapi cikal bakal ini akan berlanjut,” tandasnya.

Melalui perluasan akses tes HIV dan penguatan layanan pengobatan, Dinkes Kota Sukabumi berharap target pemeriksaan tahun 2026 dapat tercapai sekaligus meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV di wilayah tersebut.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Pria di Sukabumi Nekad Terjun ke Jurang Karena Tak Mau Pulang ke Rumahnya

0

Disclaimer: Berita ini bersifat informatif, tidak untuk ditiru. Apabila ditemukan ada yang memiliki gejala yang sama,  segera  hubungi ahli!  

Wartain.com – Peristiwa hilangnya seorang pria di kawasan jurang Kampung Cisarua, Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, sempat mengundang perhatian warga dan aparat gabungan. Setelah dilakukan pencarian selama berjam-jam, pria tersebut akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di area perkebunan pada Senin (8/6/2026) pagi.

Pria tersebut diketahui bernama Hendra alias Pedro (35), warga Kampung Cipaku, Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja. Sebelumnya, ia dilaporkan turun ke area jurang dan menghilang dari pantauan warga pada Minggu (7/6/2026) sore sekitar pukul 17.15 WIB.

Kasi Humas Polres Sukabumi Kota, Ipda Ade Ruli, menjelaskan kejadian bermula saat Hendra dijemput oleh kerabatnya, Dede Yusmansyah (29), menggunakan mobil atas permintaan istrinya. Saat itu, Hendra disebut sedang dalam kondisi kurang sehat sehingga tidak memungkinkan mengendarai sepeda motor sendiri.

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Hendra beberapa kali menolak untuk pulang dan menyampaikan keinginannya untuk tidak kembali ke tempat tinggalnya di wilayah Goalpara.

“Sepanjang perjalanan pulang, Saudara Hendra ini mengoceh tidak mau pulang ke Cipaku dengan berbagai alasan. Dia mengaku sudah tidak nyaman tinggal di Goalpara,” kata Ade Ruli, Senin (8/6/2026).

Saat kendaraan melintas di kawasan Kampung Cisarua, Hendra meminta sopir menghentikan mobil dengan alasan hendak buang air kecil. Permintaan tersebut sempat ditolak karena lokasi berada di tepi jalan yang berdekatan dengan jurang. Namun Hendra mengancam akan melompat dari kendaraan jika mobil tidak dihentikan.

Setelah kendaraan berhenti, Hendra turun dan berjalan ke tepi jalan. Tak lama kemudian, ia justru bergerak menuruni lereng jurang yang dipenuhi semak dan pepohonan.

Sopir yang melihat kejadian itu sempat menanyakan tujuan Hendra. Namun pria tersebut hanya menjawab bahwa dirinya hendak melalui jalan pintas.

“Sopir sempat berteriak menanyakan tujuannya, lalu korban menjawab ‘arek jalan motong’ atau mau lewat jalan pintas,” ujar Ade.

Jawaban serupa juga disampaikan Hendra kepada seorang warga yang sempat menegurnya ketika menuruni area jurang.

Kejadian itu membuat istri Hendra panik dan berteriak meminta pertolongan. Warga yang berdatangan ke lokasi kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat kepolisian.

Petugas Polsek Sukaraja bersama BPBD Kota dan Kabupaten Sukabumi segera melakukan pencarian di sekitar lokasi. Penyisiran berlangsung hingga malam hari, namun keberadaan Hendra belum berhasil ditemukan.

Pencarian baru membuahkan hasil pada Senin pagi. Hendra ditemukan warga dalam kondisi pingsan di area perkebunan yang berjarak hampir satu kilometer dari titik awal ia turun ke jurang.

“Korban yang turun tebing semalam sudah berhasil ditemukan dalam keadaan pingsan di area kebun yang berjarak hampir 1 kilometer dari TKP, mengarah ke rumahnya,” jelas Ade.

Setelah ditemukan, Hendra langsung dievakuasi oleh warga bersama pihak keluarga untuk mendapatkan penanganan medis. Saat ini kondisinya terus dipantau sambil menjalani pemulihan di kediamannya di Kampung Cipaku, Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik