26.7 C
Jakarta
Senin, Juni 29, 2026
Beranda blog Halaman 57

Refleksi Hari Lahir Pancasila

0
Oplus_131072

Oleh: Muhammad Fadlan Anshori/Guru Honorer

Wartain.com – Di momentum peringatan Hari Lahir Hari Lahir Pancasila, kita diajak kembali merenungkan makna sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai seorang guru honorer, saya memandang bahwa semangat Pancasila bukan hanya sekadar slogan yang diperingati setiap tahun, tetapi harus benar-benar hadir dalam kebijakan pendidikan yang menyentuh aspek paling mendasar, yaitu keadilan bagi para pendidik.

Pertanyaan sederhana namun mendasar patut kita renungkan bersama: dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, mana yang harus lebih dahulu menjadi perhatian, pembangunan sarana dan prasarana atau kesejahteraan guru?

Tentu, sarana dan prasarana memiliki peran penting dalam menunjang proses pembelajaran. Ruang kelas yang nyaman, fasilitas sanitasi yang layak, dan lingkungan sekolah yang memadai adalah bagian dari standar pendidikan yang harus dipenuhi. Namun secara akademik dan filosofis, fasilitas hanyalah alat bantu. Sementara ruh utama pendidikan tetap berada pada kualitas, dedikasi, dan kesejahteraan guru sebagai aktor utama yang menghidupkan proses belajar itu sendiri.

Guru bukan sekadar pelengkap sistem pendidikan, melainkan fondasi utama pembentukan karakter dan peradaban bangsa. Ketika kesejahteraan guru, khususnya guru honorer, masih berada pada titik yang memprihatinkan, maka sesungguhnya kita sedang menghadapi paradoks dalam pembangunan pendidikan. Bagaimana mungkin kita berharap lahir generasi unggul jika para pendidiknya masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar?

Dalam perspektif akademis, investasi terbesar dalam pendidikan bukan pertama-tama pada bangunan, melainkan pada sumber daya manusianya. Sekolah yang megah tidak akan menghasilkan pendidikan bermutu tanpa guru yang sejahtera, tenang secara psikologis, dan dihargai secara profesional.

Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Keadilan sosial dalam pendidikan harus dimulai dari keberpihakan terhadap kesejahteraan guru. Sebab memperhatikan guru bukan berarti mengabaikan sarana prasarana, melainkan menempatkan prioritas secara proporsional dan berkeadilan.

Sebagai guru honorer, saya tidak sedang menolak pembangunan fasilitas sekolah. Saya hanya mengajak kita semua berpikir lebih jernih: sebelum mempercantik tembok sekolah, sudahkah kita memastikan bahwa para guru yang mengisi ruang-ruang kelas di dalamnya telah merasakan kesejahteraan yang layak?

Karena pada akhirnya, sekolah yang kuat bukan hanya dibangun oleh kokohnya bangunan, tetapi oleh kokohnya penghargaan terhadap guru.

Selamat Hari Lahir Pancasila!

Mari wujudkan keadilan sosial dalam pendidikan, dimulai dari memuliakan guru.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Waspada Hujan Sore, Prakiraan Cuaca Sukabumi Utara & Selatan 1 Juni 2026

0
Oplus_131072

Wartain.com – Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 jatuh pada Senin. Masyarakat Kabupaten Sukabumi yang akan mengikuti upacara atau aktivitas luar ruangan perlu menyiapkan jas hujan. BMKG memprakirakan cuaca Sukabumi Utara dan Selatan berbeda pola sepanjang hari.

Sukabumi Utara Hujan Lebat Sore-Malam

Wilayah Sukabumi Utara meliputi Cicurug, Cibadak, Parungkuda, dan daerah pegunungan lain diprakirakan cerah berawan di pagi hari. Suhu 27°C dengan peluang hujan 20% pada pukul 11.00 WIB.

Memasuki siang 12.00-13.00 WIB, langit berangsur cloudy. Suhu naik ke 27-28°C dan peluang hujan mulai naik 20-24%.

Hujan baru turun signifikan sejak pukul 14.00 WIB dengan peluang 37% dan suhu 27°C. Puncaknya terjadi 16.00-17.00 WIB, peluang hujan mencapai 94-97% disertai suhu 24-25°C. Hujan masih berlanjut hingga malam, 19.00-23.00 WIB dengan peluang 38-67% dan suhu 22-23°C.

Sepanjang hari suhu Sukabumi Utara berkisar 20°C – 28°C. UV Index siang “Very High” level 8 dan kualitas udara masuk kategori “Unhealthy for Sensitive Groups” dengan AQI 135-138.

Sukabumi Selatan Lebih Panas, Hujan Singkat

Untuk Sukabumi Selatan seperti Palabuhanratu, Cisolok, Surade, cuaca cenderung lebih panas karena wilayah pesisir. Pagi hingga siang diprakirakan Mostly Cloudy dengan suhu 30-31°C. Peluang hujan hanya 10-13%.

Sore 16.00 WIB suhu 30°C dengan peluang hujan 12%. Malam hari berawan hingga partly cloudy, suhu turun ke 25-27°C dan peluang hujan di bawah 13%. Suhu harian 24°C – 32°C. UV Index siang lebih tinggi, “Very High” level 9-10, tapi kualitas udara “Good” AQI 36.

Imbauan BMKG Jawa Barat

BMKG mengingatkan periode 29 Mei – 1 Juni 2026 cuaca Jawa Barat didominasi hujan ringan hingga lebat. Masyarakat diimbau waspada hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang.

Bagi peserta upacara HUT Pancasila, BMKG sarankan gunakan tabir surya dan jaga kecukupan cairan karena UV tinggi di siang hari. Saat hujan + angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon, baliho, atau bangunan rapuh untuk antisipasi pohon tumbang dan sambaran petir.

Kesimpulan

Sukabumi Utara: Siang mendung, sore-malam hujan lebat. Jangan lupa jas hujan.
Sukabumi Selatan: Panas terik, berawan, hujan ringan kalau ada. Wajib sunscreen + topi.

Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila. Semoga cuaca tidak mengurangi khidmat upacara.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Hari Lahir Pancasila untuk Dunia Pendidikan di Indonesia

0
Oplus_131072

Oleh: Dadang Sahroni/Warek I UMN Sukabumi & Presidium MD KAHMI Sukabumi

Wartain.com – Setiap tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Bagi dunia pendidikan, hari ini bukan sekadar seremoni upacara. Ini momentum untuk bertanya: sejauh mana Pancasila benar-benar hidup di ruang kelas, laboratorium, dan kampus kita.

Dadang Sahroni, Wakil Rektor I Universitas Madani Nusantara (UMN) Sukabumi dan Presidium MD KAHMI Sukabumi, meyakini bahwa Pancasila adalah jiwa pendidikan nasional. Tanpa Pancasila, pendidikan hanya mencetak otak cerdas tapi kehilangan arah moral.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengingatkan kampus untuk tidak melahirkan cendekiawan yang sombong ilmu. Pendidikan harus menumbuhkan adab dulu, baru ilmu. Karena bangsa ini butuh sarjana yang takut Tuhan, bukan hanya pintar teori.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menuntut dunia pendidikan menolak segala bentuk kekerasan, bullying, dan diskriminasi. Kampus harus jadi rumah kedua yang paling aman. Mahasiswa belajar beradab sebelum mereka terjun ke masyarakat.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia,  adalah jawaban atas tantangan polarisasi hari ini. Di UMN Sukabumi dan kampus lain, ruang kelas harus jadi laboratorium toleransi. Beda suku, agama, dan pilihan politik boleh, tapi ukhuwah dan Bhinneka Tunggal Ika harus di atas segalanya.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, relevan sekali dengan cara kita belajar. Pendidikan bukan transfer data satu arah. Mahasiswa harus dilatih berpikir kritis, berani berdiskusi, tapi tetap beretika. Demokrasi dimulai dari cara kita berdebat di kelas.

Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, jadi PR terbesar dunia pendidikan. Akses pendidikan yang adil, beasiswa untuk anak kurang mampu, dan kampus yang peduli pada UMKM sekitar. UMN Sukabumi terus berikhtiar agar tidak ada anak bangsa yang tertinggal karena masalah ekonomi.

Tantangan zaman makin kompleks: AI, hoaks, dan budaya instan. Di sinilah Pancasila jadi kompas. Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai mengikis rasa kemanusiaan. Mahasiswa harus jadi agent of change yang menguasai teknologi, tapi hatinya tetap Indonesia.

Peran dosen dan guru juga bergeser. Kita bukan lagi “dewa pengetahuan”. Kita adalah fasilitator yang menanamkan nilai Pancasila lewat keteladanan. Kalau dosennya disiplin, jujur, dan peduli, mahasiswanya akan meniru. Pendidikan karakter tidak bisa di-zoom, harus diteladani.

Sebagai bagian dari KAHMI, kami percaya alumni punya tanggung jawab besar. Setelah lulus, jangan hanya jadi profesional hebat. Jadilah warga negara yang mengamalkan Pancasila di kantor, di keluarga, di komunitas. Karena Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai kalau lulusannya punya integritas.

Hari Lahir Pancasila harus jadi pengingat bagi seluruh civitas akademika: mari kita jadikan kampus sebagai tempat menyemai nilai-nilai luhur bangsa. UMN Sukabumi berkomitmen mencetak lulusan yang cerdas, berakhlak, dan cinta tanah air. Selamat Hari Lahir Pancasila. Merdeka Belajar, Berjiwa Pancasila!(***)

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pancasila dalam Aksi: Catatan Anto Kusumayuda PPJNA 98 untuk Pemerintahan Prabowo

0
Oplus_0

Wartain.com – Momentum 1 Juni 2026 jadi bahan evaluasi *Ketua Umum PPJNA 98, Anto Kusumayuda*. Ia melihat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bergerak dalam koridor Pancasila. Kebijakannya tidak berhenti di target pertumbuhan, tapi masuk ke ranah keadilan sosial dan pemerataan yang selama ini jadi PR bangsa.

Anto menggarisbawahi: Pancasila bukan pajangan di ruang sidang. Ia harus turun ke jalan, ke desa, ke pasar, ke sekolah. Setiap kebijakan publik yang lahir harus bisa diukur: apakah rakyat kecil ikut diuntungkan atau tidak. Kalau iya, berarti itu kebijakan berjiwa Pancasila.

“Prabowo membuktikan Pancasila bisa dieksekusi,” kata Anto, Senin 1/6/2026. Eksekusi itu terlihat saat pembangunan tidak hanya bicara angka PDB, tapi bicara harga beras, akses dokter, bangku sekolah, dan lapangan kerja. Rakyat tidak butuh teori, rakyat butuh bukti.

Fokus utama ada di *Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia*. PPJNA 98 menilai pemerintah sekarang serius memastikan kue pembangunan tidak hanya dinikmati wilayah maju. Daerah 3T dan kelompok ekonomi lemah juga harus dapat porsi yang sama. Itu baru adil.

Negara, kata Anto, tidak boleh absen. Tugas negara hadir saat rakyat butuh pendidikan murah, layanan kesehatan yang manusiawi, pangan yang stabil, dan pekerjaan yang layak. Semua itu bukan bantuan, tapi hak warga negara yang dijamin konstitusi dan Pancasila.

Keberpihakan seperti ini adalah DNA pemerintahan berideologi bangsa. Karena itu PPJNA 98 mendorong semua elemen untuk mendukung, bukan sekadar mengomentari. Bedah kebijakan boleh, tapi tujuannya harus sama: menaikkan kualitas hidup rakyat.

Pemerataan juga kunci *Sila ke-3: Persatuan Indonesia*. Indonesia itu kepulauan, bukan pulau Jawa saja. Kalau pembangunan timpang, persatuan hanya jadi slogan upacara. Tapi kalau listrik, jalan, internet, dan rumah sakit merata, maka rasa “kita Indonesia” akan tumbuh dengan sendirinya.

Anto mengingatkan, tidak ada pembangunan hebat yang lahir dari satu tangan. Pemerintahan Prabowo butuh mitra: masyarakat, pengusaha, kampus, ormas, sampai komunitas. Semangat gotong royong yang dulu mengusir penjajah, hari ini dipakai untuk mengusir kemiskinan dan kebodohan.

Target jauhnya adalah generasi muda. Mereka yang akan memikul Indonesia 2045. PPJNA 98 menekankan investasi SDM harus jalan sekarang: sekolah yang berkualitas, karakter yang ditempa, dan wawasan kebangsaan yang ditanam sejak dini. Tanpa itu, bonus demografi bisa jadi bom waktu.

Penutup Anto sederhana: “Pancasila itu kompas, bukan ornamen.” Kalau kompasnya dipakai, arahnya jelas. Indonesia akan lebih cepat sampai ke tujuan: maju, berdaulat, adil, dan makmur untuk semua. PPJNA 98 menyatakan siap mengawal setiap langkah yang berpihak pada rakyat dan persatuan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Abah Anom: Pancasila Jadi GPS PWI Sukabumi Wujudkan Visi MASAGI & Indonesia Emas 2045

0

Wartain.com – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi, Nuruddin Zain Samsyi, mengajak seluruh anggota PWI dan lapisan masyarakat untuk merefleksikan kembali semangat Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni. Momentum bersejarah ini dinilai menjadi fondasi kuat dalam membangun daerah dan memperkokoh persatuan bangsa.

Nuruddin Zain yang akrab disapa Abah Anom, menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila mejadi pijakan utama dari arah perjuangan organisasi yang dipimpinnya. PWI Kabupaten Sukabumi saat ini mengusung Visi MASAGI (Maju, Sejahtera, Bersinergi) yang diwujudkan melalui Misi KUAT (Kolaboratif, Unggul, Amanah, dan Transformatif).

“Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 ini harus kita jadikan momentum emas. Kita perlu menguatkan kembali semangat juang untuk membangun diri, meningkatkan kapasitas organisasi, serta memompa etos kerja masyarakat,” ujar Nuruddin Zain dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).

Menurut Nuruddin, sinergi antara semangat Pancasila, visi MASAGI, dan misi KUAT akan menjadi motor penggerak utama dalam memberikan dukungan serta kontribusi terhadap program pembangunan Pemerintah Daerah dan nasional.

Target utama pembangunan nasional adalah mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera secara material maupun spiritual. Keseluruhan target tersebut dirancang sebagai fondasi utama untuk merealisasikan Visi Indonesia Emas 2045.

Sementara target utama pembangunan daerah Kabupaten Sukabumi sesuai visi yaitu mewujudkan masyarakat yang maju, unggul, berbudaya dan berkah (Mubarakah). Program pembangunan ini memerlukan kontribusi semua pihak, termsuk insan pers.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya peran pers dalam menjaga ruang publik yang kondusif. Melalui informasi yang akurat, edukatif, dan bertanggung jawab, wartawan dapat membantu menguatkan persatuan bangsa sekaligus mengawal jalannya pembangunan nasional.

“Mari kita jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk bekerja lebih keras, lebih jujur, dan lebih kompak demi kemajuan Sukabumi dan Indonesia,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pancasila Jadi Kompas Disnakertrans Sukabumi Wujudkan Hubungan Industrial Berkeadilan

0
Oplus_131072

Wartain.com – 1 Juni 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Bagi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi Disnakertrans, momentum ini lebih dari seremoni. Ini panggilan untuk meneguhkan kembali semangat persatuan, gotong royong, dan kebangsaan di tengah dinamika dunia kerja.

Mengusung tema nasional _“Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”_, peringatan tahun ini mengingatkan kita semua. Bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tapi juga fondasi paling kokoh untuk membangun hubungan yang harmonis, adil, dan produktif di setiap sektor, termasuk ketenagakerjaan.

Kepala Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi, A.Md., S.E, menegaskan posisi Pancasila dalam dunia kerja. Menurutnya, nilai-nilai luhur Pancasila punya peran sentral dalam menciptakan hubungan industrial yang sehat dan berkeadilan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

“Semangat musyawarah, persatuan, dan keadilan sosial harus jadi pedoman utama,” ujar Sigit. Tanpa tiga nilai itu, dialog bipartit bisa buntu, PHK bisa jadi konflik, dan produktivitas bisa runtuh. Pancasila hadir sebagai penengah yang adil untuk semua pihak.

Sigit menjelaskan, Pancasila mengajarkan hal mendasar: menghargai sesama manusia, menjunjung tinggi keadilan, dan mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan. Tiga nilai ini sangat relevan untuk menciptakan iklim ketenagakerjaan Sukabumi yang kondusif, tidak gaduh, tapi tetap progresif.

Atas dasar itu, Disnakertrans Kabupaten Sukabumi terus bergerak. Salah satu fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Caranya lewat berbagai program pelatihan kerja, peningkatan kompetensi tenaga kerja, sampai perluasan akses kesempatan kerja.

Semua program itu dirancang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Tujuannya jelas: melahirkan angkatan kerja Sukabumi yang bukan hanya siap pakai, tapi juga siap bersaing. Kompeten secara teknis, kuat secara karakter.

Menurut Sigit, pembangunan ketenagakerjaan yang berlandaskan Pancasila akan melahirkan output terbaik. Tenaga kerja yang profesional, berdaya saing tinggi di pasar global, namun tetap memiliki karakter kebangsaan yang kuat. Cerdas, tapi tidak melupakan jati diri bangsa.

Momentum Hari Lahir Pancasila 2026 ini, Disnakertrans Sukabumi mengajak seluruh elemen. Pekerja untuk bekerja dengan integritas. Pengusaha untuk berbuat adil pada pekerjanya. Pemerintah untuk terus hadir sebagai fasilitator. Semua bergerak dalam satu irama: irama Pancasila.

Harapannya sederhana tapi besar. Semoga nilai-nilai luhur Pancasila semakin mengakar sebagai fondasi dalam bekerja, berkarya, dan berkontribusi. Karena kemajuan Kabupaten Sukabumi dan Indonesia, dimulai dari tempat kerja yang damai, adil, dan gotong royong. Selamat Hari Lahir Pancasila.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Harga Solar Non-Subsidi Turun Mulai Juni 2026, Pelaku Transportasi dan Logistik Diuntungkan

0

Wartain.com – Penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis diesel non-subsidi yang diberlakukan PT Pertamina (Persero) mulai 1 Juni 2026 membawa angin segar bagi pelaku transportasi dan logistik. Di tengah fluktuasi harga energi global, kebijakan ini dinilai dapat membantu menekan biaya operasional kendaraan berbasis solar.

Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamina Dex turun cukup signifikan dari Rp27.900 menjadi Rp24.800 per liter. Sementara Dexlite juga mengalami penurunan dari Rp26.000 menjadi Rp23.000 per liter.

Penurunan harga tersebut menjadi kabar positif, terutama bagi sektor usaha yang bergantung pada kendaraan diesel seperti angkutan barang, logistik, hingga transportasi antarkota. Dengan biaya bahan bakar yang lebih rendah, pelaku usaha diperkirakan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas ongkos distribusi.

Di sisi lain, Pertamina justru menaikkan harga Pertamax Turbo dari Rp19.900 menjadi Rp20.750 per liter atau naik Rp850 per liter. Kenaikan itu menjadikan Pertamax Turbo sebagai satu-satunya produk bensin non-subsidi yang mengalami penyesuaian naik pada Juni 2026.

Sementara produk BBM lainnya masih dipertahankan. Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, Pertamax Rp12.300 per liter, dan Pertamax Green Rp12.900 per liter.

Pertamina Patra Niaga menyebut penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan dengan memperhatikan tren harga minyak dunia dan kondisi nilai tukar rupiah yang menjadi komponen utama dalam perhitungan harga bahan bakar,” demikian keterangan resmi Pertamina Patra Niaga.

Secara global, harga minyak mentah memang mengalami kenaikan selama Mei 2026. Rata-rata harga minyak Brent tercatat mencapai US$103,71 per barel atau naik 1,22 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$98,42 per barel atau meningkat 0,37 persen.

Meski demikian, penurunan harga produk diesel menunjukkan adanya strategi penyesuaian berbeda pada tiap jenis BBM non-subsidi yang dipasarkan Pertamina.

Daftar harga BBM Pertamina per 1 Juni 2026:

– Pertalite: Rp10.000/liter
– Pertamax: Rp12.300/liter
– Pertamax Green: Rp12.900/liter
– Pertamax Turbo: Rp20.750/liter
– Pertamina Dex: Rp24.800/liter
– Dexlite: Rp23.000/liter***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Hari Lahir Pancasila: Sanusi Ajak Pekerja BPU Amalkan Sila ke-5 Lewat Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan

0
Oplus_131072

Wartain.com – Setiap 1 Juni, Indonesia kembali merayakan Hari Lahir Pancasila. Hari ini bukan sekadar tanggal di kalender, tapi pengingat bahwa lima sila adalah kompas bangsa. Dari Ketuhanan sampai Keadilan Sosial, semua mengarah pada satu tujuan: hidup layak untuk seluruh rakyat Indonesia.

Di momen inilah Sanusi, perwakilan Perisai BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sukabumi, mengajak kita menafsir ulang Pancasila lewat tindakan nyata. Katanya, Sila ke-5 “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” tidak akan terasa kalau masih ada pekerja yang bekerja tanpa perlindungan.

Siapa yang paling rentan? Para pekerja non-formal. Tukang ojek online, pedagang keliling, petani, nelayan, barista freelance, sampai ibu-ibu UMKM. Mereka masuk kategori Bukan Penerima Upah (BPU) — kerja keras setiap hari, tapi sering luput dari jaminan sosial.

Sanusi bilang, logikanya sederhana. Kalau pekerja formal punya BPJS Ketenagakerjaan dari kantor, kenapa pekerja BPU tidak? Padahal risiko mereka di lapangan justru lebih besar. Jatuh dari motor, terpeleset di dapur, atau sakit mendadak, dampaknya langsung ke dapur keluarga.

Kabar baiknya, BPJS Ketenagakerjaan sudah membuka pintu selebar-lebarnya untuk BPU. Aturannya fleksibel: peserta bisa memilih minimal 2 program dan maksimal 3 program, sesuai kebutuhan dan kemampuan iuran.

 

Hari Lahir Pancasila: Sanusi Ajak Pekerja BPU Amalkan Sila ke-5 Lewat Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan (Foto : Aab)

Program pertama yang wajib ada adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Ini tameng utama. Kalau kecelakaan kerja terjadi, semua biaya pengobatan sampai rehabilitasi ditanggung. Nggak perlu jual motor atau ngutang ke tetangga.

Program kedua, Jaminan Kematian (JKM). Kedengarannya berat, tapi penting. Kalau peserta meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja, ahli waris dapat santunan Rp42 juta. Uang itu bisa jadi bekal pendidikan anak atau modal usaha untuk istri/suami yang ditinggal.

Program ketiga, Jaminan Hari Tua (JHT). Ini tabungan masa depan. Iuran yang dibayar hari ini akan kembali utuh plus hasil pengembangan saat usia kita tidak kuat bekerja. Jadi, tua nanti tetap bisa tenang tanpa merepotkan anak cucu.

Sanusi menekankan, memilih 2 atau 3 program itu bukan beban, tapi bentuk merdeka finansial. Iuran JKK + JKM untuk BPU hanya Rp16.800 per bulan. Ditambah JHT totalnya 36.800 per bulan, jumlahnya masih jauh lebih ringan dari sebungkus rokok per hari. Tapi manfaatnya bisa menyelamatkan masa depan satu keluarga.

Di Hari Lahir Pancasila ini, Sanusi mengajak seluruh masyarakat, khususnya pekerja BPU, untuk segera mendaftar. Caranya gampang:  hubungi petugas Perisai BPJS Ketenagakerjaan terdekat, lewat aplikasi JMO, atau datang ke kantor cabang BPJS Ketenegakerjaan terdekat.

Nggak ada alasan “nanti aja” kalau urusannya nyawa dan masa depan. Pancasila lahir bukan untuk dihafal, tapi diamalkan. Dan salah satu cara paling nyata mengamalkannya hari ini adalah: melindungi diri sendiri. Karena pekerja yang terlindungi, adalah fondasi Indonesia yang adil dan sejahtera. Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari daftar BPJS Ketenagakerjaan, mulai dari sekarang. Kerja Keras Bebas Cemas.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Aura Suci Pancasila: Menjaga Nalar dan Kedaulatan di Bawah Langit Merah Putih (Selamat Hari Lahir Pancasil 1 Juni 2026)

0

Diskusi dan Refleksi hari lahir Pancasila hadir Dede Heri (Sekjen Rumah Literasi Merah Putih), Asep Sugianto (Aktivis HMI Sukabumi), Yosep Maulana (Aktivis Forum Mahasiswa Palabuhanratu/Jurnalis Muda), HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), dan Siti Ratna Maymunah (Tokoh Perempuan SukabumiAktivis KAHMI Sukabumi/CEO Wartain.com/Bendahara SMSI Sukabumi). Aam Abdul Salam, aktivis 98 yang kini menjabat Sekjen PPJNA 98 juga sebagai Presidium MD KAHMI Sukabumi dan Penasehat SMSI/PWI Kab.Sukabumi 

WARTAIN.COM – Secangkir kopi, serta teh hangat, dan gema salawat yang menyejukkan jiwa menjadi pembuka malam itu. Di bawah langit Sukabumi, sebuah ruang diskusi santai bertransformasi menjadi panggung dialektika yang dalam. Lepas dari sekat formalitas, Majelis Sholawat Cahaya Nusantara bersama para aktivis berkumpul untuk merajut kembali memori kolektif bangsa: napak tilas kelahiran Pancasila.

Diskusi mengalir hangat. Hadir di sana Dede Heri (Sekjen Rumah Literasi Merah Putih), Asep Sugianto (Aktivis HMI Sukabumi), Yosep Maulana (Aktivis Forum Mahasiswa Palabuhanratu/Jurnalis Muda), HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), dan Siti Ratna Maymunah (Tokoh Perempuan SukabumiAktivis KAHMI Sukabumi/CEO Wartain.com/Bendahara SMSI Sukabumi).

Sebagai pemantik diskusi, Aam Abdul Salam, aktivis 98 yang kini menjabat Sekjen PPJNA 98 juga sebagai Presidium MD KAHMI Sukabumi dan Penasehat SMSI/PWI Kab.Sukabumi memberikan pengantar yang menggugah. Pancasila, tegasnya, bukan sekadar teks hafalan, melainkan kompas yang mengarahkan peran Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Dialektika Estetika dan Jiwa Negara

Secara historis, Pancasila adalah buah dari pergulatan batin dan intelektual yang genius. Berawal dari pidato legendaris Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 yang memperkenalkan nama “Pancasila”, konsep ini melintasi ruang dialektika yang tajam hingga resmi disepakati pada 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara.

Jika dibedah dalam pendekatan seni filsafat, Pancasila adalah mahakarya estetika bernegara. Ia mengawinkan realitas bumi khatulistiwa yang majemuk dengan harmoni kosmis. Secara spiritual, Pancasila adalah piagam suci. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengunci takdir bangsa ini sebagai bangsa yang bergerak di atas rel ketuhanan. Ketika salawat dilantunkan malam itu, ada getaran spiritual yang mengingatkan bahwa Indonesia dirawat oleh doa dan energi positif.

Benteng Pertahanan di Tengah Badai Geopolitik

Namun, ruang kontemplasi ini membawa kita pada realitas yang getir. Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Pergeseran geopolitik global menciptakan riak yang mulai memukul situasi regional dan nasional. Di sinilah dimensi pertahanan nasional dalam Pancasila harus diaktifkan. Indonesia adalah tanah yang kaya, berkah luar biasa dari Allah SWT. Namun, keindahan dan kekayaan alam ini selalu mengundang syahwat pihak asing dan para “mafia” domestik.

Langkah tegas Presiden Prabowo Subianto dalam memberantas korupsi dan menyelamatkan sumber daya alam (SDA) adalah manifestasi nyata dari sila kelima: Keadilan Sosial. Program-program yang pro-rakyat kecil ini jelas membuat lingkaran oligarki hitam meradang. Kenyamanan mereka terusik. Akibatnya, berbagai upaya provokasi dan penyebaran energi negatif sengaja ditiupkan untuk menciptakan instabilitas nasional, bahkan mencoba menggoyang kepemimpinan nasional.

Manunggaling Rakyat: Menghancurkan Konspirasi Jahat

Momentum 1 Juni 2026 ini harus menjadi titik balik spiritual dan mental bangsa. Nilai-nilai Pancasila memancarkan aura energi suci yang mampu membentengi negeri. Ini adalah seruan untuk manunggaling—menyatunya hati dan gerak rakyat Indonesia bersama Presiden Prabowo dan jajaran Kabinet Merah Putih.

Energi suci Pancasila adalah perisai metafisik sekaligus komitmen fisik yang akan menghancurkan setiap konspirasi jahat yang ingin merusak kedaulatan kita. Momentum ini juga menjadi pasokan energi moral bagi Panglima TNI, Kepala BIN, Kapolri, dan seluruh aparatur negara yang sedang berjaga di garda depan, memastikan NKRI tetap tegak berdiri di tengah ancaman global.

Mari kita kunci barisan, tebarkan energi positif, dan jangan terjebak dalam narasi perpecahan. Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Semoga Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selalu diberi kesehatan, kekuatan, serta perlindungan dari Allah SWT untuk membawa Indonesia menjadi negara yang adil, makmur, dan berdaulat. Amin Ya Rabbal Alamin. (M.Rafi.Asyam/Jurnalis/CEO Bisnisnews.net)***

EDITOR : AAB ABDUL MALIK

Cek Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kupang, Gus Ipul: Sudah Mendekati 75 Persen

0

Wartain.com – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meninjau langsung pembangunan Sekolah Rakyat permanen di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (31/5/2026). Progres pembangunannya sudah hampir mencapai 75 persen dan ditargetkan selesai sebelum tahun ajaran baru pada Juli mendatang.

Gedung Sekolah Rakyat permanen tersebut berlokasi di Jalan Tilong Dam, Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, dengan luas 10 hektare.

“Ini adalah gedung permanen Sekolah Rakyat Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Posisinya sudah mendekati 75 persen,” kata Gus Ipul.

Di sekolah tersebut nantinya juga terdapat berbagai infrastruktur dan fasilitas untuk menunjang proses belajar mengajar bagi 1.000 siswa. Di antaranya, ruang kelas untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA, laboratorium sains, laboratorium komputer, perpustakaan, asrama putra dan putri, asrama guru, lapangan olahraga, kantin, dapur, rumah ibadah, gedung serbaguna, serta pusat kegiatan ekstrakurikuler.

“Asramanya seperti ini, tempat tidurnya susun, dilengkapi dengan meja belajar dan ada juga loker untuk pakaian dari para siswa. Modelnya seperti ini standar secara nasional,” jelas Gus Ipul.

Semua fasilitas ini, lanjutnya, diharapkan menjadi bagian dari dukungan sekolah rakyat terhadap proses pembelajaran untuk keluarga rentan. Yaitu, siswa-siswa istimewa dari keluarga yang paling tidak mampu.

Gus Ipul mengatakan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berperan sebagai pihak yang membangun gedung permanen sekolah. Sebelum pembangunan dimulai, telah dilakukan asesmen untuk memastikan kondisi lahan hingga syarat-syarat lain yang harus dipenuhi.

“Sebelum dibangun sudah dihitung semua bagaimana daya dukung airnya, bagaimana keamanannya dari bencana, kemudian juga hal-hal lain yang sudah dihitung secara teknis oleh Kementerian PU,” ungkap Gus Ipul.

“Jadi pasokan listriknya juga sudah siap, semuanya sudah dihitung dan tentu menjadi bagian dari kriteria untuk bisa memenuhi syarat dibangun gedung Sekolah Rakyat,” sambungnya.

Gus Ipul menegaskan, Sekolah Rakyat merupakan hadiah dari Presiden Prabowo Subianto bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu di Desil 1 dan Desil 2 DTSEN. Anaknya disekolahkan dan orangtuanya diberdayakan, untuk memutus mata rantai kemiskinan dan menghadirkan generasi emas 2045.

Lebih lanjut Gus Ipul menambahkan, Sekolah Rakyat Kupang ini merupakan yang pertama di NTT. Ia berharap agar kedepannya semakin banyak kabupaten dan kota di provinsi tersebut yang memiliki Sekolah Rakyat permanen.

“Insya Allah dibawah koordinasi Pak Gubernur banyak lagi kabupaten kota yang telah bekerja keras untuk menghadirkan lahan yang layak untuk segera dibangun,” ujarnya.

Turut hadir dalam peninjauan ini Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Kupang Yosep Lede, Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, dan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pelaksanaan Prasarana Strategis Direktorat Jenderal Prasarana Strategis (DJPS) Kementerian PU Istiadi Nugroho.

Kemudian Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, para staf khusus menteri, tenaga ahli menteri, serta pejabat lainnya.

Sebagai informasi, saat ini Sekolah Rakyat rintisan Kupang telah beroperasi sejak Juli 2025. Sekolah yang sudah menampung 100 siswa ini untuk sementara menggunakan gedung di Sentra Efata Kupang yang berlokasi di Jalan Timor Raya KM 36, Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten. Setelah pembangunan Sekolah Rakyat permanen rampung, aktivitas belajar mengajar di sekolah rintisan akan dipindahkan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sule)